Gue menggenggam tangan Papa dengan penuh keyakinan, lalu kemudian berjalan menuju ruang tamu rumahnya Papa untuk bertemu dengan anggota keluarga nya, yang udah gue intip - intip sebelumnya.
"Sini nak, jangan malu malu gitu ah..." ucap Papa santai. Lalu gue mulai menghampiri mereka berdua yang sedang duduk di kursi dan menyandarkan tangan mereka di atas meja makan.
Melihat lebih dekat, dan akhirnya, seseorang dari mereka berdua menyapa gue dengan lembut, suara yang lembut, penuh kasih sayang, "O... my dear lord.... who is this dashing, charming young man, Neal?" ucap orang itu kepada gue kepada gue, beramah tamah.
"Palma, say hello to your grandma. Mom, this is Palma, my dear son." (Palma, katakan halo ke nenekmu. Mah, kenalin, ini Palma, anakku tersayang) ucap Papa mengenalkan gue kepada nenek gue.
For your information, Neal adalah nama bokap gue, Neal Ashburn, Sterling adalah middle name nya. Jadi nama lengkapnya, Neal Sterling Ashburn. — Hah, mampus kan, jadi anggota keluarga blasteran. Nggak hafal gue yang beginian. Tapi ya mau gimana lagi, begini adanya.
"Hellow, grandma." sapa gue akhirnya, singkat dan kikuk, ini kalau di persatuan militer udah ditempeleng gue kalau bertingkah kayak begini.
"How nice to see you.... Palma, my name is Rowena (dibaca: rowina). — You can call me granny Ro, if you wish."
Buset ngomong apaan nenek gue ini. Asli bro, aksen ngomong nya kayak gue kalo lagi nonton acara Mr. Bean, tapi ini versi perempuan nya. Hihi, memang jahat ya gue bro, nenek sendiri aja di hina.
"Ehem, Pa, bantu aku dikit dong, aku lama ga ngomong bahasa Inggrisss.... ini... nenek ngomong apa?" tanya gue kepada bokap gue. Untung gue punya bokap yang bisa billingual (ngomong dua bahasa), walaupun dia bule, karena dia udah lama tinggal dan kerja di Indo, jadi ya bahasa Indo nya lancar jaya bro, coba kalau dia nggak pandai - pandai amat ngomong bahasa Indo. Kan kelar disitu gue bro.
"Iya... jadi, nama nenekmu adalah Rowena... dan kamu bisa panggil nenekmu itu, granny Ro aja, itu pun kalau kamu mau..." ucap Papa menjelaskan.
"Oh....." respon gue datar. — (Padahal di dalem hati sih, OHHHH!! MAKASIH YA PA UDAH BANTU AKU!!)
Lalu granny Ro mulai ngomong lagi, "How old are you, Palma?" tanya dia kalem, sambil tersenyum tulus.
Nah, gue nggak tau gimana, untuk selanjutnya, setelah gue ditanya pertanyaan begitu, gue berasa lagi ada di kelas Bahasa Inggris di sekolah gue, jadi, pertanyaan macam how old are you tuh, gampang banget kali nge jawabnya. Akhirnya, gue jawab aja deh pertanyaan dari nenek gue itu.
"I am eight years old," (Screw you, old lady!)
(Aku berumur delapan tahun. Buset, kenapa ada si Adam Sandler tiba² nyamber di kepala gue? wahahahahaha.)
Granny Ro: "Okay, Palma... come here, please sit down with us." ucap dia lagi. — (Okelah kalau begitchu, sini sini, duduk bareng bersama dengan kami, tuh, pinter kan guweee.)
Dannnnnn untuk percakapan selanjutnya gue ganti jadi bahasa Indo aja yak bro, hehehe, soalnya gue lelah bila harus menerjemahkannya satu per satu.
Sekilas tentang granny Ro, dia orangnya baik, perkataannya sopan banget, sangat dijaga sekali, gue beruntung bisa jadi cucu seorang nenek yang baik kayak begini.
Soalnya, nggak banyak nenek nenek bijak macam granny Ro, walaupun udah tua, sifat bijaknya sangat kelihatan sekali.
Granny Ro, waktu pertama kali gue ketemu dia, rambutnya udah putih semua, dan udah banyak keriput dan spot hitam gitu di wajahnya, namanya juga nenek - nenek bule, jadi pasti banyak freckles nya.. badannya kurus, nggak kering kerontang ya, dia lumayan tinggi, kira kira 175 centimeter lah, gue yang waktu itu masih 110 cm juling banget pasti ngeliat orang setinggi itu.
Gaya berpakaian nya ya gimana aja gaya berpakaian seorang nenek - nenek, granny Ro kebanyakan pakai baju hangat seperti sweater dan baju - baju yang bisa membuat badan seseorang tetap hangat di cuaca yang cukup dingin. — Udah ya, deskripsi nya, dan, gue pun akhirnya duduklah bareng sama mereka semua, dan di meja itu, setelah gue duduk dan melipat tangan gue, gue tiba tiba diketawain sama si yeti yang barusan gue intip daritadi itu.... dan disinilah semuanya dimulai.
"O my lord, Neal, your son is bloody cute, hey, kid, smile!" tukas laki - laki itu mengagetkan gue.
"Bloody hell, Jack! watch ur mouth, dafthead!" ujar Papa seru.
"Heyy kalian ya, ini ada anak kecil loh, masa bicara nya kasar begitu, mama nggak suka ah!" kritik nenek gue kepada anak – anaknya yang bandel ini.
"I, Iya mah.... iseng aja kali. — Hai Palma, papal, kenalin neh.... gue Jackson, gue paman lo, nah elo, kalau disini, jangan sungkan sungkan ya... Next time, lo panggil aja gue Jackie, okay?" jawab orang yang bernama Jackson ini.
"Okay!" jawab gue sambil mengacungkan jempol.
Jack, Jackie, or Jackson rue Ashburn, adalah orang paling b******k dan ter-lubang p****t di dalam hidup gue, adalah paman gue, adik nya Papa, gayanya petakilan abis, di awal, jijik gue ngeliatnya, tapi man, jangan salah, sialan kayak begitu dia punya kontribusi besar terhadap hidup gue, nanti deh gue ceritain, ya.
Nah yang gue heran, apa emang setiap paman biasanya punya kelakuan kayak begini, (seingat gue paman gue dari keluarga Ibu sopan banget dan nggak kayak begini deh...) pasti kan, ada penyebabnya dong, kenapa dia berkelakuan seperti ini, nah, daripada pusing mencari penyebabnya, mending gue lanjut lagi aja menceritakan momen saat kami sedang bertemu itu.
Di siang yang cerah itu gue berkenalan dan bertemu dengan keluarga baru gue, yaitu granny Ro dan uncle Jack atau Jackie si lubang pantat... sekarang ini, gue jadi kangen sama mereka kalau lagi nulis tentang mereka, tepat pukul dua belas siang, sambil memperhatikan mereka bertiga asyik mengobrol, pandangan gue jauh menerawang keluar sana.
Masih merindukan Ibu, gue terlena dalam lamunan yang ada di kepala gue di saat itu. Gue mikir... Ibu lagi apa ya... kalau sama persis di jam segini, biasanya Ibu lagi masak, dan gue dengan senang hati menunggu masakan nya disajikan di meja makan di rumah kami, ah, itulah yang sulit gue lupain dari Bandung, meskipun baru beberapa hari lewat, homesick atau rasa kangen rumah gue meluap luap nggak terbendung bro.
Sampe akhirnya, Papa megang tangan gue dan menyadarkan lamunan gue di siang hari itu.. Papa ngajak gue untuk berjalan jalan sebentar.
"Ma, Jack, saya permisi sebentar dulu ya, saya mau ngajak Palma keliling - keliling untuk lihat lihat rumah. Kalian lanjut aja ngobrol ngobrolnya." ucap Papa kepada mereka.
"Palma, ayo sini nak, Papa mau ajak kamu jalan - jalan dulu sebentar."
"Okay pa..." jawab gue lesu.
Kemudian Papa mengajak gue naik ke lantai dua, melihat lihat kamar yang ada di lantai dua, kemudian menunjukkan beberapa ruangan yang ada di lantai dua, termasuk kamar mandi, yang astaga, beda jauh sama kamar mandi dimana gue biasa melakukan ritual bersih bersih tubuh. Kamar mandinya nggak ada tempat nampung airnya, bro. Apa ya, kayak bak mandi gitu.
Terus mandinya itu harus di bath tub, bukan bebas pakai air gitu kata Papa, jadi entah itu pakai shower atau nggak, yang jelas, kalau mandi, kalau bisa, mandilah serapih mungkin.
Ah, kecewa gue, nggak bisa pecicilan di kamar mandi lagi kayak dulu yang biasa gue lakuin dong? tapi yah, nggak apa apa deh, bisa gue maklum, kan gue tinggal di tempat yang berbeda, walaupun emang awalnya menerima hal yang kayak begini tuh sulit untuk dilakukan....
Di dalam kamar mandi ada wastafel, okelah, kalau itu sih masih biasa gue lihat, tapi kalau di kamar mandi udah ada lemari nya, anjrit, jiper gue bro, nah yang kayak begini nih, yang nggak biasa gue lihat, sumpah, banyak banget hal asing yang gue temui ketika awalnya gue berada disana.
Entah gue sanggup apa nggak nerima perbedaan itu, sebagai seorang bocah yang berasal dari Bandung, gue cuma bisa nerima aja, nggak mikir apa apa lagi yang ribet ribet, tapi tetep aja, kesel setengah mati.
Tiba tiba, Papa nanya sama gue, "Kenapa Pal, ada yang lagi kamu pikirin?"
"Ada sih, pa. Aku kangen sama Ibuuu," keluh gue manja.
"Heheh, Papa taulah ituu, kelihatan kok dari ekspresi wajahmu itu," kata Papa lagi, iya, elo emang tau Pa.
Sambil berdiri di dekat jendela di lantai dua rumahnya ini, Papa dan gue ngobrol tentang beberapa hal.
"Palma, Papa inget deh dulu, waktu Papa masih kecil, Papa sering ngeliat keluar rumah dari jendela ini, nih, persis banget, di sebelah kamu. Dulu, mimpi Papa banyak, Pal, dari mulai jadi petani, sampai mimpi - mimpi lainnya yang memang ada di kepala Papa."
"Papa yakin, kamu pasti bakalan betah dan suka tinggal disini, walaupun awalnya mungkin kamu bakal banyak penyesuaian, tapi Papa yakin kamu bakalan banyak nemuin ketidak cocokan, awalnya ya... tapi Papa yakin kok, Palma, kamu pasti bisa bergabung dengan komunitas kami semua disini."
"Penduduk Mangakakahi ramah - ramah kok, Pal, meskipun tidak semua, ya. Nanti, Papa bakal ajak kamu keluar rumah, buat cari sekolah barumu, ya, gimana, setuju nggak nih?"
"Iya Paaa, setujuu, tapi sebelum nya aku pengen tau dulu nanti aku bakalan tidur di kamar siapaaa," jawab gue merana, dasar bocah manja emang.
"Nanti kamu tinggal di kamar Papa, Papa janji deh, walaupun mungkin enggak semua keperluan kamu bisa Papa bantu urus, kayak beli baju, atau yang lain². Tapi Papa usahain, ya, Papa selalu bisa bareng sama kamu. Kamu tau kan, kalau jadwal kerja Papa di Rajawali itu padat sekali, nak."
"Iya Papa kalo soal itusih aku tauuu... terus nanti disini, aku diurus sama siapa, Paaa?" sambung gue masih bertanya tanya.
"Oh kalau itu, kamu enggak perlu takut, kan nanti ada nenek dan bibi-mu yang bakal ngurusin segala keperluan kamu. Udah ah, sekarang, kita turun lagi ke bawah." ucap Papa kemudian meraih tubuh dan mengelus – elus kepala gue, diantarnya lah gue menuruni tangga perlahan lahan, kembali ke lantai satu.
Di rumah baru gue ini, gue banyak menemukan hal hal asing, okay, tapi dengan sambutan yang hangat dari Papa dan anggota keluarganya.
Kayaknya gue mulai ngerasa nyaman dan nggak cemberut² lagi deh. Di lantai satu, gue masih diajak keliling sama Papa, melihat lihat foto yang ada ruang keluarga, sambil pecicilan dikit, gue lari lari di lantai satu, mulai nunjuk ini dan nunjuk itu. Mulai balik lagi, kelakuan lama nya.
Tapi yah, itulah gue, seorang Palma, yang jauh dari Ibunya, dan terdampar jauh dari kampung halamannya, mau dibiasain kayak gimana juga ya kalau hal baru ya enggak bakalan gampang diterima.
Mangakakahi. A place that i will always remember.. That day, i sit in the veranda, just looking, thinking of how far i am from my home...walking around in this big, wooden house.
Kia ora Mangakakahi, Palma. (Welcome to Mangakakahi, Palma) I said in my heart.
* * * * *
WAKTUNYA CURHAT!
Wih, nggak kerasa, udah sekian banyak aja ya cerita dari gue, yaaa walaupun each one of it hanya pendek pendek dan enggak benar benar kompleks, diceritain satu per satu, tapi berurutan.
Persis seperti yang gue mau, karena kalau gue endure atau paksa sampai banyak - banyak begitu, gue nggak suka, bisa juling gue bro, hahahahaha.
Jujur, bagian ke lima ini adalah bagian yang paling life inspiring banget buat gue. Karena di hari hari itu, gue banyak mengenal dunia melalui orang orang yang memang sangat menginspirasi gue, i mean, itu adalah salah satu dari sekian hari bersejarah dalam hidup gue.
Dan orang orang yang barusan gue ceritain itu adalah keluarga gue. Dan orang orang itu, adalah orang orang yang membentuk diri gue di hari ini, orang orang yang baik.
For most of the time, kisah gue memang nggak atau bukan tentang sesuatu yang mistik - mistik, kisah politik, atau kisah sastra yang benar benar romantis dan inspiratif banget gitu, nggak sampai gue mas, mbak. Apalagi untuk yang kali ini, gue coba bikin seringan mungkin aja deh, seperti di awal yang sudah gue sudah ceritakan.
Doyan Cewek, I Am A Boy, setidaknya, mayoritas dari kisah gue akan membahas tentang relationship between gue dan cewek cewek, kenapa gue gemar sama yang namanya cewek, dan kenapa cewek itu mahluk prestisius yang wonderfully crafted, their mind, their behaviour, their eyes. That made me realize cewek adalah mahluk yang perlu diabadikan kisahnya.
Kisah gue ini gue harap akan jadi murni menjadi sebuah life journal, mungkin agak meleset sedikit, gapapa ya? hahahhaha. Kisah yang membahas setiap cewek yang gue temui dalam kehidupan gue, kalau perlu satu per satu, semuanya, di absen kayak literatur eksakta. HAHAHA, BIAR MABOK ILMU, BRO! Kisah yang membahas tentang pekerjaan, drama, kejadian kejadian yang sulit gue lupain dan lain lainnya.
Kisah gue ini, ada senangnya, sedih, datar, dan ada t***l - t***l nya juga... — Ada erotical session atau sesi erotis-nya, yang memang harapannya nanti akan dibahas lebih mendalam, tapi bakal dikemas dengan bahasa yang nggak neko - neko lah bro. Ya kalau gue masih amatiran dalam hal menulis cerita, sungguh, maafkan gue, dear kalian wahai para readers gue yang tercinta.
Karena gue tidak memiliki expertise atau keahlian secara spesifik di bidang tersebut, tapi seenggak nya gue mau jago dalam satu hal lah, gue ingin jago dalam berusaha bikin cerita gue agar bisa jadi semenarik mungkin.
Dan pasti nanti ada saat bosannya juga saat kalian membaca cerita gue ini, pasti kok itu, pasti terjadi, hahahaha.
Nah makanya, mari kita bersama sama berharap dan berdoa gue nggak bakalan g****k ditengah jalan, dan akhirnya memutuskan untuk tidak kembali melanjutkan cerita gue dengan cara mendet sana atau mendet sini.
Lama update atau posting ceritanya, dan segelintir hal hal lainnya. Besar harapan gue kisah ini selesai, dan mudah mudahan nge pas sama jadwal liburan gue.
Karena apakah nantinya kisah gue ini bakalan happy ending atau sad ending, siapa yang tahu? hahaha, nggak enak bro kalau dibocorin di awal awal, bisa jadi skandal publik nantinya (what the f**k?)
Maaf banget yaa, gue udah ngalor ngidul kesana kesini. Yuk deh, kita lanjutin lagi.