Aku tertawa sumbang ketika langkah kakiku semakin pelan menuju indekos. Seseorang yang kutunggu ternyata tidak datang. Rasanya aku ingin menertawai diriku sendiri. Tadi, setelah turun dari angkutan umum, aku langsung berlari secepat mungkin agar segera sampai di indekos karena aku takut jika Mas Hendra sudah datang dan menungguku di sana. Dan ternyata, ekspektasiku terlalu tinggi. Pria itu tak ada di sana. Lagi pula, memangnya apa yang ingin kamu dapatkan, Bi? Aku bertanya pada diriku sendiri.
Mendapatkan waktu senggang sebentar bersama Mas Hendra saja sudah membuatku senang. Jadi, aku tak boleh berharap lebih untuk menjadi prioritas bagi pria itu. Sebab, aku hanyalah simpanannya, wanita yang rela menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Mas Hendra. Tentu saja, waktu bagi kamu berdua tak leluasa seperti pasangan kekasih pada umumnya.
Aku menghela napas sejenak, kemudian tanganku membuka kunci rumah. Aku melirik ke arah dua pintu yang berjejer di sebelah indekosku, dua pintu kosan itu tak ada yang mengisi. Sebenarnya, kosan yang aku tempati ini lebih tepat disebut sebagai kontrakan. Karena memang di dalamnya sudah terdiri dari dapur, kamar mandi dan juga ruang tamu yang kecil. Tapi, ya, memang sejak awal aku masuk kuliah, aku sudah berada di tempat ini. Jadinya, ibu kos sudah mengenal diriku dan memberikanku harga yang sesuai kantongku saat itu.
Kalau ditanya, apakah aku takut tinggal di tempat ini sendirian? Sebab, dua pintu di sebelah kosan milikku ini tak berpenghuni. Ya, memang sering kali banyak orang yang membicarakan tentang kosan ini kepadaku. Mereka bilang, kosan yang aku tempati ini tidak bagus dan banyak penghuni ghaibnya, dan mereka sering mengganggu orang-orang yang tinggal di sana.
Namun, haruskah aku bersyukur karena aku sama sekali tidak pernah merasakan gangguan-gangguan itu seperti yang diucapkan oleh mereka. Entahlah, aku bahkan pernah menanyakannya sendiri kepada ibu kos tentang hal ini, dia bilang kalau orang yang menjelek-jelekkan kos-kosan miliknya hanyalah orang yang iri dan dengki kepadanya. Aku hanya menganggukkan kepala saja waktu itu. Dan memilih untuk tidak membahasnya lagi, aku sudah cukup nyaman tinggal di sini.
Ketika aku tengah melepaskan sepatu sambil duduk di kursi, tiba-tiba saja ponselku berdering. Dengan cepat, aku pun melihat nama yang terpampang di layar ponselku. Dan senyumku mengembang saat nama Mas Hendra lah yang berada di sana. Aku pun dengan segera mengangkatnya.
"Halo, Mas ..." ucapku dengan nada yang antusias.
"Hai, Bi ..."
Aku tersenyum kecil seraya meremas kemeja yang aku gunakan. Demi Tuhan, hanya karena suaranya saja sudah membuatku salah tingkah seperti ini. Memang efek Mas Hendra kepada diriku tak bisa aku tahan lagi.
"Iya, kenapa, Mas?" Aku mencoba untuk menetralkan napasku.
"Lagi apa?"
Aku menghela napas pelan. Ah, pertanyaan itu sudah sangat sering ditanyakan. Tetapi, aku tau ... Mas Hendra sengaja mengatakan hal basa-basi seperti itu agar ia bisa berbicara denganku. Karena jika tidak, maka kami tak akan pernah berkomunikasi.
"Ya, gini ... abis pulang dari kampus."
"Oh, sudah pulang ya?"
"Hm ..." Aku hanya menjawab seadanya dengan sebuah dehaman.
"Maaf, ya."
Keningku mengernyit saat Mas Hendra berkata seperti itu. "Maaf? Maaf untuk apa, Mas? Kenapa malah tiba-tiba minfa maaf begini? Kamu gak kenapa-kenapa, 'kan?"
Bukannya sebuah jawaban yang aku terima, Mas Hendra malah tertawa begitu kencang sampai menbuatku kesal.
"Mas! Kok malah ketawa? Aku kan nanya," ucapku dengan jengkel.
"Iya, iya ... maaf, Bi. Mas kan cuma ketawa aja, lagian kamu nanya gak bisa ya satu-satu dulu? Langsung nyerocos aja begitu."
Aku tersenyum kecil. Pipiku menjadi panas sekarang. Aku jadi mengingat bahwa Mas Hendra memang sering sekali memanggilku dengan sebutan si cerewet, karena memang aku tak pernah bisa diam, ketika berbicara dengannya ataupun ketika kami berada di atas ranjang di bawah selimut yang sama. Eh, sudahlah bagian itu tak usah aku perjelas lagi.
"Jadi, kenapa Mas minta maaf begitu?"
"Maaf karena Mas gak bisa sama kamu dulu selama seminggu ini."
Aku kaget saat mendengarnya. Seminggu? Astaga ... apakah aku tidak salah dengar? Rasanya pasti akan lama karena Mas Hendra tak datang selama seminggu penuh.
"Memangnya kamu lagi di mana? Kok gak ngasih tau aku sih? Padahal kamu bisa telepon atau ngapain kek supaya kamu bisa ngasih tau aku kabar ini!"
Ya ampun, aku berani berkata seperti itu kepadanya. Memangnya siapa diriku yang akan ia beritahu tentang semua kegiatan yang akan ia lakukan? Cukup sadar diri saja lah, Bi.
"Mas lagi di Singapur, mengantarkan Fahira menjalankan pengobatannya."
Aku meneguk saliva dengan susah payah. Ternyata, Mas Hendra sedang bersama istrinya di luar negeri. Pria itu tengah menemaninya melakukan pengobatan. Aku tau dari Mas Hendra kalau istrinya itu mengidap penyakit kanker mulut rahim. Ya, mungkin itu alasannya mereka sampai sekarang belum dikaruniai seorang anak dalam pernikahan mereka. Memang, Fahira memiliki kehidupan yang diinginkan oleh semua orang, termasuk aku. Tetapi, dibalik semua itu, dia tengah berjuang mati-matian agar sembuh dari penyakitnya.
"Bi? Kamu masih di sana? Kenapa diam saja?"
Aku langsung menggelengkan kepala dengan refleks. "Ah, iya, aku masih di sini, Mas. Gak apa-apa, cuma lagi banyak tugas aja jadi aku sedikit pusing.”
“Ya sudah, jangan lupa makan, minum obat, periksa ke rumah sakit ya, Bi. Mas gak mau kamu kenapa-kenapa, setelah itu istirahat yang cukup.”
Aku tersenyum mendengarnya seraya menganggukan kepala. “Iya, makasih ya, Mas.”
“Kalau begitu, Mas matikan teleponnya, Fahira memanggil.”
Deg.
Jantungku seakan berhenti berdetak. Istri dari kekasihku memang begitu disayang oleh suaminya. Mas Hendra pernah berkata kalau dia tidak mencintai istrinya, tapi dia sayang kepadanya hanya sebatas kasihan. Entahlah, aku pusing untuk memikirkannya lagi. Yang ada hatiku semakin sakit saja, aku memang harusnya mengalah bukan? Karena Mas Hendra adalah suami sah dari Mbak Fahira. Wajar saja dia melakukan hal seperti itu kepada istrinya.
Aku berdiri setelah memasukkan sepatu ke dalam rak yang berada di samping pintu. Setelah itu, aku pun berjalan menuju kamar, merebahkan tubuhku di atas kasur yang nyaman, membuat tubuhku rileks sedikit.
Tetapi, ketika aku ingin menutup mataku, tiba-tiba saja ponselku kembali berbunyi. Aku sontak menatap ponsel yang ada di tanganku itu. Dan melihat nama sahabatku yang tertera di sana. Aku pikir itu Mas Hendra, ternyata bukan.
“Kenapa?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Gue ke kosan lu sekarang!”
Mataku sontak terbuka lebar saat Saskia berkata seperti itu. “Apa?! Ngapain?!”
“Gak mau tau gue mau ke sana!”
“Lu mau ngap—”
Belum sempat aku bertanya lagi. Saskia langsung mematikan ponselnya. Ah sudahlah, biarkan Saskia datang ke kosanku. Aku ingin memejamkan mataku kembali, namun aku langsung teringat sesuatu.
Astaga … pakaian milik Mas Hendra banyak sekali di dalam lemariku. Nanti, jika Saskia melihatnya bagaimana?! Aish! Sungguh menyebalkan. Seandainya saja aku dan Mas Hendra menikah dengan resmi dan semua orang mengetahuinya, aku jadi tak perlu takut seperti ini ketika ada orang yang melihat lemari bajuku dipenuhi oleh pakaian pria.
Aku bisa tinggal bilang saja kalau pakaian ini milik suamiku. Semudah itu. Tetapi, kembali ke realita. Aku hanyalah seorang simpanan! Atau istilah kasarnya adalah pelakor. Aku tak mungkin membiarkan pakaian Mas Hendra ada di sana, pasti nanti ketika Saskia mengecek lemari bajuku untuk meminjam baju dia akan sangat syok ketika melihatnya. Saskia akan menanyakan banyak pertanyaan kepadaku. Dan aku tak mau jika itu sampai terjadi.
Dengan segera, aku bangkit dari kasur. Aku memikirkan segala cara untuk memindahkan pakaian milik Mas Hendra yang terlanjur banyak itu. Sampai akhirnya, aku melihat koperku yang tergeletak di bawah kasur. Ah, Bianca … kau ini memang sangat pintar! Aku bangga kepada diriku sendiri. Akhirnya, aku pun mengambil koper dari bawah ranjang.
Tetapi, hal tak terduga terjadi. Koper yang ada di bawah ranjang sangat kotor. Bahkan, ketika aku membukanya, sudah banyak sekali sarang laba-laba di sana.
“Argh!” Aku berteriak kesal. Sungguh, rasanya kepalaku ingin pecah sekarang!