Bab 3 : Hubungan yang Disembunyikan

1332 Kata
"Wih gila, wangi banget badan lo." Aku tersenyum kecil saat Saskia mengendus-endus tubuhku dari samping. Saat ini, kamu sedang berjalan menuju kelas, karena memang sekarang ada jadwal salah satu mata kuliah. "Emangnya baru kali ini ya, gue wanginya?" tanyaku seraya menatap wajah Saskia dengan lekat. Hingga akhirnya, kami pun sampai di dalam kelas. Aku dan Saskia seperti biasa duduk bersebelahan di barisan tengah-tengah. Sengaja memang, aku dan Saskia lebih dulu hadir agar bisa mendapatkan kursi paling nyaman menurut kami. Karena aku dan Saskia sama-sama penderita rabun jauh, ketika mata kuliah berlangsung pun kami memakai kacamata, oleh karena itu, posisi paling enak di tengah-tengah. Jika terlalu di belakang, bahaya jika kami tak bisa melihat penjelasan dosen dengan seksama. Dan jika terlalu dekat, aku dan Saskia lebih sempit ruang geraknya karena terlalu diperhatikan oleh dosen. "Ya, wangi sih, Bi. Cuma ya ... lo kali ini wanginya beda. Kayak wangi penganten." Aku mengernyitkan kening dengan bingung. "Penganten? Wangi melati dong gue!" Aku melihat Saskia yang kini sedang tertawa seraya mengambil alat make-upnya dari dalam tas. "Ck, emang wangi penganten tuh wangi melati, ya?" Saskia sedang menggambar alisnya yang tidak tebal dan tidak tipis itu. Aku selalu melihatnya, Saskia mempunya wajah oriental yang begitu kental karena aku pernah bertemu dengan kedua orang tuanya. Dan aku sendiri yakin kalau gen Saskia menurun deras dari Ayahnya yang merupakan pria berdarah Chinese. "Ya emang begitu, 'kan? Penganten rata-rata banyak yang pake melati di kepalanya, sampai gue pernah lagi di nikahan orang ... duduk paling depan, masih kecium itu wangi melati sangat semerbak." Saskia kembali tertawa. "Jadi kemana-mana gini kita ngomong. Maksud gue ... lu ganti parfum, ya?" Aku tersenyum misterius. Lalu, mengangguk dengan pelan. "Kok lu bisa nyadar gitu, sih?" "Ya, karena tiap hari lu bareng sama gue, masa gue gak ngenalin wangi parfum lu." Benar juga, aku hampir kemana-mana bersama dengan Saskia. Jadi, mungkin Saskia sudah mencium wangi yang beda dari tubuhku. "Lo pake parfum apa?" "Bentar, gue ambil dulu." Aku pun membuka tas yang ku taruh di bawah meja. Setelah itu, aku mencari benda itu di sana. Dan akhirnya aku pun menemukannya dan langsung memberikannya kepada Saskia. "Eh, gila! Ini parfum mahal banget, Bi!" ucap Saskia dengan nada yang begitu kaget. Aku tersenyum kecil seraya terkekeh. "Gila gila, parfum Dior." Lalu, aku melihat Saskia yang mulai membuka tutup botol parfum milikku dan mengendus wanginya dengan perlahan. "Enak kan wanginya?" tanyaku kepadanya. Ia langsung menganggukkan kepalanya. "Iya, wangit banget, ini parfum KW ya, Bi?" "Enak aja," aku langsung tak terima saat Saskia menyebut parfum yang kupunya adalah parfum yang tidak original. Padahl, jelas-jelas aku membelinya bersama Mas Hendra di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia. Jadi, sangat tak mungkin jika itu parfum KW, aku juga melihat harga yang dibayarkan oleh Mas Hendra waktu itu. Ya, wajar saja sih Saskia sampai menebak ke arah situ. Mungkin, karena aku adalah mahasiswi yang berasal dari panti dan tinggal di sebuah kos-kosan kecil. Jadi, Saskia tidak percaya bahwa aku bisa membeli barang semahal itu. "Eh, tunggu ... tapi ini mirip banget sih wanginya sama kayak punya nyokap gue. Keren banget ya, parfum KW aja bisa begini wanginya, plek ketiplek." Aku memutar bola mata malas. Setelah itu, aku pun mengambil parfum milikku yang berada di tangan Saskia. "Ini emang parfum KW kok, Sas. Aku beli di online shop, harganya juga lebih murah dibandingkan yang asli." "Oalah, tapi itu juga wanginya enak sih, bener-bener mirip." Aku tersenyum kecil. Ya, tentu saja wanginya sangat mirip dengan milik ibumu, karena memang parfum yang aku punya ini adalah parfum asli. Aku terpaksa berbohong kepada Saskia karena aku tak mau membuatnya curiga dengan menanyakan uang dari mana yang aku dapatkan sampai aku bisa membeli parfum semahal ini? Dan tak mungkin bukan jika aku mengatakan yang sejujurnya kalau aku adalah simpanan pria kaya? Lagi pula orang-orang tau aku hidup dalam tanggungan donasi panti dan Saskia pun sangat tau hal itu. Dan akhirnya, ketika Saskia ingin bertanya lagi, dosen sudah masuk ke dalam kelas hingga akhirnya dia pun mengurungkan ucapan yang baru berada di ujung lidah. Aku bersuukur, karena Saskia tak lagi menanyakan sesuatu hal menyangkut ranah pribadiku. Karena aku benar-benar tak ingin diusik oleh siapa pun termasuk itu adalah sahabatku sendiri—Saskia. ••• Ketika selesai dengan perkuliahan. Akhirnya aku bisa bernapas lega karena sebentar lagi aku akan pulang dan langsung merebahkan tubuh di atas kasur yang empuk. Ah, pasti rasanya begitu nyaman. Namun, semua khayalanku itu buyar ketika melihat Haris yang berjalan menuju ke arahku dengan senyumannya yang lebar. Aku ingin cepat-cepat pergi, tapi kenapa rasanya kakiku sulit untuk kugerakkan. Lagi pula, jika aku tiba-tiba pergi begitu saja, pasti Haris akan merasakan suatu hal yang aneh. "Hai, Bi ..." Aku tersenyum kecil saat Haris menyapaku. "Hai, Ris ..." "Kok sendirian aja? Saskia mana? Biasanya kalian selalu berdua kemana-mana." Aku terkekeh pelan saat mendengar ucapannya. "Dia kan punya pacar, Ris. Jadi, ya ... dia pulang bareng sama pacarnya itu." Aku melihat Haris yang tertawa kecil. "Memangnya, lo gak mau ya seperti Saskia dan pacarnya itu?" Keningku mengernyit tak mengerti dengan ucapan yang dilontarkan oleh Haris. "Maksudnya?" "Maksudnya apa lo gak mau ngerasain punya pacar juga kayak dia?" Aku langsung menundukkan kepala. Rasanya begitu canggung saat membicarakan hal ini dengan seorang pria yang pernah aku tolak cintanya berkali-kali. Jantungku berdetak dengan cepat, takut jika Haris kembali menyatakan cintanya kepadaku lagi. Aku tau, Haris tak pernah putus asa untuk mendapatkan hatiku. Pria itu bilang jika dia yakin kalau aku suatu hari nanti akan membuka hati untuknya. Entahlah, aku pun bingung, sebenarnya yang dirasakan oleh Haris itu cinta atau hanya sekedar obsesi untuk mendapatkanku? Padahal Haris tampan, pria itu bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik dari dirinya. Tetapi, kenapa sampai sekarang Harsi masih tetap mengejar-ngejar dirinya setelah beberapa kali ia menolak pria itu? "Ehm ... maaf, Bi, gue gak bermaksud," ucap pria itu yang langsung aku tatap dengan senyuman lembut. Kemudian aku pun menggelengkan kepala pelan. "Ah, gak apa-apa. Lagi pula, itu pertanyaan memang wajar. Gue lagi gak mau menjalin hubungan dengan seorang pria, karena aku akan fokus untuk menjalani kuliahku dulu agar beasiswa yang ku dapatkan bisa terus gue gunakan sampai gue lulus,” alasanku. Lalu, aku tersenyum mengejek dalam hati. Rasanya aku begitu munafik di depan pria itu. Padahal, aku bukan lagi seorang wanita yang lajang. Aku memiliki seorang kekasih, dan pria itu adalah seorang suami dari wanita lain. Ah, hubungan yang begitu rumit dan mendebarkan terjadi di dalam hubunganku dengan Mas Hendra. Aku sampai harus menyembunyikannya dari siapa pun agar tak ada yang mengetahuinya. “Oh, begitu …” Haris tersenyum kecil menanggapinya. “Pantes cinta gue ditolak terus.” Aku tersenyum kecil. Bukan. Bukan karena itu alasannya. Aku memang tidak memiliki perasaan kepadamu, Ris. Aku mencintai pria lain dan aku tak bisa untuk meninggalkannya. Mau sebaik apa pun dirimu, aku tetap tak akan bisa berpaling darinya. “Kalau gitu, gue pulang dulu, ya?” “Mau gue anter gak?” Aku langsung menggelengkan kepala. “Gak usah, gue bisa pulang naik angkot kok. Duluan ya, Ris.” Aku cepat-cepat berjalan menjauhinya. Aku tak ingin terjebak lebih lama bersama dirinya di sini. Pasti Haris akan menanyakan hal-hal lainnya lagi kepadaku. Dan ketika dia mengajakku pulang bersama, rasanya aku tak mau karena aku takut … takut jika nanti aku pulang bersama Haris, di depan kosan milikku sudah ada Mas Hendra yang menunggu. Mas Hendra memang sering datang tiba-tiba ke kosanku. Dan karena kosanku berada di pemukiman yang cukup sepi, jadi dia tak terlalu mempermasalahkan jika tetangga melihat kami yang berduaan. Ah iya, dalam kosan yang berjejer tiga di sana, hanya aku lah penghuninya. Jadi, kami lebih diuntungkan bukan? karena tak mungkin ada yang mengganggu. Dan jika Haris sampai mengantarkanku ke kosan dan melihat Mas Hendra di sana, pasti semuanya akan kacau. Hubungan yang sudah aku sembunyikan baik-baik akan hancur begitu saja dengan banyaknya pertanyaan yang keluar dari mulut Haris ketika melihat seorang pria matang berada di depan kosanku. Ah, aku tak ingin sampai hal itu terjadi, oleh karena itu aku lebih memilih untuk menolak ajakannya saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN