Fast Lane 5 - Hanya senyummu, tawamu.

2003 Kata
Kembali lagi ke fast lane... For your information, gue adalah tipikal cowok yang jarang ngobrol, apalagi mengeluarkan suara suara aneh kayak "AHH, OHHH, UHH", yang mungkin, banyak jantan lainnya mengira itu hal keren... saat mereka sedang making love. Padahal, belum tentu itu, bro... Tapi tergantung selera target juga... kita perlu adaptasi terlebih dahulu. Kalau target minta kita keluarin sedikit, ya enggak apa apa... hahahaha. Sesaat kemudian, "Palma..." Dewinta menyapa gue. "Ya, Dee?" tanya gue ringan kepada Dewinta. "Aku kangennn..." ungkapnya dalam dalam, seolah memang betul itu adalah apa yang sedang dirasakan nya belakangan ini. "Terus?" tanya gue singkat, sama dia. "Udah, itu aja, hihi," sambungnya lucu kepada gue, setelah kami berdua selesai making love di dalam shower room yang tidak terlalu besar ini. Gue tidak menjawab while in, you know, in a state of feeling satisfied. Pernyataan pernyataan dari Dewinta itu hanya gue balas dengan senyuman singkat aja, sambil menyandarkan pipi gue di bagian belakang lehernya. Gue masih lanjut ber 'kinerja' di pagi yang indah itu... "Udahan dulu ya.... sebentar, aku mau ambil 'itu' dulu deh." ucap dewinta. Itu, itu apaan yaa? - Hahaha, mampus lo, kena tanda petik palsu. Itu, yang gue sebut, disitu, sebenernya, hanyalah handuk yang mau Dewinta ambil. Dan... Setelah dia mengambil handuk nya, Dewinta si pageant queen itu berjalan keluar dari bilik shower nya. Meninggalkan gue yang masih HOHOHAHAHAHA. (what the f**k is this) - Gue intip, bener ternyata, renung gue dalam hati, itu anak lekuk badannya emang jam pasir banget. Jalannya melenggak - melenggok macam model di runway Paris's fashion week, week, week. Nah loh, buat elo yang benerbener penasaran, langsung aja googling, buat cari tahu apa itu 'cewek jam pasir'. Entar juga pasti 'ngeh' sama apa maksud dari gue kok... HAHAHAHAHA. *ketawa setan* Setelah itu pun, gue menyelesaikan kegiatan mandi gue, memakai handuk, setelah bersih dan terjamah semuanya. Noda - noda di badan gue maksud gue... gue lanjut keluar dari shower room ini dan melanjutkan kegiatan bersih bersih yang lainnya, seperti mencuci wajah, menyikat gigi, memotong, merapihkan facial hair dan lain lain. Sambil menatapi kaca, gue melihat banyak sekali peralatan grooming khusus untuk anak cowok yang Dewinta belikan buat gue. Semua peralatan itu tertata rapih di samping wastafel, tepat di tempat dimana gue sedang berkaca sekarang ini. Tiba tiba gue mendengar seorang memanggil nama gue lagi, "Henseeey. Palmaaaa. Ashburnnn. Eh, asbunnnnn hahahahaha," teriak seorang Dewinta dari kejauhan. "Apaaaa." sahut gue lagi, balas berteriak kepada Dewinta, namun masih sambil berkaca, memperhatikan wajah dan rambut gue. Tiba tiba Dewinta dan wajahnya itu muncul dari balik ujung pintu, dengan jubah sehabis mandi nya yang berwarna putih itu, dia menghidupkan lampu ruangan dimana tiga buah wastafel yang berjajar ini, kini nampak terang benderang, dan semuanya menjadi jelas. "Light on." ucap Dewinta via voice recognition miliknya. Jadi, lampu itu cuma bisa menyala hanya melalui perintah suara kakak Dewinta aja, bro. Sambil bersandar di tulang pintu dan menatap ke arah gue, dia tersenyum singkat, lalu menekan tombol pada sebuah kotak, yang nampaknya terlihat sangat asing.... bagi gue. Kemudian melenggang pergi lagi entah kemana. Turns out it was a wireless speaker, yang di hidupkan oleh Dewinta, and heck, that was a martinlogan crescendo x. Setelah gue research di internet, tidak sedikit menggocek kantong untuk membeli barang itu brooo. ajegile muahal nyaaa. "Palma, nih dengerin ya," kata Dewinta seolah memberikan aba aba kepada gue. *Now Playing - Bruno Mars - Treasure* Baby squirrel, you's a sexy motherfucker Give me your, give me your, give me your attention, baby I gotta tell you a little something about yourself You're wonderful, flawless, ooh, you're a sexy lady But you walk around here like you wanna be someone else (Oh whoa-oh-oh) I know that you don't know it, but you're fine, so fine (fine, so fine) (Oh whoa-oh-oh) Oh girl, I'm gonna show you when you're mine, oh mine (mine, oh mine) Treasure, that is what you are Honey you're my golden star You know you can make my wish come true If you let me treasure you If you let me treasure you Pretty girl, pretty girl, pretty girl you should be smiling A girl like you should never look so blue You're everything I see in my dreams I wouldn't say that to you if it wasn't true Gue menggeleng gelengkan kepala gue. - Musik menghentak, mengaliri seisi ruangan. Ya, bukan Dewinta namanya kalau nggak canggih dan futuristik, ini sebenernya udah terjadi dari zaman gue masih di SD dulu bro. Ini anak kadang nyebelin banget, karena cuma dia aja, yang canggih sendirian, gue banyak ketinggalan zaman nya. Kecuali kalau soal dunia aeoronautikal ya. Kayak pesawat dan lain lainnya gitu, udah pasti, gue selalu up to date. Setidaknya memang ke sanalah gue bermuara. Di sela - sela musik yang sukses mengalun dengan ceria, Dewinta nongol lagi dari balik pintu itu... kali ini jubah mandi nya agak dibuka buka, tapi masih tetap tergantung di situ lah ya. Gue nggak paham kalau dia punya kebiasaan begini. Memamer mamerkan body nya. - Jadi ya, dari mulai dari atas si kembar itu hingga taman indahnya, semuanya nampak bersinarrr~ Tekstur nya pas, elastis, dan dinamis... Tanpa selulit - selulit prity asmoray. (Ngaco mo-de: ON) Kalau gue bisa kasih nilai, gue mau kasih nilai. Seratus nilainya. Dengan sendal lucuknya yang berbentuk kepala kelinci, rabies, itu. Jijik gue liatnya, girly girly stuff yang kayak begituan bro. Gue terheran heran memperhatikan si dia memasuki grooming room ini. Seperti sebagaimana cewek, genit, gayanya, dia jadi sok asyik, sambil joget joget di sebelah gue. Dan sejak tadi, jujur bro, gue cuma bisa bengong nggak karuan memperhatikan godaan libido yang tidak henti hentinya ini, bertubi tubi menyerang diri gue dan o***g gue yang malang dan udah agak mulai lemas ini. Bayangkan, sejak semalam yang lalu, broo. Sejak semalam yang lalu gue udah bertarung sama dia, udah berapa ronde tuh, heh heh heh. (rasain lo Palma, mampus lo, adik lo dibikin bangun tidur bangun tidur lagi) Tiba tiba, Dewinta melirik ke arah gue dan dia ngomong, "Kamu tuh ya... sini dehhh... Aku ajarin cara pake nya..." dia, sembari mengambil beberapa produk perawatan cowok dan mengoles oleskannya ke wajah gue. "Hahah. Palma :D" eh? dia malah tertawa geli di saat sedang mengoleskan moisturizer ini pada bagian rahang gue yang banyak facial hair nya ini. Karena gue biasa pakai electronic shaver dari Phillips, bro. Ya inilah hasil facial hair gue dapatkan bro, yang nggak kecukur habis tapi ada berasa menonjol gitu. Facial hair yang sakti mandraguna, facial hair yang mampu menyihir mahluk surgawi bernama cewek. - Asal dirawat, dan enggak dibiarin jambang lo itu tumbuh bebas nggak karuan kayak tokoh - tokoh antagonis di sinetron tanah air gitu, gue yakin, ciwi ciwi pasti pada nempel sama elo. "Nih... parfum nya, kamu mau pakai yang mana, Palma," tanya Dewinta kepada gue, tentunya setelah dia selesai mengaplikasikan cream tertentu gitu tepat ke wajah gue. Dewinta menunjuk ke arah parfum - parfum nya yang udah dia belikan untuk gue. - "Gue mau yang...." ucap gue sambil memilah milah mana parfum mana yang akan gue pakai kali ini. Di jajaran parfum cowok yang baru dibeli dan dipajangnya itu, gue melihat ada beberapa parfum yang kayaknya gue kenal, dan gue udah pernah pakai sebelumnya. - Soalnya guys, Dewinta tuh bener bener kebangetan orangnya. Karena banyak banget varian jenis parfum untuk cowok yang dia beliin buat gue, yang pada akhirnya membuat gue menjadi bingung sendiri. (bro lancaw: Ah paling si Palma koncet ini sih cocoknya dipakein parfum aspal, asli tapi palsu!) So what! enak aja lo. Enggak lah, heee. Ini original kok, asli dari Milan. Botolnya aja bukan botol parfum refill yang super lawak itu. Gue cermati baik baik, di meja ini, ada Encre Noir by Lalique, ada Tom Ford, Benetton, D & G, Dior, Ysl, Armani, HUGO BOSS, Old Spice, Paco Rabbane, dan lain lain. Anjrit! pusing man, resek, banyak banget ini. Mana bentuk botolnya beda beda lagi. Ya udah akhirnya gue pilih Jazz dari Yves Saint Laurent aja deh, yang aromanya memang gue paham betul bisa cuocok sama badan gue ini. Jadi emang nggak asal comot aja sih, sebetulnya. Ysl Jazz, adalah parfum buat cowok, yang terkenal dengan aroma lapis dasar nya yang terbilang classic dan gentle, gentle as f**k, agak woody juga, sebenernya. Menurut gue, ada sedikit aroma aroma yang bisa dibilang, aroma esensial nya, seperti tobacco, leather dan basil di dalamnya. Sebelum selesai mengatakan kepada Dee kalau gue mau memilih parfum yang itu, that Ysl Jazz. - Gue melihat Xperia ultra, ponsel si Dewinta berdering didepan dia, rupanya ada panggilan masuk. Di layar ponsel nya itu tertulis 'tante Elfa' dengan foto seorang perempuan yang jelita, mirip seorang penyanyi pop di Indonesia yang pernah membawakan lagu yang berjudul jangan di bibir saja.... Setelah itu, Dee segera mengangkat telpon nya... "Halo... selamat pagi, Dewinta..." ujar wanita yang menelpon Dewinta di pagi itu. "Selamat pagi, tante..." jawab Dewinta dengan begitu ramahnya. "Siapa? Ibu?" tanya gue yang menggerakkan mulut gue, penuh penasaran, karena musik Bruno Mars yang masih diputar suaranya terlalu keras. Menjawab pertanyaan gue, Dewinta hanya mengangguk, tanda memang betul bahwa itu yang menelpon, adalah nyokap gue. "Tante, sebentar ya, aku kecilin dulu volume musiknya..." sanggah Dewinta, kemudian dia berjalan ke arah speaker sialan itu. Lalu mengecilkan volume suara dari musik yang super kencang itu. "Okay, silakan..." terdengar nyokap gue menjawab. "Iya.. Jadi tante, ada perlu apaa... ?" tanya Dewinta secara halus kepada nyokap gue. - Setelah suara musik Bruno Mars itu sudah lenyap, suara nyokap gue di ponsel Dewinta pun bahkan jadi terdengar lebih jelas lagi, seisi ruangan terasa normal kembali. "Iya sayang... jadi, sekarang tante kontak kamu, karena sejak kemarin malam, ponsel Palma sulit sekali dihubungi. tante mau tanya, kamu tau Palma ada dimana?" "Oh... tante beruntung, nih, Palma, ada di sebelah aku." tiba tiba Dewinta menutup ponsel dia dengan lengannya, kemudian berbicara kepada gue, "Palmah! kamu mampir kesini nggak ngabarin Ibumu dulu ya?" "Are u joking, Dee? I'm twenty-something. I don't need to tell my mum wherever i go..." jelas gue kepada Dewinta. "Alright thenn~" jawab Dewinta memanjangkan nada bicaranya, tanda bahwa dia mengerti atas apa yang gue sampaikan kepadanya. "Halo, Dewintaa?" suara nyokap gue, mencari cari di ujung sana. "Eh, halo, iya tante, Palma ada disini kok tan.." "Bagus deh kalau Palma ada disitu. Tante mau ngobrol sebentar sama dia, boleh?" "Hehe, boleh tante, silakan..." lalu Dee memberikan ponselnya kepada gue sambil tertawa geli. Gue suka heran sama ini cewek, beneran deh. "Halo, Bu," sapa gue memulai pembicaraan. "Palma... kok susah sekali menghubungi kamu nak... kan Ibu jadi 'agak' cemas..." "Maaf bu... nanti Palma idupin ponsel Palma. - Ada apa bu?" tanya gue kepada nyokap. "Gini sayang... permata hati Ibu... ada relasi Ibu yang butuh terbang dari Jakarta ke Itali, beliau mau ke Portofino untuk keperluan berlibur, he said that he want to fly with you. Kamu bisa kan, as soon as possible, go back to Jakarta?" tanya nyokap kepada gue. "Um...." gue melakukan humming, pertanda bahwa gue sedang memikirkannya. "Soal pay grade buat kamu, Ibu udah deal di rate yang bagus dengan beliau, jadi kamu nggak usah pikirin lagi..." Di sela sela percakapan gue dan Ibu, Dewinta mengangkat angkat botol parfum yang tadinya hampir gue pilih. Annoying banget emang, elo tuh, Dee. Gue: *Menutup Mikrofon ponsel* "Ysl, Jazz, Dee." bisik gue singkat kepada Dewinta, menghindari agar Ibu tidak ikut mendengar suara gue. "Alright, princess." jawab Dewinta agak judes, sambil menyemprotkan parfum ke leher gue, dia mengeluarkan ekspresi wajah yang masam dengan bibir super manyun nya. "Eh kok gitu?" gue kaget ngeliat Dewinta bersikap kayak begitu, lalu gue kembali membuka mikrofon di ponsel Dewinta dan melanjutkan berbicara kepada Ibu. "Okay bu, as you wish. Palma berangkat secepatnya." "Nah, itu baru anak Ibu. Ponsel nya jangan lupa di aktifkan ya... dadah Palma... me love you, mmuach." "Bye Ibu." jawab gue menanggapi, gue menutup panggilan dari Ibu singkat aja, tanpa embel embel membalas love dan kiss untuk Ibu, nggak enak bro, lagi ada Dewinta didepan gue, agak malu gue jadinya. Xperia: *popup message* 'Tut... Tut... Total waktu panggilan terakhir anda: 15 menit.' Kemudian setelah menyelesaikan percakapan dengan Ibu, gue beranjak, bergegas pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Dewinta yang masih asyik bermain main dengan peralatan grooming anak cowok yang sudah dia belikan buat gue itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN