Teman

1060 Kata
Nareza mengintip dari celah gorden, beberapa pria muda berkumpul di teras kos. Nareza kembali duduk di atas kasur, tangannya meremas sarung bantal dengan gelisah. Tok-Tok-Tok Suara ketukan kembali terdengar, nafas Nareza memburu. Matanya menatap cemas ke arah pintu, takut kalau tiba-tiba mereka membobol masuk. Nareza mengambil ponselnya dan mencoba menelpon Ravian, namun Ravian sedang dalam panggilan lain. Nareza menggigit bibir dengan gelisah, matanya menatap sekeliling mencari senjata yang bisa ia gapai kalau bahaya datang. Tok-Tok-Tok "Nareza, kan? kita temen-temennya Ravian" Ucap suara seorang pria dari luar. Nareza merapikan hijabnya, lalu membuka pintu perlahan. Nareza tersenyum canggung, melirik area teras yang sudah penuh. Ada 4 orang pria yang memakai pakaian santai dan 2 perempuan yang sudah memakai piyama. "Kami lagi rujakan nih, mau join?" Ajak pria yang mengetuk pintu. Nareza mengangguk tanpa membuka suara, pria itu mengajak Nareza duduk lesehan di teras kos. Seorang perempuan mulai mengulek bumbu rujak, perempuan lainnya beranjak masuk ke kamar. "Eeee... Nareza... kenalin, nama aku Kael" Ucap Kael memberikan senyum ramah pada Nareza. Lalu ia menunjuk teman-temannya, "Ini Lareen, panggil aja Laron." Tamparan kecil melayang mengenai kepala Kael, "Eh Kael pancing, enteng banget ngubah nama orang" "Sttt, sensi banget, PMS ya?" dengus Kael menatap sinis ke arah Lareen. "Gausah dengerin mereka, Nareza. Mereka emang rada-rada." Ucap seorang pria yang duduk di ujung, "Nama aku Nadrex..." "Panggilannya Bodrex" potong Lareen yang mengundang tawa mereka, kecuali Nadrex. Nadrex menatap teman-temannya dengan ekspresi kesal, "Awas aja kalian." Pria terakhir menunjukkan dirinya, "Aku yang paling normal diantara mereka, nama aku Ryder" Nareza menganggukkan kepalanya, membalas senyuman itu, "Senang bertemu kalian" "Udah-udah kalian para lelaki gatel, mending cuci buahnya gih." Ucap perempuan yang baru selesai mengulek bumbu, ia tersenyum ke arah Nareza "Nama aku Sayang." Nareza diam, mencoba mencerna kalimat terakhir yang diucapkan, "O-Oh... Kak Sayang... salam kenal" ucap Nareza menunduk sopan. "Gausah sungkan gitu, Nareza. Santai aja kita di sini." Ucap Sayang, ia mengambil kerupuk dan memberikannya pada Nareza, "Cobain deh, bumbu rujak aku paling enak di kota ini" "Eh aku mau!" Ucap Kael dengan tangan terulur hendak mengambil kerupuk ditangan Sayang. Sayang memukul lengan Kael cukup keras, "Udah aku suruh cuci buah, buruan cuci!" Omelnya. Kael kembali ke tempat kran, dimana ketiga lelaki lainnya sudah mulai mencuci buah. Tak lama, seorang perempuan yang tadi sempat masuk kamar akhirnya keluar dan bergabung dengan Nareza dan Sayang. "Udah kenalan kalian?" Tanya perempuan itu mengambil kerupuk dan mencolekkan dengan bumbu rujak. Sayang mengangguk, "Nareza dari desa." Perempuan itu mengangguk, "Kan Ravian udah bilang di grup tadi, by the way Nareza, nama aku Mustika" Nareza mengangguk sopan, "Kak Mustika, salam kenal" "Hihi, kamu malu-malu gitu kenapa sih?" Ucap Mustika menggoda Nareza. "Habisnya Kak Mustika dan Kak Sayang itu cantik banget." Puji Nareza dengan suara pelan. "Ah bisa aja." Ucap Sayang dan Mustika bersamaan membuat mereka bertiga tertawa bersama. "Hus hus, apaan si ketawa malem-malem, ntar kita dimarahin ibu kos" keluh Lareen membawa buah yang sudah dicuci dan dikupas. "Potong dong sekalian, yakali kita makan buah langsung gede-gede gitu." Ucap Mustika dengan nada memerintah. "Iya-iya, Mistik" Ucap Kael dengan nada sewot. Kael, Lareen, Nadrex, Ryder mengambil pisau dan mulai memotong buah mangga, pepaya, dan nanas. "Besok rencana kamu apa, Na?" Tanya Nadrex sembari memotong buah. "Besok aku mau interview di warung makan Mentari" Jawab Nareza pelan. "Wah, kamu harus make-up cantik sih besok, Na." Ucap Mustika yang di angguki oleh Sayang. "Ck, bilang aja kamu butuh kelinci percobaan kan, Mus?" Terka Ryder. "Apaan kelinci percobaan? orang aku calon MUA" sahut Mustika sambil mengibaskan rambutnya dengan percaya diri. "Udah-udah, buruan motong buahnya, udah ga sabar nih" Keluh Sayang dengan nada kesal. "Kamu ngidam ya?" Dengus Kael, ia meletakkan kasar baskom buah yang sudah dipotong kecil, "Nah" "Asik!!" Sayang dan Mustika bergembira serentak. Kedua perempuan itu langsung menyomot potongan buah dan mulai menikmati rujaknya. Nareza tersenyum kecil melihat interaksi mereka, hatinya terasa hangat. "Kayaknya kota ga seserem itu deh" Gumam Nareza di dalam hatinya. "Nareza kenapa diem aja? ayo dimakan rujaknya, ga usah sungkan" Ucap Ryder menggeser baskom buah potong ke arah Nareza. "Terimakasih" Ucap Nareza, ia lalu mengambil satu potong buah mangga dan mencoleknya dengan bumbu rujak, "Bismillahirrahmanirrahim" Bisik Nareza pelan sebelum memakan rujaknya. Mereka menikmati rujak bersama sambil sesekali bercanda. Nareza? dia tidak ikut nimbrung, dia cuma nyimak sambil tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah kocak teman barunya. Saat rujak sudah habis, jam menunjukkan pukul 10 malam. Para laki-laki sibuk membereskan sisa-sisa, mengumpulkannya di belakang. "Kamu udah ngantuk, Na?" Tanya Sayang. "Belum kak" Jawab Nareza pelan. "Besok interview jam berapa?" Tanya Sayang lagi. "Jam 2, kak" Jawab Nareza. Tak lama, para lelaki sudah selesai dengan pekerjaannya. Mereka duduk melingkar di teras, mencari permainan yang seru. "Main BOT lagi yok" Ajak Sayang mengeluarkan ponselnya. "Nggak-nggak, gila BOT itu" Tolak Kael mentah-mentah. "BOT apa?" Tanya Nareza dengan ragu. "Itu kaya jodoh-jodohan, asik deh pokoknya." Jawab Ryder. "Ga asik" Sahut Nadrex. Belum sempat Nareza mencerna, Sayang meletakkan ponselnya di tengah. Angka-angka mulai berputar menyusun kata, memulai Shippering yang menampilkan nama. Nadrex × Ryder "AKU UDAH BILANG!!" Omel Nadrex menatap tajam ke arah Ryder. Mustika memasang ekspresi terkejut dan menutup mulutnya dengan dramatis, "Kalian gay? Ryder... bukannya semalam kita couple?" "Ini aplikasinya ga bener" Ucap Ryder. "Haha parah" Kael tertawa ngakak, "Padahal semalem Nadrex sama Lareen" "Gausah diingetin!" Sentak Lareen memukul lengan Kael. "Kamu suka kekerasan, ya?" dengus Kael mengusap lengannya. Sayang kembali memulai Shippering, semua orang diam menanti hasil selanjutnya. Nareza juga ikut fokus pada layar ponsel. Nadrex × Kael "APA-APAAN!" Sentak Kael memasang wajah tak terima. Ryder tertawa sampai memeluk tiang teras melihatnya, "Nadrex gay lord" "Ryder jangan cemburu gitu dong" goda Sayang. "What the f..." Ryder mengurungkan umpatannya, diganti dengan dengusan sebal. Permainan terus berlanjut, namun hasilnya tidak sesuai gendernya. Hanya nama Nareza yang tak pernah muncul di layar, tapi Nareza bersyukur karena dia tak harus menanggung canggung. "Udah, ini game burik" Keluh Kael lelah. "Yahh, padahal seru" Ucap Mustika. "Seru palamu, kita sepintas cuma gay sama lesbi" Dengus Ryder. Nadrex cemberut, "tau tuh, siapa sih yang nyiptain? pen aku hantam" "Nadrex bestseller jadi gay, ya" goda Ryder. "Kamu juga gay" Balas Nadrex tak terima. "Hust, kalian sama-sama gay kok bertengkar sih?" Ucap Lareen. "Bacot, diam" Ucap Ryder dan Nadrex bersamaan. "Kompak banget my couple gue" ucap Sayang dengan gemas. "Diam" ucap Ryder geram. "Suka membungkam nih mereka, kek pemerintah" sindir Kael. "Bungkam para gay!" seru Lareen. Mustika dan Sayang kemudian saling rangkul, "Aku lesbi untungnya" "HAH?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN