"Diw, cover..." kata gue dengan penuh kehati - hatian.
"Apaan sih pal... nggak ah, nggak lagi lagi." Diwangka menolak untuk meng cover gue. — Sejenak kemudian. Gue memaksa lagi, "Diw, please!"
"No way~" jawab dia sambil membencong lalu mengusir gue dari perlindungannya.
Diwangka dengan logat kemayu tahun lalu nya, menolak untuk meng-cover gue ketika kami berdua mulai memasuki Soekarno Hatta airport. Sambil berjalan di belakang Diwangka, gue berusaha untuk bersembunyi di balik punggungnya, dari suatu gerombolan yang memang Tuhan ciptakan khusus untuk merepotkan gue kalau gue udah memasuki Soetta International Airport.
Siapa lagi kalau bukan ex-client, Pilot, Senior Pilot dari International society of woman airline pilots & FA-FA yang aduh.... you know lah bro. Tentunya, mereka semua cewek, bro. Saat gue sedang asyik asyiknya melenggang di lini butik airport... Tiba tiba... "Palmaaa! Hey, Palmaaa!" teriak seseorang dari kejauhan, yang kayaknya sih dia memang sedang memanggil nama gue.
"Hey, Palma... how do you do?" rupanya seseorang itu udah menghampiri gue. Nih bro, suasananya udah mulai horror.
* * * * *
"Oh hi, mbak Lolita, surprising, as usual. How 'bout you, mbak?" gue menoleh, menjawab santai kepada orang ini, yang ternyata adalah seorang perempuan.
Inget dulu aunt Olly sering menambahkan, as usual, di belakang kalimatnya? Nah, akhirnya gue jadi suka mengikut ikuti dia. — "I'm good... I still haven't got your call." jawabnya lagi. — "Ah... You need to call me later, Palma. Kita hepihepi lagi yaa, hihihi,"
Mampus! nggak bakalan beres gue kalau hepihepi sama perempuan yang satu ini, karena ujung ujungnya gue cuma bisa mematung, mirip seperti robot yang sedang kehabisan baterai.
"Eh by the way, habis flight darimana nih, kalian berdua?" tanya mbak Lolita lagi, kepada gue dan Diwangka.
"Dari Bali mbak...." jawab Diwangka menjelaskan.
Kemudian dia membalas Diwangka, "Oh okay, i'll see you around yeah guys." sambung cewek ini yang seolah mau melenggang pergi, namun tahunya malah membalik badannya lagi.
"Palma." tambahnya lagi kali ini, namun dengan nada yang agak memaksa buat gue.
"Yes, Yes, mbak?" jawab gue yang memang suka kaget kagetan.
"Jangan lupa, telpon gue, okay?" perintahnya tegas.
"Sure, sure, i'll call you later, mbak." jawab gue, akhirnya, mencoba berdiplomasi dengan dia.
* * * * *
Mbak Lolita, adalah seorang senior dari salah satu maskapai di Jakarta. Yang namanya senior, pasti identik dengan casing nya yang juga udah senior dong, hihihi. — Tapi sayang, yang satu ini hasrat seniornya luar biasa meledak ledak. Bahkan dulu kalau gue inget waktu gue masih berurusan sama dia untuk mendapatkan rekomendasi pekerjaan, gue harus menjajal dia DELAPAN ronde berturut turut.
Tanpa istirahat, samasekali. — Udah habis berapa botol red bull tuh, sampai - sampai gue harus pakai viagra juga, edan!! dan gimana gue nggak gempor, bro. Delapan ronde! — Itu gila dan hyper banget, nggak ada cewek yang pernah gue temuin, bisa sebanyak itu minta nya. Lagi, lagi dan lagi, ya iyalah dia pasti minta lagi, orang dia tau gue butuh rekomendasi dari dia.
Dan kalaupun ada yang sanggup melayani dia, ya paling male pornstar, kali? — Jadi.... Itulah salah satu dari sekian banyak alasan kenapa gue minta Diwangka buat nge cover gue di airport. Dan rupanya mantan gay itu nggak mau melindungi gue sebagai sahabatnya.
Alasan lain, kenapa? Pertama ya untuk menghindari orang semacam mbak Loli itu, yang hyper abissss, juga untuk menghindari ex-client gue yang notabene nya juga para senior ladies (sebut aja tante, apa susahnya sih) — plus mugari – mugari yang centil dan senang banget ngetek di dekat gue itu... ngejilat jilat gue kayak gue ini eskrim ajaaa. Emangnya gue ice cream ya?
Beberapa saat kemudian, gue kembali bertanya kepada Diwangka, "Diw, udah aman belummm? tega lo yaa enggak nge-cover gue dari si mbak Lolita." keluh gue kepada Diwangka.
"Aman.... Memang, gue sengaja kok." jawab Diwangka, yang tiba tiba jadi super ngeselin.
"Awas lo Diw... Entar gue bawain oleh oleh gaydar ibiza lo ya..." ancam gue kepada dia, walaupun maksud gue sebenernya enggak serius gitu ya...
Masih sambil ngumpet ngumpet di belakang punggung Diwangka, gue berjalan menuju lounge khusus officer maskapai gue yang berada di airport ini.
"Bawa aja, nggak doyan lagi gue...." tantang Diwangka terhadap omongan gue, secara tiba tiba.
"Arggh...! yaudah, yuk, lanjut, cover gue, Diw." pinta gue lagi sama dia. Udah stress banget gue kalau ada cewek lain yang menghampiri gue.
"Iya... Iya..." akhirnya, dia pun menyanggupi maunya gue.
Ada banyak faktor, kenapa gue bisa seperti ini. Faktor pertama, gue adalah private Pilot, i handle bizjet, dan bukan sekedar Airbus atau Boeing dan yang itu itu saja dengan rutinitasnya. — Nah, hal ini menyebabkan banyak airliners menaruh standar yang lebih tinggi dibandingkan commercial airliners pada umumnya, terhadap gue.
Terlebih lagi bagi para women airliners.
* * * * *
Meskipun begitu, gue tetap harus merendah, gue nggak mau meremehkan Pilot inilah, Pilot itulah, semua Pilot itu pada basisnya sama, memikul tanggung jawab transportasi di atas udara. — Dan juga, karena ada yang lebih garang lagi daripada gue, siapa lagi kalau bukan abang abang navy tanah air, Pilot jet tempur dan pesawat militer Indonesia! yang tentunya bertugas untuk nge handle sistem keamanan dan pertahanan negara kita tercinta ini.
By the way, gue ada kenal satu orang, yang kalau udah mengudara, callsign nya udah pasti bikin jiper lalu lintas di udara. — Abang Memed (harusnya sih kodenya Mike) Bravo, namanya. Memed Bravo, hahaha. Temen temen nya, dia namakan garuda timur pride air squad. Kalau udah halo halo di radio komunikasi, patroli, atau cuma bermanuver ria di udara, semua bakal pada hey-ho.
HAHAHA. Apapula ini.
Gue jamin, jiper elo bro kalau ketemu mereka semua. Perawakannya ajegileeee, maskulin nya beda, ya lo bayangin aja maskulin nya navy army, kan beda sama maskulin nya bizjet playboy kayak gue ini, yang cuma doyan sepik sepik iblis. Dan bukannya menyelamatkan negeri, hahahaha.
Faktor kedua, gue pernah dinobatkan sebagai Mr. Party of The Year, ini semacam, acara arisan dan pesta eksklusif bagi para airliners gitu..., along with their socialite friends. — Nggak doyan gue sebenernya, ini semua terjadi gara gara Diwangka CS yang udah menjebak gue ke acara itu. Disana ada adegan dimana gue lagi pakai thong bermotif leopard, nenggak TIGA PULUH shot tequila, sambil muas muasin banyak women airliner yang lainnya. — I know, it's an embarassment.
But at least, itulah secuil gambaran yang terjadi di hari itu, yang gue inget. — Faktor ketiga, resiko menjadi con man, Pilot with confidence and not only their cones head are often found more appealing, more lustful, for the ladies... Ujung ujung nya ya, ladies, bro.
Faktor ketiga, gue jarang banget mengenakan Pilot uniform.
(Yang mainstream itu?~)
Hal ini membuat gue jadi beda sendirian, apalagi kalau gue udah turun dari pesawat, dan sedang berjalan jalan di landasan udara dengan santainya, hingga gue masuk ke dalam airport lobby, gue mengundang banyak pasang mata. — Nah, seperti dari flight barusan saja, gue cuma pakai Polo shirt berwarna hitam, chelsea boots hitam dari Clarks dan charcoal grey formal pants dari Arrow aja...
Arrow, fashion brand jadul dari Amrik, dan bukan barang mahal, yang overprice nggak jelas gitu, tapi kualitas formal pants nya oke punya bro! Cocok buat gue yang nggak mau ribet dan sok fashionable. — Udah, sesimpel itulah busana yang gue kenakan. karena emang nggak setiap flight gue harus, dan diwajibkan untuk mengenakan Pilot uniform.
Kalau flight nya nggak membawa klien atau orang penting sebagai penumpangnya, ya gue nggak diwajibkan untuk mengenakan seragam Pilot, dan menampilkan beberapa atribut dari maskapai gue sebagai suatu identitas.... Berbeda jauh dengan si Diwangka yang Pilot pride nya nggak bisa ditawar sama sekali.
Mau bawa klien apa enggak, tetap, seragam dan pendant harus selalu menempel rapi di badan dia. — Nah, inilah kualitas dari seorang Diwangka yang gue suka, orangnya nggak cengengesan kayak gue, dan dari hal seperti ini, gue banyak banget belajar dari sosok dia.
Faktor keempat. Gue adalah seorang bad... Boy. Yang masih muda. Umur gue dibawah 30 tahun, lo tebak aja berapa. Handle job gede dan ada orientasi kedepannya. Kalau dilihat dari luarnya doang, nih ya. — Gue masih fresh from the oven, banyak cewek (mau yang muda, yang senior sekalipun boleh dehhh.) suka sama gue karena aroma gue memang mirip seperti fresh-baked croissant gituu.... Udah muda, bandel, bikin penasaran, dan aroma nya masih fresh serta kinyis kinyis gitu, apalagi kalau gue udah nempel di G spot mereka. Yeahh...
Nah, cewek mana yang nggak 'lapar' dengan cowok kayak gue ini?
Hampir semua laperrrrrr.... Heheheheeeee.
Setelah tiba di lounge airport kami, gue kembali menyapa Diwangka, "Diw, lo mau pesan apa, ambil duluan deh. Ntar masukin aja ke bill gue." Kemudian gue menyuruh Diwangka untuk memesan beberapa gelas kopi, roti ber dengan peanut butter dan beberapa makanan ringan yang lainnya untuk kemudian disantap olehnya sambil duduk berdua bareng dengan gue.
"Diw, udah aman nih, yuk, duduk." ucap gue karena gue udah enggak merasa cemas lagi.
"Oke...." jawabnya luwes. Beberapa saat setelah kita duduk, saat gue baru akan membuka handphone gue, setelah berjam jam lamanya, gue belum membuka handphone lagi. Tibatiba ada seseorang yang menghampiri gue, dannn..., "Haaaloo Palma..." *smooch* *smooch* sontak gue langsung cipika cipiki dengan perempuan cantik yang sedang menyapa gue ini.
"Eh, Gabby?" tanya gue kaget kepada dia.
"Nggak nyangka gue, kemana ajaa?" tanya gue lagi untuk kedua kalinya.
"Haha, lo kaget ya? Dubai lah~ mana lagi..." jawabnya santai.
Diwangka:
*nge zonk*
"Eh Diw, kenapa lo? Kenalin nih, Gabriele. Gabe, ini Diwangka, temen gue juga."
"Halo Diwangka... salam kenal yaa.." ucap Gabby dengan nada anggunnya itu kepada Diwangka.
Tibatiba Diwangka dengan gagapnya, menjawab, "I, Iya. Iyah, salam kenal dari tyang, yah." Tyang, yang artinya dalam bahasa Bali adalah 'saya'.
"Hmmm, begini deh, kalau udah nge zonk, kasta-nya terjun bebas." sindir gue kepada si Diwangka.
"Hihihi... lucu deh. Eh, Pal, gue pergi dulu ya." sahut Gabby yang merasa lucu dengan tingkah seorang Diwangka.
"Eh, kok buru buru banget sih? Mau kemana emangnya? Anyway, lo masih di Emirates kan?" tanya gue agak cepat kepada Gabriele.
"Iya nih, ditunggu keluarga dirumah, kangeun banget~ Iya, gue masih di Emirates kok. Lo liat deh seragam gue. Emirates khan?" balas Gabby kepada gue.
"Adu.... iya, lupa gue, saking kagetnya gue lihat elo, udah dua tahun kan kita nggak ketemu. Oh, yaudah, temu aja dulu sama keluarga, ntar kita kontak kontakan lagi ya?" jawab gue merespons Gabby.
"Okay.... Pasti. Bye Palma.... bye Diwangka..." ucap Gabby yang mendadahi kami berdua, kemudian dia melenggang pergi bersama dengan travel luggage nya, keluar dari lounge maskapai ini.
"Heh kunyit, jangan bengong aja, di dadah dadahin tuh." senggol gue kepada Diwangka, yang memang seratus persen udah bengong sejak tadi dia melihat kehadiran Gabby di hadapan kami berdua.
"Hah, apa? apa?" and yess, Diwangka baru saja kembali tersadar.
"Where have you been, dude?" tanya gue mendadak.
"I, i, i'm here. Captain." jawabnya kayak orang d***o.
Gue pun hanya bisa menggelengkan kepala, "Ckckck. My lord, Didiw... Didiw."
Bersambunnngg....