Aku kembali terbangun di pagi hari dalam pelukan seorang pria yang begitu aku cintai. Aku tak akan pernah bosan mengatakan bahwa aku sangat mencintai Mas Hendra. Pria yang sedang tertidur dengan mulut yang terbuka itu sukses membuatku jatuh hati setiap harinya. Walaupun ya, aku harus merasakan rasa cemburu yang begitu dalam ketika dia pergi bersama istrinya.
Namun, apa yang bisa aku lakukan selain menunggu? Aku tak boleh mengekang Mas Hendra. Apa lagi menyuruhnya untuk menjauhi istrinya sendiri. Terkesan begitu jahat dan egois, padahal aku lah biang kerok dari rumah tangga Mas Hendra. Mbak Fahira yang sudah menikah selama 2 tahun dengan Mas Hendra, dia sudah lebih banyak menghabiskan waktu bersama pria itu.
Sedangkan aku? Rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak karena nasih hidupku yang tak pernah baik. Jadi, sampai kapan aku akan melewati ini semua? Kapan aku mendapatkan kebahagiaan yang benar-benar aku impikan?
Aku mengambil ponselku yang berada di atas nakas, lalu dengan isengnya aku pun memotret wajah Mas Hendra yang terlihat begitu jelek saat tertidur dengan mulut yang terbuka. Walapun begitu, aku selalu mencintai apa pun yang ada dalam dirinya. Bagiku ... Mas Hendra adalah pria yang sangat baik dan sukses mencuri perhatianku selama ini.
Aku beranjak dari atas kasur untuk melakukan kegiatan pagi yang biasa aku lakukan. Seperti mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai kosan, hingga membereskan furniture yang ada di dalam kosan, walaupun itu hanya sedikit saja sebab kosanku sangat sempit, jadi aku tak ingin membuatnya semakin sempit dengan barang-barang yang kurang berguna.
Setelah aku melakukan semua itu, aku pun langsung bergegas mandi. Mandi di pagi hari begitu membuatku segar. Rasanya tubuh menjadi bugar dan mata semakin terbuka lebar karena dinginnya air di pagi hari.
Lalu, ketika sudah selesai mandi, dengan depat aku memakai pakaianku dan baru setelahnya aku akan masak untuk sarapanku. Aku jadi memikirkan masakan apa yanh akan aku buat untuk Mas Hendra. Aku tau, Mas Hendra tak akan pilih-pilih tentang makanan, ia akan memakannya selagi itu masih dalam kategori halal.
Aku jadi teringat saat kami liburan ke Bali dulu. Saat itu kami sedang berada di dalam salah satu restoran yang terkenal begitu enak. Namun, karena aku bingung untuk memilih yang mana sebab Mas Hendra juga melepaskan semuanya kepadaku, akhirnya aku pun meminta untuk dibawakan menu terlaris saja.
"Loh, emang ini daging apa?" tanya pria itu saat dibawakan sepiring nasi yang besar dengan daging yang begitu krispi di atasnya. Mataku menatapnya dengan teliti, itu bukan daging sapi apa lagi daging ayam. Teksturnya saja berbeda karena daging yang disajikan di atas mejaku hanyalah daging panggang dengan saos yang terpisah.
Aku pun menggelengkan kepala, tak tau apa daging yang ada di hadapanku itu.
Lalu, terdengar suara Mas Hendra yang tertawa begitu lantang sampai memegang perutnya sendiri.
"Ih, malu Mas! Jangan kenceng-kenceng ketawanya." Aku menepuk lengan Mas Hendra dengan cukup kencang sampai membuatnya meringis sebentar.
"Memangnya kamu memesan itu semua gak dibaca deskripsi menunya?"
"Aku gak tau harus memesan apa, makanya aku meminta Mbaknya buat bawain makanan paling laris aja di sini." Aku merengut kesal. Sepertinya Mas Hendra sedang menjahiliku saat ini. "Emangnya itu daging apa?"
"Saya gak mau makan itu."
"Memangnya kenapa? Sayang banget kamu tau gak sih? Ini udah dimasak enak-enak sama chefnya malah gak dimakan." Aku mulai memotong kecil daging yang ada di atas piring. Ketika aku ingin menyuapkannya ke dalam mulutku, tiba-tiba suara dari Mas Hendra membuat tanganku membeku tepat di depan mulutku.
"Itu daging babi kamu mau makan itu?" ucap Mas Hendra seraya terus menatapku dengan tatapan gelinya. "Gak halal ngapain dimakan."
Tiba-tiba saja mataku langsung menatap Mas Hendra dengan lekat. Wajahnya begitu manis dengan rahang yang begitu membentuk wajahnya dengan sempurna. Aku pun langsung menjatuhkan garpu di atas piring sampai membuat bunyi yang begitu nyaring.
"Saya akan makan apa pun itu asalkan halal untuk dimakan."
Alisku terangkat sebelah saat mendengarnya. "Serius, Mas? Kamu masih ngomongin masalah halal dan haram di sini? Saat ini? Ketika kita berdua?"
Dia pun menatapku dengan bingung, keningnya mengernyit dalam sampai membuat kerutan di wajahnya. "Maksudmu?"
"Ya, kamu pikir aja sendiri. Memangnya hubungan kita ini halal? Menjalin hubungan ketika seorang pria sudah memiliki istri, apa ini disebut halal? Dan kamu masih memikirkan masalah halal dan haram? Sepertinya kita sudah tau, Mas ... bahwa hubungan kita ini HARAM! Apa lagi kita sudah berbuat hal lebih, apa itu tidak termasuk dosa juga?"
Sontak saja, Mas Hendra menatapku dengan tatapannya yang lekat.
"Apa ini sesuatu yang beda, Mas? Antara makanan haram dan hubungan haram yang kita jalani? Jika kita sudah terlanjur masuk ke dalam kubangan dosa, kenapa tak kita lanjutkan saja melanggar semua perintah Tuhan? Supaya dosa yang kita dapatkan tak tanggung-tanggung.”
"Ngomong apa kamu ini? Biar Mas yang menyuruh pelayan untuk membawa semua makanan ini dan menggantinya."
"Kalau gitu, dari awal saja kamu yang memilih menu, jangan aku," aku pun menatapnya dengan jengkel. Melihat Mas Hendra yang memanggil pelayan untuk kembali membawa makanan yang sudah tersaji di atas meja.
Aku terkekeh pelan saat memikirkan hal itu. Kejadian itu tak akan pernah aku lupa. Berlibur bersama Mas Hendra itu sangat sulit, karena waktu dia yang begitu padat ditambah lagi dengan istrinya yang punya penyakit begitu serius membuat Mas Hendra harus tetap menjadi suami yang siaga.
"Hei, lagi masak apa?"
Aku merasakan ada tangan yang melingkar di pinggangku saat ini. Aku pun tersenyum kecil seraya menyentuh tangan yang sudah bertengger di depan perutku itu.
"Masak lah, apa lagi?"
"Hm ... masak apa?"
Kemudian, Mas Hendra pun menyerukkan kepalanya di cekungan leherku.
"Apa sih, Mas? Jangan begini," aku berusaha melepaskan tangan Mas Hendra dan menjauhinya saat ini.
"Masih marah, ya? Mas pikir kamu sudah gak marah lagi karena Mas saat ini sudah ada di sini sama kamu."
“Nggak, aku lagi masak, jadi aku gak terlalu suka diganggu,” ucapku berharap Mas Hendra bisa mengerti yang aku inginkan.
“Oke … ini dilepas,” ucapnya seraya melepaskan pelukannya di belakang tubuhku. Aku pun tersenyum senang seraya mengucapkan terima kasih kepada pria itu.
“Hari ini kamu ada kegiatan apa?”
Mumpung sekarang akhir pekan, aku jadi bertanya seperti itu kepada Mas Hendra. Ingin memastikan bahwa pria itu sibuk atau tidak di hari libur seperti saat ini.
“Emangnya kenapa? Hari Minggu, Bi … apa yang saya lakukan selain lari pagi? Kamu tau pasti hal itu, masa sudah lupa.”
“Aku pikir kamu mau mengantarkan Mbak Fahira jalan-jalan, belanja, rekreasi gitu.”
Mas Hendra memutar bola matanya. Aku tau … sepertinya dia begitu muak saat aku terus membahas perihal istrinya semenjak dia datang ke kosanku.
“Lagian juga, Mbak Fahira habis menjalani perawatan di Singapur, mungkin dia memang butuh libur untuk menghilangkan penatnya.”
“Nggak, Bi … waktu saya sekarang hanya buat kamu. Nggak ada buat yang lain.”
Aku tersenyum miring mendengarnya. “Serius nih apa yang kamu bilang?”
Mas Hendra pun mengangguk denhan yakin. “Iya lah … masa Mas harus bohong?”
“Kalau begitu, ajak aku jalan-jalan, mau gak?”