Bab 6 : Berbohong

1530 Kata
Jujur, rasanya kali ini aku ingin menghilang dari bumi saja. Sejak tadi, Saskia menatapku seakan aku adalah buronan polisi yang sedang diinterogasi. Ia menatapku dengan instens sembari memakan mie instan yang sudah jadi. Sedangkan aku, aku sama sekali tak menyentuh mie yang ada di atas meja. Nafsu makanku hilang entah kemana. Rasanya aku begitu malu saat ini. “So … gak ada yang mau lu ceritain ke gue?” Aku diam. Tak mau berbicara lebih banyak. Aku takut nanti aku tak bisa mengendalikan diriku dan menceritakan segala hal kepada Saskia. “Ya, emang sih, itu ranah pribadi lu. Lu juga udah dewasa, bukan anak kecil lagi. Gue juga cuma temen lu doang, kayaknya emang gue gak berhak tau segala hal tentang lu, ya udah …” “Gak gitu!” Aku langsung menyambar ucapan Saskia. “Bukan gitu maksud gue, Sas!” “Ya udah, gue gak mau ngeganggu lo lebih dalam lagi. Ini privasi lu, jadi gue hargain kalau emang lu gak mau cerita sama gue.” Aku memejamkan mata sejenak. Jari-jari tanganku saling memilin karena kegugupan yang tengah aku hadapi. Tuhan … aku harus menjelaskan apa kepada Saskia? Dia adalah teman terbaikku. Aku percaya kepadanya. Dia juga percaya padaku sampai semua masalah yang menimpa dirinya aku mengetahuinya. Dan kini, aku tak berani untuk jujur kepadanya. Namun, itu sama saja seperti aku meragukan Saskia, bukan? Aku takut menyakiti hatinya. Disaat dia mempercayaiku, tetapi aku malah menutup rapat-rapat tentang diriku. Aku mengerti, Saskia juga pas tidak enak hati jika selalu bertanya kepadaku tentang masalah ini. Harusnya memang aku lah yang mempunyai inisiatif sendiri untuk menjelaskannya kepada dia. “Oke … gue punya pacar.” Dan akhirnya, aku pun mengucapkan kata-kata itu. “Oh …” Aku mencebik kesal saat Saskia hanya menjawabnya dengan oh saja. “Gue udah pacaran sama cowo.” “Ya iya lah! Sama cowo! Lu pikir pengaman sepanjang itu dipake pisang!” “Ish, lu tuh kalau ngomong gak bisa disaring apa, ya?” Aku menatap Saskia dengan kesal. “Sejak kapan lu pacaran?” “Udah … lama sih.” “Oh … dan gue baru tau sekarang?” “Maaf, Sas … gue cuma gak mau aja ketahuan kalau gue udah punya pacar.” “Ya, bagus dong kalau lu udah punya pacar, orang kampus bisa tau termasuk si Haris, jadi dia gak ngejar-ngejar lu lagi.” Masalahnya gue pacaran sama suami orang! Aku berteriak dalam hati. Aku memang sangat ingin hubunganku tak disembunyikan seperti Saskia. Namun, yang ada aku malah cari mati jika seperti itu. “Gak mau ah. Ngapain pake segala ngasih tau orang?” “Emangnya kenapa, sih? Pacar lu jelek? Makanya lu gak mau ngasih tau.” “Heh! Kalau ngomong asal ceplas-ceplos aja ya lu!” “Ya maaf, Bi … abis gue gemes banget sama lu. Emang siapa sih cowok lu? Gue kenal gak? Dia satu fakultas atau beda? Jurusan apa? Kating bukan?” Hah … mulai, jika sudah memberitahu sedikit hal kepada Saskia, pasti jiwa kekepoannya segera muncul seperti sekarang. Aku menghembuskan napas pelan. Berusaha memikirkan kata-kata yang bagus sebagai jawaban. Dan ya, aku harus lebih memikirkan jawabanku kali ini, tak boleh sampai salah sedikit pun karena akan membuat Saskia semakin curiga nantinya. “Bukan, cowok gue gak kuliah bareng kita.” Kening Saskia mengernyit. “Terus siapa? Emang lu banyak kenalan ya, Bi? Perasaan lu ngerantau dari Bogor ke sini sendirian.” “Ya gitu deh, pokoknya dia gak satu kampus sama kita.” “Terus? Dia kuliah di mana?” Ah … rasanya aku ingin menyumpal mulut Saskia dengan kaos kaki yang bau. Pertanyaannya semakin ke sini semakin membuatku gelagapan. “Dia gak kuliah!” “Kerja? Berarti dia udah kerja dong! Kerja di mana? Apa jangan-jangan pengangguran?” “Dia kerja lah,” jawabku seraya memutar bola mata malas. “Udah ah, kalau lu nanya-nanya terus kayak gini, kapan gue makannya? Mie gue udah dingin tuh, udah ngembang.” Aku mengambil piring yang berisikan mie instan dari atas meja. Setelah itu, aku pun mulai menyuapkan sedikit demi sedikit mie instan ke dalam mulut. Ya, dengan makan mie, mungkin Saskia tidak akan lagi menanyakanku tentang hal itu. “Ih, Bi … gue penasaran tau!” Lalu, suara ponsel berbunyi pun membuat fokus Saskia langsung teralihkan kepada ponselnya yang tergeletak di atas meja. Aku bisa melihat keningnya mengernyit saat membuka kunci ponselnya. “Pokoknya lu utang cerita sama gue! Bentar gue mau ngangkat telepon dulu dari ayang.” Aku menatap Saskia yang pergi keluar dengan senyuman lebar di bibirnya. Sontak, aku langsung menyenderkan tubuhku ke sofa. Tanganku memijat pelipisku yang terasa pusing. Untuk kali ini, aku masih bisa memgembuskan napas lega. Dan aku memiliki cara lain supaya Saskia tak lagi menanyakan hal itu. Setelah makan, aku pun langsung beranjak menuju kamar, dan berbaring di atas ranjang. Memejamkan mata dengan cepat sebelum Saskia kembali masuk ke dalam. “Lah, ini bocah malah tidur!” Aku masib memejamkan mata. Berusaha untuk tak tertawa atau pun melakukan hal yang membuat Saskia curiga kalau aku saat ini sedang pura-pura tertidur saja. Dan akhirnya, aku pun merasakan ranjang di sebelahku melesak ke dalam seakan ada yang menempati. Mungkin, Saskia sekarang sudah merebahkan tubuhnya di sampingku. Tak ada lagi ucapannya seperti tadi. Hanya keheningan malam yang terdengar suara binatang menemani mereka berdua di malam ini. ••••• Pagi harinya, aku terbangun duluan sebelum Saskia. Wanita itu masih tertidur dengan damai di sebelahku. Ah … biasanya tempat itu yang menempati adalah Mas Hendra. Dan sekarang sahabatku lah yang tidur di tempat itu. Suara ponsel berbunyi mengejutkanku. Dengan cepat, aku pun mengambil ponselku yang masih dalam keadaan dicharge di atas meja nakas yang kecil. Senyumanku mengembang saat melihat nama yang tertera di layar ponsel. Ibu Panti Riana. “Halo, Bu … ada apa?” “Halo, Bi … apa kabarnya? Sehat?” Aku tersenyum. Ibu Riana memang sangat baik. Beliau selalu menanyakan kabarku ketika ia menelepon. Ibu Riana sudah aku anggap seperti ibuku sendiri. Sudah lebih dari 17 tahun aku hidup bersamanya di panti asuhan. Dia sama sekali tak pernah berbuat jahat kepadaku. Dia dengan sabarnya merawatku sampai sebesar sekarang. Dia adalah perempuan yang sangat baik yang pernah aku temui. “Baik, Bu. Ibu gimana kabarnya? Semoga adik-adikku di panti tak menyusahkan ibu, ya.” Lalu, terdengar suara kekehan dari seberang telepon. “Alhamdulillah nggak. Ibu baik, Bi, kapan kamu mau main ke Bogor lagi? Rasanya sudah sangat lama kamu tak mengunjungi panti lagi, Bi. Anak-anak banyak yang menanyakanmu di sini.” “Iya, Bu … nanti ketika aku libur kuliah aku akan ke Bogor.” “Jangan memaksakan ya, Bi. Kalau kamu lelah, cari waktu lain saja. Ibu tak memaksamu untuk cepat-cepat ke sini. “Iya, Bu … pasti.” “Makan sarapan apa di kosan, Bi? Kamu masak?” “Oh … nanti beli bubur saja, Bu. Aku telat bangun.” “Hm, baiklah. Oh iya, nanti uang bulanan Ibu transfer ya. Uang donasi tetap yang diberikan Pak Mahmud setiap bulan sudah cair, Nak.” Rasanya aku ingin menolak saja uang pemberian dari Ibu Riana. Karena aku tau, pengeluaran panti sangat banyak, dan uang kuliahku setiap bukan saja juga sudah cukup banyak. Aku tak itu memberatkan Ibu Riana. Kebutuhan anak-anak panti sangatlah besar. Dan jika setiap bulan aku masih mendapatkan bagian, rasanya aku seperti beban saja untuk mereka. “Ehm, Ibu … Bianca pikir Ibu gak usah lagi mengirim uang ke Bianca.” “Loh, kenapa? Kok gak boleh toh?” “Bukannya gak boleh, Bu. Bianca … Bianca sekarang sudah bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri, jadi Bianca pikir sebaiknya uang bulanan Bianca, Ibu gunakan saja untuk anak-anak panti lainnya.” “Alhamdulillah kamu sudah bekerja, Bi? Kerja di mana?” Aku memejamkan mata sejenak. Kerja, ya? Memangnya aku kerja di mana? Aku sama sekali tak bekerja. Uang yang aku dapatkan adalah uang pemberian dari suami orang. Rasanya aku ingin menertawai diriku sendiri yang begitu menyedihkan. “Ah, itu … aku bekerja di sebuah kafe, kerja part time saja ketika senggan di waktu kuliah. Dan bayarannya lumayam, Bu …” Kebohongan yang sudah berapa kali aku katakan kepada Ibu Riana. Tak hanya Ibu Riana, bahkan sahabatku sendiri—Saskia—sudah aku bohongi dengan semua alasanku yang aku berikan kepadanya. Rasanya aku memang pembohong yang ulung. Kebohongan yang keluar dari mulutku sama sekali tak bisa aku hentikan. Itu juga demi kebaikanku, aku tak mau jika hubunganku dan Mas Hendra sampai ketahuan. “Alhamdulillah Ibu seneng dengarnya kalau begitu. Oh iya, Bi … Ibu tutup dulu ya teleponnya, nanti kapan-kapan kita berbicara lagi.” “Iya, Bu …” Setelah itu, suara ponselku tak berbunyi lagi. Aku melihat layar ponselku lagi. Panggilan telepon dari Ibu Riana sudah mati. Dan sekarang di layar ponsel hanya menampilkan daftar orang yang pernah meneleponku. Aku mendengus kesal saat melihat nama Mas Hendra di sana. Pria itu sudah 3 hari lamanya tak menghubungiku lagi. Sepertinya dia bersenang-senang bersama istrinya di Singapur sampai melupakanku seperti ini. Ah … aku sangat cemburu, memikirkannya saja mmebuatku sakit hati. Tetapi, memangnya apa yang bisa kulakukan? Tak ada. Aku hanya bisa menunggu dia untuk meneleponku lagi. Karena jika aku yang menelepon dia duluan, nanti aku takut semuanya akan terbongkar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN