Nareza keluar dari rumah dengan tas punggung yang terasa lebih berat dari biasanya. Bukan hanya karena pakaian dan perlengkapan yang ia bawa terlalu banyak, tapi juga karena untuk pertama kalinya ia merasa membawa seluruh harapannya di dalam tas itu.
Ia berdiri di teras rumah bambu, sesekali melihat layar ponselnya. Jam menunjukkan pukul 07.03 pagi, ojolnya belum datang.
Tangan Nareza menggenggam tali tas semakin erat. Jantungnya berdebar tak karuan. Entah karena sebentar lagi ia akan meninggalkan rumah, atau karena ia benar-benar tidak tau apa yang akan terjadi setelah sampai di kota.
Dari kejauhan terdengar suara motor.
Ngeeeeeeng...
Kemudian suara knalpot yang lebih keras menyusul. Nareza mengangkat wajah, ia duduk di kursi reyot yang ada di teras.
Beberapa anak SMP baru saja pulang sekolah. Seragam mereka masih melekat di tubuh, tetapi motor yang mereka kendarai tampak jauh lebih berisik daripada seharusnya. Beberapa di antaranya bahkan sudah dimodifikasi dengan knalpot yang suaranya memekakkan telinga.
Mereka melewati halaman rumah Nareza. Salah satu dari mereka sengaja menarik gas tepat di hadapan Nareza. Bukannya terkesan, Nareza justru muak dengan suara knalpot brong yang mereka gunakan.
Ngeeeengggg... Ngeeeengggg!
Nareza hanya diam, menahan ekspresi mukanya agar tak menyakiti hati para bocah itu. Beberapa motor itu melambat sebentar saat mendekati rumahnya.
"Eh, itu Nareza!" Pekik seorang bocah laki-laki yang masih bisa Nareza dengar dari kejauhan.
Teman-teman bocah itu langsung tertawa nyaring, mereka memainkan gas dengan sengaja dihadapan Nareza, lalu mereka berteriak sekuat tenaga.
"NAREZA JELEK!"
Tawa mereka pecah, disusul dengan pekikan anak-anak lain dibelakangnya yang ikut berteriak pula.
"NAREZA JELEK!"
Sekali lagi mereka meneriakkan kalimat itu sebelum menarik gas motor dalam-dalam.
NGEENGGGG!
Mereka kemudian melaju kencang, saling menyalip di jalan desa seolah sedang mengikuti perlombaan. Nareza menghela napas panjang, inilah yang membuatnya malas nongkrong di teras, terlalu banyak anomali desa yang tak bisa memfilter mulutnya.
"Dasar bocah..." gumam Nareza pelan.
Nareza mengambil ponsel dari saku dan membuka kamera depan, wajahnya muncul di layar dan Nareza memiringkan wajah ke kanan, kemudian ke kiri.
"Jelek dari mana?" Gumam Nareza mengagumi wajahnya. "Ya... mungkin cuma kurang make-up."
Nareza tersenyum kecil pada pantulan wajahnya sendiri, Nareza sadar kalau ia sebenarnya tidak terlalu buruk. Hanya saja kulitnya tidak semulus perempuan yang sering ia lihat di media sosial. Rambutnya pun hanya diikat sederhana. Ia tidak pernah punya uang untuk membeli skincare, apalagi pergi treatment.
Tangan Nareza terangkat, menyentuh pipinya sendiri. "Nanti kalau sudah punya uang..." Nareza menjeda ucapannya sebentar, "...aku juga mau perawatan." gumamnya penuh keyakinan.
Bukan untuk membalas ejekan mereka, Nareza hanya ingin sesekali merasakan bagaimana rasanya merawat dirinya sendiri seperti perempuan lainnya.
Nareza hanya ingin suatu hari nanti bisa membeli sesuatu untuk dirinya sendiri tanpa harus menghitung sisa uang di dompet terlebih dahulu.
Suara notifikasi ponsel membuat lamunannya terputus. Driver Anda sudah tiba. Nareza segera memasukkan ponselnya ke dalam saku, tak lama kemudian sebuah motor berhenti di depan rumah.
"Mbak... Nareza?" tanya Ojol itu menatap Nareza.
"Iya, Pak." Nareza mengangkat tas punggungnya dan menaikkannya ke bahu. Sebelum benar-benar meninggalkan teras, langkahnya tiba-tiba berhenti.
Nareza menoleh ke rumah, rumah bambu itu masih sama. Dinding-dindingnya yang sederhana, atap yang beberapa bagiannya sudah tua, ruang kecil tempat ia tumbuh.
Tempat ia menangis ketika gagal mendapatkan sesuatu, tempat ia tertawa dan bercanda bersama Ayah. Tempat ia pertama kali belajar mengaji, sholat, dan melihat dunia.
Tempat ia tidur dengan suara hujan yang sesekali masuk melalui celah genteng, Nareza menatapnya lama, kemudian matanya bergerak ke samping rumah.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa disana, tak ada sosok yang Nareza harapkan hadir di sana. Setidaknya untuk melihatnya pergi, atau untuk mengatakan,
"Hati-hati, Nak."
Atau sekadar melambaikan tangan dari depan rumah.
"Ayah..." gumam Nareza dengan bibir bergetar.
Nareza menelan ludah yang rasanya sangat padat, matanya mulai terasa panas. Nareza buru-buru mengusapnya dengan punggung tangan.
Nareza menarik napas panjang, menatap rumah itu sekali lagi. "Rumah... tunggu Nareza pulang, ya." gumam Nareza dengan suara bergetar, "Nareza bakal pulang... Kalau sudah berhasil."
Nareza kemudian melangkah menuju motor, mengenakan helm yang diberikan oleh pengemudi. Setelah duduk di atas motor, ia kembali menoleh ke belakang.
"Pak, ke stasiun ya." ucap Nareza.
"Iya, Mbak."
Rumah bambu itu perlahan mengecil ketika motor mulai bergerak, Nareza tidak mengatakan apa-apa lagi.Nareza hanya menatap rumahnya sampai pandangannya terhalang tikungan jalan, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga.
Nareza menundukkan wajah di balik helm. "Ya Allah..." Tangannya menggenggam erat ujung jaket. "Jaga rumah itu sampai aku pulang."
Motor terus melaju meninggalkan jalan kampung. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nareza pergi bukan untuk bermain. Bukan untuk sekolah, bukan pula untuk sekadar berkunjung.
Hari itu, seorang gadis yang bahkan belum tahu seperti apa dunia di luar kampungnya sedang pergi membawa satu juta rupiah, sebuah tas berisi pakaian, dan doa dari seorang ayah.
Tidak ada kepastian ia akan mendapatkan pekerjaan, tidak ada kepastian uang itu akan cukup, dan... tidak ada kepastian kapan ia akan kembali.
Namun satu hal yang Nareza tahu, ia harus mencoba.
Tiba di stasiun, Nareza sedikit kebingungan kemana ia harus melangkah. Nareza membuka media sosial, mencari tutorial naik kereta.
Setelah mendapat penjelasan dari media sosial, Nareza pergi ke gate kereta jarak jauh sesuai petunjuk. Nareza memperhatikan penumpang di di depannya, lalu Nareza mengikutinya untuk menunjukkan barcode ke petugas.
Nareza terus mengikuti rombongan penumpang di depannya, sampai Nareza berhasil menemukan kursinya di kereta. Jantung Nareza berdebar kencang, matanya menatap keluar jendela.
Di beberapa menit pertama saat kereta mulai jalan, Nareza bersandar lemas di kursi karena kepalanya terasa sangat pusing.
Nareza pergi ke kamar mandi gerbongnya, ia memuntahkan isi perutnya disana. Tubuhnya luruh di lantai, kepalanya terasa berputar cepat.
"Ya Allah..." Keluhnya dengan suara pelan nyaris berbisik.
Nareza bangkit dari duduknya, mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu cuci wajahnya. Nareza merapikan pakaiannya sebelum kembali ke kursinya.
Nareza membuka tasnya, mengeluarkan bekal makanan yang ia bawa. Makanan itu terasa hambar dan dingin, namun Nareza tetap menghabiskannya.
Nareza memeluk tasnya dan bersandar pada jendela untuk tidur, meskipun sangat sulit tenang saat orang-orang di sekitarnya terus berbincang.
Seorang pramugari mendekat dan menawarkan makanan, namun Nareza tak membelinya. Bukan karena masih kenyang, tapi ia takut uangnya habis, apalagi mereka akan tiba dalam 2 jam lagi.
Kereta berhenti, Nareza mengikuti lautan manusia keluar dari stasiun kota tujuan. Nareza bergetar, air mata tak terbendung.
"Ya Allah... ini dia, ya Allah" Bisik Nareza dalam hatinya, Nareza menenangkan dirinya sebelum benar-benar melangkah "bismillahirrahmanirrahim"