Aku membuka pintu kamar, di sana sudah berdiri Mas Hendra yang tengah menyisir rambutnya di depan kaca. Aku memejamkan mata sejenak. Ayo, Bianca … kamu harus bisa meminta maaf karena memang ini adalah salah kamu sendiri!
Kakiku melangkah mendekati pria itu. Sepertinya Mas Hendra sudah mengetahui bahwa aku tengah berjalan mendekatinya. Dan benar saja, ketika aku beridiri di belakangnya, pria itu langsung membalikkan tubuhnya hingga kami berhadap-hadapan.
Aku menelan saliva dengan susah payah. Ya Tuhan … kenapa aku sekarang begitu gugup? Rasanya lidahku terasa kelu untuk mengucapkan kata-kata yang sudah aku rangkai sebelumnya.
Lalu, ketika Mas Hendra bergerak ke kiri untuk menghindariku, aku langsung menghalangi langkahnya. Dia pun menatapku dengan tatapan kesalnya.
“Saya mau keluar.”
Aku langsung menggeleng, lalu merentangkan tangan tak boleh mengizinkannya untuk pergi.
“Kamu ini kenapa?”
“Mas marah, ‘kan? Maaf ya …”
Keningnya mengernyit. Kedua tangannya menyilang di perutnya. Dia menatapku dengan begitu intens. Tetapi, tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Dia diam saja.
“Mas beneran marah? Maafin aku, aku cuma … cuma ngerasa kalau beberapa hari ini beda banget.”
“Iya, kamu berbeda. Entah lah, rasanya kamu selalu saja curiga sama saya, Bi.”
“Maaf …” aku menundukkan kepala seraya memejamkan mata sejenak. “Aku gak tau kenapa rasanya tuh kesal terus, aku gak ngerti kenapa begini,” lirihku. Tanpa terasa, air mata pun sudah mengalir di pipiku.
“Loh, jangan nangis.” Pria itu menyentuh daguku, lalu mengangkat kepalaku agar bisa kembali menatapnya. “Kamu juga jadi cengeng gini, Bi.”
Aku mengangguk, ucapan Mas Hendra sangat benar. Aku bahkan merasa bahwa beberapa hari ini bukan lah diriku sendiri, karena aku tak pernah seperti itu. Aku memang biasa cemburu, tetapi tak berlebihan seperti tadi. Rasanya bahkan aku gak bisa menahan emosiku sendiri.
“Maaf ya, Mas. Aku benar-benar minta maaf,” ucapku dengan penuh penyesalan. Mas Hendra langsung menarikku ke dalam pelukannya. Ia memelukku dengan erat, dan mengelus punggungku lembut.
“Iya, iya … saya gak apa-apa, Bi. Udah jangan nangis, mungkin emang perasaan kamu aja yang lagi gak stabil.”
“Gak tau juga, aku ngerasa takut aja kalau kamu tinggalin. Jangan pernah tinggalin aku ya, Mas?”
“Kenapa jadi begini?” Mas Hendra terkekeh pelan karena mendengar ucapanku yang tadi. “Memangnya siapa yang mau tinggalin kamu, Bi?” Dia mencubit pipiku dengan pelan.
“Ya, bisa aja kan. Kalau tiba-tiba kamu udah gak cintai lagi sama aku. Terus kamu malah cari perempuan lain yang lebih dari aku. Aku tau kalau aku tuh gak cantik-cantik banget, aku juga orangnya cemburuan, aku juga males orangnya, gak seproduktif kamu, tapi … aku sangat mencintai kamu, Mas. Dan hanya kamu orang yang paling aku percaya di dunia ini.”
Mas Hendra tertawa pelan. Tangannya mengelus rambutku dengan lembut. Suara dehaman yang begitu berat berasal dari dirinya langsung membuatku merasa sedikit lega. Untuk kali ini aku bisa merasa lega, tapi tidak tau bagaimana nanti di masa yang akan mendatang?
“Kamu ingat gak pertemuan kita pertama kali?”
Aku diam sejenak. Memutar memori beberapa bulan yang lalu, aku pun tersenyum kecil. “Di kafe tempat aku kerja.”
Ya, di situlah aku bertemu dengan Mas Hendra. Jangan mengira karena aku adalah simpanan dari seorang pria yang kaya maka aku adalah orang yang malas untuk bekerja. Dulu, sebelum bertemu dengan Mas Hendra aku begitu giat untuk bekerja demi mengumpulkan uang untuk kehidupanku selama merantau di Jakarta.
Dan aku bekerja di kafe itu hampir tiga tahun lamanya. Karena memang sejak awal masuk kuliah, aku langsung mendaftarkan diri di sana, bekerja part time. Sehingga aku bisa mengatur antara jadwal kuliah dan juga jadwal bekerja.
“Nah, masih ingat juga ternyata, Mas pikir kamu udah lupa.”
“Mana mungkin aku lupa, tapi … kamu sering banget ya datang ke sana? Di kafe aku sering banget liat kamu, duduk di pojokkan sambil melihat fokus ke arah laptop.”
“Kan saya kerja, Bi.”
“Ya, aku tau … tapi semenjak pertama kali kamu datang, kamu jadi sering banget ngunjungin kafe, enak banget ya makanan di sana? Aku sih emang suka, kadang suka bawa sisaan yang gak habis terjual.” Aku terkekeh pelan mengingat kejadian yang akan aku kenang sepanjang hidupku.
“Bukan, bukan karena makanannya.”
Keningku mengernyit mendengarnya. “Apa? Terus kenapa? Apa enak ya tempat di sana sampai kamu betah nongkrong di sana berjam-jam lamanya?”
“Bukan juga.”
Aku semakin bingung. Aku tak pernah tau kenapa Mas Hendra menjadi pelanggan tetap di sana. Bahkan, ketika pria itu tak datang sehari saja ke kafe tempatku bekerja, maka aku akan mencari keberadaannya. Dan saat aku melihatnya ada di tempat biasa ia duduk, aku kadang tersenyum. Karena memang Mas Hendra itu orang yang sangat dikenal semenjak menjadi pelanggan tetap di kafe itu. Bahkan, beberapa karyawan lain pun saling membicarakan, termasuk aku.
“Terus? Apa yang membuat kamu sering banget datang ke sana?”
“Apa kamu gak pernah menyadarinya sama sekali?”
Aku menggeleng pelan. “Nggak. Coba kamu kasih tau aku, Mas … supaya aku juga tau dan gak asal tebak seperti tadi.”
“Karena …” Mas Hendra mendekatkan bibirnya di telingaku. “Kamu.”
Oh Tuhan, buluku meremang saat dia menyelesaikan ucapannya. Astaga rasanya aku tak begitu percaya. Apa ini hanya karena Mas Hendra ingin menghiburku yang baru saja memarahinya? Sungguh, aku baru mengetahui fakta ini, karena selama ini aku menjalin hubungan dengan Mas Hendra aku tak pernah mengetahu hal itu.
“Itu beneran?” Ucapku seraya menatapnya dengan lekat. “Apa kamu cuma mau membuat aku senang aja?”
“Nggak, Bi … serius saya memang benar-benar tertarik sama kamu waktu saya pertama kali bertemu denganmu. Sampai saya pun tak pernah bosan untuk datang ke kafe itu karean saya memang ingin melihat kamu, Bi. Hanya di kafe itu saya bisa melihat seorang wanita yang berhasil membuat saya tertarik.”
Aku mengangguk pelan. Ya, memang … Mas Hendra hampir setiap hari datang ke kafe setelah pukul 3 sore. Astaga … aku sangat mengingat kejadian itu.
“Lalu, saya menunggu waktu yang tepat. Entahlah … rasanya saya gak mau tergesa-gesa dan membuatmu takut. Oleh karena itu, ketika saya merasa bahwa itu adalah momen yang pas, akhirnya saya memberanikan diri untuk meminta akun sosial media yang kamu punya. Dan ternyata kamu sama sekali tak menggunakan sosmed. Dan kamu memberikan nomor ponselmu,” ucapnya seraya terkekeh pelan.
“Iya, aku ingat banget kejadian itu. Waktu aku tak sengaja memecahkan gelas dan piring di atas nampan yang aku bawa. Dan aku dimarahi sama Pak Manajer, tetapi … ada kamu saat itu, kamu menolongku dengan membantuku dengan membayar uang denda yang diberatkan oleh kafe. Makanya aku memberikan nomor ponselku supaya nanti ketika aku punya uang aku bisa mengganti uangmu yang kamu gunakan untukku.”
“Dan kamu percaya kalau kita akan sampai sejauh ini? Menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, apa kamu pernah membayangkannya?”
“Nggak sama sekali, karena ketika kita mengobrol di w******p pun aku selalu memikirkan hutang yang kupunya kepadamu.”
Mas Hendra langsung tertawa mendengarnya. “Kamu lucu, Bi.”
Aku terkekeh pelan. Dan saat ini, aku sama sekali tak bekerja. Aku fokus dengan kuliahku. Ya, aku tak pernah mencari uangku sendiri, karena setiap bulan aku mendapatkan uang dari Mas Hendra. Tetapi, itu semua bukan aku yang meminta, Mas Hendra sendiri lah yang memberinya. Dia juga yang menyuruhku untuk berhenti bekerja.
Hidupku begitu enak sekarang, tanpa bekerja aku bisa hidup berkecukupan menggunakan uang yang Mas Hendra berikan. Pantas saja, para wanita berlomba-lomba untuk mendapatkan pria yang mapan. Mungkin ini adalah salah satu alasannya.