Fast Lane 3 - Major Erection

810 Kata
Goosfraba... Goosfraba... Gue punya satu kebiasaan aneh yang sering gue bawa - bawa kalau gue lagi berada di dalam kamar mandi. Yaitu ngomong goosfraba, goosfraba. Ini semacam kalimat yang ditujukan untuk menenangkan pikiran seseorang... Dengan mengucapkannya secara berkali kali. Goosfraba... goosfraba... pikiran seseorang akan menjadi lebih rileks dan tenang. Awalnya, gue dapat ide kecil itu dari sebuah film tentang city cop comedy gitu... kalau nggak salah ya, karena gue menonton nya waktu masih kecil, jadilah, gue ikut ikuti hal tersebut, yaitu mengucapkannya. Which is, terasa menenangkan... Tapi cuma setiap mandi aja, gue menikmati mengucapkan goosfraba... berulang ulang kali. "Hihi...." Lagi asyik mandi air hangat kuku di pagi hari itu, tiba - tiba gue dibikin jiper sama suara aneh yang terdengar seperti suara kuntilanak itu. — Meskipun gue seorang non-believer atau orang yang suka nggak percaya terhadap hal yang khayal dan takhayul seperti ini, tapi yang namanya legenda rakyat ya pasti lengket melekat di pikiran anak - anak yang pernah tinggal di Indonesia bro. Ya apalagi kalau bukan kuntilanak merah yang konon katanya cuma ada di Bali. Correct me if I'm wrong. — Kuntilanak merah memiliki magical force, atau kekuatan magis atau sihir yang lebih dahsyat bila dibandingkan dengan kuntilanak biasanya. Kuntil anak white atau kuntilanak putih. — Hih! nggak mau gue diculik dan dibawa ke dimensi yang berbeda sama kuntilanak² itu. Apalagi pada saat mandi kayak begini. "Hih, hihihih...." suara itu terdengar lagi, lae. Anjiang! Lo tahu kan betapa angker nya, betapa merasa kecilnya gue saat berada di momen seperti ini. Lo tahu kan gimana suasana mistis nya Bali? high, bro! (Kenceng, bro!) Gue kadang mau nonjok rasanya kalau udah ada di tempat dan posisi seperti ini, lagi asyik mandi dong... digangguin. Bukannya gue mau sompral, tapi ya, seenggaknya jangan ganggu gue pas gue lagi mandi lah... — Nggak, nggak bakal kabur kok gue, cuma ya mengganggu kenikmatan momen mandi seseorang, itu aja udah salah... Hahaha. (nih hantu, gue curhat buat elo!) Sedikit mulustrasi, kamar mandi di villa milik Dewinta ini terletak jauh dari kamar dan ruang utama yang lainnya. — Untuk masuk ke bilik shower nya aja, gue harus melewati ruangan panjang, agak gelap remang remang gitu dengan hiasan bunga dan lilin lilin kecil menempel di dindingnya. Temboknya terbuat dari keramik yang berwarna hitam ke abu abuan gitu bro, gue nggak hafal persis apa namanya. Dan yang jelas, sebelum masuk sampe ke bilik shower nya, gue harus melewati wastafel dengan kaca - kaca yang menampakkan suatu visual yang asalnya dari diri gue sendiri. (lagi ngaca dong? iya. Oh, what the hell) Kalau di tempat seperti ini, berkaca bukannya terasa nikmat, tapi malah parno yang ada, karena mungkin ada mahluk lain yang ikutan ngaca di belakang elo. Hiiiii.... seremm.... Anjrit! sialan banget emang. Gue yang cerita kok malah gue yang jadi ikutan takut. "Heummm..." Wah, suara itu muncul lagi... Okay! gue mau sudahi saja ritual membersihkan badan ini! — Karena kesel, gue memberanikan diri untuk berbicara, "Woi hantu! jangan ganggu lah... Bentar lagi mandi nya selesai nih ah! Kimak kali kau ini hantu!" hardik gue kasar kepada si hantu, dan masih mencoba berkonsentrasi untuk membilas busa shampoo di pucuk rambut gue. *Sreek* *Drap!* *Now Playing — D'Angelo — How Does it feel* "Kamu yaaa ganteng - ganteng ngomong nya kasarrr~" ucap seseorang kemudian. — Tiba tiba ada suara nge bass, samar - samar gitu hadir mendesis di samping telinga gue yang lagi asyik ber shampoo ini, dan kaget lah gue, maka gue langsung bertindak karena tahu ada seseorang masuk ke bilik shower gue ini. Karena kan tadi, pintunya tergeser. Gue: "Eeeh?" *kaget* *paniksendiri* *ngucek ucek mata* *memutarkepala* *lihat-kanan-lihat-kiri* "Eh? Dee........" ucap gue pelan. Nggak tahu kenapa, refleks gue disitu bukannya yang aneh - aneh, setelah melihat wajah Dewinta, gue malah melanjutkan untuk mandi lagi, menyingkirkan shampoo foam dari rambut gue dibawah kucuran air shower ini. Mungkin gara gara kesel tadi kali ya, gue mengira dia itu hantu, eh taunya si Dewinta yang lagi puas puasnya ngisengin gue. "Hm hm... aku ikutan mandi ya... hehe." ucap Dewinta setelah itu. Deg. Dewinta, sambil mendekat, melekat di bagian belakang badan gue. Dewinta, dengan dua buah properti kenyal nya yang di hadir di dekat gue. n****e nya yang terasa padat... Menjadi ambang terakhir yang menimbulkan hasrat tanpa batas... Bak nirwana, n****e nya menyentuh setiap jengkal syaraf elo... bro. Eits, syaraf gue dong.... hahahahaha, masa syaraf elo! Meledakkan fantasi terliar yang menggoyahkan Iman. (Emang nya gue beriman, bro?) — Dewinta, dengan suara mendesah nya yang khas... memeluk gue dari belakang, memainkan jari jemari nya yang lentik, membelai 'sesuatu' yang menjadi milik gue. Perlahan... Menikmati setiap momen nya..., "Hih... Cowok... Mandi nya air anget kuku... Geli deh..." ucap Dewinta sambil ikut berbasah basahan, rapet - rapet dibelakang gue. Rapet - rapet sini bro. Ah elo, ada aja maunya. "I don't care..." (Arti lainnya: Masa bodoh...) jawab gue agak judes dan singkat kepada Dewinta. "Ih Palma, judes sekaleee~" sambung Dewinta kepada gue, dia kini dia sibuk membasahi tubuhnya di belakang punggung gue. "Ih... 'punya' dia berdiri dong... " ucapnya lagi setelah itu. Gue: *Mengintip* *Hmmm* Dannn bersambungggg. Ha ha ha ha ha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN