Fast Lane XXX - Dewinta

874 Kata
Dewinta, dengan kedua tangan yang menutupi mulutnya, kagum karena melihat sesuatu, dia, berada tepat di hadapan gue. Wajahnya yang cantik itu nampak samar - samar, dan hanya tertutupi oleh asap yang menguap tipis di udara, membatasi jarak di antara gue dengan dirinya... tiba - tiba, dia berbicara..., "Palma...." desahnya ringan. "Hmm?" gumam gue singkat dengan maksud untuk bertanya. "Itu... berdiri ih, hihi." Dewinta sambil tersenyum jail, jari telunjuk nya yang lentik itu bergoyang centil sambil menunjuk ke arah mister hepi gue yang udah tegang sejak tadi. "......" gue pun cuma bisa diam, kemudian tersenyum penuh dengan isyarat. "Palma...." ucapnya lagi. — "Iya..." balas gue ramah. "Boleh nggak?" tanya dia penasaran kepada gue. "Boleh apa, Dee?" tanya gue lagi, sambil sedikit ngejailin dia. "Aku pinjem..." katanya. — "Pinjem apa," tanya gue pura pura judes. "Pinjem itu, tuh," tunjuknya ke arah mister hepi gue. "Dari dulu juga kan 'ini' punyamu, Dee." jawab gue yang kemudian mengarahkan pandangan gue ke bawah, ke arah mister hepi gue, sambil menyeringai. (lagi? lagi dong...) Tiba - tiba Dewinta melangkah dan langsung memeluk tubuh gue. — Dibawah sinar matahari yang agak sedikit redup itu, Dewinta memeluk gue, erat, dalam, dan basah. Ya iya lah kan kita lagi dibawah shower, guys. Tubuhnya yang langsing dan semampai itu sekarang udah menempel LENGKET di badan gue. Kini, d**a gue beradu dengan 'd**a' yang sebenarnya, d**a alias gunung milik Dewinta (halah). Dua buah gunung yang bulat... kencang, padat, namun tekstur nya terasa kenyal ketika gue berusaha merabanya, dengan n****e mungil berwarna kecoklatan yang menghiasi kedua gunungnya. Aw my gawddd, Dewinta is hot as fuckkk. Sesekali gue cubit n****e nya, dan dia udah pasti berteriak nakal karena cubitan itu. Dan...... timbul-lah kenikmatan dari surga dunia... Yang gue enggak tahan itu... waktu dia nge gesek – gesekkin dinding mahkota nya itu ke bagian atas batang mister hepi gue.... kalau salah teknik nya, bisa - bisa udah crot sebelum bertempur gue bro... kalau dulu zaman gue masih bujangan dulu, Edi Tansil itu namanya. Sebuah singkatan dari ejakulasi dini tanpa hasil.... Hahahahaha. "Dee." gue kembali menyapa Dewinta. — "Ya Pal..?" tanyanya lagi, wajahnya emang lagi bener – bener enak, buktinya, matanya buka, tutup, buka, tutup.. — Merem melek terosss. Dan dia bener bener menikmati menggesek gesekkan dinding mahkota nya itu dengan batang mister hepi gue yang udah tegang sejak tadi. "Kamu kalo udah keenakan, jadi sibuk beneran ya, aku dilupain," kata gue iseng, di saat itu. "Ahh... ah, biarinn...." lirihnya panjang, dia mengacuhkan gue karena terlalu asyik 'menggesek - gesekkan' mahkota nya itu. ".... Sini!" hardik gue jail kemudian menarik dia. "Hah! Palma! Aw, aw, jangan!" tolaknya centil. — Tanpa basa basi, rayu sana atau rayu sini, gue langsung menerkam dia, lalu menggigit kecil bagian lehernya, kemudian mengangkat pinggang seksi nya dan menjebloskan mister hepi gue ke dalam lubang kenikmatan milik dirinya itu. — Dewinta, awalnya, sedikit meringis, mungkin sentakan gue yang pertama dan kedua itu sedikit terlalu kasar, terlalu gegabah. Karena itu, gue pelankan permainan gue, kini gue hanya mendorong lembut mister hepi gue... dalam... namun lebih bertenaga... Anyway, tentang suara seorang Dewinta... suaranya betul - betul manis, deep, dan hingga detik kapanpun gue nggak bakalan bosan sama suaranya itu... Something magical happened, i believe, dan biasanya hanya terjadi saat gue dan dia sedang berhubungan intim... bahkan, raut wajahnya yang biasa terlihat imut nan centil itu, bisa berubah seketika menjadi super dalam, super seksi, saat dia sedang h***y - h***y nya, gila! "Dee, putar badanmu dong," perintah gue kepada Dewinta. "Ah...." — "Gaamauu..." tolaknya manja. "Ayo cantik... diputar." pinta gue lagi. "Okay ganteng..." jawabnya kemudian menuruti kemauan gue. "Aw! ah, ah, Palma, sinii... lagi dong...." desahnya manja, superr duper manja. *pok-pok-pok-pok* *plak!* "Aw, p****t ku jangan dipukul dong Pal.... sakit tau....," sanggah Dewinta kepada gue karena gue udah jail memukuli pantatnya. "Bia-rin." jawab gue iseng. Kemudian gue kembali melakukan aksi intim gue, mendorong dorong tubuhnya dari belakang. Sedangkan kedua tangan Dewinta menempel pada dinding bilik shower ini, meski sesekali, gue perhatikan dia memang senang mengusap usap dan meremas gunung dia dengan tangannya sendiri. "Palma.... ah, ah, ah." desahnya penuh energi. *Pok-pok-pok-pok* 30 menit sudah berlalu..., gue masih bergelut dengan mulusnya b****g seorang Dewinta. Sesekali gue intip bibir mahkota nya yang sedang gue masuki dengan mister hepi gue ini, gila, pikir gue. — Bener bener mulus ini cewek, dari zaman dulu SD gue lihat dia, ibarat kepompong, sekarang dia sudah berubah, menjadi jauh lebih indah dan jauh lebih erotis, seperti seekor kupu - kupu yang penuh dengan sejuta eksotika. "Ah........" desahnya dalam dan penuh rasa nikmat. "Ah, ah, ah!" Dewinta emang 'agak' ribut kalau lagi making love. "Aw, ah! Palma aku ma..." "Maaau," "Tambah!" Gue menekan mister hepi gue untuk masuk jauh lebih keras, jauh lebih dalam, ke dalam lubang mahkota Dewinta yang terasa hangat dan menjepit mister hepi gue ini, sehingga gue bisa merasakan kenikmatan yang dahsyat luar biasa, saat memasukkannya. "Palm." "Palmaaah." "Ah!" "Ahhhhhhhh!!" teriaknya pasrah. Dannn dia pun mengalami o*****e nya... "Dee... argh." gue menyemprotkan s****a gue di dalam mahkotanya, kemudian mengeluarkan mister hepi gue lalu mencium bibirnya, liar dan sedikit mengacak. — Setelah Dewinta mengalami o*****e nya, disusul dengan o*****e gue yang gue rasakan, yang berada di bagian bawah batang mister hepi gue, dan yess... sungguh nikmat sekali rasanya. Momen itu, bagi kami berdua. I swear, it was, unforgettable. And yeah... Doyan Cewek, I Am A Boy ~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN