Berada di Puncak membuatku melupakan sedikit masalah yang sedang aku hadapi. Mahasiswa tingkat akhir sepertiku ini memang begitu mudah stres. Banyak sekali yang harus aku kerjakan di kampus. Dan itu cukup menguras tenaga dan pikiran yang aku miliki.
Pagi ini aku memutuskan untuk lari pagi sebentar bersama Mas Hendra. Udara Puncak yang cukup dingin membuatku harus menggunakan jaket yang cukup tebal agar aku tak merasa begitu kedinginan. Tetapi, pemandangan yang kulihat benar-benar memanjakan mataku.
Tiba-tiba saja, ada sebuah tangan yang merangkul pundakku dari samping. Aku menoleh dan melihat Mas Hendra yang sedang berjalan seraya terus fokus menghadap depan. Aku sengaja tadi memelankan jalanku karena cukup lelah, dan akhirnya aku pun tertinggal di belakang Mas Hendra.
“Gak capek, Mas?” Tangan kiriku memegang tangan Mas Hendra yang menggantung di leher.
“Gak lah. Cemen kamu lari gitu doang udah capek,” ucapnya.
“Aku kan emang jarang lari pagi, kalau Mas Hendra sering, jadi udah kebiasaan kali, ya.”
“Makanya nanti dibiasain. Lari pagi itu enak, bagus juga buat kesehatan.”
“Tapi, males banget kalau aku lari pagi di kosan. Gak deh, gak mau.”
“Loh, kenapa? Saya kan pernah lari di sekitar kosan kamu, gak kenapa-napa kok.”
Aku mengembuskan napas pelan. “Ya iya, Mas Hendra gak ngerasa kenapa-kenapa, lah kalau aku? Udah penghuni lama di kosan, jarang keluar, terus tiba-tiba lari pagi gitu, yang ada nanti banyak yang nanya sama aku.”
“Gak apa-apa dong, Bi. Cuma nanya ya kamu jawab.”
“Ah, males, sekalinya mereka pengen tau tentang kehidupan aku, pasti mereka akan lebih mengusik aku, Mas.”
“Ya udah, terserah kamu.”
Aku bisa mendengar deru napas Mas Hendra yang terasa begitu berat. Sepertinya pria itu juga sudah mulai kelelahan.
“Kamu mau sarapan?”
Aku langsung mengangguk. Ya, rasanya perutku juga sudah mulai berteriak minta diisi. “Mau.”
“Mau makan apa? Bubur? Roti atau apa?”
“Itu aja,” aku menunjuk gerobak tukang bubur yang berhenti di depan villa. Kebetulan sekali, saat kami sampai di depan villa sudah ada tukang bubur di sana.
“Oke, ayo.” Mas Hendra menarik tanganku mendekat ke tempat tukang bubur itu mangkal. “Duduk dulu di situ,” ucapnya seraya menyuruhku duduk di sebuah kursi yang sudah disediakan tepat di depan sebuah meja kayu panjang.
Aku melihat Mas Hendra yang berdiri di samping tukang bubur, lalu pria itu pun tersenyum kecil seraya menatapku.
“Dua ya Mang,” ucap Mas Hendra kepada tukang bubur itu. “Kamu mau pake apa aja?” Lalu, ia bertanya kepadaku.
Aku berpikir sejenak. Kemudian, aku pun menjawab, “Jangan pake kacang ya, Mas.”
Mas Hendra pun mengangguk. Setelahnya ia berbicara lagi dengan tukang bubur. Karena aku merasa bosan, aku memilih untuk memainkan ponselku saja sembari menunggu pesanan datang.
Ketika aku melihat notifikasi bar ternyata ada beberapa direct message yang dikirim oleh Haris. Keningku mengernyit, untuk apa dia mengirimiku pesan? Aku jadi penasaran, biasanya Haris selalu mengirim pesan lewat aplikasi chat, namun kali ini dia lewat sebuah aplikasi tempat dimana orang-orang mengunggah foto-foto mereka.
Aku membuka pesan yang dia kirim. Ternyata itu sebuah postingan video lucu dari sebuah akun. Lalu, aku melihat dia mengirim pesan lagi di bawahnya.
Lucu ya Biii
Aku terkekeh pelan. Kemudian tanganku mengetik untuk membalas pesannya. Namun, belum sempat kekirim tiba-tiba saja Mas Hendra sudah duduk di sebelahku. “Ngapain?”
Dengan cepat, aku pun mematikan ponselku dan menyimpannya di saku jaket. Kemudian aku pun menggeleng. “Gak ada.”
“Tadi ketawa-ketawa sendiri, emangnya ada yang lucu?”
Aku mengangguk. “Iya, tadi aku lihat video lucu, Mas … ya udah aku jadinya ketawa.”
“Oh, coba saya mau lihat.”
“Nggak. Eh … jangan. Nanti aja.”
“Kenapa?”
“Aku udah laper banget, Mas. Mau cepet-cepet makan. Buburnya udah jadi?”
Dia tersenyum kecil seraya mengelus pelan rambutku. “Udah kok, sabar ya … sebentar lagi juga diantar sama Mang Dadang.”
“Mas kenal sama dia?”
Pria itu mengangguk. “Iya, kalau Mas liburan di villa pasti selalu beli bubur di Mang Dadang. Jadinya dia sampai mangkal di dekat villa juga.”
Aku tertawa kecil mendengarnya. “Oh begitu.”
“Permisi akang teteh ini buburnya, mangga dimakan, keburu nanti dingin jadi teu ngeunah.”
“Makasih, Mang.”
“Hatur nuhun, Mang,” jawabku seraya tersenyum. Kemudian, dia pun menatapku dengan intens, tak lupa senyuman ramah yang terbit di wajahnya.
“Mang Dadang kira Bu Fahira, ternyata bukan.”
Deg.
Jantungku terasa mencelos mendengarnya. Fahira. Fahira. Fahira. Wanita itu saja yang selalu disebutkan. Aku benar-benar tak merasa menjadi diriku sendiri. Karena jika sedang bersama Mas Hendra, rasanya aku selalu dibayang-bayangi oleh Mbak Fahira. Aku tak tau mengapa bisa begitu.
“Bukan, Mang … dia Bianca.”
“Oh Neng Bianca namanya, selamat dinikmati ya, Neng, buburnya …”
Manh Dadang tersenyum lebar ke arahku. Setelah itu, dia pun pergi menuju gerobaknya. Aku menghela napas dalam, melihat ke arah bubur yang sudah tersaji di hadapanku rasanya aku sudah tak nafsu makan lagi. Moodku hancur setelah mendengar ucapan Mang Dadang tadi. Memang, aku mengerti kalau dia pasti tak tau apa-apa. Dan juga aku baru pertama kali ke sini. Jadi, wajar saja dia tak mengenaliku.
Sedangkan Mbak Fahira … mungkin memang dia sering datang ke sini untuk berlibur dengan Mas Hendra sehingga Mang Dadang bisa mengenalinya. Wajar saja, mereka suami istri.
“Kenapa gak dimakan?” tanya Mas Hendra seraya menatapku dengan lekat.
Aku menghela napas. “Males, Mas. Rasanya udah gak nafsu.”
“Loh, jangan gitu, Bi … sayang itu gak dimakan,” jawabnya.
Aku langsung menatapnya. Dan aku pun menyendokkan bubur yang ada di dalam mangkok milikku, lalu aku pindahkan ke mangkok milik Mas Hendra sehingga bubur di dalam mangkok pria itu menjadi banyak menggunung.
“Bi …”
“Ya udah, iya … aku makan! Tapi segini aja.” Aku melihat bubur yang ada di mangkokku sudah tinggal setengahnya lagi karena aku pindahkan ke dalam mangkok milik Mas Hendra. “Mas habisin, ya.”
Pria itu mengangguk. “Aduk dulu buburnya.” Dia berusaha untuk mengaduk bubur milikku, namun aku langsung menahan tangannya.
“Nggak, nggak! Aku gak mau.”
“Loh, kenapa? Kok gak diaduk?”
“Gak enak, Mas. Lebih baik gak diaduk dari pada diaduk. Rasanya jadi seperti muntahan saja karena bumbunya sudah tercampur semua.”
“Aneh kamu,” ucap pria itu seraya terkekeh pelan. “Ya sudah, habiskan buburnya setelah itu kita masuk ke villa.”
Aku berdeham saja. Lalu, mulai menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutku. Ah, ternyata rasanya enak juga. Pantas Mas Hendra begitu lahap memakannya. Aku menatapnya dalam diam, Mas Hendra selalu saja begitu jika ia memakan makanan yang menurutnya lezat. Akhirnya, aku pun mulai menghabiskan bubur milikku.
Setelah menghabiskan bubur dan tak lupa membayarnya, Mas Hendra merangkulku masuk ke dalam villa yang berjarak tiga meter dari tempat Mang Dadang mangkal. Ketika sudah membuka gerbang, ternyata di dalam villa sudah ada seorang wanita paruh baya yang sedang membersihkan halaman depan villa dan juga seorang pria paruh baya yang sedang membereskan kebun halaman.
“Selamat pagi Pak Hendra,” ucap pria paruh baya itu seraya menatap Mas Hendra dengan senyuman ramahnya.
“Selamat pagi, Mang Tisna. Selamat bekerja ya, Mang.”
“Iya, Pak Hendra … terima kasih. Seteah sekian lama, akhirnya Mas Hendra menginap juga di villa ini.”
“Lagi liburan aja, Pak, sebentar sebelum nanti kerja lagi.”
“Wah, iya, Pak Hendra …” lalu, pria paruh baya yang bernama Mang Tisna itu kini menatapku. Dia tersenyum ramah tanpa berbicara apa pun denganku.
Mas Hendra pun menggandeng tanganku masuk ke dalam villa. Sebelumnya, kami melewati seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu halaman. Wanita itu tersenyum ramah seraya menundukkan kepalanya ketika aku dan Mas Hendra lewat.
“Kenapa mereka tak bertanya siapa aku ini, Mas?” Aku menatap wajah Mas Hendra dengan lekat. Pria itu tengah meminum air putih di dapur dan aku duduk di pantry.
“Karena mereka tak ingin mengganggu privasi saya, Bi. Tugas mereka hanya bekerja di rumah saya saja. Tidak lebih. Dan saya juga gak mengenalkanmu ke mereka, ‘kan? Jadi, kamu tenang saja.”
“Bagaimana bisa tenang? Nanti kalau mereka mengadu ke Mbak Fahira tentang aku bagaimana? Nanti mereka bilang kalau Pak Hendra membawa seorang perempuan ke villa bagaimana, Mas?!”
“Memangnya kenapa? Kok kamu terlihat begitu santai. Apa jangan-jangan memang kamu sering ya membawa wanita ke sini sampai mereka tak berani menanyakan apa pun sama kamu?”
“Bianca!” Mas Hendra membentakku. Dan sukses membuatku terkejut karena suaranya yang lantang. “Saya gak pernah membawa wanita selain kamu dan Fahira ke tempat ini. Jangan berpikiran yang macam-macam. Terserah kamu mau percaya atau tidak dengan ucapan saya.”
Aku melihat Mas Hendra yang berjalan keluar dapur. Aku pun merasa bersalah karena sudah menuduhnya yang tidak-tidak. “Mas mau kemana?” tanyaku.
Dia menoleh sebentar. “Mandi.” Setelah itu, pria itu pun kembali berjala lagi.
Ah, ya Tuhan … Bianca! Kenapa kamu tidak bisa menjaga ucapanmu sendiri. Aku yakin, pasti Mas Hendra sangat tak suka dengan ucapanku tadi. Benar-benar bodoh!