Cerita ini dilompat sedikit dari chapter sebelumnya, jadi jangan bingung, baca aja terus.
Welcome back to the fast lane!
'13
Pagi itu, setelah selesai senang - senang dengan seorang Dewinta, gue harus segera pergi kembali ke Jakarta untuk mengurusi pekerjaan gue.
Setelah selesai dadah dadahan sama nona Dewinta, sebenernya nggak banyak yang gue bisa omongin sama dia setelah momen momen 'naughty' itu kami lalui, yang jelas, gue berterima kasih banyak sama dia.
Dari daerah pantai Berawa gue langsung pergi menuju ke Bandara Ngurah Rai, kemudian lanjut mencari crew gue yang lagi stand by di Ngurah Rai.
Setelah selesai briefing, boarding dan segala macem nya, gue masuk ke dalam cockpit pesawat buat takeoff dari bandara dengan destinasi tujuan menuju ke bandara Soekarno Hatta. Hari itu cuaca lagi lumayan cerah, sekitar jam dua belas siang gue ngurusin semua itu.
Dan percakapan selanjutnya ini asalnya berbahasa Inggris, tapi akan gue coba untuk menerjemahkannya ke bahasa Indonesia ya...
* * * * *
"Selamat siang, disini dengan November Echo Nine. (NETD69) Meminta laporan lalu lintas udara."
ATC: "November Echo Tango Delta Six Nine, mohon nyatakan posisi, jenis pesawat terbang dan jumlah awak di kapal Anda."
NETD69: "Kami adalah BB400 dari Denpasar Indonesia, saat ini berada 5 mil dari selatan Denpasar pada tingkat penerbangan 40. Dua orang Pilot di dalamnya, 3 awak kabin. 5 awak kapal ter total."
ATC: "Roger, November Echo Tango Delta Six Nine, maaf, anda biz jet? bukan penerbangan komersial?"
NETD69: "Betul sekali, heheee." — gue ngakak denger orang tower ngomong ini hehehehee.
ATC: "Okay! mohon squawk dengan nomor 3791 untuk proses identifikasi." perintah mereka kepada kami.
NETD69: "Squawking 3791." (Semacam mengirim suatu kode kepada ATC untuk mereka identifikasi.)
ATC: " November Echo, Anda diidentifikasi secara positif dan sedang mengudara. Diketahui sedang meluncur di atas daerah Gianyar. — Kami juga memiliki lalu lintas tak dikenal hanya di sebelah barat Anda, mungkin sebuah pesawat militer, belum melapor kepada kami. Mohon saran dan lapor balik, jika Anda melihatnya."
* * * * *
*Now Playing – The Strokes – I'll try anything once.*
Saat sedang mengudara diatas langit Indonesia bagian tengah—yang nampak sangat cerah, dan satu hal yang pasti, kecepatan angin dan jenis awan pada saat gue terbang di saat itu, bener bener sedang bersahabat, hal itu, membuat gue ingin menyapa seseorang,
"Heh, Diw, mana aja loooooo ah!" ucap gue berbicara via private radio gue sambil menoleh ke arah co-Pilot gue ini. — Soalnya suara di cockpit pesawat ini tuh ribut nggak karuan, bro.
"Yah, ada aja gue tuh... nggak kemana mana kok..." jawab Diwangka simpel kepada gue.
"Ah elo, gimana kabar si do'i—pacar lo yang kece itu...." goda gue kepada Diwangka.
"Putus gue sama dia Pal... hiks," Diwangka menjawabnya dengan nada yang menyedihkan.
"Ah yang bener lo Diw? Aduh sorry ya, nggak nyangka gue." sesal gue kepada dia.
"Tapi Bo'ong!!!" jawabnya lagi, mengagetkan gue. *Bugh* gue segera menyikut lengan kirinya.
"Et et et, ati ati Palmaa itu kena sayonara button entarrr." warning nya panik kepada gue.
Sayonara button, ini adalah istilah horor nya seorang Diwangka yang bikin gue jiper kalau gue udah pecicilan di dalam cockpit pesawat. Menurut gue, semua panel yang ada di cockpit pesawat itu sebenernya sayonara button (salah tekan, MAMPUS, goodbye!) — karena kalau kita salah salah tekan dan pecicilan. Bisa.... hahah. — Nah gue, meskipun gue udah sering terbang, pecicilan gue enggak hilang sama sekali, masih aja kayak dulu, masih aja tetap sama.
Dan tentang Didiw, siapa sih dia? Tjokorda Diwangka Adi Dartha, adalah nama lengkapnya. Dilihat dari namanya, kayaknya gue harus agak sopan sama orang ini terutama kalau gue sedang berada di Bali, nggak enak bro, dia anak orang penting, soalnya. Anak agung, kalau bahasa orang sana nya.
Hahahaha, meskipun dia anak orang penting, nggak menutup kemungkinan kalau gue lagi tipsy - tipsy (agak mabuk, maksud gue) di Kuta, dia juga yang nolongin gue, mengamankan gue dari melakukan hal - hal yang nggak diinginkan dan bukan pada tempatnya. Membuat warga sekitar resah, hehehe.
Diwangka, dia adalah co-Pilot gue di beberapa skejul dan juga itinerary (semacam jadwal) penerbangan gue, termasuk salah satu sahabat gue di dunia aviasi tanah air. Diwangka buat gue, udah lebih dari sekedar sobat. — Soalnya dia udah gue bodoh - bodohin lebih dari enam tahun lamanya, dan heran nya, orang ini nggak ada nyesel - nyesel nya sama sekali gue bodoh - bodohin juga. Selain itu, ini orang juga sangat senang membantu gue ketika gue berurusan dengan ATC pas lagi diatas sana, di udara.
Diwangka orangnya penyabar, tapi ada resek nya juga, do'i monitoring halo halo walaupun orang ATC bikin kesal dia tetap sabar, kalau gue sih, ah, tamat disitu deh. Yah, dia bilang, kita berdua banyak belajar dari diri masing masing. Okedehhh, disitu gue diam.
Awalnya Diwangka itu adalah seorang gay, maaf ya, Diw. Tapi semenjak maen - maen sama gue, thanks to the fricking lord of the air, dia tobat dan kembali menjadi seorang heterosexual, bagus, kata gue. — Biar entar kalau ente udah mulai tuwir bisa mulai produksi keturunan ya, Diw.
"Elo ada flight duty, Pal? ngedadak gini ngajak gue. Rencana kemana, man?" tiba tiba Diwangka bertanya kepada gue.
"Antar relasi nyokap Diw, ke Itali, mau hepi - hepi di Portofino katanya," jawab gue santai.
"Cicing, proyekan dong!" jawab Diwangka dengan logat orang Bali nya. (Cicing kalau di Bali itu artinya 'Anj*ng!' nah kalau di orang Sunda itu artinya menjadi 'diam!' Ya, aneh kan? Hidup INDONESIA!)
"Ya-makanya, daripada gue ngajakin si Astrid, males gue, ember mulutnya, banyak ngeluh nya dia itu. Mending gue ngajak elo lah Diw." terang gue kepada Diwangka.
Astrid, Pilot cewek yang satu itu, satu divisi, satu maskapai dengan gue. Tapi, orangnya enggak oke punya bro.
"Iya sih, bener juga lo," tanggap Diwangka kepada gue.
"Eh, anyway ATC udah pada bener lagi belum? males gue kalau ketemu kayak operator yang kemarin, ngehe, salah direksi, bikin pusing banget. Masa kudu gue biayain itu satu tower biar kerjanya akurat, kan enggaklah Diw..." curhat gue kepada dia.
"sabar Palma... selama elo masih nyari duit disini, ya sabar aja.... tapi gue juga yakin kok, nggak disini, nggak di luar, kalau tower lagi pada mabok ya kita yang dikorbanin. Mudah mudahan aja kalaupun kita ko'id, kita harus ko'id dan landing di G SPOT para wanitaaaa~" teriaknya nyaring sambil bercanda.
"What the hell?! elo udah sarapan belom Diw? kenapa jadi tibatiba berharap mati gini lo ah, hahahaha, tapi kalau landing di G SPOT bolehlah yaaaaa," tanggap gue lagi, jail merespon percakapan gue bersama Diwangka.
"Hehee..... untung elo Pilot non komersial ya! jadi nggak bikin banyak dosa kalau bawa penumpang terus kecelakaan cuma gara - gara hal sepele, hahahaha."
Gue: *Geleng-geleng-kepala* *sesi-menggila-didalam-kokpit-pesawat* — Tiba – tiba, ada seseorang yang membuka pintu cockpit kami.
"Captain, kira - kira, berapa jam lagi nihh kita landing."
"Eh, Kia, kamu nanya ke saya atau ke Captain Palma?" tanya Diwangka kemudian dia langsung menoleh kepada perempuan yang baru saja membuka pintu cockpit kami ini.
"Saya nanya ke pak Diwangka, hehe." jawab perempuan itu agak malu - malu.
"Oh ke saya... ya palingan 30 menit lagi nih." sambung Diwangka lagi kepada perempuan itu. — Setelah mendengar percakapan yang begitu menarik itu, gue menoleh ke belakang kursi.
"Haaaloo Kia... Mukanya jangan di airplane mode gitu dong... entar cantiknya ilang," goda gue kepada perempuan yang bernama Kia ini.
"Ih.... apasih Kapten. Jayus deh." jawab Kia singkat. Hahahah, b***h didn't like me flirting. — "Eh Palma, lo liat deh ini, *Diwangka-lagi-lihat-lihat-snapchat* ini TTM lo kan? dia lagi nge-arrange party di Potato Head nih, asyik juga kayaknya," obrol Diwangka secara tiba - tiba kepada gue.
"Itu lo ngapain?" tanya gue curiga, kepada Didiw alias Diwangka.
"Biasa, lagi main snapchat," jawabnya cuek, masih sambil memainkan ponselnya.
"Matiin dulu!" tegas gue singkat sama dia.
"Konsentrasi pantau kemudi elo..." tambah gue lagi.
"Aduh, aduh, iya lupa gue, sorry Palll." Diwangka meminta maaf kepada gue.
Bersambung...