Kota

1146 Kata
"Ayah... dapat uang ini dari mana?" Tanya Nareza menerima uang dari ayah dengan tangan bergetar. Ayah tak langsung menjawab, ia duduk di ruang keluarga. Nareza ikut duduk di sebelah ayahnya, pertanyaan masih menggantung di udara. Hening menyelimuti ruang tamu sederhana itu, jantung Nareza berdetak tak karuan saat menanti jawaban sang ayah. "Ya Allah... tolong..." Keluh Nareza yang tak ia keluarkan dari mulutnya. Nareza menundukkan kepalanya, tangannya meremas gulungan 10 lembar uang merah itu dengan jari kaki yang terus bergerak gelisah. Terdengar helaan nafas yang cukup berat dari ayah, Nareza menegakkan tubuhnya. "Ayah pinjam dari Bu Aze" Jawab Ayah pada akhirnya dengan nada pelan, nyaris berbisik. Nareza menahan nafas sejenak, menggigit bibir dalamnya dengan nafas memburu, ditemani dengan detak jantung yang berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya. Sepatah katapun tak mampu keluar dari tenggorokan Nareza, rasanya keheningan malam ini begitu amat mencengkram. Tangan bergetar Nareza meletakkan uang itu diatas meja, namun ayah mengambilnya kembali dan menggenggamnya ditangan Nareza. "Nggh..." Nareza mengepalkan kedua tangannya agar sang ayah tak bisa memberikan uang itu. "Nareza!" Sentak ayah membuat tubuh Nareza seketika diam tak berdaya, ayah memaksa Nareza menggengam uang itu "Pegang ini, carilah jalanmu di kota, nak. Ayah tidak mau kamu melanjutkan garis kemiskinan ayah." Nareza berdiri dari duduknya, dia berjalan cepat menuju kamar dengan air mata mengalir deras dari kedua matanya. Nareza duduk di atas ranjang, menyembunyikan kakinya di balik selimut. Mata Nareza terpaku pada uang ditangannya, seumur-umur dia tak pernah memegang uang sebanyak ini. Isakan lolos dari bibirnya, Nareza menyembunyikan uang itu di balik casing ponselnya. "Ya Allah... bagaimana kalau aku gagal?" Gumam Nareza dalam hatinya, tangannya memeluk erat ponsel. Rambut panjang yang tergerai itu menutupi seluruh wajahnya yang sembab, bahkan scroll media sosial yang biasanya Nareza lakukan tak lagi terasa menarik untuknya. Nareza membiarkan keheningan menyelimuti kamarnya sejenak, setidaknya untuk malam ini Nareza ingin mencerna apa yang terjadi. Matahari terbit dari ufuk timur, ayah sudah pergi bekerja seperti biasa. Nareza kembali rebahan di kamar setelah sarapan, ia membuka aplikasi AI di ponselnya. "aku punya uang 1 juta, orang tua ingin aku merantau ke kota dengan uang satu juta itu sebagai bekal sampai aku mendapatkan gaji pertama. aku takut gagal mendapatkan pekerjaan, bagaimana cara aku mengembalikan uang satu juta ini?" Tanya Nareza pada aplikasi AI. "Kalau aku berada di posisimu, aku akan pakai strategi seperti ini: Lindungi sebagian dari Rp1 juta. Misalnya; 600 ribu untuk biaya kebutuhan dasar, 200 ribu untuk dana darurat, dan 200 ribu untuk biaya mencari kerja. Buat batas waktu. contohnya hari 1-7; fokus mencari pekerjaan sebanyak mungkin. Hari 8-14; kalau belum dapat, perluas jenis pekerjaan dan ambil pekerjaan sementara. Kalau uang sudah mendekati batas minimum, jangan menunggu sampai Rp0. Cari pemasukan apa pun." Begitulah jawaban yang diberikan oleh AI untuk Nareza. Nareza mencoba memahami maksud yang AI sampaikan kepadanya, Nareza menutup ponselnya dan mulai merenung tentang kegiatannya di kota nanti. "Mungkin bisa kerja di warung makan aja ya?" Gumam Nareza pelan. Nareza menghela nafas panjang, tangannya memeluk erat gulingnya. Lalu Nareza kembali mencari rekomendasi UMR tertinggi untuk ia datangi, ada banyak sekali pilihan, namun semuanya jauh dan butuh biaya transportasi lebih banyak. Kota terdekat dengan UMR yang lebih tinggi dari kota asalnya memakan biaya transportasi sebesar 60 ribu untuk biaya kereta ekonomi, Nareza memantapkan diri untuk datang kesana. Tapi nanti dulu, sekarang Nareza masih mengantuk karena semalam ia susah tidur. Jam 1 siang, Nareza terbangun dari tidurnya. Ia menggaruk kepalanya yang terasa gatal, lalu mencari-cari ikat rambut. Usai mengikat rambut, ia berlari keluar kamar menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Sujud terakhir di dhuhur itu ia selesaikan dengan air mata menetes diatas sajadahnya, usai dzikir, Nareza menadahkan kedua tangannya. "Ya Allah... tolong aku, ya Allah... kamu maha kaya kan... tolong beri aku sedikit saja, Ya Allah... izinkan aku ke kota untuk membahagiakan ayah..." Ucap Nareza dengan suara serak. Nareza menempelkan telapak tangannya dengan wajah, dadanya terasa sesak dan isakan tak lagi bisa ia tahan. Nareza berbaring diatas sajadah, menghirup rakus aroma beton di lantai kamarnya yang mungkin tak bisa ia nikmati lagi dimasa depan. Nareza menatap langit-langit kamarnya, tatapannya langsung bersambut dengan genteng diatasnya. Sarang laba-laba kosong bertebaran yang selalu dijadikan candaan sebagai hiasan kamar, Nareza tertawa pelan mengingat kenangan hangat dirumah kecilnya. "Nanti... aku mau punya rumah lantai 2, dengan kamar yang ada pintunya... kamar mandi yang ada cerminnya... selimut yang tebal..." gumam Nareza yang mencoba menenangkan hatinya yang masih ragu, "1 ruangan, 1 lampu..." Nareza melihat dinding pembatas kamarnya dengan ruang tamu, ada lampu diatas pembatas itu. Saat dinyalakan, cahaya lampu itu bisa menerangi ruang tamu sekaligus kamarnya. "Aku juga mau bikin rekening, terus aku kasih ATM-nya ke pengurus masjid, biar setiap bulannya aku transfer uang, buat bantu warga lain." Gumam Nareza penuh harap, dalam hati ia mengamini semua ucapannya. Nareza bangkit dari sajadahnya, mengambil tas punggungnya sisa sekolah, memasukkan baju-bajunya ke dalam tas itu. Air mata tak berhasil ditahan saat Nareza menata baju itu, ini adalah pengalaman pertamanya pergi jauh. Nareza meletakkan tasnya di sudut ruangan, lalu mencari tutorial memesan tiket kereta dari media sosial. Setelah mengetahui caranya, Nareza pergi ke minimarket untuk topup di aplikasi dompet digital pertamanya. Tiket berhasil terbeli, malamnya Nareza benar-benar tak bisa tidur. Ia hanya rebahan di kasur sambil memeluk guling, membayangkan hari esok yang akan menjadi hari paling panjang di umurnya yang sekarang. "Ya Allah... lihat Nareza sekarang, jujur aku takut banget, tapi kamu akan menjagaku kan ya Allah? Nareza ga pernah absen sholat loh, Allah pasti buka jalan untuk Nareza kan?" gumam Nareza pelan. Entah berapa lama Nareza masih berdiam diri di kasur, sampai adzan subuh berkumandang. Nareza bangkit dari ranjang, berpapasan dengan ayah diruang tengah. "Nanti jam berapa, Na?" tanya Ayah. "Jam 7, yah. Nareza udah pesan Ojol" jawab Nareza berjalan menuju kamar mandi. "Ojol? apa itu, Na?" tanya ayah lagi dengan nada bingung. "Itu loh, Yah. Ojek, tapi pesennya online." Jawab Nareza. "Dari mana kamu dapat nomornya tukang ojek, Na?" tanya ayah lagi yang semakin kebingungan. "Bukan nomor, ayah. Ada kayak tempatnya gitu, tapi di HP." ucap Nareza mencoba menjelaskan, namun ekspresi ayah tampak tak mengerti sama sekali. Nareza menghela nafas panjang, "Gitulah, Yah. Ayah mau kemana?" tanyanya kemudian. "Ayah mau sholat ke masjid, Na. Terus ayah mau ke rumah Pak Cio, kayaknya ngga bisa nganter kamu, maaf ya" jawab ayah menjelaskan. "Gapapa, Yah. Nareza bisa sendiri kok." jawab Nareza. Ayah mengangguk, "Kamu jaga diri di kota ya, jangan cinta-cintaan dulu, masih kecil." Ucap ayah mewanti-wanti. Nareza tertawa pelan, "Aman, ayah. nanti pas liburan Nareza pulang." jawabnya. Ayah mengangguk, "Ayah berangkat dulu ya." ucapnya. Nareza mencium punggung tangan sang ayah sebelum melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Usai sholat subuh, Nareza menadahkan kedua tangannya, berdoa dengan nada yang teramat pasrah. "Nareza mau jalan, ya Allah. Nareza masih ngga tau kemana arahnya, tolong tunjukkan jalannya ya Allah..." Gumam Nareza dengan suara bergetar, "Nareza nitip ayah, ya Allah... Nareza ga punya siapa-siapa lagi selain ayah... tolong jaga ayah sampai Nareza pulang bawa keberhasilan... Aamiin..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN