Malam itu, hujan turun memberikan tanda berpindahnya musim. Nareza duduk di ranjang sambil scroll fyp media sosial, isinya sebagian besar orang-orang yang mulai masuk dunia perkuliahan, orang-orang yang memamerkan piala lomba, masa-masa sekolah.
"Coba aja dulu aku rajin belajar di sekolah, pasti aku bisa dapet beasiswa buat kuliah" gumam Nareza dengan suara pelan.
Nareza keluar dari media sosial dan membuka aplikasi belajar gratis di HP-nya, Nareza memiliki mimpi untuk kuliah suatu hari nanti. Tapi Nareza hanya belajar sekitar 5 menit sehari, bukan karena malas, tapi karena peringatan yang muncul di layar, Waktu belajar hari ini sudah habis, silahkan daftar premium untuk melanjutkan.
Nareza kembali membuka media sosial, melihat mereka yang bahagia dengan pasangan dan karir. Nareza cemberut saat muncul video orang yang lebih muda darinya tapi sudah memiliki piala satu lemari full.
"Kenapa sih lomba-lomba begini harus bayar? coba kalo gratis, pasti piala aku udah serumah" Keluh Nareza kesal.
Baru hendak lanjut scroll, sebuah notifikasi muncul di popup-nya. Penyimpanan anda hampir habis, bersihkan sekarang. Nareza keluar dari media sosial, membuka aplikasi galeri.
Ada banyak sekali foto Nareza dari sejak awal HP itu dimilikinya, bahkan 1 gaya dengan berbagai angel kamera.
"Sayang banget kalo dihapus." Gumam Nareza, apalagi saat ia scroll ada banyak kenangan ia bersama teman-temannya.
Ngomong-ngomong soal teman, Nareza jadi merindukan teman kelasnya. Nareza membuka aplikasi pesan, mengirimkan chat singkat.
Nareza Elvara: "Apa kabar?"
Orelia: "NARESS!! Kangen banget aku!"
Nareza Elvara: "Stop panggil aku Nares! mirip cowooo"
Orelia: "Hehe, iya deh Nareza yang paling cantik anaknya pak Sahvan"
Nareza Elvara: "Busett, ga perlu nama ayahku juga"
Orelia: "Tumben nih kamu chat aku, biasanya kamu yang paling sibuk"
Nareza Elvara: "Lagi kangen aja"
Orelia: "Aku emang ngangenin, mksihh"
Nareza Elvara: "Youu dimana sekarang?"
Orelia: "Aku kerja di caffe, lumayan gajinya 3 juta"
Nareza Elvara: "PENGEN!!! When yah?"
Orelia: "Nanti kalo ada loker aku kabarin"
Nareza Elvara: "Siap, maaciww"
Tak lama, setetes air mengenai wajah Nareza. Nareza melihat ke atas, tangannya meraba-raba kasur.
"AYAH!" pekik Nareza dari dalam kamar.
"Kenapa Na?" tanya ayah yang langsung masuk ke kamar Nareza dengan panik.
"Bocor" keluh Nareza dengan bibir cemberut.
Ayah menghela nafas lega, "Ya Allah, Na. Kamu teriak, ayah pikir kamu kenapa-kenapa." ucap ayah menggelengkan kepala sambil mengelus d**a, "Ya udah, ayah bantuin geser kasur, besok ayah perbaiki atapnya"
"Iya, yah" Sahut Nareza.
Keduanya bekerja sama memindahkan kasur Nareza, Ayah lalu mengambil bak untuk menampung tetesan air.
"Makasih ya, yah" ucap Nareza nyengir.
"Sama-sama, kalau ada masalah, jangan teriak-teriak ya? gaenak sama tetangga" Ucap ayah pelan.
Nareza mengangguk patuh, "Siap ayah"
Ayah lalu keluar dari kamar Nareza. Nareza kembali berbaring di kasurnya, lanjut scroll sosmed.
Nareza ingin buang air kecil, dia keluar kamar dan masuk ke kamar mandi. Namun kayu kamar mandi itu mengeluarkan suara berderit yang membuat Nareza buru-buru menyelesaikan urusannya dan keluar kamar mandi.
"Ayah... Ayah!" panggil Nareza lagi dengan nada biasa namun sedikit berteriak.
"Kenapa lagi, Na?" tanya ayah keluar kamar.
"Kamar mandinya kayak mau roboh, Yah" keluh Nareza dengan cemas.
Ayah memasuki kamar mandi, mengecek kayu-kayunya yang sudah lapuk "Tolong ambilkan tali, Na?" Ucap ayah sambil memegangi kayu kamar mandi.
Nareza tak menjawab, ia langsung berbalik dan mengambil tali tampar dan memberikannya pada ayah. Ayah mengikat kayu kamar mandi dengan sangat kuat, lalu ayah keluar rumah dan mengikatnya dengan batang pohon belakang.
Lalu ayah kembali masuk dalam keadaan basah kuyup dan tersenyum, "Sudah, Na. Mau di pake?" Tanya ayah kemudian.
"Ngga, Yah. Ayah ganti baju aja dulu, biar ga masuk angin, Nareza mau tidur duluan" Ucap Nareza berbalik.
Nareza kembali ke kamar, menyalakan musik pelan dari ponselnya dan berbaring sambil memeluk guling.
Nareza sadar kalau dia tetap disini, hidupnya akan selamanya begini. Nareza membuka aplikasi media sosial lagi, mencari loker di ibu kota. Nareza menemukan satu lowongan yang cocok, namun CV harus dikirim langsung karena di poster tak ada email atau nomor admin.
Nareza mulai menghitung kehidupan di kota, biaya penginapan disana sangat mahal, Nareza yakin ayahnya tak akan mampu. apalagi uang makan dan yang print berkas serta kouta internet.
Nareza menyebarkan CV di beberapa rumah makan diibu kota, sebagian dari mereka langsung merespon dan meminta Nareza datang interview.
Matahari pagi mulai menelusup dari celah-celah anyaman bambu di kamar Nareza, Nareza menutup Al-Qur'an ditangannya dan merapikan alat sholat yang ia kenakan. Nareza keluar kamar, dimana sang ayah sedang sarapan disana.
"Ayo makan, Na" ucap ayah.
Nareza mengangguk, duduk bersilah di sebelah ayahnya dan mulai sarapan juga. Usai sarapan, sang ayah menyapirkan celurit kecil di ikat pinggangnya.
"Ayah tunggu" ucap Nareza menahan lengan sang ayah.
"Kenapa, Na?" tanya Ayah menatap putrinya.
"Ayah, Nareza mau merantau, boleh?" tanya Nareza balik, kedua tangan Nareza meremas ujung bajunya dengan tatapan memohon.
"Merantau ke mana? Nareza sudah diterima kerja disana?" tanya Ayah kembali masuk ke rumah dan duduk diruang tamu.
Nareza duduk disebelah ayahnya, "Belum keterima, Yah. Tapi di ibu kota gampang nyari kerja kok, gajinya juga tinggi" ucap Nareza berusaha meyakinkan sang ayah.
"Disana ada temannya?" tanya ayah dengan tatapan ragu.
"Ada, banyak." Jawab Nareza, "Sekarang jaman udah canggih, ayah. teman Nareza dari banyak kota ada di HP"
"Nanti kalau Nareza sakit disana gimana?" tanya ayah dengan nada pelan.
"Nareza bisa jaga diri, ayah. Ayah percaya kan sama Nareza?" Ucap Nareza memohon, "Janji cuma kerja, Nareza ga akan deket-deket cowok dan selalu jaga pertemanan"
"Terus... biaya transportasinya bagaimana, Na?" Tanya Ayah dengan nada sendu.
"Ayah... punya tabungan?" Tanya Nareza pelan, "Bulan depan pasti Nareza ganti yah, kalau udah gajian. cuma untuk transportasi dan makan, Nareza belum ada" Ucap Nareza dengan suara melemah, "Please, ayah. Nareza udah dapet panggilan interview loh, mereka butuh karyawan, Insya Allah Nareza pasti diterima"
Ayah tak menjawab apapun, Ayah langsung bangkit dan pergi begitu saja. Nareza menatap punggung ayahnya yang semakin menjauh dengan mata berkaca-kaca.
Nareza kembali masuk ke kamar, kembali bermain ponsel dan scroll media sosial. Langit menunjukkan warna oranye tanda senja telah tiba, Nareza meletakkan sapu lidi di dekat pintu setelah selesai menyapu halaman.
Nareza mengambil wudhu dan melaksanakan sholat Maghrib, selepasnya Nareza menggoreng nasi dan mulai makan sambil menunggu sang ayah. Namun sampai Nareza selesai melaksanakan sholat isya', sang ayah belum juga kembali.
Saat Nareza sedang melamun diruang tamu, tiba-tiba pintu terbuka dan sang ayah masuk ke rumah. Nareza langsung bangkit dan mendekati ayahnya.
"Ayah darimana?" tanya Nareza meraih celurit sang ayah dan menyelipkannya di dinding anyaman.
Ayah tak menjawab, ayah mengeluarkan sesuatu yang dibungkus sapu tangannya, "Ini ada uang satu juta, Insya Allah cukup untuk kamu bertahan di kota beberapa hari sampai dapat pekerjaan."