Bianca begitu pusing sekarang. Ia beberapa kali menghubungi nomor ponsel milik Mas Hendra, namun pria itu sama sekali tak pernah mengangkatnya. Ia panik. Tak tau harus berbuat apa lagi. Rasanya tenaganya begitu terkuras habis karena terlalu lama menangis. Ia sudah memberanikan diri untuk menelepon pria itu, tetapi apa yang ia dapatkan? Sama sekali tak ada tanggapan. Bianca tak tau kemana pria itu sebenarnya. Tak mungkin bukan jika Mas Hendra meninggalkannya begitu saja tanpa kabar? Mas Hendra bukanlah pria yang seperti itu. Namun, tak dapat Bianca pungkiri bahwa dalam hatinya terdapat ketakutan yang begitu besar. Semua bisa saja terjadi secara tidak terduga. Pikiran buruk tentang hubungannya dan juga Mas Hendra selalu menghantui dirinya. Apa lagi saat ini ... ketika ia berada dalam masa

