Bab 7 : Kepanikan Bianca

1313 Kata
“Bi, itu dua pintu di sebelah kosan lu kosong, ya?” Keningku mengernyit saat Saskia bertanya hal seperti itu kepadaku. Lalu, aku pun menganggukkan kepala. “Iya, emangnya kenapa?” “Gue udah 2 hari nginep di sini, Bi. Makanya gue penasaran kok di sini sepi banget, gak ada tetangga. Terus kosan sebelah lu juga gak pernah keliatan ada orang. Emangnya, lu gak pernah ngobrol sama warga sini?” tanyanya. Aku menghela napas pelan sambil mengikat tali sepatuku. Dan akhirnya keingintahuan yang sangat besar dalam diri Saskia mulai muncul lagi. “Ck! Emang udah dari lama itu dua pintu kosan di samping kosan gue kosong. Terus kalau lu nanya gue gak pernah berinteraksi sama warga sini? Wah, lu salah … gue mau-mau aja berinteraksi sama mereka, cuma … ya gitu mereka rumahnya juga agak jauh dari tempat gue tinggal. Sekalinya gue pulang ke kosan, pasti rasanya pengen rebahan terus males keluar, Sas.” “Hadeh, emang ya dasar Bianca!” “Udah deh, ayo cepetan! Kita ke kampus keburu telat.” Aku langsung menarik tangan Saskia yang tadi sedang mengambil tasnya. Setelah itu, kami pun masuk ke dalam sebuah mobil jazz berwarna merah milik Saskia yang terparkir di depan rumahku. “Itu ada tetangga loh, Bi. Kok dia ngeliatin ke arah sini serem banget, sih?” “Ya, dia Bu Yuni, memang seperti itu orangnya. Sangat ingin tau segala hal,” ucapku. “Oh, pantas tatapannya itu seakan kita berdua ini adalah santapan yang segar untuk digoreng.” Aku tertawa kencang mendengarnya. “Udah ah, ayo cepet cus berangkat.” Kemudian, mobil pun melaju membawaku dan Saskia menuju tempat yang kami tuju. ••••• Setelah akhirnya melewati jam-jam panjang untuk mendengarkan dosen menjelaskan mata kuliah, dan saat ini aku bersama Saskia tengah berada di kantin. Aku sudah memesan sebuah mie ayam, sedangkan Saskia memesan bakso dan tak lupa juga kamu memesan air jeruk peras. Ah, membayangkan air jeruk peras yang terasa asam dan manis membasahi tenggorokanku, membuatku tak sabar untuk segera menyicipinya. Tetapi, ada yang membuatku murung sejak tadi. Aku memikirkan Mas Hendra. Pria itu benar-benar menyebalkan. Dia melupakanku atau bagaimana? Dia sudah tak lagi menghubungiku semenjak dia memberitahu bahwa saat ini dia sedang berada di Singapur. Memikirkan pria itu membuatku uring-uringan sejak tadi. Berbagai macam pikiran buruk memenuhi otakku. Aku takut, sangat takut jika nanti Mas Hendra sudah melupakanku dan tak lagi mencintaiku. Dia lah satu-satunya yang sangat aku cintai saat ini. Aku tak ingin kehilangannya. Tetapi, bagaimana jika dia lebih memilih istrinya dibandingkan dengan diriku ini? “Woi!” Aku terkejut kaget saat Saskia mengagetkanku dengan cara menepuk meja hingga menimbulkan suara yang cukup keras. “Lo apaan, sih?” Aku bertanya kepadanya dengan nada yang kesal. “Habisnya … lu ngapain diam aja terus dari tadi? Kayak banyak banget pikiran. Jangan gitu lah, Bi … kita masih muda, harusnya kita bersenang-senang sekarang, jangan mikirin masalah hidup lagi.” Aku memutar bola mata malas. Rasanya walaupun sudah dihibur dengan kata-kata yang keluar dari mulu Saskia, sama sekali tak membuatku menjadi lebih baik. Mas Hendra saat ini tengah memenuhi pikiranku. Aku benar-benar merindukannya sampai aku ingin menangis rasanya. Apa dia tidak merindukanku juga? Sampai dia tak pernah menghubungiku lagi? Rasanya aku ingin menghubunginya duluan, tapi aku tak mau. Aku tak bisa melakukan hal itu. Aku takut nanti jika aku meneleponnya, dia akan marah kepadaku. “Tuhkan melamun lagi. Mikirin apa sih, Bi?” Aku menggelengkan kepalaku seraya tersenyum kecil. Sudahlah, aku tak ingin sedih berlarut-larut eperti saat ini. Aku takut jika nanti Saskia akan menanyakan hal yang aneh-aneh lagi kepadaku. “Gak ada.” “Halah bohong. Dari tatapan mata lu. Dari tadi lu diem aja, ya gue pasti tau lah saat ini lu pasti lagi banyak pikiran, ‘kan?” “Serius gue gak apa-apa.” “Terus kenapa dari tadi lu malah diem terus sih, Bi? Gak biasanya.” “Lagi sedikit pusing aja. Kepala gue rasanya gak bisa diajak kompromi.” “Waduh, cepet-cepet deh lu periksa ke dokter.” Keningku mengernyit mendengarnya. “Ya ilah, ribet banget pusing doang pake segala ke rumah sakit. Ini minum bodrex juga udah ilang nanti pusingnya.” “Mual gak?” Aku semakin tak mengerti dengan ucapan Saskia. “Lu kenapa sih?” “Ya, gue nanya … lu selain pusing mual juga gak?” Aku menggelengkan kepala denhan pelan. “Emangnya kenapa?” “Ya, kali aja di perut lu lagi ada bayinya.” Aku menutup mulutku dengan kedua tangan saking terkejutnya karena Saskia berani mengucapkan hal itu. Astaga … apa yang dimaksud oleh Saskia itu hamil? Hahahaha … rasanya aku ingin tertawa keras. Aku tak mungkin hamil. Jelas-jelas aku dan Mas Hendra selalu bermain aman. Kami tak pernah melupakan yang namanya kontrasepsi. Ah … Saskia ada-ada saja. “Ngacok lu! Gak mungkin lah gue hamil.” Aku terkekeh pelan. “Ya, kali aja bener loh, Bi … lu gak tau ya walaupun udah seberapa amannya kalian begituan, ya tetep aja ada peluang untuk hamil. Kan gak ngeklaim 100 persen,” balas Saskia. “Udah deh, lu jangan bikin gue makin pusing, Sas. Jangan ngomong itu lagi, yang pasti gue gak hamil!” Aku membantah ucapan Saskia. Mulutku mencebik kesal. Setelah itu, senyumku mengembang melihat ibu kantin yang datang dengan nampan di tangannya. Sudah ada dua mangkuk di sana dengan dua air jeruk peras. Ibu Kantin menaruhnya di atas meja kami. Aku sudah tak sabar ingin menyicipinya. Aku pun mendekatkan mangkok milikku yang berisikan mie ayam agar dekat denganku. Sebelum itu, aku tersenyum ramah menatap ibu kantin seraya mengucapkan terima kasih. “Kapan lu mau balik dari kosan gue?” “Wah, lu ngusir nih ceritanya?” Aku menggelengkan kepala. “Nggak. Gimana nanti kalau nyokap bokap lu nyariin lu, Sas.” “Ya, biarin.” “Ck, kasian mereka, Sas,” jawabku. “Sebelum mereka berdua sadar kalau apa yang mereka lakukan kepada gue itu adalah tindakan yang salah, maka gue gak akan mau balik ke rumah.” Aku menelan salivaku. Ah … itu artinya Saskia akan tinggal lebih lama bersamaku? Lalu, bagaimana jika nanti Mas Hendra datang ke kosan milikku dan di sama masih ada Saskia. Aku jadi tambah pusing sekarang. “Makanya lu harus ngomong baik-baik sama mereka. Kalau lu malah pergi gini, masalah apa yang bakal lu selesaiin? Yang ada malah tambah buruk, ‘kan?” “Ah, udah lah, Bi … gue gak mau bahas mereka dulu. Kalau bahas mereka sekarang, rasanya nafsu makan gue langsung ilang.” Aku menghela napas pelan. Jika sudah begini, aku sama sekali tak bisa menolak Saskia. Wanita itu sudah terlalu banyak membantuku. Dan kini, saatnya aku membalas budi atas kebaikannya. Kami pun memakan makanan kami sambil mengobrol ringan tentang mata kuliah. Di semester 6 ini, banyak sekali tugas yang menumpuk dengan jarak deadline yang berdekatan sampai membuatku dan Saskia merasa kewalahan. Ketika kami sudah selesai makan, tak lupa kami membayarnya. Lalu, Saskia mengajakku untuk berbelanja sebentar. Walaupun aku tak ikut belanja sepertinya, dia tetap menawariku untuk membeli sebuah barang. Namun, aku tetap menolaknya. Yang aku inginkan hanyalah segera sampai ke kosan dan merebahkan tubuhku di atas kasur. Mobil yang dikendarai oleh Saskia memasuki gang menuju kosanku. Keningku mengernyit saat melihat mobil Lexus yang sangat aku kenali sudah terparkir di depan rumah. Sontak, aku menjadi sangat panik sekarang. Astaga … bagaimana ini?! Apa yang harus kulakukan? Itu adalah mobil Mas Hendra. Bagaimana jika Saskia menyadari bahwa di depan ada sebuah mobil yang terparikir di halaman depan rumahku. Ayo, Bianca … aku harus berpikir dengan jernih. Tetapi, bagaimana bisa? Aku tak akan bisa berpikir dengan baik disaat jantungku memompa begitu kencang. Aku benar-benar panik saat ini. “Bi … itu di depan kosan lu ada mobil? Ada tamu apa gimana?” Aku menyenderkan tubuhku di jok mobil. Ya Tuhan … begitu melelahkan menjalani hubungan rahasia seperti ini. Seberapa kuat aku menyembunyikannya, namun tetap saja ada celah untuk terbongkar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN