Bab 9 : Datang Bulan

1118 Kata
Awalnya aku pikir dengan kehadiran Saskia di kosan membuatku tak terlalu menyukainya. Tetapi, setelah dia pulang, entah kenapa rasanya aku mulai merasa kesepian. Atau memang karena selama berhari-haru Saskia tinggal di sini aku ada teman yang bisa diajak untuk mengobrol? Makanya aku merasa kehilangan sekarang. Padahal, sudah sejak dari lama aku tinggal di kosan tanpa ditemani oleh siapa pun. Dan aku merasa baik-baik saja dulu. Di hari Minggu yang sangat cerah ini, akhirnya aku hanya memilih diam di kosan saja. Sebab perutku terasa keram karena hari ini adalah hari keduaku menstruasi. Memang, sejak dulu aku selalu merasakan sakit di perut kala datang bulan. Dan aku juga sering merasa lemas sampai aku malas untuk melakukan apa pun. Dan sekarang, rasanya aku ingin menangis. Karena biasanya Mas Hendra akan tau kapan jadwal aku datang bulan. Ya, dia sampai mencatat itu di ponselnya. Entah lah, dia begitu mengkhawatirkanku karena dia tau kalau aku sedang datang bulan maka keadaanku tak baik-baik saja atau karena dia selalu menghitung tanggal yang tepat untuk melakukan itu denganku agar tak terjadi pembuahan yang bisa menyebabkan kehamilan padaku? Bagaikan pucuk dicinta wulan pun tiba, ponselku berbunyi dengan keras di atas meja. Aku tertawa kecil saat melihat nama Mas Hendra yang tertera di layar ponsel. Aku pun mengangkatnya dengan cepat. “Halo, kenapa, Mas?“ “Bi … sekarang jadwal kamu datang bulan, ‘kan?” “Udah dari kemarin sih sebenarnya, maju sehari dari siklus biasanya.” “Oh … saya gak ngerti, Bi. Tapi kalau dari perhitungan di aplikasi sih katanya kamu sekarang waktunya datang bulan.” “Hm …” aku menjawabnya dengan dehaman pelan. “Mau Mas bawain apa? Nanti Mas main ya ke kosan? Mas belikan banyak makanan.” “Aku gak mau,” tiba-tiba saja suaraku menjadi lirih. Mataku sudah berkaca-kaca saat ini. Rasanya aku ingin berteriak di hadapan pria itu sekarang juga. “Loh, kenapa? Biasanya kamu mau dibawain minuman yang anti nyeri itu. Terus juga coklat, martabak, kamu gak mau, Bi?” “Gak!” Aku langsung membalasnya dengan cepat. “Aku gak mau semua itu.” “Lalu, kamu maunya apa, sayang?” Astaga … Bianca, kau tidak boleh melting mendengar Mas Hendra kembali memanggilmu dengan sebutan sayang. Aku harus membangun sebuah benteng besar agar hal itu tak terjadi. Namun, sepertinya sangat sulit. Karena sejak dulu, aku sangat menyukai pria itu ketika memanggilku dengan sebutan sayang. Rasanya aku seperti begitu dicintai oleh Mas Hendra. Aku juga seperti menjadi bagian yang begitu penting dalam hidupnya. “Aku … aku cuma mau Mas Hendra aja. Aku mau Mas Hendra di sini, temanin aku, bisa?” Ya Tuhan, aku seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk saat ini. Aku begitu menginginkan pria itu ada di sisiku. Menemaniku di kala aku kesepian seperti saat ini. Aku ingin dia menjadi pelipur laraku. Aku berharap Mas Hendra mau mengabulkan permintaanku. Karena jujur, aku sedikit malu saat mengungkapkan keinginanku tadi. “Oh … kamu mau saya datang ke sana?” “Iya! Bukan cuma datang, tapi Mas Hendra harus menemaniku di sini.” Dasar tak tahu malu! Aku mencaci diriku sendiri. Hah … rasanya aku masih memiliki rasa kesal karena Mas Hendra pergi bersama istrinya ke Singapur dan meninggalkanku tanpa kabar selama hampir seminggu. Mungkin saat ini aku sedang ingin membalas dendam kepadanya. Aku sangat ingin dia juga memiliki waktu luang bersamaku. Hanya itu. “Wah, kamu kangen sama saya ya, Bi?” “Apaan? Nggak, aku nggak kangen!” Gengsi. Ya, gengsiku terlalu besar untuk mengakui hal itu. Bahkan, rasanya jika aku tak memiliki gengsi yang besar, aku ingin sekali berteriak di hadapan wajahnya jika aku begitu cemburu kepada istrinya. Lalu, suara tawa kencang menggelegar diseberang sana. Mas Hendra sepertinya sangat terhibur dengan jawaban-jawaban yang aku berikan kepadanya. “Oke deh, Bi. Saya ke sana, ya. Kalau tidak macet mungkin lima belas menit akan segera sampai. Tunggu saya di kosan … jangan pergi kemana-mana.” “Iya, iya …” Aku pun merebahkan tubuhku di sofa panjang yang ada di ruang tamu kosan. Ah, rasanya begitu nyaman. Dan tanpa terasa … mataku memberat sampai aku pun memejamkan mata dan tak sadar jika aku sudah masuk ke alam mimpi. ••••• Aku merasakan ada yang menyentuh wajahku dengan pelan sampai membuatku merasa sedikit kegelian. Lalu, keningku mengernyit saat tidurku ada yang mengganggu. Dan akhirnya, dengan perlahan mataku pun terbuka menyesuaikan cahaya yang masuk lewat sela-sela mataku. “Hei … sudah bangun?” Aku mengucek mataku dengan lembut. Dan menyentuh ujung mata agar memastikan bahwa tidak ada belek di sana. Rasanya akan sangat malu jika Mas Hendra melihat itu. “Sejak kapan Mas datang?” “Sejak tadi sampai saya sudah membuatkanmu teh hangat ini.” Aku melihat secangkir teh yang berada di atas meja. Asap masih mengebul dari isi cangkir itu yang menandakan bahwa airnya masih panas. “Jangan tidur di sini, Bi. Nanti badanmu sakit-sakit,” ucapnya. Tangannya pun kini sudah mengelus lembut rambutku, aku sedikit menghindarinya untuk mengubah posisiku yang awalnya terbaring kini menjadi setengah duduk di atas sofa. “Duduk, Mas. Jangan di bawah gitu.” Aku menarik tangan Mas Hendra agar pria itu duduk di sampingku. “Apa kamu gak mau pindah, Bi? Rasanya lingkungan di sekitar kosanmu yang ini sangat kurang bersahabat. Dan juga … dua pintu di sebelah kosanmu kosong tak ada yang menempati, kamu jadi hanya tinggal sendirian di sini.” “Gak apa-apa, Mas … aku sudah betah tinggal di sini.” “Tapi, Mas khawatir, Bi. Jika nanti terjadi sesuatu yang tak diinginkan, kamu akan sulit meminta pertolongan kepada orang. Apa lagi jarak rumah Mas dan kosanmu ini cukup jauh.” Aku melihat Mas Hendra yang menghembuskan napasnya berat setelah mengucapkan kata-kata itu kepadaku. “Lalu, apa usul Mas? Kalau aku pindah dari sini, itu artinya aku harus mencari tempat baru untuk ditinggali, ‘kan?” ucapku. “Kan Mas dulu sudah pernah bilang, Bi. Lebih baik kamu tinggal di apartemen saja. Akan lebih enak tinggal di sana. Fasilitasnya juga sangat memadai, tidak seperti di sini.” Pria itu menatap seisi ruangan kosanku. Ah … aku jadi begitu jengkel kepadanya. Dari dulu, memang Mas Hendra selalu saja memintaku untuk pindah ke apartemennya. Tetapi, aku selalu menolak. Aku tak ingin tinggal di apartemen. Rasanya sudah cukup tinggal di sebuah kosan kecil di daerah perkampunhan saja. “Oh … jadi Mas dari dulu gak pernah suka ya sama tempat ini?” ucapku dengan ketus. “Loh, kok kamu jadi bilang begitu?” “Ya, aku lihat aja dari tatapan Mas Hendra yang menatap seluruh ruangan di kosanku dengan tatapan ji-jik.” “Bianca …” pria itu memanggilku dengan pelan. Aku langsung meliriknya dengan tatapan sinis. Ah … hormon datang bulan selalu membuatku menjadi sangat sensitif.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN