Bab 11 : Menikah?

2067 Kata
Dan akhirnya, aku bisa kembali liburan bersama Mas Hendra. Kali ini, aku diajak olehnya ke daerah Bogor dan aku berpikir mungkin kita bisa mampir sebentar ke panti tempat dimana aku dibesarkan. Sudah lama aku tak mengunjunginya. Aku pun merindukan adik-adikku di sana. Rasanya begitu senang ketika melihat mereka yang tumbuh semakin besar. "Mas ..." "Hm, kenapa?" ucapnya seraya terus fokus menatap jalan raya di hadapannya. "Ehm, kita mampir dulu sebentar nanti di panti asuhan, kamu mau?" Lalu, ia pun memelankan jalan mobil yang ia kendarai. Kemudian, pria itu pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lebar. "Boleh, ayo ke sana." Sontak saja, aku pun menjadi begitu senang. Mas Hendra itu pria yang sangat baik. Makanya aku bisa jatuh hati kepadanya. Jangan pernah bosan ketika aku selalu mengulang kata-kata itu. Karena di dunia ini yang aku tau adalah orang baik adalah hanya Mas Hendra dan Ibu Riana. Tak ada yang lain, hanya mereka berdua saja. "Jadi, kita mau ke Puncak dulu atau ke panti dulu?" Aku terdiam. Memikirkan pertanyaan yang dilontarkan oleh Mas Hendra. "Emangnya kamu tau di mana panti asuhan itu?" Pria itu menganggukkan kepalanya. "Kamu pernah cerita, Bi. Nama panti asuhan itu kalau tidak salah Cahaya Mentari, iya, 'kan?" Aku langsung menganggukkan kepala. Ingatan Mas Hendra rupanya masih sangat baik diusianya yang menginjak 35 tahun. "Kalau dari jalan sini yang paling cepat itu ke Puncak atau ke panti?" "Ke panti sih, soalnya saya pernah melewati panti itu dulu, tapi sekarang sudah lupa karena jarang lewat sana. Coba kamu buka google maps, nanti tinggal kita ikutin arahnya aja." "Oke, bentar." Setelah itu, aku pun langsung membuka ponselku, dan menjalankan perintah yang diucapkan oleh Mas Hendra. Kemudian, setelah mengetahui rute jalannya, Mas Hendra pun langsung mengikutinya. Ah ... aku hanya berharap kita tak akan nyasar ke tempat lain. Tiba-tiba saja ponsel Mas Hendra berdering. Pria itu pun langsung menatapku sejenak sebelum akhirnya ia berusaha untuk mengambil ponselnya yang ada di saku celana bahannya. Namun, sepertinya ia kesulitan. Akhirnya, aku pun berinisiatif untuk mengambilkannya agar Mas Hendra tak perlu lagi melenceng dari jalan raya. "Sini biar aku uang ambilin," ucapku. Dia menatapku kemudian menganggukkan kepalanya. Lalu, tanganku yang kecil masuk ke dalam kantung celana bahannya. Memang, ponsel milik Mas Hendra lumayan tebal dan panjang sehingga bisa nyangkut di dalam saku sempit di celananya. Setelah mendapatkannya, mataku melihat ke arah layar ponsel yang menyala, saat itu pula jantungku rasanya ingin jatuh dari tempatnya. Istri. Mas Hendra menamai kontak Mbak Fahira di ponselnya dengan nama istri. Jadi, kalau wanita itu saja diberikan nama seperti itu, apakah namaku di kontaknya berubah menjadi 'selingkuhan'? Aku terkekeh pelan, tak mungkin seperti itu. Yang ada jika Mbak Fahira mengecek ponselnya dia pasti akan tau siapa aku sebenarnya. Sepertinya, Mas Hendra sudah sangat hati-hati menyembunyikan hubungan yang kita jalani sekarang. "Siapa, Bi?" tanyanya yang langsung membuatku tersadar dari lamunan. Kemudian, aku pun tersenyum kecil menatapnya. "Istri." Pria itu menghela napasnya pelan. Lalu, aku pun memberikannya ponsel yang ada di tanganku. Ia melirikku sejenak sebelum akhirnya mengangkat telepon dari wanita yang sudah menjadi istri sahnya. Aku menyenderkan tubuhku di jok mobil. Telingaku aku pasang dengan begitu sensitif agar bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Namun, sepertinya Mas Hendra tak menyalakan speaker di ponselnya sampai aku tak bisa mendengar suara Mbak Fahira dari seberang sana. Yang bisa aku dengar hanyalah suara Mas Hendra yang selalu menjawab pertanyaanya. "Iya ... nanti saya pulang. Nggak sekarang, Ra, lagi banyak pekerjaan di kantor. Ya, hari minggu juga kalau saya banyak kerjaan itu tanggung jawab saya, 'kan? Ya sudah, iya ... istirahat yang cukup, minum obatmu, jangan sampai kamu kelelahan." Aku memejamkan mata mendengar semua kata-kata itu terucap dari bibir pria yang sangat aku cintai. Berbagi pria yang begitu dicintai kepada wanita lain adalah hal yang paling menyakitkan. Tuhan ... rasanya seperti aku tengah menjalani poligami saja bersama suamiku. Tetapi, di sini keadaannya terbalik, aku lah yang sebenarnya menjadi penghancur rumah tangga mereka. Apa jadinya jika istri sah Mas Hendra itu mengetahui bahwa suaminya menjalin hubungan dengan wanita lain? Aish, membayangkannya saja membuatku muak. Apa lagi jika misalkan nanti akan ada drama tarik-menarik rambut yang kita lakukan. Rasanya begitu memalukan. "Bi ..." "Ah, iya kenapa?" Mas Hendra menghela napasnya. "Kamu gak apa-apa?" Keningku mengernyit mendengar pertanyaannya. Kemudian aku pun terkekeh pelan. "Memangnya aku kenapa, Mas? Jatuh dari kali? Jatuh dari sepeda? Sampai Mas Hendra bertanya padaku aku begitu." "Memang kalau dari fisik kamu baik-baik saja, tapi hati kamu?" Tawa kencang keluar dari bibirku. Tumben sekali Mas Hendra bertanya seperti itu. "Jangan alay deh, Mas. Aku tau kok, kamu cinta kan sama aku?" Pria itu mengangguk seraya tersenyum lebar, kemudian tangan besar miliknya terangkat untuk mengelus pelan rambutku yang tidak aku kubcir. "Sangat," jawabnya. "Ya sudah, aku percaya sama Mas Hendra, jadi Mas Hendra tak mungkin mengkhianatiku. Kenapa di sini aku bagaikan seorang istri yang takut suaminya diambil pelakor, ya? Padahal aku sendiri lah yang menjadi pelakor itu." Aku terkekeh pelan. "Ck, gak enak banget bahasanya pelakor gitu." "Loh, lagi musimnya itu. Gara-gara ada artis yang ketauan dilabrak sama anaknya istri sah yang direbut." "Ck, saya gak suka ngegosip, Bi." "Fakta loh, Mas, itu. Lagi ramai banget di sosmed, semua pada ngata-ngatain si pelakor. Apa aku nanti juga gitu, ya?" "Jangan ngomong yang aneh-aneh deh, udah kamu mending tidur aja." Mas Hendra berdecak pelan. Aku langsung tertawa kecil mendengarnya. "Lagian saya juga gak punya anak kan, Bi. Gak bakalan ada yang begitu." "Loh, emang akh bilang kalau anak kamu yang akan begitu? Nggak kan, kayaknya kalau bukan anakmu, karena kamu gak punya anak, ya mungkin istrimu langsung." Suara rem berdecit dengan begitu dalam membuatku hampir terhempas dari atas jok kalau saja aku tak memakai seat belt di tubuhku. Mas Hendra benar-benar membuatku jantungan karena ngerem mendadak. "Mas! Ya ampun, kenapa?" aku bertanya histeris kepadanya. Tanganku mengelus da-daku sendiri. Untung saja aku tak memiliki penyakit jantung yang bisa saja kambuh saat ini dan membuatku meninggal di tempat. "Maaf, Bi ... Mas gak lihat kalau di depan macet, untung aja Mas langsung nginjak rem kalau tidak bisa menabrak mobil di depan kita." Aku menghela napas berat. Kemudian, kembali menyenderkan tubuhku di jok. "Ya udah, aku gak mau ngajak kamu ngobrol lagi. Sekarang, lebih baik kamu fokus aja nyetir, aku tutup mulut." Mas Hendra tertawa pelan. "Nanti sepi dong kalau nggak ada mulut cerewet kamu yang ngomong." "Enak aja bilang aku cerewet!" Aku memukul lengan Mas Hendra dengan kencang. "Ya, bener, 'kan? Kamu itu cerewet." "Iya, iya ... aku cerewet," akhirnya aku mengalah saja lah dari pada harus berdebat lebih lanjut dengan Mas Hendra. Sudah aku bilang kalau aku tak mau mengajaknya berbicara dulu, takut terjadi sesuatu saat dia menyetir seperti tadi. "Mas nyalain lagu, ya? Biar gak sepi." Aku menganggukkan kepala seraya berdeham pelan. Kemudian, alunan lagu pun terdengar. Ah, ini lebih baik dari pada suasana hening di dalam mobil yang membuatku bosan. ••••• Ketika sampai di panti, aku langsung membawa buah-buahan yang sempat kami beli di pinggir jalan tadi. Mas Hendra langsung datang untuk menolongku. Dan kami pun berjalan beriringan masuk ke dalam panti. "Kak Biii ..." Aku tersenyum lebar saat anak-anak menyadari aku datang ke panti dan langsung berlari mendekatiku. "Taruh di atas meja, Mas." Pria itu menganggukkan kepala seraya mengikutiku menaruh buah-buahan yang kami bawa di atas meja. "Haloo ... kalian apa kabar?" aku berjongkok di hadapan mereka. Kemudian memeluk mereka ke dalam pelukanku. Untung saja hanya ada 3 orang anak di sini, jadi masih bisa masuk ke dalam pelukanku mereka semua. "Baik, Kak Bia." "Kak Bia kok gak pernah ke sini lagi?" "Kak Bia seru gak tinggal di Jakarta?" Aku terkekeh mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut kecil mereka. "Satu-satu dong tanyanya, mulut Kak Bia kan juga cuma satu." Aku mengelus rambut mereka dengan lembut. "Kak Bi ... dia siapa?" tanya seorang anak lelaki kepadaku seraya menatap Mas Hendra dengan tatapan bingung. Pria itu pun langsung ikut berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan anak-anak. Lalu, senyuman lebar terbit di wajahnya, membuatku selalu terpesona saat melihatnya. "Dia ... teman Kak Bia, namanya Mas Hendra." Aku memperkenalkan Mas Hendra kepada mereka. "Oh ... temannya Kak Bia ya, Om?" Tawaku langsung pecah saat Ardan—bocah lelaki yang bertanya itu—menyebut Mas Hendra dengan sebutan om. Ya, memang sih ... umur tak bisa berbohong. "Bukan, saya bukan temannya Kak Bia." Keningku mengernyit saat dia berucap seperti itu. "Lalu, siapa?" tanya Ardan. Jiwa kekepoan seorang anak kecil memanglah begitu besar. Sampai mereka belum mendapatkan jawaban yang mereka inginkan, maka mereka akan terus bertanya. "Pacar. Kak Bia pacar saya." Aku berdecak kesal mendengarnya. Sudahlah, ingin berkata lagi rasanya malas. Mas Hendra itu ... ah membuatku kesal saja. "Dia Adzana," ucapku seraya mengelus rambut panjang bergelombang milik seorang anak perempuan di sisi kananku. "Dan dia ... Mira," lanjutku seraya mengelus lembut pipi putih milik seorang anak perempuan berambut coklat di samping kiriku. "Halo," sapa Mas Hendra seraya tersenyum lembut. Tangannya pun terangkat untuk mengelus rambut anak-anak yang berada di dekatku. "Lalu, siapa nama anak lelaki ini?" tanyanya sambil menatapku dengan lekat. "Aku namanya Ardan, Om," ucap Ardan begitu tegas. Mas Hendra terkekeh. "Wah, iya ... kamu itu memang anak yang sangat aktif, ya?" Tangan Mas Hendra pun mengelus rambut Ardan dengan lembut. "Ibu Riana mana?" tanyaku kepada mereka. "Di dalam, sedang mengajak bermain anak-anak yang lain." Aku tersenyum kecil mendengar jawaban dari Adzana. "Tolong panggilkan Bu Riana ke sini." "Kak Bia memangnya gak mau masuk ke dalam?" Aku menatap Mas Hendra sejenak. Pria itu pun menatapku dengan lekat. Kemudian, mataku beralih menatap Ardan yang sedang menunggu jawabanku. "Kak Bia di sini saja, soalnya Kak Bia juga harus pergi lagi bersama Om Hendra." "Kak Bia gak menginap di sini?" tanya Mira. Akh menggelengkan kepala seraya tersenyum lembut. "Nggak, Kak Bia cuma mampir sebentar aja." "Ya sudah, aku akan panggil Ibu dulu ya, Kak," Ardan pun langsung berlari masuk ke dalam panti. Aku sengaja hanya sampai ruang tamu saja. Karena memang jika semakin masuk ke dalam, akan ada banyak anak-anak lainnya di sana, dan aku hanya mampir sebentar, aku tak ingin membuat mereka kecewa. Tak lama, Ibu Riana pun datang dengan senyuman yang merekah. Aku langsung berdiri dan menyambut pelukan darinya. "Ya ampun, Bianca ... lama sekali kamu tak datang ke sini lagi. Ibu kangen sama kamu." Aku mengelus lembut punggung wanita yang sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri. "Maaf ya, Bu ..." "Gak apa-apa, yang penting kamu sehat dan baik-baik saja sudah membuat Ibu senang." Ibu Riana melepaskan pelukannya. Aku pun tersenyum kecil menatapnya. Lalu, tatapan Ibu Riana tertuju ke arah Mas Hendra yang berdiri di sebelahku. Pria itu tersenyum ramah kepada Ibu Riana. "Selamat siang," ucapnya dengan ramah. "Selamat siang ... Bapak siapa, ya?" Aku terdiam. Ingin menjawab tapi aku membiarkan Mas Hendra yang menjawab karena pria itu lah yang ditanya oleh Ibu Riana. "Saya Hendrawan Wiraguna Atmaja, pacar Bianca.” Wajah Ibu Riana langsung terkejut mendengarnya. Dia pun menatapku dengan lekat seraya tersenyum penuh kelembutan. “Wah … akhirnya kamu bisa menemukan pria yang kamu cintai.” Aku tersenyum kecil. Iya, aku berhasil menemukannya, tapi sayangnya pria itu malah telah mempunyai istri sebelum kami bertemu. “Saya titip Bianca ya, Mas Hendra. Jangan pernah menyakitinya, karena Bianca ini sangat perasa orangnya.” “Iya, Bu.” “Dan ya … kalau nanti mau menikah, jangan lupa undang Ibu juga, ya?” “Siapa yang menikah? Kak Bia?” ucap Adzana. “Wah, Kak Bia mau menikah? Asyik!” balas Mira dengan suaranya yang begitu senang. “Kak Bia menikah sama Om?” Kini, giliran Ardan yang berbicara. Aku terdiam. Tak tau ingin menjawab apa. Menikah? Aku dan Mas Hendra menikah? Rasanya … rasanya terlalu berhalusinasi. Karena Mas Hendra saja berpacaran denganku secara sembunyi-sembunyi. Berbeda dengan beberapa pasangan kekasih di luar sana yang akan memperkenalkan kekasih mereka kepada keluarga, namun Mas Hendra tak akan mungkin pernah melakukan itu. Dia sudah memiliki istri. Aku akan selalu mencatat itu baik-baik di dalam otakku. Mas Hendra bukan lagi pria lajang. Dan aku … hanyalah bayang-bayang dari istri yang pria itu nikahi secara sah. Ikatan hubungan yang ada diantara aku dan Mas Hendra begitu lemah, namun cinta kami berdua berhasil membangunnya sampai ke titik ini. Aku jadi berpikir, apakah mungkin jika aku menikah dengan Mas Hendra dan dijadikan istri kedua olehnya? Rasanya tak mungkin, aku saja tak mengenal watak keluarga Mas Hendra seperti apa. Dan jangan lupa … Mbak Fahira adalah anak dari keluarga kaya raya, mereka tak mungkin mengizinkan putrinya diduakan seperti itu. Miris sekali nasibmu ini, Bianca!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN