Bab 5 : Ketahuan

1408 Kata
“Lo kenapa, sih? Kok kayak orang habis lari marathon gitu?” Aku bersandar di tembok seraya memegangi dadaku yang terasa begitu sesak. Astaga, rasanya aku lelah sekali setelah menyembunyikan semua pakaian milik Mas Hendra. Kakiku rasanya ingin copot dengan tangan yang gemetar hebat. Untungnya, aku bisa menyelesaikan itu semua sebelum Saskia datang ke kosan. “Woi, nih anak diajak ngobrol kok malah diem aja?” Aku berdecak pelan. Dengan cepat, aku menarik tangan Saskia agar segera masuk ke dalam kosan. Lalu, aku pun mengunci pintu setelahnya. “Kenapa lo tiba-tiba datang ke sini, heh?” Aku bertanya kepadanya dengan kening yang mengernyit dalam. “Ya, emang apa salahnya main ke kosan temen gue sendiri,” ucap Saskia seraya mendudukkan tubuhnya di sofa panjang milikku yang memang hanya ada satu di ruang tamu. “Tumben.” “Serius, Bi! Kita udah lama temenan, gue gak pernah main ke kosan lu.” “Ya kan lu tau sendiri, kosan gue sama rumah lu jauh.” “Ya, tapi kan kalau naik angkot dari kampus juga deket.” “Kalau deket emang kenapa?” tanyaku dengan nada yang sebal. “Ih, lu masa gitu sih, Bi … gak pernah ngizinin gue buat main ke kosan lu.” Saskia menatapku dengan tatapan sendunya. Ya, aku tau itu hanyalah tatapan sendu yang dibuat-buat saja. “Tapi, kosan lu rapi juga ya, gue pikir lu gak mau bawa gue ke kosan lu gara-gara malu karena kotor,” lanjut Saskia seraya berjalan menyusuri kosan milikku. Aku berdecak pelan. “Sas, lu mau ke mana, sih?” “Ya, gue mau liat-liat kosan lu lah, Bi … udah deh gue bukan maling, jadi jangan tatap gue begitu.” Aku menghela napas pelan seraya mengikuti langkah kaki Saskia dari belakang. “Hm, bagus.” Saskia mulai menyentuh alat-alat dapur seadanya milikku yang tergantung di tembok. “Ah, gue bakal betah tinggal di sini.” “Wait …” aku berusaha untuk mengulang perkataan Saskia di dalam otak. Apa aku tak salah dengar? Saskia ingin tinggal di sini? “Ngacok, lo! Ya kali mau tinggal di sini.” “Ya, emang kenapa sih, Bi? Gak apa-apa dong, lagian juga nanti kalau bayar tagihan kos bisa dibagi dua.” Sontak, aku langsung menggelengkan kepala dengan cepat. “Nggak, nggak! Lu ada rumah, ya masa mah tinggal di sini sama gue? Orang tua lu gimana?!” “Lu jangan ngomongin mereka lagi deh.” Aku mengikuti langkah kaki Saskia yang sekarang sudah berbalik menuju ruang tamu lagi. Lalu, dia pun duduk di sana seraya menatapku dengan lekat. “Sas …” “Gue muak, Bi! Gue kesel banget sama mereka. Gue capek!” Aku memejamkan mata sejenak. Saskia sepertinya memang sedang dalam kondisi emosi yang tidak baik. “Oke, beb, calm down. Cerita sama gue dikit-dikit biar lo tenangan.” Aku duduk di samping Saskia seraya mengelus lengannya dengan lembut. “Gue kesel, Bi. Gue udah gak kuat. Masa mereka mau jodohin gue! Lu pikir aja emangnya sekarang masih zaman Siti Nurbaya? Gue gak mau, Bi! Gue punya pacar, gue gak mau nikah sama orang yang sama sekali gak gue kenal.” Aku meneguk saliva dengan susah payah. Masalah Saskia kali ini cukup sulit. Saskia sering mengeluh kepadaku kalau dia tak senang jika kedua orang tuanya selalu saja ikut campur dalam urusan pribadinya. Jujur, aku tak pernah merasakan hal itu. Namun, ketika mendengar cerita dari Saskia, rasanya dia begitu sangat frustrasi dengan keadaannya sekarang. “Makanya lu kabur ke sini?” Saskia pun menganggukkan kepalanya. “Ya, mau gimana lagi? Lu temen gue yang paling deket, gue selalu cerita ke lu, Bi. Jadi, gue percaya sama lo.” Aku tersenyum sambil menganggukan kepala. “Oke! Lu boleh di sini, tapi gak boleh lama-lama, nginep sebentar sih oke, ya,” ucapku. “Yes! Yes! Thank you, babe …” Saskia langsung memeluk tubuhku dari samping. Aku pun tersenyum kecil. “Lo harusnya bersyukur, Sas … masih punya nyokap sama bokap, kalau emang kemauan mereka gak sesuai sama kemauan lu, omongin baik-baik.” “Lu gak ngerti gimana nyokap sama bokap gue.” Aku terkekeh pelan. “Iya, emang gue gak tau mereka gimana, gue pernah ketemu sama mereka, ‘kan? Lu lupa, ya? Jadi, menurut gue mereka baik. Orang tua pasti ingin yang terbaik buat anaknya, ‘kan?” “Ah, udah deh, Bi! Jangan ngomongin mereka lagi. Lu gak tau rasanya punya orang tua, jadi—” Aku terkejut saat mendengar ucapan Saskia. Sontak, aku pun langsung menatapnya dengan tatapan marah. Dan aku melihat wajah Saskia yang sudah berubah menjadi wajah yang merasa bersalah. Sepertinya, Saskia tak sengaja mengucapkan hal itu. “Bi … gue, gue gak maksud, maafin gue, Bi.” Aku tersenyum kecil. “Bener kok apa yang lu bilang tadi. Gue emang gak pernah ngerasain punya orang tua.” “Bi … ah jangan gini, gue keceplosan. Lu sih bahas, bahas tentang orang tua gue mulu, jadinya gue kesel. Maaf Bi.” Saskia langsung menyentuh tanganku. Dia menatapku dengan sendu. “Bianca …” Aku menghela napas sejenak. Kemudian tersenyum seraya menganggukkan kepala. “Santai, udah, udah … jangan bahas ini lagi, mending sekarang kita makan. Lu udah makan apa belum?” Aku melihat Saskia menggelengkan kepalanya. Kemudian, aku pun langsung berdiri. “Mau makan apa ya kita?” tanya Saskia. Aku berpikir sejenak. Melihat jam di dinding yang masih menunjukkan pukul 9 malam. Sepertinya belum terlalu malam. Masih banyak tukang jualan yang buka di luar. “Ayo keluar, kita cari makanan. Martabak enak deh kayaknya?” Saskia langsung menggelengkan kepalanya. “Gak ah, Bi! Gue males jalan keluar, mending masak mie aja? Lu pasti ada mie instan, ‘kan?” Aku menganggukkan kepala. “Ada.” “Nah, udah kita makan itu aja, jangan beli martabak, lu gak tau aja ya kalori di dalam martabak tuh gede banget tiap potongnya, gue gak mau jadi gendut.” Aku memutar bola mata malas saat mendengarnya. “Ribet. Makan mie instan emangnya gak bikin gendut? Mana malam-malam lagi dimakannya.” “Ya, kalau dikit sih gak apa-apa,” ucap Saskia seraya terkekeh pelan. Kemudian, dia pun langsung berdiri dan menarik tanganku ke dapur. Di dapur, aku langsung mengambil 2 bungkus mie instan dari dalam lemari kecil. Ah, aku tersenyum kecil menatap mie instan yang masih banyak di sana. Sudah beberapa bulan ini, aku tak pernah lagi mengonsumsinya sebab Mas Hendra yang melarangku karena tak sehat jika dimakan terus-terusan. Dan akhirnya, dia selalu mengirimiku makanan lewat ojek online. Dan yang paling menyebalkannya, bapak ojek yang mengantarkan makananku selalu mengucapkan kata-kata romantis, katanya itu dari pacarku. Ya, siapa lagi jika bukan Mas Hendra? Ketika aku menanyakannya ke dia pun, dia langsung mengakuinya. Mas Hendra sepertinya balik kembali ke masa puber keduanya, seperti remaja yang sedang dimabuk cinta padahal usianya sudah sangat matang. “Woi! Malah ngelamun.” “Ish! Berisik nih,” ucapku seraya mengerjapkan mata. “Lama banget, itu air udah keburu ngegolak lagi!” “Iya, iya … maaf.” Saskia langsung merebut mie instan dari tanganku. Lalu, ia pun membuka bungkus mie instan itu dan mencelupkan dua buah mie instan ke dalamnya. Aku membuka isi bumbu dan menaruhnya di atas piring. Setelah itu, aku memasukkan bungkus bumbu bekas tadi ke kemasan mie instan yang sudah kosong. Saskia langsung mengambilnya dan membuangnya ke tong sampah. Namun, setelah itu, aku langsung mendengar teriakannya yang membuatku begitu terkejut. “BIANCA!!!” “Astaga, lo kenapa sih teriak gitu?!” ucapku seraya berjalan mendekatinya. “Pantes ya, lu gak pernah mau ngajak gue main ke kosan lu.” “Maksud lo?” “Udah deh jangan pura-pura bego,” ucap Saskia yang membuatku semakin tak mengerti. “Lu punya pacar tanpa bilang-bilang ke gue, Bi? Jahat banget … gue aja selalu cerita masalah gue ke lu, tentang percintaan gue, tapi kenapa lu malah nyembunyiin semuanya?” “Apa sih? Pacar apa? Gue gak punya pacar.” “Terus ini apa?!” Ucap Saskia seraya menarik tanganku mendekat ke arah tong sampah. “Lu liat baik-baik! Ini ada bekas pengaman, ya gak mungkin kan kalau ini bekas genderuwo yang lagi berkembang biak?” Mataku langsung melotot begitu melihatnya. Astaga, kenapa aku sampai tak tahu ada bekas itu di sana! Bodoh! Bodoh! Bianca, bodoh! Lalu, apa yang harus aku katakan kepada Saskia sekarang? Dia pasti begitu syok saat melihatnya tadi. Dan kini … dia mencurigaiku. Ah, Mas Hendra!! Awas saja nanti kalau dia sudah pulang, aku tak segan untuk memarahinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN