Slow Lane 3 - Di perjalanan

1035 Kata
Sebelumnya di Doyan Cewek, I Am A Boy... "Ya disana lah pemikiran - pemikiran itu muncul menggerayangi otak gue, hahahaha." *** Skip-skip-skip, akhirnya gue landing di Aussie.... Di Aussie, di Kingsford airport, Sydney, lebih tepatnya lagi, inilah pertama kalinya gue menginjakkan kaki di luar Indonesia. Aneh rasanya, asing, bahagia, sedih, semua perasaan bercampur aduk. Bahagia, mungkin, karena gue berhasil sampai dengan selamat di tempat tujuan, dan sedih ya udah pasti karena gue masih kecil udah harus berpisah jauh dari nyokap gue. Di airport gue banyak terdiam, hanya sekedar memperhatikan doang, sambil dipegangin tangannya sama Papa, di pagi hari yang super dingin itu sambil nge push luggage (koper) gue, gue sarapan fresh baked croissant di Kingsford airport. Apa tuh croissant, itu, semacam roti hangat bergulung yang baru dipanggang gitu. Lumayan enak, sih, tapi.... Tapi, gue kangen sarapan pagi sama bubur ayam Mang Haji Yoyo, gue kangen nyokap, dan gue kangen temen temen SD gue di Bandung, pasti hari ini mereka lagi asyik main - main kayaknya. Daripada di pendem sendiri, akhirnya gue bilang sama Papa, "Pa, aku kangen sama Ibu, aku kangen Bandung, aku mau ke sekolah, mau main sama temen – temen ku..." keluh gue di saat itu. Dan Papa gue menjawab, "Sabar ya nak... nanti Papa akan telfon Ibu kalau kita sudah sampai di Mangakakahi." — Mangakakahi, adalah nama sebuah tempat di Rotorua, yang jadi tujuan selanjutnya bagi gue dan Papa gue, aneh banget memang namanya, tapi itu ada alasan nya, nanti gue jelasin. Waktu di airport, gue bingung, bokap gue kok banyak banget yang say good morning! dan nanyain apa kabar sama dia. Dengan uniform nya, do'i melenggak melenggok pede hingga akhirnya kami berdua keluar dari lobby airport ini. Rupanya dia dikagumi karena dia bekerja untuk Rajawali Indonesia... wih, mantap bro. — Lalu akhirnya, setelah sarapan, kami berdua melanjutkan penerbangan kami dari Sydney airport menuju ke Wellington menggunakan sebuah pesawat yaitu Cessna 120, pesawat kecil yang hanya bisa mengangkut dua sampai empat orang saja, seingat gue, kami terbang menuju ke Rotorua regional airport, kemudian... dari Rotorua regional airport, kami lanjut berjalan menuju ke loket pemesanan tiket Bus yang terletak nggak jauh dari jalan Te Ngao, untuk memesan tiket bus yang langsung menuju ke Mangakakahi. Sedikit memori waktu gue naik Bus, waktu itu, gue berjalan sedikit lebih jauh lagi menuju tempat Bus yang sudah kami pesan tiketnya. Setelah sampai di depan pintu Bus, gue disapa sama supir Bus nya, Mr. Walter namanya, masih ingat banget gue heeehee, orangnya gendut dan seragamnya rapi banget, dan dia masih ada kok sampai hari ini. Bus ini juga adalah Bus langganan Papa dan langganan gue juga (setelah gue tumbuh besar di New Zealand), untuk seterusnya. Dan ciri khas Bus yang gue naikin adalah satu, yaitu; Bus ini ada advertisement nya, apa ya, ada iklannya, kan kalau di Indo, angkutan kota nya itu yang ada iklannya. Nah kalau disini, bus nya, norak banget yah gue, tapi ya namanya lagi belajar menghafal perbedaan, hal hal begitulah yang gue lakukan. Naiklah gue, di perjalanan, Papa gue banyak bersiul siul nggak jelas, cemberut gue dibuatnya. Tapi kata Papa, jangan cemberut gitu dong, dan akhirnya buat mengatasi bete-nya gue, gue dikasih Wrigley's peppermint gum, permen karet rasa menthol kesukaan gue, di indomaret juga banyak bro, gue nya aja yang kebetulan emang suka norak. Tanpa terasa, sudah 40 menit Bus gue berjalan, banyak sekali pemandangan yang gue sadari beda jauh sama original hometown gue, yaitu Bandung. Disini sepi sekali, dingin nya lumayan, agak mirip sama Bandung, sebenernya, dan komposisi rumah penduduk nya juga saling berjauhan, masa, kata Papa, lebih banyak sapi dan biri - biri (sejenis domba) nya daripada orang - orang nya. Karena padang rumput luas itu ternyata buat makan si sapi - sapi yang gemuk itu, banyak pagarnya, pembatas nya maksud gue, dan luas banget alamak. — Juling mata gue dibuatnya, dan setelah melihat warna hijau hijau itu. Gue dikasih tahu, itu kenapa bisa banyak begitu, karena memang N Zee ya adalah salah satu negara penghasil dairy product terbesar di dunia. Kayak s**u Ultra Milk kalau di Indonesia. Jadi deh banyak pabrik sapi perah nya. — Di jalan, gue kedinginan, kayaknya satu lapis jaket jeans OSH KOSH B'Gosh gue nggak cukup buat menepis dinginnya pagi hari itu, akhirnya Papa kasih gue jaket pilot nya (custom made) dia buat dipakaikan ke badan gue. Makasih Papa, tau aja kalau anak lo gampang kedinginan. Kata Papa, kalau kita nggak ambil jalur yang sekarang supir Bus gue lalui, gue bakalan mampir ke Hamilton, sebuah daerah besar di NZ. Tapi butuh beberapa jam lagi untuk sampai di Hamilton. Dan.... Setelah beberapa jam lamanya di perjalanan, akhirnya gue sampai juga di Mangakakahi, Rotorua, disana gue melihat sebuah welcome board yang bertuliskan bahasa aneh. "Nau mai ki te Mangakakahi." yang artinya adalah welcome to Mangakakahi. Sebuah sub district, tempat bokap gue dan keluarganya tumbuh besar di rumah keluarganya. Ya iyalah bro di rumah keluarganya, masa di rumah tetangganya, hihi, peace out, yo! — Nah setelah turun di halte Bus-nya, gue di bonceng sama bokap gue naik sepeda yang disewakan di halte terdekat menuju rumah keluarganya yang katanya nggak jauh - jauh amat dari situ. Eh tau nya, rada jauh bro. Mampus deh gue, karena di dorong sampai batas akhir, gue muntah, hoekkkk, untung aja gue bawa sickness bag (kotak buat muntah), aman deh jadinya nggak muntah - muntah di jalan. Karena kasihan, akhirnya bokap gue mempercepat kayuhan sepedanya, dannn tararamm. Akhirnya gue pun sampai di rumah bokap gue yang kejam ini, hahahaha! (bercanda Pa, Palma nggak serius!) Karena estimasi travel duration gue sudah melebihi yang dia perkirakan. — Di rumahnya, gue buru - buru disuruh minum minuman hangat gitu sama nyokapnya Papa, Nenek gue, belum gue kenal awalnya. Gue nggak tau itu semacam booze atau beer hangat begitu, rasanya enak loh bro, bikin gue jadi ngerasa sedikit nyaman. Mungkin kalau di kita itu kayak semacam cairan tolak angin gitu bro, meskipun nggak mirip sama sekali. Dan tanpa berlama lama, akhirnya gue disuruh tidur di kamar lamanya bokap gue, yang gue kaget, di kamarnya ada fireplace nya, jadi semacam perapian untuk menghangatkan suhu ruangan gitu, jujur sih gue agak takut sama yang namanya api..., tapi mungkin karena waktu itu gue udah teler setengah ma-ti, dan capek berat, yah akhirnya, gue tertidur lelap......zzzzz. Nggak pake ngorok ya tidurnya...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN