Bab 8 : Kesal

2244 Kata
Kali ini, aku benar-benar merasa antara hidup dan mati. Di satu sisi saat ini aku sedang berada di dalam mobil bersama dengan sahabatku, sedangkan di sisi lain ... kekasihku tengah menunggu di depan teras kosan sambil menatap ponsel di tangannya. Demi Tuhan, rasanya jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Apa lagi Saskia menatapku dengan tatapannya yang tajam. "Kenapa gak turun?" tanyanya. Aku menelan saliva dengan susah payah. Tenggorokanku terasa begitu kering, bahkan hanya untuk menjawab pertanyaan Saskia pun aku tak mampu. Tubuhku terasa begitu kaku. Kenapa pria itu datang di saat-saat seperti ini? Aku pikir ... Mas Hendra sudah tak mempedulikanku lagi. Sudah beberapa hari ini dia sama sekali tak menghubungiku. Dan tiba-tiba saja pria itu ada di depan tempat tinggalku seperti seorang rentenir yang menunggu kehadiran si penghutang. "Dia siapa?" Saskia menatapku dengan kening yang mengernyit. "Kok tiba-tiba aja ada cowo matang di depan kosan lu, Bi?" Aku tau, pasti Saskia saat ini sedang begitu penasaran dengan pria yang duduk di halaman kosanku itu. Berbagai pertanyaan sudah ia lontarkan kepadaku sejak tadi. Namun, aku sama sekali belum membalasnya. Sudah hampir 5 menit aku dan Saskia terus berada di dalam mobilnya. "Gue turun!" "Jangan!" Aku langsung menarik tangan Saskia yang ingin membuka pintu mobil. "Gue mohon ... jangan ..." "Lo kenapa, sih? Ada yang disembunyiin ya, Bi? Dia siapa? Kenapa dia duduk di depan kosan lu, Bi? Dia pasti nyari seseorang? Lu kenal dia, 'kan?" Saskia menatapku dengan salah satu alisnya yang terangkat. "Jawab gue, Bi! Kalau nggak gue yang bakalan nyamperin dia sekarang! Lu gak kenal dia? Gue yang bakal ngusir dia! Serem banget tuh om-om duduk di depan kosan temen gue kayak orang gak bersalah!" "Jangan ... jangan ... please jangan, Sas!" Aku semakin memegang erat pergelangan tangan Saskia. "Atau jangan-jangan apa yang gada dalam pikiran gue ini benar, ya?" Aku menatap Saskia dengan lekat. "Apa?" ucapku dengan pelan. "Dia ... pria itu ... pacar lu?" Jantungku terasa seperti mencelos begitu saja. Tebakan Saskia sangat benar. Dia begitu paham mungkin dari gerak-gerikku tadi yang begitu mencurigakan. Aku sampai tak mau turun dari mobil. Bahkan aku tau aku begitu gelisah. "Sas ..." "Bener, 'kan? Dia cowok lu?" Aku memejamkan mata sejenak. Hingga akhirnya aku pun menganggukkan kepala. "Wah, gila ... ketemu di mana lu? Kok bisa sama cowo yang udah matang kayak dia gitu? Gue taksir sih umurnya udah lebih 30 tahunan. Pantesan lu bilang kalau cowok lu gak kuliah, ternyata ... udah lebih dari kuliah." Aku menghela napas. "Sas ... gue mohon jangan kasih tau siapa-siapa di kampus." Saskia tertawa. "Astaga ... serius, Bi. Gue sampe gak bisa berkata-kata lagi. Ayo turun! Lo harus ngenalin gue ke cowok misterius lu itu." Lagi-lagi aku menahan tangan Saskia. "Gue bilang jangan!" "Kenapa? Dia nungguin lo itu. Masa mah mendem di dalem mobil terus." Aku memejamkan mata sejenak. Tak mungkin bukan jika aku berkata kepada Saskia bahwa sebenarnya aku sedang bad mood kepada pria itu. Yang ada nanti Saskia malah menertawaiku. "Kita di sini aja. Biarin dia nunggu." Namun, belum sempat aku mendapat jawaban dari Saskia. Tiba-tiba saja ponselku berbunyi di dalam genggaman tanganku. Tertera nama Mas Hendra di layar ponselku yang menyala. Ya Tuhan ... bagaimana ini? Lalu, aku pun melihat ke arah luar dan ternyata mata Mas