Slow Lane 4 - Mengintip

631 Kata
"Palma..." "Palma..." Gue: "Hoooh... Apa.... Aku.... Hemm...." Gue: "Hoaaam?" Papa: "Hehehe, kok mengigau sih tidurnya? Palma, bangun nak, ini ada telfon dari Ibu." kata Papa sambil mengelus elus rambut dan jidat gue, mencoba membangunkan gue perlahan lahan. Masih setengah sadar, Papa meninggalkan ponsel Motorola nya di samping telinga gue, rasanya, gue mencoba untuk tidur lagi. Karena gue masih bete, dan nggak tau mau ngapain di tempat baru gue ini. Tapi hal itu nggak berlangsung lama, setelah gue mendengar suara ini... "Halo Palma... sayang Ibu... ini Ibu... ayo... bangun nak..." Deg. That voice. Nyokap gue bro. Dia nelfon. Asikkkkk. Gue: "Haloh, haloh, Ibu, Ibu, Palma udah sampe di rumah Papaaa!!" teriak gue tiba tiba menjadi girang sekali, mendadak, raut wajah gue berubah jadi kinclong mentereng, macam piring berlemak yang baru dicuci pakai sunlight, ada kerling - kerling nya gitu deh... huahaha. "Pelan - pelan bicaranya sayang..." ucap Ibu kepada gue. "Hah, hah, iya bu... Palma udah sampe di Mangakahi," terang gue sekaligus. "Mangakakahi, maksud kamu?" tanya Ibu kebingungan. "Nah, iya itu, bu," angguk gue membenarkan pernyataan Ibu. "Okay... sekarang kamu minta minum dulu gih, ke Papamu. Kayaknya kamu haus tuh, nanti Ibu telfon kamu lagi, okay?" "Okay bu, dadah Ibuuu." balas gue mengucapkan goodbye. "Dadah Palmaa, mmmuach." Setelah menutup telepon dari Ibu, gue melirik ke arah jendela kamar Papa gue yang tampaknya memang terang sekali, cahaya nya sampai menembus tirai. — Gue melihat ke arloji flik flak berwarna maroon yang gue pakai ini, ternyata posisi jarum jam nya udah nggak akurat, masa di arloji analog gue waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi. Padahal matahari sudah silau begini. Kenapa, karena zona waktu Indo bagian barat dan waktu Selandia Baru berbeda beberapa jam. Selandia Baru lebih kenceng 5 jam kalau gue nggak salah. Bingung sendiri, untung aja ada jam dinding di kamarnya Papa, ternyata sekarang waktu sedang menunjukkan tepat pukul 2 siang. Jadi dari situ, gue salin aja waktu akurat nya ke jam tangan gue. Secara perlahan - lahan, gue menurunkan kaki gue dari kasur monster ini, kasur super gede di kamar Papa gue, lalu berjalan melangkah menuju pintu kamar sambil berhati hati ketika gue melewati perapian di kamar Papa, ya walaupun apinya udah mati, tetep aja gue takut bro, kan ada orang yang gitu, trauma sama sesuatu. Nah gue, gue trauma sama api bro. Setelah sukses mencapai pintu kamar, gue mencoba membuka door knob (gagang pintu) kamar Papa gue yang bentuknya bulat, dan susahnya minta ampun ketika mau dibuka, jadi kesel gue, gue bergelut mencoba membuka itu gagang pintu sekitar lima menit lamanya, gue puter² nggak kebuka jugaaa. Haduh..... Nggak kayak gagang pintu kebanyakan di Indonesia bro, yang bentuknya umum dan gampang sekali buat dibuka engselnya itu, nggak ribet ribet macem begini.. diputar putar malah makin ngeselin, makin nggak bisa dibuka. Dasar gagang pintu bodoh, keluh gue sendirian pada saat itu. Tapi akhirnya... Voila! terbuka juga akhirnya nih si gagang pintu sialan. Dari situ, gue mau keluar dari kamar Papa, tapi setelah gue intip dari pintu kamar, gue tahan dulu niat gue untuk keluar dari kamar Papa. Karena Papa lagi ngobrol sama seseorang perempuan yang udah lumayan berumur (gue yakin itu adalah nenek gue) dan seorang laki laki yang badannya nampak tinggi dan besar, kayak yeti di Nat Geo channel itu bro, bingung gue juga pas ngeliatnya. Gue intip mereka bertiga lagi ngobrol di ruang tamu. Saking asyiknya ngintip mereka, gue kaget kalau akhirnya Papa gue menangkap basah gue yang sedang mengintip intip mereka dari pintu kamarnya. Setelah itu, Papa berdiri dari kursinya dan beranjak menghampiri gue, kaget, gue secara langsung segera bersembunyi dibalik pintu kamar, karena mata yang lain juga tertuju ke arah kamar ini. Lalu muncullah wajah Papa gue dari balik pintu kamarnya, tersenyumlah dia. Nah, karena waktu itu gue masih pendek, gue harus mendongak dulu buat melihat dia, Papa tercinta! "Palma, yuk, sini nak, kita ketemu sama keluarga Papa. Papa kenalin kamu sama mereka." sambil menjulurkan tangannya, Papa mengajak gue keluar dari kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN