Nareza membuka aplikasi maps di ponselnya, namun jarinya tiba-tiba berhenti bergerak. Nareza melihat sekeliling, tak ada siapapun yang ia kenal.
"Kemana ya?" Gumam Nareza menggaruk kepalanya yang tertutup hijab.
Nareza berjalan sambil melihat sekeliling, ponselnya menampilkan rute maps ke taman terdekat. Nareza duduk disalah satu bangku taman, memilih tempat teduh dan sepi.
Nareza kembali membuka media sosial, mencari kos-kosan yang termurah di area sekitarnya. Dari beberapa video rekomendasi yang Nareza tonton, yang paling murah harganya empat ratus ribu rupiah, uang Nareza sisa sembilan ratus dua puluh di dompet digitalnya.
Nareza menggeleng, "Kalau buat kos, nanti ga bisa bertahan lama" Batinnya dengan gelisah.
Belum mendapatkan jawaban apapun, adzan ashar berkumandang. Nareza berjalan lagi ke arah masjid didekatnya, Nareza mengambil wudhu dan melaksanakan kewajibannya.
Usai sholat, Nareza masih duduk di teras masjid. Tatapannya kosong menatap ke depan, melihat sekeliling seperti anak kecil yang mencari orang tuanya ditengah keramaian.
Nyatanya masjid itu sudah sepi, orang-orang sudah pulang dari sholat berjamaah. Nareza bersandar di dinding, kembali membuka media sosialnya, mengirimkan pesan ke salah satu temannya.
Nareza Elvara: "Raviannn kamu di kota kan?"
Pesan terkirim, namun belum centang biru. Nareza menghela nafas panjang, ini memang masih jam sibuk kerja.
Nareza mengangkat tas punggungnya, kembali berjalan meninggalkan area masjid. Nareza berkeliling area itu, hingga ia menemukan sebuah warung makan. Perut keroncongan membuat tubuh Nareza bergetar, Nareza mendekati warung makan itu.
"Permisi, satu porsi berapa bu?" Tanya Nareza pada pemilik warung.
"Seporsi 15 ribu saja, dek" Jawab ibu itu dengan ramah.
Nareza tersenyum canggung, "Kalau nasinya saja berapa, bu?" Tanya Nareza lagi.
Ibu terlihat bingung sejenak, ia menatap dagangan lalu menjawab, "Kalau nasinya aja 7 ribu, dek. Kalau mau murah, nasi sama telur deh ibu kasih harga 10 ribu."
Nareza menggeleng, "Saya mau nasinya aja, bu. Tolong banyakin ya, saya beli 10 ribu, nasinya aja." Ucap Nareza.
Ibu itu tak mengatakan apa-apa lagi, dia langsung membungkus pesanan Nareza. Nareza menerima nasi dengan senyum lega, ia mengeluarkan ponselnya.
"Maaf, bu. Saya baru pertama kali pake dompet digital, ini... bagaimana ya?" Tanya Nareza dengan canggung.
Ibu mendekat, "Ini ada kameranya, arahkan ke barcodenya, dek. Terus isi nominal yang sesuai." Jawab sang ibu.
Nareza mencobanya dengan tangan bergetar, sebelum mengkonfirmasi pembayaran, Nareza menghitung kembali jumlah nol pada harga. Setelah yakin, dia mengkonfirmasi pembayaran dan pembayarannya berhasil.
"Terimakasih, bu." Ucap Nareza tersenyum, "Mari"
Nareza menundukkan kepalanya, melanjutkan perjalanannya yang entah kemana tujuannya. Ponsel Nareza berbunyi, berasal dari aplikasi pesan. Nareza duduk di pinggir trotoar dan membuka pesannya.
Ravian: "Iya, kenapa Na?"
Nareza Elvara: "Aku di kota juga sekarang, ga tau harus kemana"
Ravian: "Loh kamu gimana sih, Na? Sama siapa?"
Nareza Elvara: "Sendiri"
Ravian: "Ya ampun, Na. Nyebut kata aku, nekat banget kamu ke kota sendirian. Kamu dimana? Sharelok"
Nareza Elvara: [Share Location]
Ravian: "Tunggu disana, jangan kemana-mana"
Nareza Elvara: "Siap, makasih ya Ravian"
Tak ada jawaban lagi, Nareza menyimpan ponsel di saku. Tangannya yang bergetar membuka bungkusan nasi hangat itu, ia menyuap nasi itu dengan mata berkaca-kaca.
"Ya Allah... Ayah udah makan belum, ya?" Batin Nareza dalam hati.
Nareza mengusap ingusnya dengan punggung tangan, menutup kembali bungkusan nasi dan mengelap tangannya dengan ujung baju. Tak lama, motor berhenti di sebelahnya.
Helm terbuka, sesosok pemuda mendekati Nareza. Nareza tersenyum dan segera berdiri, Nareza memegang erat kresek nasi bungkusnya. Pemuda itu menatap Nareza dari bawah ke atas.
"Kamu minggat, Na?" Tanya Ravian dengan tatapan bingung.
Nareza cemberut, "Ngga minggat, udah izin kok sama Ayah." Jawabnya.
"Terus sekarang mau kemana?" Tanya Ravian.
Nareza menggeleng, "Belum tau, tapi besok ada jadwal interview." jawabnya sambil nyengir.
Ravian menghela nafas panjang, "Naik dulu deh." Ravian kembali naik ke motornya, memberikan satu helm pada Nareza.
Motor melaju meninggalkan area itu, Nareza diam saja diatas motor, membiarkan Ravian memimpin jalan. Mata Nareza melirik sekeliling, kota benar-benar menakjubkan. Bangunan-bangunan pencakar langit, ada banyak caffe di sepanjang jalan.
Mata Nareza berbinar, "Banyak banget caffenya... besok coba ajuin CV kesana deh" ucap Nareza didalam hatinya.
Motor berhenti di depan sebuah kos-kosan, Nareza turun dari motor sementara Ravian masih duduk dimotor dan mencari sesuatu di saku celananya.
Ravian memberikan kunci ke Nareza, "Kamarku yang paling ujung kanan, aku shift malem hari ini, kamu nginep di kamarku aja." Ucapnya.
Nareza menerima kunci itu dengan ragu, "Kalau kuncinya di aku, kamu gimana pulangnya?" Tanya Nareza dengan bingung.
"Aman, aku pulangnya besok jam 8 pagi." Jawab Ravian, "Ingat, kunci pintunya, kalau ada yang ngetok-ngetok, abai aja."
Nareza mengangguk mengerti, "Oke bos, makasih ya." ucapnya nyengir.
Ravian hanya mengangguk sebagai jawaban sebelum ia melajukan motornya menjauh meninggalkan area kos. Nareza masuk ke pagar, kos-kosan itu cukup lega, Nareza jalan ke kamar paling ujung dan masuk.
Aroma khas Ravian memenuhi indra penciumannya, Nareza meletakkan tasnya di sudut ruangan. Mengeluarkan handuk, pakaian dan peralatan mandi yang ia bawa. Nareza memasuki kamar mandi sambil melihat interior kamar mandi dalam di kost itu yang bahkan jauh lebih bagus dari kamar mandinya di desa.
Nareza membersihkan dirinya, lalu mengambil wudhu dan bersiap melaksanakan sholat Maghrib. Usai sholat, Nareza segera mengambil ponselnya.
Nareza Elvara: "Assalamualaikum, mbak. Ayah aman?"
Mbak Neva: "Waalaikumsalam, Nareza. Gimana? udah sampe? Alhamdulillah ayah kamu aman disini."
Nareza Elvara: "Alhamdulillah, mbak. Udah sampe, tolong bantu jaga ayah, mbak. Kalau ketemu, tolong bilangin, Nareza baik-baik aja disini."
Mbak Neva: "Iya Nareza, semangat ya, gausah pikirin yang disini, insyaallah kami semua saling bantu. kamu fokus aja disana."
Nareza Elvara: [Send sticker]
Nareza menghela nafas lega, Nareza melepaskan mukenanya dan kembali memakai hijab. Nareza membuka nasi bungkusnya yang sudah dingin, Nareza mulai makan, namun baru sesuap, notifikasinya kembali berbunyi.
Ravian: "Di kulkas ada tumis tempe, angetin aja, sayang kalo ga dimakan"
Nareza tersenyum melihat pesan itu, Nareza membuka kulkas mini di kamar kost. Menemukan mangkuk berisi tumis tempe yang sisa sedikit, namun cukup untuk lauk sekali makan.
Nareza mengambil pan kecil dan menghangatkannya dengan kompor, setelahnya Nareza mencuci pan sebelum mengembalikannya ke tempat semula. Nareza kembali ke nasinya, mencampurkan nasi dengan tumis tempe itu.
"Alhamdulillah, rezekinya anak Sholehah emang ga kemana" Gumam Nareza.
Nareza mulai makan dengan lahap, air mata menetes dari kedua matanya. Nareza makan sambil sesekali membersihkan ingusnya karena menangis.
Setelah nasi habis, Nareza mencuci peralatan makan yang ia pinjam dan menatanya ke tempat semula. Nareza lalu merapikan tempat tidur sebelum berbaring di ranjang empuk itu.
Nareza tersenyum, "Suatu hari nanti, kasurku akan seempuk ini."
Saat Nareza hendak menutup mata, terdengar suara ramai di luar. Sepertinya anak-anak kost sebelah yang baru pulang. Nareza memeluk guling, mencoba mengabaikannya suara itu. Namun tiba-tiba...
Tok-Tok-Tok