Hendra sedang mengawasi ke arah mobil yang sedang aku tumpangi ini. Sepertinya dia merasa curiga. "Itu loh ada telepon diangkat, Bi!" "Gak mau," aku menjawab seraya menggelengkan kepala pelan. "Wah ... jangan-jangan lu lagi marahan ya sama pacar lu?" "Apaan sih? Nggak!" "Ck! Jangan bohong. Ya udah, sekarang lu harus turun. Temuin itu pacar lu kasian!" "Bodo amat deh, gue gak peduli." Aku mendengar Saskia yang berdecak sebal. "Kalau lu tetep di sini, gimana mau selesai masalah lu sama dia? Oke, gue gak bakalan ikut campur urusan lu yang ini. Gue bakalan tunggu di mobil aja sampe lu selesai ngomong sama dia." Aku langsung menatap wajah Saskia yang terlihat begitu serius. Akhirnya aku pun menganggukkan kepala. "Gue turun, lu tunggu di sini aja." "Iya, iya ..." Aku membuka pintu mobil, setelah itu menutupnya dengan pelan. Kakiku melangkah menuju kosan. Dan ya, mata Mas Hendra tak berhenti menatapku sedari tadi aku turun dari mobil. Ketika aku sampai tepat di depannya, pria itu langsung berdiri seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana bahan yang ia gunakan. Aku menatapnya dari atas sampai bawah. Pakaian yang dipakai Mas Hendra benar-benar terlihat seperti pria dewasa yang matang. Menggunakan kemeja biru tua dengan celana bahan berwarna cream. Aku tau, pasti yang ada dipikiran Saskia sudah bermacam-macam. "Dari tadi kamu di dalam mobil?" Aku menganggukkan kepala. "Kenapa gak turun? Pasti kamu udah ngeliat Mas di sini, 'kan?" "Gak pengen aja," jawabku dengan nada yang ketus. "Kamu kenapa? Kok, jadi kesel gitu sama saya? Memangnya saya melakukan kesalahan?" “Ya, pikir aja sendiri. Hampir seminggu kamu gak ada kabar. Telepon aja nggak. Terus tiba-tiba datang ke kosan aku kayak orang yang gak pernah berbuat salah sama sekali.” Akhirnya aku tak bisa lagi memendam rasa kesal yang begitu menyakitkan di dalam hati. Aku langsung mengeluarkan keluh kesahku kepada Mas Hendra sampai membuat pria itu tercengang mendengarnya. “Bi … saya—” “Kenapa? Kalau alasan baterai ponsel habis sepertinya gak masuk akal, Mas. Atau jangan-jangan memang kamu yang sengaja gak mau lagi menghubungiku?” cecarku tanpa memberikan Mas Hendra bernapas sedikit pun. Aku sudah sangat kesal kepadanya, sampai aku tak bisa mengontrol emosiku sendiri. “Bianca … gak seperti itu.” “Terus apa? Apa yang benar? Kamu menghabiskan waktu sama … istri kamu, ‘kan?” Aku memelankan ucapanku saat menyebut istri dalam kata-kataku. Mataku melirik ke arah mobil Saskia, berharap wanita itu tak keluar dari mobil pada waktu yang tidak tepat seperti ini. “Kamu melupakan aku, Mas.” “Bianca …” Pria itu berusaha untuk memegang tanganku. Tetapi, aku langsung menepisnya begitu saja. Sungguh, rasanya begitu muak saat melihat wajah Mas Hendra yang seperti tak pernah merasakan rasa bersalah sama sekali. “Aku memang terlalu egois. Aku seharusnya sadar diri kalau aku ini memang bukanlah pilihanmu yang terbaik. Aku bukan siapa-siapa kamu, seharusnya aku gak usah bersikap seperti ini. Wajar saja kamu dekat dengan Mbak Fahira, Mas. Karena memang dia adalah istri sahmu. Sedangkan aku di sini … tak lebih dari hanya seorang sim—” Tanganku langsung dicengkeram oleh Mas Hendra dengan cukup kuat. Sampai aku meringis kesakitan dibuatnya. “Mas … sakit! Lepas.” “Maaf, Bi,” Mas Hendra menatapku dengan tatapan sayunya. “Saya gak suka ketika kamu berbicara seperti itu. Saya gak suka kamu merendahkan dirimu sendiri. Kita terikat dalam hubungan karena memang kita saling menginginkan satu sama lain. Kamu spesial di hati, Mas. Jangan bilang seperti itu lagi, Bi.” Tangan Mas Hendra mengusap surai hitam milikku dengan lembut. Jujur, saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Mas Hendra membuatku begitu senang. Ah, aku terlalu lemah karena bisa hanyut dalam kata-kata yang dia ucapkan. Aku berdeham sebentar. Menatap mata Mas Hendra dengan lekat, lalu aku pun mengembuskan napas pelan. “Sejak kapan Mas pulang? Kenapa gak pernah mengabariku saat di sana?” “Saya di sana juga bukan hanya untuk menemani Fahira berobat, Bi, tapi juga bekerja sama dengan orang di sana yang memang sudah diatur sejak lama.” Pria itu menatapku dengan seksama. “Maaf, Bi. Maaf karena tak menghubungimu di sana.” “Iya, Iya …” aku pun menjawabnya dengan jawaban seadanya. “Jangan marah lagi, ya? Saya bawakan banyak coklat buat kamu. Ini bukan sogokan, ini memang asli saya yang belikan buat kamu dari Singapur, saya selalu memikirkan kamu. Kamu kan sangat suka dengan coklat.” Aku tersenyum senang. Lalu, Mas Hendra pun berjalan menuju mobilnya untuk mengambil coklat yang dia belikan untukku. Setelah itu, pria itu menemuiku kembali dengan sebuah paper bag yang lumayan besar menggantung di tangannya. “Kamu pulang naik mobil siapa?” tanya Mas Hendra seraya melirik ke arah mobil milik Saskia. “Temanku. Saskia.” Pria itu pun menganggukkan kepalanya. “Kenapa masih diam di sana? Dia tidak pulang?” Aku menghela napas pelan. “Dia gak pulang karena sudah beberapa hari ini Saskia tinggal sama aku.” “Apa?” ucap Mas Hendra dengan nada yang terkejut. “Kok kamu gak bilang sama saya, Bi …” “Ya, mau bilang gimana? Kamu telepon aku aja nggak. Ya udah aku diam saja.” “Ini coklatmu,” Mas Hendra memberikan paper bag yang ada di tangannya kepadaku. Aku tersenyum lebar seraya mengambil paper bag itu dan mengucapkan terima kasih kepada Mas Hendra. “Kenapa juga dia harus nginap di sini?” “Ya, karena dia memang ingin menginap saja.” “Hm … tadinya saya ingin lebih lama menghabiskan waktu berdua bersamamu. Tapi, karena ada temanmu di sini, saya tak mau membuatnya kecewa karena kamu bersama saya. Mungkin, lain waktu kita bisa menghabiskan waktu berdua.” “Ya, secepatnya. Aku juga tau sebentar lagi pasti Saskia akan pulang ke rumahnya, Mas.” Mas Hendra mengelus kepalaku lagi. Pria itu tersenyum kecil sampai membuat lesung pipi yang ada di sebelah kiri dan kanan wajahnya terlihat. Ah, Mas Hendra tuh tak terlalu tampan, tapi pria itu sangat manis. Kulitnya yang berwarna kecokelatan dengan mata yang tajam sukses membuatku terpesona kepadanya. “Sekarang Mas Hendra pulang saja dulu. Aku takut Saskia menunggu terlalu lama di mobil.” “Loh, kenapa gak suruh dia turun saja? Kenapa malah kamu yang menyuruh Mas untuk pergi?” “Mas lupa atau bagaimana? Ya, jangan dong, Mas. Aku gak mau tau kamu harus pulang sekarang. Aku gak mau kalau Saskia semakin penasaran dengan hubungan kita.” “Oke, Mas pulang. Jaga dirimu baik-baik, ya? Jangan lupa makan. Minum vitamin juga.” Mas Hendra mencium keningku dengan lembut sampai membuatku tersenyum lebar. “Iya …” Setelah itu, pria itu pun berjalan menuju mobilnya. Lalu, masuk ke dalamnya. Ketika mobil itu sedikit berjalan, Mas Hendra membuka kaca mobil dan tersenyum kepadaku. Aku pun membalas senyumannya. Sampai akhirnya, mobil yang dikendarai Mas Hendra pun pergi dari halaman rumahku. “Loh, loh, loh?! Dia kenapa pergi, Bi?! Kenapa pacar lu pergi? Lu belum kenalin gue sama dia.” Saskia langsung keluar dari mobil. Ia berjalan mendekatiku dengan langkah yang lebar. “Wah, wah, wah … drama rumah tangga apa yang barusan gue lihat ini, Tuhan …” ucap Saskia seraya menatapku dengan lekat. “Buat apa juga ngenalin lu ke pacar gue?” ucapku. “Ya ilah, Bi. Jangan gitu lah, kali aja bisa jadi teman kita. Lagian juga, ngapain gue ngembat cowo temen gue sendiri? Lu lupa ya? Gue juga kan udah punya pacar, lebih muda dari pada punya lu.” “Sialan!” Aku menepuk bahu Saskia hingga menbuat wanita itu tertawa terbahak-bahak. “Lu mau coklat gak?” Aku membuka paper bag yang ada di tanganku dan menunjukkannya ke hadapan Saskia. “Wah gila … banyak banget!” Saskia menatap tumpukan coklat di dalamnya dengan tatapan berbinar. “Keren ya lu, Bi. Sekalinya pacaran sama cowo yang udah kerja. Gak main-main, pasti enak banget ya, Bi? Dia kerja apa sih, Bi? Kok pakaiannya rapi banget gitu?” Aku berdecak pelan. “Udah deh, lu jangan banyak tanya. Mending kita makan aja ini coklatnya, mau gak?” “Ya, mau dong!” Aku pun langsung mengajak Saskia masuk ke dalam kosan. Di dalam kosan, kami berdua duduk di sofa panjanh yang berdemperan dengan tembok. “Ini coklat mahal banget tau,” ucap Saskia seraya melihatku mengeluarkan satu per satu coklat dari dalam paper bag. “Ada Läderach, Royce sama Godiva. Wah anjir sih ini, pesta coklat kita, Bi.” Keningku mengernyit saat Saskia mengetahui semua coklat yang diberikan Mas Hendra kepadaku. Aku saja baru pertama kali melihat coklat itu dan tak pernah merasakannya seumur hidupku. “Emang berapaan sih harganya? Kok lu sampe segitunya banget.” “Mahal, Bi. Harganya dari 500 ribuan.” “Apa?!” Aku terkejut mendengarnya. Mas Hendra juga membawakannya bukan hanya satu atau dua kotak, melainkan 7 kotak dengan merk coklat yang berbeda-beda. “Emang seenak apa, ya? Kok bisa mahal banget ini coklat. Mana isinya cuma dikit lagi.” Aku melihat satu per satu kotak coklat yang berada di hadapanku. Berapa uang yang dihabiskan oleh Mas Hendra sampai dia membelikanku sebegitu banyaknya coklat mahal ini? “Ya, enak lah. Kalau gak enak, harganya gak bakalan mahal. Terbuat dari bahan-bahan premium pastinya. Makanya lu cobain, deh,” ucap Saskia. Aku pun menbuka salah satu kotak cokelat. Aku mencium harumnya dengan detil. Dan ya, sama saja seperti coklat pada umumnya yang sering aku makan. Lalu, aku pun mengambil satu potongan coklat itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Mataku langsung berbinar saat merasakan paduan rasa yang menyampur menjadi satu di dalam mulutku. Astaga … pantas saja coklat ini sangat mahal. Aku mengakui bahwa ini adalah coklat yang sangat enak. Lidahku seperti dimanjakan oleh sensasi rasa yang diberikan. “Gimana?” “Enak banget, pantes mahal, ya. Lu makan deh, gue gak bakalan abis sendirian.” Aku menyodorkan kotak-kotak coklat itu ke hadapan Saskia. “Coba tanyain dong, pacar lu punya temen gak? Kali aja nyantol sama gue gitu. Lumayan dibeliin coklat mahal, kan gue juga mau.” Aku hanya memutar bola mata malas mendengar ocehan Saskia. Dia tidak tahu saja bahwa sebenarnya aku bukanlah wanita baik seperti yang dia kenal di hadapannya kini. Tak mungkin juga aku mengajak Saskia mengikuti langkahku menjadi wanita perebut suami orang. Aku tak mau hal itu terjadi. Cukup aku saja yang merasakannya. “Bercanda, Bi! Ya ampun serius banget itu muka.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN