Selama ada Ayah

1213 Kata
Alih-alih langsung pulang ke rumah, Nareza menuju kebun kopi tempat ayah bekerja. Dari kejauhan ia melihat ayah sedang merumput. Sesekali wajah ayah terkena helaian rumput dan sarang laba-laba yang melintang di antara ranting-ranting kopi. Ayah hanya menepisnya pelan lalu kembali bekerja. "Ayah!" Pekik Nareza berlari pelan di jalan setapak. Ayah menoleh. "Nareza? Gimana?" tanya ayah menyeka keringat di keningnya. "Tadi HRD bilang dia merasa cocok sama Nareza." Ucap Nareza dengan antusias, senyumnya tak hilang dari wajahnya. "MasyaAllah..." Gumam ayah menatap Nareza dengan tatapan bangga. "Katanya nanti bakal dihubungi lagi." Tambah Nareza dengan senyum lebar. Ayah ikut tersenyum melihat kebahagiaan putrinya, "Alhamdulillah. Semoga Allah memberikan hasil yang terbaik ya, Na" "Aamiin... tapi masih harus nunggu." Ucap Nareza disusul dengan ekspresi cemberut. "Itu sudah kabar baik, Na. Tandanya kamu berhasil melewati interview pertama kamu dengan baik." Ucap ayah mengelus kepala Nareza yang tertutup hijab. "Selamat ya. Nanti malam kita rayakan." Nareza tertawa kecil. "Siap, Yah. Kalau gitu Nareza pulang duluan ya, sekalian mau balikin motor ke Ce Yavine" "Iya, hati-hati ya, Na. Jangan lupa bilang makasih ke Ce Yavine" ucap Ayah. "Pastinya, Yah" Sahut Nareza lalu berbalik dan pergi dengan langkah ringan. Sementara ayah kembali memotong rumput hingga keranjang bambunya penuh. Rumput itu kemudian dipanggul menuju kandang sapi milik Pak Jarev. Satu per satu sapi diberinya makan. Kemudian ayah mulai membersihkan kotoran sapi di kandang, lalu beralih mengambil sapu lidi dan membersihkan area sekitar kandang. Tak lama kemudian terdengar langkah seseorang. "Pak Sahvan." Ayah menoleh. "Oh, Pak Jarev." Sapa Ayah dengan ramah. "Gimana? Sapinya sudah makan?" Tanya pak Jarev menatap sapinya. "Sudah, Pak." Jawab Ayah mencuci tangannya dengan air kran, "Rumput buat hari ini juga sudah cukup." Pak Jarev mengangguk puas. "Bagus." Pak Jarev mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu rupiah, memberikannya pada Ayah. "Ini upah hari ini." Ucap pak Jarev. Ayah menerimanya dengan kedua tangan. "Terima kasih banyak, Pak." "Sama-sama, Pak." Sahut pak Jarev. "Kalau begitu saya izin pulang dulu ya, pak." Ucap Ayah menunduk sopan. "Baik Pak Sahvan, hati-hati" ucap Pak Jarev. "Mari pak" Ayah berjalan pulang melewati pematang sawah. Di pinggir sawah tumbuh kangkung liar yang hijau segar. Ayah memetik beberapa ikat secukupnya. "Lumayan buat makan." Gumam ayah tersenyum puas. "Pak Sahvan" sapa seseorang dari belakang. Ayah menoleh, "Pak Ezrel, bagaimana pak?" Tanya ayah dengan ramah. "Lagi cari kangkung, pak?" Tanya Pak Ezrel. Ayah mengangguk, "Betul pak, lumayan buat makan" "Pak Sahvan bisa memperbaiki atap bocor tidak, pak?" Tanya Pak Ezrel. "Oh bisa pak, atap siapa yang bocor?" sahut Ayah. "Atap rumah ibu saya sudah dari kemarin bocor, saya sendiri ga bisa lihat titik bocornya dimana" ucap Pak Ezrel tertawa pelan, "Kira-kira bapak bisa bantu?" "Oh bisa pak, dengan senang hati, nanti saya mampir ke rumah" Ucap Ayah dengan yakin. Pak Ezrel mengangguk puas, "Kalau begitu saya pulang dulu siapin alatnya, terimakasih pak Sahvan" "Sama-sama Pak Ezrel" ucap Ayah mengangguk sopan. Ayah lanjut memotong kangkung liar dengan senyum kecil, ia mendekati pondok sawah dan mencari-cari kresek bekas. Ia memasukkan hasil petikannya ke dalam kresek sebelum pergi ke rumah Ibunya Pak Ezrel. "Assalamualaikum" Sapa Ayah memasuki halaman. "Waalaikumsalam, silahkan pak Sahvan" ucap Pak Ezrel yang sudah menunggu di sana. Ayah meletakkan kresek berisi kangkungnya di tanah, lalu mulai naik ke atap menggunakan tangga. Ayah melihat ada genteng yang posisinya sedikit miring, ayah menyusun genteng itu sampai kembali rapi dan rapat. "Pak Ezrel, bisa tolong ambilkan sebotol air?" Tanya Ayah menatap ke bawah. "Iya pak" sahut pak Ezrel. Pak Ezrel pergi mengambil sebotol air, lalu memberikannya pada Ayah yang masih diatas atap. "Terimakasih, Pak. Bisa tolong cek dari dalam masih bocor atau belum saat saya siram air?" Pinta ayah yang dibalas anggukan oleh Pak Ezrel. Setelah dikonfirmasi sudah tak ada air yang merembes ke dalam rumah, ayah turun dari atap. Pak Ezrel menjabat tangan ayah dan menyelipkan uang, namun ayah mengembalikannya lagi. "Kita ini kan tetangga, pak. sudah sepatutnya saling membantu" ucap Ayah menolak dengan sopan. "Tapi bapak sudah membantu saya, saya jadi ga enak kalau tanpa upah" ucap Pak Ezrel memberikan uangnya. Ayah mengambil kresek kangkungnya dan langsung pergi tanpa menerima uangnya, "Mari Pak" Ayah tak langsung pulang, ia mampir dulu ke warung Pak Vero. Ayah mencuci kakinya di kran sebelum masuk ke warung. "Pak, mie instan satu... kecap sachet... sama telur satu." ucap Ayah. Pak Vero mengangguk lalu menyerahkan belanjaan itu, "Tujuh ribu, pak" ucap pak Vero. Ayah memberikan uangnya "Ini ya, pak. Terimakasih" ucap Ayah menerima belanjanya. Ayah akhirnya berjalan pulang menuju rumahnya. Menjelang maghrib. Aroma mie rebus memenuhi rumah bambu sederhana itu. Ayah merebus kangkung, menggoreng telur, lalu menata semuanya di atas karpet ruang tengah. "Sini, Na." Panggil Ayah dari ruang tengah. Nareza keluar kamar dengan rambut terurai habis mandi, "Wah... enak banget baunya." Nareza duduk di tikar yang digelar. Ayah tersenyum. "Ayo makan." Tanpa berkata apa-apa lagi, ayah memindahkan seluruh mie beserta telur ke piring Nareza. Sementara di piringnya sendiri hanya ada nasi hangat, kangkung rebus, dan sedikit kecap. "Lho Yah..." Nareza menatap piring ayahnya dengan mata berkaca-kaca. "Udah." Ayah mulai menyantap makanannya. Nareza mengangkat telurnya dengan sendok, "Ayah aja yang makan telurnya." Ayah menggeleng, menjauhkan piringnya dari Nareza. "Ayah lebih suka kangkung, lebih sehat." Nareza tahu ayah sedang berbohong. Namun ia tidak sanggup membantah. Nareza menelan mie dan telur seperti menelan kepahitan kenyataan. Mereka makan bersama dalam keheningan yang terasa hangat sekaligus menyakitkan. Selesai makan, Nareza memandang piring kosong di depannya. "Yah..." Panggil Nareza pelan. "Iya?" Sahut ayah menumpuk semua piring kotor. "Nareza baca di media sosial... Katanya kalau HRD bilang nanti kami hubungi lagi, biasanya itu artinya nggak diterima." ucap Nareza dengan suara serak menahan tangis. Ayah tetap tenang, Ia tersenyum kecil. "Ayo wudhu dulu, sebentar lagi adzan Maghrib." "Tapi..." Nareza masih terasa berat dan ragu. "Kita serahkan hasilnya pada Allah, Na." jawab ayah pelan. Nareza terdiam. Sementara ayah bangkit membawa piring-piring kotor. "Kamu ambil wudhu dulu." Ucap ayah. "Lho, ayah yang cuci?" Tanya Nareza terkejut. "Iya. Nanti habis itu kita sholat Maghrib berjamaah." jawab Ayah. Tak lama kemudian suara adzan Maghrib berkumandang. Ayah kembali menggelar dua sajadah seperti biasa. Mereka berdiri berdampingan. Ayah menjadi imam. Nareza menjadi makmum. Usai sholat, rumah kembali sunyi. Nareza masih duduk bersimpuh di atas sajadah. "Ayah..." panggilnya pelan. "Hm?" "Kalau ternyata Nareza nggak diterima kerja gimana?" Tanya Nareza dengan suara serak menahan tangis. Ayah memutar tasbih di tangannya. "Nak. Allah selalu tahu mana yang terbaik. Mungkin tempat itu baik menurut kita. Tapi belum tentu baik menurut Allah. Kalau memang bukan di sana, berarti Allah sedang menyiapkan pintu lain. Tugas kita bukan memastikan hasil, tapi terus berusaha, terus berdoa, lalu bertawakal." ucap ayah panjang lebar. Air mata Nareza mulai memenuhi pelupuk matanya. "Aku takut Ayah kecewa." Ayah mengusap kepala putrinya dengan lembut. "Boleh sedih. Boleh menangis. Tapi jangan berhenti melangkah." Ucap ayah dengan suara nyaris berbisik, "Nanti akan ada hari di mana kamu menoleh ke belakang, lalu sadar... ternyata semua penolakan itu sedang mengantarkanmu ke tempat yang memang Allah pilih." Ayah tersenyum hangat. "Dan satu lagi. Ayah janji... Dengan atau tanpa pekerjaan yang nyaman itu, Ayah akan tetap menemani Nareza. Sampai Allah sendiri yang menentukan jalan hidup kita." Mendengar kalimat itu, Nareza tak lagi mampu menahan air matanya. Ia memeluk ayah erat. Dalam pelukan sederhana itu, Nareza merasa masih memiliki rumah paling aman di dunia. "Makasih banyak ayah" Ucap Nareza disela-sela isak tangisnya, "Nareza percaya, selama ada ayah, semuanya akan baik-baik aja..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN