"Ya udah, lebih fokus lain kali, Diw. Ini autopilot gue nyalain dulu, gue mau ke lavatory, okay?" ucap gue kepada Diwangka, mencoba mengingatkan dia.
"Affirmative." jawabnya sigap.
Selanjutnya, gue berjalan keluar dari cockpit, di kabin penumpang yang sedang kosong ini, gue melihat ada seorang Kiandra lagi duduk - duduk cantik sambil mengawasi sosok orang kesayangannya, siapakah dia. Lihat jawabannya setelah pesan - pesan berikut ini. (LOLLL)
"Captain." sapa Kiandra cepat, menahan langkah gue menuju lavatory.
"Hmmm?" gue menoleh ke arah dia dengan ekspresi pura – pura angkuh andalan gue.
"Makasih yaa udah ngajak pak Diwangka onboard buat flight kita kali ini."
"Hah?" jawab gue remeh, dan pura - pura nggak paham sama dia. Nah, sekarang lo tahu kan siapa sosok kesayangan nya si Kiandra...
"Captain Palma suka gitu deh... "
"Hahah, iya... sama sama deh," jawab gue mengiyakan ucapan Kiandra, karena sumpah, kasian gue lihat dia soalnya, cuma gitu doang padahal.. Bali – Jakarta? cuma seutas tali penerbangan Bali ke Jakarta mah atuh...
"Makasih Capt... Capt, mau ke lavatory ya?" tanya dia lagi kepada gue. — Lavatory atau airplane's' bathroom, sama aja sebenernya.
"Iya, mau ikut kamu?" tanya gue dengan begitu isengnya kepada dia.
"Enggak ach ;p" jawabnya dengan nada genit.
Sontoloyo, stewardess yang satu ini sih udah nyantol ke si Diwangka, udah malesss gue gangguin dia lagi. — Belum tau aja kalau si Diwangka itu dulu sempat punya gaydar.
Gay radar. Hahahahahaha.
Sebenernya gue ke lavatory bukan mau memenuhi panggilan alam, tapi lebih ke arah memenuhi panggilan doyan. Doyan cewek, ceweknya, ya flight attendant gue, lah, siapa lagi. Kalau bukan stewardess stewardess bening 21 plus ini.
IGO (Indonesian girls only) kelas paus bro. Heheeeeeee.
Nah, setelah sampai di dekat lavatory. Gue mulai menyapa mereka – mereka ini, "Hi girls, tadi sehabis briefing awal, gue nggak sempet ngobrol lebih lanjut, jadi gimana nih, gosip terbaru dari anak - anak grup kita?" tanya gue kepada stewardess gue.
"Whaaaa ada pak Palma mampirrr." sergah seseorang, yang tiba - tiba jadi girang nggak jelas melihat kedatangan gue di kabin belakang. Nah yang itu namanya adalah Vania.
"Ga usah pak - pak an Van, emang nya gue bokap – bokap, heh?!" jawab gue ketus menanggapi Vania, menolak kalau gue harus dipanggil bapak – bapak oleh dia.
"Hihi, maaf deh Pak..... (Van, what the f**k is this?)" sambung Vania lagi. "Hehe.... ya gitu aja sih Pal, kamu tanya deh, sama Debbie, nih, eh, Deb, gimana gosip anak - anak belakangan ini, katanya si Helma (salah seorang pramugari yang bekerja di maskapai gue juga) mau married ya?"
*Kemudian Vania mencolek colek seseorang yang sedang asyik mendengarkan musik, terlihat dari earphone yang terpasang pada kedua kupingnya.*
"Hah? eh sorry, barusan gue lagi dengerin musik, ada apaan deh?" setelah menanggapi perbincangan kami, Debbie melepaskan earphone nya, "Ada apaan sih?" tanya dia lagi.
Setelah itu, Vania dan Gue sama sama ngomong, "Debbie... Debbie..." sambil geleng - geleng kepala.
* * * * *
Sedikit curhat...
Of why the reason behind my emptied passengers cabin. (Alasan dibalik mengapa kabin penumpang pada pesawat gue, kosong.)
Buat siapapun itu yang mengira kalau gue adalah seorang Pilot komersial yang mengabdikan jasa dan keahlian nya untuk keperluan dan pelayanan publik, nah.... gue agak sedikit meleset dari anggapan seperti itu.
Mengapa demikian? karena gue adalah Pilot non komersial, jadi gue nggak bekerja sesering Pilot komersial pada umumnya, atau seperti Pilot - Pilot lain di maskapai penerbangan komersial yang sangat sering bolak balik kesana-kemari.
Bukan masalah pay grade sebenernya..., tapi lebih karena self-belief gue aja yang nggak capable buat bawa banyak penumpang, dimana gue harus menanggung beban nyawa mereka di pundak gue sebagai Kapten dari pesawat tersebut, pesawat yang gue bawa.
Seperti yang udah gue obrolin di atas, yang merupakan suatu perwujudan dari betapa 'critical' nya dunia penerbangan. Dari mulai kesalahan teknisi yang entah apa yang ada di kepala mereka, mulai nge zonk gara - gara kebanyakan jadwal penerbangan.
Which means mereka kebanyakan gawe, capek, dan segala macam penat yang mereka rasakan. Yang pada akhirnya, akan menyebabkan kinerja mereka pada saat mereka melakukan maintenance dan pengecekan pada pesawat jadi aduh.... ngeri juga gue ngomongnya.
Ya menurun.
Membuat pesawat bisa langsung nggak beres beberapa saat setelah takeoff. Kesalahannya cuma satu, teledor.
Dan hingga detik ini pun, gue enggak bakalan mau menjadi Pilot in command pada penerbangan komersial atau mengepalai penerbangan komersial lagi. Meskipun dulu, gue pernah, dan bener - bener gilaaa, gue dilibas habis habisan sama yang namanya kelalaian dan kecerobohan dari para crew teknisi, khususnya, dan keteledoran dari banyak pihak di dalam sistem penerbangan itu sendiri.
Bahwa akan ada banyak nyawa yang terancam oleh karena hal - hal seperti demikian, nyawa itu adalah, nyawa gue, nyawa co-Pilot gue, dan nyawa awak kabin gue (stewardess dan steward kalau memang ada), dan nyawa semua penumpang yang udah menaiki pesawat gue. — Pokoknya gue banyak makan hati, bro.
Gue nggak mau nge zonk lagi gara gara berkecimpung di zona bekerja yang seperti ini, meskipun gue tahu jadwal terbang dengan intensitas yang tinggi, gue bakalan dapet payment lebih stable, otomatis ya jadi lebih oke dong, ya nggak?
Tapi di posisi gue yang sekarang, gue bisa memilih untuk berada di jalur yang berbeda, jalur Pilot non komersial. — Yang jadwal terbangnya tentatif, suka - suka gue, suka - suka elo. Pay Grade nya pun ya relatif lebih gede. Akhirnya, soal pay grade jugaaa hahahaha.
Dan tergantung sebenernya siapa client yang menyewa jasa kita, dan di maskapai private seperti apa kita itu bekerja, kalau bonafid ya bonafid, kalau enggak, ya enggak, hehe.
Lagian kalau gue Pilot komersial, gue bakalan jiper (takut) banget, dan jiper duluan jauh sebelum gue bisa menulis jurnal ini, kenapa?
Karena masalah nama baik maskapai penerbangan udah pasti gue pertaruhkan, segala macam ciri - ciri atau atribut perusahaan, suasana bekerja yang di samarkan bakalan ke ungkap juga pada akhirnya.
Dan kalau udah terungkap, you know what will happen lah ya.
Yah yang nggak enak enak dong, another airliner bakal mikir bocah deh banget gue nge-journal kayak begini.
Tapi.... karena gue okupasi nya adalah seorang private Pilot. Gue nggak perlu khawatir, gue nggak perlu merasa cemas lagi.
Kenapa? Karena job di ranah ini punya strong roots, jadi stabil, dan juga karena koneksi kolektif sangat berperan sekali di dalamnya, dan orang seperti gue, sudah pasti berkoneksi.
* * * * *
Kembali lagi ke Debbie...
"Ehhh Capt, jangan keasyikan ngobrol sama kitakita donggg, kasian tuuuh cockpit punya Captain di anggurin melulu, ntar di gerayang lagi sama mas Diwangka kursi captain nya..." sindir Debbie menyoal Diwangka melalui gue.
Gara - gara tahu rahasia zaman jebot (dulu) nya si Diwangka, Debbie sering nyindir - nyindirin Diwangka soal nggak bakal balik lagi tuh, burung nge-trill nya? suka sama burung lagi, hahaha. — Kacau emang si Debbie ini bro, hahahaha.
Untung aja wajahnya mulus dan manis, kayak porselen, kayak Olivia Lubis Jensen. Mungkin kalau enggak, udah gue jotos kali dia gara - gara menghina si Diwangka, co-Pilot sejati kesayangan gue.
* * * * *
Tiba tiba gue mendengar suara dari salah satu speaker di pesawat gue. — "Pal, we're about to land in a few minute, please come upfront to the cockpit," itu Diwangka ngomong jauh dari depan sana, memanggil gue.
"Haha, okay, gue balik dulu ya kedepan. Kalian jangan bilang - bilang udah nge gosip - gosip begini, apalagi sama Didiw, awaslooh sampe ketawan dan nyebar, gue bondage lu entar," terang gue kepada kedua gossip girls ini.
"Aww, siap pak Kaptennnn!" jawab Debbie dan Vania berbarengan. Sontoloyo.
"Van, udah gue bilang jangan pak - pak an lagi." ketus gue judes.
"Eh, iya iya, siap Kapten Palmaaaa," ucap Vania kepada gue..
"Nah, gitu dong..." sambung gue lagi.
Elo bacanya jangan ngaceng - ngaceng gitu ah bro, ngga baek, hahahahaha!
* * * * *
Gue update curi - curi banget nih, dari handphone gue, sorry kalau ada banyak typo nya.
Into the sky.