Fast Lane 4 - Sebuah memori dalam sensualitas

1281 Kata
Bagian ini agak gue panjangin ya... Sedikit saran sebelum elo semua bakal baca ini. Coba masuklah ke dalam kamar, dan buatlah diri elo senikmat, senyaman mungkin, lalu setelah semua serba senyap.... putar lah musik dari Michael E - suzie's smiling itu, kalau nggak ada, cari aja di Youtube. "Ih... Dia berdiri dong..." ekspresi Dewinta bener - bener jail di saat dia ngucapinnya. Next, dia tutup mulutnya dengan kedua tangannya yang udah basah itu... sambil perlahan lahan, dia kembali ngebuka mulutnya lagi, seolah itu adalah sesuatu yang 'wow' bagi dia, matanya yang biasanya menyiratkan eksotika itu kini berbinar binar, ya, kayak orang yang kaget dan kagum ketika melihat 'sesuatu'. Kami berhadap - hadapan, lebih tepatnya lagi, gue yang memutar balik badan gue ke hadapan dia. Masih asyik berdiam diri dibawah shower. Gue hanya menyeringai menikmati momen kami berdua yang begitu priceless itu. - Ini yang gue selalu pikirkan saat momen seperti ini terjadi. - Which i don't know somehow, bilik shower yang bernuansa nature ini, menjadi salah satu memori erotika yang enggak pernah bisa hilang dari dalam kepala gue. Jauh gue raba - raba, gue rasa, memori ini sudah hilang, eh taunya, masih menancap bro. Kuat lagi nancep nya, kayak palang, "Awas, anjing galak." yang di tancapkan sebelum elo masuk ke rumah seseorang yang elo rasa cukup mencurigakan. - Bilik shower berukuran tiga kali tiga meter itu bener bener masih ada ada di otak gue sampe hari ini. Thus, why, i write this memoir. Inilah kenapa alasannya bilik shower itu nggak pernah hilang dari kepala gue. Sebenernya, di dalam bilik shower itu semuanya serba gelap sihhh, dari mulai permukaan lantai atau keramik, sampe tembok temboknya juga, semuanya murni berbahan dari alam, seperti keramik dan bebatuan yang berwarna abu abu, yang akan menjadi lebih gelap warnanya apabila tersiram air, bro. Yang bener bro? Ya bener lah bro... Hahahahah bangke. Lelucon murahan. - Satu hal yang gue sadari di dalam diri gue adalah, sejak kecil, gue adalah penikmat detil. Yep, gue merupakan seseorang yang seperti itu. - Gue ingat, pernah ada suatu kelompok psikologi yang mengklaim bahwa ada beberapa individu dengan kemampuan khusus yang dinamakan dengan Hyperthymesia. Apaan tuh? Well, itu adalah adalah sindrom yang mempengaruhi memori autobiography di kepala seseorang. Kemampuan dalam diri seseorang yang menderitanya tidak dibatasi untuk mengingat peristiwa secara spesifik dari pengalaman hidupnya. Penderita memiliki kemampuan yang luar biasa untuk mengingat ingatan spesifik yang ada di masa lalunya. Gilaaa, jiper banget bro pas gue pertama kali tahu soal hal itu, khayal banget gue, berasa menderita hyperthymesia juga jadinya. Oke lah, mungkin gue nggak hyperthymesia banget gitu yaaa, tapi seenggaknya, untuk rak erotika di otak gue, sudah pasti, rak itu bakal selalu lebih bersinar dibanding rak - rak memori yang lainnya. HAHAHAHA. * * * * * Bilik shower itu terlihat agak gelap, hanya sedikit cahaya yang masuk ke dalamnya. Dengan cahaya yang berasal dari ventilasi kaca, yang samar - samar namun tetap transparan itu, menerangi bilik tersebut. Diletakkan persis di bagian atas pada bilik shower nya, dimana waktu itu, gue sedang berdiri di tepat di sebelahnya. Dan bahkan, shower brand nya pun, gue ingat sekali, it's Perrin & Rowe. Jujur, sebagai seorang penikmat detail, gue sangat pay attention sekali terhadap hal - hal yang gue suka seperti ini. - Gue sering dengar, lihat, dan bahkan cermati, plumbing brands seperti American Standards, TOTO, sebagai produk plumbing pada keperluan home & design gue, dibandingkan dengan Perrin & Rowe, Kohler, dan lain lain. Itu jauh sekali kualitasnya bro. Karena Perrin & Rowe sudah masuk ke taraf luxury bathroom brands. Dan yang menggunakannya pun, mendapatkan kepuasan yang berbeza. - Apanya yang beda, yaelah bro, toh fungsinya cuma ngucurin air doang, ya kann? gue juga punya kali shower metalik metalik kaya begitu tuhhh. Beli aja di pasar senen, cepek dapat banyak. Hehe, iya bro. Ampun deh, kali ini elo yang menang. - Tapi, kasih gue sedikit kesempatan buat nge bullshit yaa. Perbedaan diantara shower shower demikian adalah, built in material nya, durabilitas, daya tahan dan umur si shower itu sendiri bro. Jadi, ini ceritanya kisah gue berubah judul, ya? Dari doyan cewek, jadi doyan shower, ya? Yaa enggak lah bro, Hehehehehe, tapi ya udah sih.... * * * * * Kembali lagi ke bilik mandi gue. Saat itu, kami sudah berhadap- hadapan, gue dan Dewinta. Untuk kondisi badan... ya elo - elo bisa membayangkan sendiri lah ya... kalau orang masuk kamar mandi, kondisi berpakean nya kayak gimana. Hihihihihi. Dengan hanya secercah cahaya, gue memperhatikan Dewinta, wajahnya doang, eh sorry, keseluruhan dirinya. Di mulustrasi pada chapter sebelumnya, kan gue sudah kasih fotonya (mulustrasi) wajah kakak Dewinta. Ya lo bayangin aja foto cewek itu enggak ada penghalang nya. Di enakin aja, brooo. *pasang muka c***l* Sekali lagi, terserah elo semua mau pada fapping sekarang apa enggak. Soalnya ini klimaks nya. *gue-menggoda-bro-bro-sekalian* Kemudian setelah momen berpandang pandangan itu. Dalam diam, kami berdua. Dewinta..., mendekati gue perlahan lahan, dengan segenap kasih dan ke anggunan nya... dia berlutut dibawah gue. Dia... Memanjakan gue. Di antara gemericik tetes air yang berjatuhan. Dan kabut asap tipis yang menemani pagi kami berdua, setulus jiwa (cie bahasanya, byeeee!). Dari suhu air hangat kuku itu, sebuah surga tercipta di dalamnya. Bagai nirwana, di saat - saat seperti itu, gue melihat pecahan - pecahan visual saat gue masih kecil dulu. Hadir menyapa, di kepala gue. Saat gue pertama kali menjumpai Dewinta, saat berkenalan dengannya, saat pertama kali gue memanggilnya dengan sebutan Dee. Saat pertama kali gue kedapatan boner (ngaceng) sama dia, waduh, malunya minta ampun, kalau enggak salah, itu terjadi saat gue berada di kelas enam SD. - Dan, saat kita harus berpisah untuk pertama kalinya, dan tumbuh besar terhalangi oleh jarak, waktu, dan apa ya... dan rindu, akan ingin bersama sama. Saat gue sudah lama enggak bertemu dia, kita saling menahan rindu, bahkan, sering gue dapati diri gue berada dalam keadaan seperti itu. Terbalut gengsi, dan disibukkan oleh pekerjaan kita masing - masing, di dunia masing - masing pula. Kalau ada yang nanya, ujian macam apa yang udah gue hadapi bersama seorang Dewinta, banyak... bro, banyak. Ujian mental, ujian fisik, ujian ujian lainnya yang kadang kita buat sendiri, beralasan sendiri, padahal sebenernya nggak menjadikan hal itu suatu permasalahan yang rumit - rumit banget gitu loh.... * * * * * Adalah suatu anugerah, gue bisa doyan sama cewek. Adalah suatu anugerah, gue bisa kenal sama Dewinta. Adalah suatu pemberian yang sangat berarti, karena gue kenal dia udah lama, dari sejak SD. Jangan salah, keadaan seperti ini banyak menguntungkan gue, bro. Karena gue sering mendapati, kalau umur dalam suatu hubungan itu, ibarat akar yang kokoh, begitu penting, ia mampu menopang pohon yang tinggi dan besar diatas nya, dari hembusan angin dahsyat sekalipun. - Meskipun tidak menutup kemungkinan banyak sahabat gue yang skeptis, mengatakan kalau gue sama Dee itu cuma sebatas itu aja. Cuma ya realitanya begini saja, yang gue jalani, kita berdua ini beyond something, beyond a friend. Karena nanti ada chapter di dalam kisah gue ini, gue akan menceritakan dimana dia sama gue pertama kali ngelakuin kegiatan 'begituan' ehe, ehe, eheh. - Kisah gue yang doyan cewek, agak berbeda dengan kisah seorang raja playboy fantastis yang fakta nya, lebih sering mendapat jumlah rating dan popularitas di dalamnya. Kisah gue yang doyan cewek, juga ada cemburu - cemburu nya, terutama cemburu nya seseorang yang amat sangat mencintai gue, cemburu nya seorang Dewinta, cemburu nya cewek - cewek yang menghiasi hidup gue. Disini, ada suka, duka, lupa, serta serial komedi nya. Dengan dosa - dosa dan angkara murka dari Tuhan yang maha kuasa, gue dipersilakan untuk menikmati nya. Perihal jika esok masih ada. Biarlah gue yang berbahagia dengan setiap kejutan nya. Karena hidup, akan terasa lebih indah, apabila ada cewek - cewek yang menemani gue di dalam nya.... he-he-he. *nyengir a la kuda*.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN