Bab 12 : Puncak

1121 Kata
“Kamu mau makan apa, Bi?” Mas Hendra bertanya kepadaku ketika kami sampai di sebuah villa di kawasan Puncak. Aku masih menatap satu per satu bingkai foto yang ada di tembok dengan teliti, banyak sekali foto Mas Hendra bersama keluarganya di sana. Keluarga yang tampak begitu bahagia karena senyuman mereka yang begitu merekah menghadap kamera. Aku tersenyum kecil, enak sekali hidup Mas Hendra, dari kecil dia hidup bahagia bersama kedua orang tuanya, apalagi ekonomi keluarganya begitu memumpuni dan berkecukupan. Sedangkan aku? Aku adalah anak panti asuhan. Dirawat oleh Ibu panti sampai aku sebesar ini. Aku tak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuaku sejak kecil. Hidupku sepertinya memang direncakan oleh Tuhan dengan penuh penderitaan. Entahlah, orang bilang kita tidak boleh berprasangka buruk kepada Yang Maha Kuasa karena Dia lebih tau yang terbaik untuk hamba-Nya. Namun, aku terlalu sangsi untuk meyakininya. “Hei, kok melamun?” Aku menggeleng seraya terkekeh pelan. “Nggak kok, Mas. Aku cuma senang aja lihat foto keluarga kamu ini.” Aku menyentuh foto yang berada di dalam bingkai. Untungnya letak foto itu tak terlalu tinggi sehingga aku masih bisa menjangkaunya. “Mas Hendra gak punya adik, ya?” Pria itu terkekeh pelan. “Saya anak satu-satunya.” “Oh, Mamanya Mas Hendra cantik banget, ya.” “Kayak kamu.” “Ih, apa sih?!” Aku tersenyum kecil. “Kita sudah berhubungan cukup lama, mungkin 4 bulan lebih, dan aku belum begitu tau tentang kamu, Mas. Keluarga kamu pun aku baru melihatnya dalam foto sekarang. Ya, memang seharusnya begitu karena aku tak bisa meminta hal lebih, bersamamu berdua menghabiskan waktu tanpa memikirkan masalah apa pun saja sudah membuatku bahagia.” Aku merasakan elusan lembut di rambutku. “Bi, maafkan saya ya, karena sudah membuat kamu masuk ke dalam hubungan yang sulit ini.” Aku mengembuskan napas pelan. “Untuk apa meminta maaf? Kita sama-sama mau, kita berdua mempunyai perasaan yang sama, tidak ada paksaan dari keputusanku dan keputusanmu juga.” “Rasanya saya gak pantes membuat kamu berada dalam posisi seperti ini, Bi.” “Terus Mas maunya gimana?” Aku menatapnya dengan lekat. “Posisiku memang serba salah, ‘kan? Sejak awal memang aku yang ingin melanjutkan hubungan ini ketika kamu jujur semuanya kepadaku. Kamu sudah berkata jujur dan ingin mengakhiri hubungan kita saat kamu menjelaskan bahwa kamu sudah menikah, Mas. Tapi, apa? Aku tak bisa kehilangan kamu, aku gak bisa.” Mas Hendra langsung menarikku ke dalam pelukannya. “Saya juga mencintai kamu, Bi. Hubungan kita … terlalu rumit.” Aku mendongak menatapnya yang menjulang tinggi di depanku. “Terus kamu mau jadiin aku istri kedua?” Tampak wajah Mas Hendra berubah menjadi sangat terkejut. “Saya gak mau menambah masalah seperti itu, Bi. Biarkan saya menyelesaikan hubungan saya dengan Fahira secara baik-baik.” “Apa Mbak Fahira akan mudah melepasmu, Mas? Secara, kamu sudah bilang kan kalau hubungan kalian begitu direstui oleh kedua keluarga kalian? Apa keluarga kalian berdua akan menyetujuinya?” “Bi, tenang saja. Saya sudah memikirkannya lebih matang. Saya tak akan melakukan hal yang gegabah. Saya gak mau terjadi apa pun sama kamu. Saya ingin memperkenalkanmu secara baik-baik kepada keluarga saya.” Aku tersenyum lebar mendengarnya. Ucapan-ucapan manis yang keluar dari bibir Mas Hendra rasanya begitu mudah untuk dipercaya. Namun, aku sama sekali tak tau apakah itu semua akan terlaksana atau tidak. Sebab, itu hanya ucapan semata, belum ada bukti nyata. “Apa jika kamu sudah mengakhiri hubunganmu dengan Mbak Fahira, orang tuamu nanti akan menerima orang baru lagi, Mas? Aku hanya takut, mereka tak bisa menerimaku. Secara kamu tau sendiri kan, aku bukan perempuan yang lahir dari keluarga kaya, aku juga tak memiliki apa pun seperti Mbak Fahira, aku dan kamu seperti beda kasta.” “Bicara apa sih kamu ini?” Mas Hendra tampak tak suka dengan kata-kata yang terucap dari mulutku. “Semua orang sama, kenapa harus dibeda-bedakan?” “Aku hanya takut saja. Karena jika nanti keluargamu bertanya macam-macam tentang diriku, aku tak tau harus menjawab apa selain hidup di dalam panti asuhan. Ayah saja aku tak tau bagaimana wujudnya dia, apakah dia masih hidup atau sudah meninggal?” Aku menjadi sedih jika sudah membahas tentang kehidupanku yang begitu miris. “Bi …” Mas Hendra mengelus punggungku dengan lembut. “Kalau kamu mau kita bisa mencari keberadaan kedua orang tuamu. Saya akan membantumu mencari mereka.” “Bagaimana?! Aku masih ingat sedikit wajah Ibuku, tapi apa mungkin masih sama seperti yang terakhir aku lihat? Hampir 18 tahun, Mas … dia meninggalkan aku di panti asuhan dan menghilang tanpa kabar.” Isak tangis tak bisa aku tahan lagi. Hatiku begitu pedih memikirkan keadaan Ibu di luar sana. Apakah dia hidup bahagia bersama keluarga barunya? Memiliki anak lagi dari pria lain yang berhasil membuatnya bahagia? Jika seperti itu, aku akan bersyukur sekali karena Ibu meninggalkanku di panti. Karena jika aku tetap hidup bersama Ibu, maka aku hanya akan menjadi benalu untuk hidupnya. Dan Ibu tak akan pernah bahagia. Namun, di sisi lain aku juga sedih. Aku tak pernah minta untuk dilahirkan ke dunia ini. Jika bisa memilih aku akan memilih agar tak pernah hadir di dunia. Tetapi, takdir berkata lain, Tuhan membuatku hadir dalam pasangan yang mungkin tak merencanakan seorang anak untuk dilahirkan ke dunia ini. “Jangan merasa bahwa kamu tidak diinginkan di dunia ini, Bi. Karena kalau begitu, berarti kamu meragukan cinta yang saya miliki.” Sontak saja, aku langsung melepaskan pelukan Mas Hendra di pinggangku. Aku menatapnya dengan lekat. Keningku mengernyit dalam. “Mas Hendra … bisa baca pikiranku?” Lalu, suara tawa kencang keluar dari mulutnya. “Nggak. Karena dari ucapan kamu saja saya sudah menyimpulkan seperti itu. Berarti tadi kamu sedang memikirkan hal yang saya katakan, ‘kan?” “Iya.” Aku menghela napas pelan. “Jangan begitu. Saya yang menginginkanmu, Bi. Saya yang akan mencintai kamu. Jangan merasa kalau kamu sendirian. Ada saya di sini, saya gak akan membiarkanmu terus-menerus bersedih memikirkan hal itu.” “Entah lah, Mas. Kadang aku suka kepikiran tentang hal itu.” “Ya, saya tau.” Tangan Mas Hendra menarik bahuku ke rengkuhannya. “Ingin berendam?” “Apa? Berendam? Di Puncak yang dingin seperti ini?” Aku membayangkan bagaimana dinginnya air di kawasan Puncak yang akan membuat tubuhku menggigil nantinya. “Ya, nggak. Pakai air hangat, Bi. Emang kamu gak mau mandi.” “Mau lah, masa gak mandi? Nanti bau badan, udaranya juga lembab di sini, jadi emang harus mandi walaupun sangat dingin.” “Mandi bersama.” “Apa? Nggak,” aku berusaha menolak. Dan aku ingin berlari, namun pria itu langsung menarik pinggangku dan membopong tubuhku menuju kamar mandi. Dan akhirnya, aku tak bisa menolaknya lagi. Mas Hendra bagaikan nikotin yang membuatku kecanduan. Dia terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN