Ayo kita lanjut.
"Thank you Diw udah pegang yoke (kemudi pesawat) nya, yuk, kita landing..." ucap gue setelah kembali memasuki cockpit pesawat gue.
"You are very welcome dear..." jawab Diwangka ramah kepada gue..
"Jangan dear dear in gue lah!" jawab gue ogah di dear dear in sama si Diwangka.
Dannn setelah itu gue pun landing, walking down from the airstair dengan seisi crew pesawat gue, dan kemudian menyerahkan otoritas selanjutnya ke orang maskapai gue di Soekarno Hatta airport untuk menaruh kapal di airport hangar.
Singkat cerita aja, gue bekerja untuk nyokap gue, dan juga seseorang, nah seseorang ini, dia orang besar, tapi gue enggak perlu lebay dengan membesar – besarkan namanya, dia itu... kalau dibilang investor, sudah pasti, kalau dibilang entrepreneur, juga sudah pasti.
Maskapai kita memang nggak ke list di situs - situs dan mobile apps seperti Skyscanner atau Travekola. Jadi kalau mau pakai jasa kita kita harus lewat jalur private reservation. Carter jet pribadi, kalau istilah dagangnya tuh. Dan kita pastinya bukan dari instansi pemerintahan, kalau dari pemerintahan, ya bukan kita.
Bicara soal stewardess, kalau yang hetero, bicara soal mugara, kalau yang homo, hahahaha, bercanda nyet.
Sebenernya sebagai seorang Pilot, elo diberikan wewenang untuk melakukan beberapa hal, gue inget dulu, mulai dari pertama kali gue menjadi seorang trainee, berlanjut ke FO (first officer), JFO, SFO, Commander, sampai akhirnya bisa menjadi seorang Senior Commander.
Level gue saat ini masih ada di commander atau bisa dibilang juga sebagai seorang Kapten, jadi ya nggak boleh dan belum boleh memberikan pelatihan kepada Pilot academy students, karena gue belum certified untuk menjadi seorang instruktur penerbangan.
Tapi kalau kayak PPL, APL, itu semua udah gue kantongi. Nah, kembali lagi berbicara soal stewardess, sebenernya sebagai seorang Pilot, elo dibebaskan buat nge 'seduce' (menggoda) stewardess manapun yang elo temui, entah itu yang satu maskapai bareng elo, atau mau yang enggak satu maskapai sekalipun, ya kalau elo berniat menggoda dan dia sebagai stewardess nya berniat digoda. Hal ini sah - sah saja.
Next part, lo tinggal 'ajojing' dan 'have fun' bareng bareng, bagaimanapun dan dimanapun itu berlangsung.
Tapi kalau opini gue pribadi, hal ini yang sangat gue minimalisir, meskipun gue doyan cewek, enggak membuat gue otomatis menjadi doyan sama mugari. Kenapa? Nihhh.... rahasianya.
'having fun' with a stewardesses is not exclusive. why? karena mostly, meskipun enggak semua, ya, ya stewardess itu juga ada yang senang juga main sama Pilot - Pilot mereka yang lainnya.
Bukannya gue nggak doyan..., tapi kalau enggak eksklusif kayak gue sama Dewinta, atau TTM TTM gue yang lainnya, gue agak jauh jauhi hal seperti ini.
Dan perlu gue peringatkan lagi, enggak semua nya seperti ini..... jadi tolong jangan menganggap bahwa semua stewardess itu seperti demikian.
Beberapa individu yang bekerja sebagai stewardess juga justru sangat kompeten dan gue pribadi pun tidak segan – segan untuk menaruh hormat kepada mereka karena attitude dan kepandaian mereka di dalam bekerja yang tentu saja, sangat bisa diandalkan.
Serta tidak menutup kemungkinan gue juga suka, 'main' sama stewardess dari maskapai gue atau stewardess dari maskapai subtitusi, (maskapai tetangga) karena stewardess kan variatif, nggak cuma itu itu aja.
Asas kenapa kita semua hobi banget 'main' dengan sesama officer, dan co-worker kita, ya jawabannya kita semua udah tahulah ya... naluri kehidupan. Titik.
Udah halus banget tuh bahasanya. Hahahaha. Nah, yang gue maksud stewardess substitusi itu adalah stewardess dari maskapai lain, stewardess yang maskapai gue pinjam, ada yang secara mendadak, dipinjam saat mereka sedang berada di lounge di airport yang ditentukan.
Ada juga yang udah melalui sebuah settlement, atau kesepakatan dari jauh hari sebelumnya, gimana soal fee mereka, itu udah dibicarakan dari awal. Bahkan, kalau klien kita kita duit nya udah bener - bener bocor, 'beberapa' dari stewardess - stewardess itu juga yang menawarkan diri untuk 'have fun' sama mereka (para klien) di pesawat kita kita.
Awalnya gue kesel, kesel banget malah, ngeliat mereka bukannya gawe di kabin belakang, eh malah indehoy sama client gue. — Tapi ya apa boleh buat..., karena seperti itulah bagaimana bisnis di ranah gue ini mengalir.... ya udah, gue okay kan saja, lagian kalau mereka puas, gue nggak bakal mengecewakan atasan gue.
Ujung ujungnya ya..., upper class prostitution, bro. Karena basically, mereka kan servant. Bekerja untuk melayani, tidak membantah. Dah, itu aja, dari 'melayani' aja kan udah jelas kan point nya seperti apa hahahahaha.
Yang jelas, ini semua sangat jarang sekali terjadi di maskapai publik seperti yang elo sering temui di bandara - bandara kesayangan kita semua.
Kan disana macam macam dong bro jenis passenger nya, ada anak kecil... ada om om public officials yang doyan memperhatikan b****g mugari - mugari... ada emak - emak yang bisa maksa masuk kokpit karena pilotnya itu adalah suaminya... (ini kasus baru ya, kemarin gue baru baca, gue rasa ini heboh banget, sekaligus lucu juga..) Jadi dia merasa punya wewenang. juga ada gue waktu masih kecil.
Yang paling bahaya sih itu, kalau ada gue waktu masih kecil, force plane door button lo gue buka. Dhuaaaar! selesai kita semua bro, HAAAA HAHAHAHA!!!
Tapi tenang... di beberapa pesawat, ada kok yang pintunya memang udah didesain sebaik mungkin, jika pada ketinggian beberapa ribu kaki, pintu pesawat tidak akan bisa dibuka, karena beban atau dorongan yang harus dihasilkan untuk membukanya sangatlah besar, emangnya, bro - bro semua bisa buka itu pintu sendirian doang?
Nah... akhirnya selesai jugak ngomongin soal stewardess... masih banyak lagi hal hal yang belum tersibak.... kemudian...