part12

2370 Kata
Arki sampai di tempat kos Rafael. Namun, saat hendak masuk kamarnya ternyata pintu dikunci. Ia mengambil gawainya hendak menelponnya. "Assalamualaikum, A! Lagi di mana? Abang lagi di depan kosan kamu," tanya Arki pada adiknya "Aku lagi di rumah sakit, Bang!" jawab Rafael lirih. "Siapa yang sakit?" "Bella." Deg! Jantungnya seraya ingin copot mendengar nama Bella. Mendengar kabar ia sakit saja sudah sangat khawatir apalagi jika sudah melihatnya. "Kamu di rumah sakit mana? Abang mau ke situ!' Rafael menyebutkan tempat di mana Bella di rawat. Dengan kecepatan tinggi ia mengendarai mobil menuju rumah sakit, hingga sampailah ia dengan segera. Arki bergegas masuk mencari ruang Bella di rawat. Tampak Rafael yang sedang duduk di ruang tunggu dengan memegangi kepalanya. "A!" panggil Arki dengan cemas. "Bang!" jawab Rafael dengan wajah melasnya. "Bella sakit apa?" tanya Arki sama khawatirnya. "Dia menagalami penyumbatan darah di tengkuknya akibat dianiaya di kampus. AA juga nggak tahu pasti, soalnya waktu itu juga AA lagi ada jam kelas. AA tahu saat menyusul ke tempat kerja, tapi kata Bang Coki dia sakit karena habis ada tragedi di kampus. AA cek ke kosan, dia sedang merintih kesakitan, dan ternyata benar. Dia sedang merintih sendirian di kamarnya!" ucap Rafael menunduk. "Siapa yang melakukanya?" tanya Arku tampak murka. "Belum AA tanya, mungkin nanti jika Bella siuman. Dia sedang di tangani dokter di dalam." Rafael menyandarkan tubuhnya pada Arki, ia benar-benar sangat khawatir. Begitu juga Arki, ia sangat penasaran dengan dalang dibalik p*********n Bella. Pintu operasi di buka, sekarang dokter keluar dengan senyum merekahnya "Bagaimana, Dok? Apa semuanya berjalan lancar?" tanya Rafael. "Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik. Tapi pasien masih pingsan karena pengaruh obat bius! Tiga jam lagi, pasien pasti sudah sadarkan diri!" ucap Dokter yadai diikuti anggukan Arki dan Rafael. "Baik, kalau begitu saya permisi!" "Terimakasih, Dok!' ucap Rafael dan Arki. Rafael dan Arki melihat Bella yang di bawa pindah ke ruang perawatan oleh suster. Dipandanginya wajah yang terpejam itu dengan perasaan iba dan sendu. Gadis kecil yang tergolek lemah tak berdaya ini, seakan sudah tak memiliki kekuatan apapun. Di ruang perawatan, Rafael tak berpindah ada di samping Bella. Begitupun, Arki. "Bang! AA akan ke cafe dulu sebentar! AA akan cari tahu siapa yang sudah melakukan ini," ujar Rafael dingin. "Cafe?" "Iya, teman Bella menggantikan Bella bekerja di sana. Kemungkinan dia tahu, siapa yang melakukan ini. Abang temani Bella dahulu, nanti AA balik lagi!" Arki memgangguk dan Rafael segera melesat pergi ke cafe. Dengan perasaan menggebu, Rafael memasuki cafe. "Bagaimana, Raf? Apa Bella baik-baik saja?" tanya Coki yang melihat kedatangan Rafael. "Mana teman Bella yang tadi?" Melihat wajah serius Rafael, Coki langsung memanggil Dania yang sedang berada di belakang. Tak selang lama, Dania datang dan duduk di depan Rafael. "Kamu temannya Bella?" Dania mengangguk sambil menunduk. Melihat tatapan dingin Rafael membuat dirinya takut. Coki yang melihat suasana begitu mencekam memilih ikut duduk dan mendengar pembicaraan mereka. Kebetulan cafe sepi, jadi mereka bisa ngobrol sedikit bebas. "Kenapa Bella bisa dianiaya? Siapa yang melakukannya?" Dania mendongak dan menatap mata elang lelaki di depannya. "Katakan saja! Aku tak akan memarahimu! Bella masuk rumah sakit, dan aku ingin tahu siapa yang melakukannya!" decit Rafael dingin. Dania terkejut saat mendengar Bella Masuk rumah sakit. Ia lantas meneteskan air matanya membuat Rafael mengubah raut wajahnya. "Maaf, Ka! Itu semua salahku. Bella jadi terlibat. Kemarin dia menolongku di perpus, dan tadi pagi ia di serang Amora de luis dan gengnya. Mereka menggunting seluruh pakaian Bella yang di kosan, dan menggantung foto kakak di sana. Bella hendak melawan, tapi jumlah mereka yang banyak membuat kami kalah, dan Bella terkena lemparan balok saat hendak melarikan diri denganku. Bella tersungkur ke tanah, kaki Bella.di injak kuat hingga ia berteriak kencang. Aku_" Tak sempat melanjutkan, air mata Dania sudah meleber ke mana-mana. Rafael mendengar cerita Dania sangat emosi, lantas ia berdiri dan meninggalkan Dania dengan kemarahan yang mencapai ubun-ubun. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menemui Amora. Rafael mendatangi rumah Amora yang ada di Bogor ini, ia keluar dari mobilnya dan langsung masuk ke rumah Amora tanpa mengetuk pintu. Walau ada satpam jaga, tapi mereka sudah mengenal Rafael. Sehingga di biarkanlah Rafael masuk. Amora yang sedang menonton tv ditemani dua sahabatnya yang kebetulan juga sedang ada di sini. "Amora!" teriak Rafael dengan kerasnya. Ketiga gadis ini menengok ke arah Rafael dan terkejut dengan kedatangan Rafael yang tiba-tiba. "A?! Kamu kapan datang? Nggak bilang Mora mau ke sini!" ucap Mora dengan manja. Rafael mendekati Amora dan memegang dagunya dengan kuat hingga ia meringis dan ketakutan. "Kamu apakan Bella, hah?! Jawab?!" bentakb Rafael. Kedua sahabat Amora juga merasa sama takutnya melihat kemarahan Rafael. "A_pa maksud AA? Mora nggak ngerti!' "Kamu jangan pura-pura be*o! Kamu kira saya tak tahu, kamu yang membuat Bella masuk rumah sakit! Sekarang kamu juga harus bertanggung jawab. Ikut saya ke sana! Dan lihat apa yang sudah kamu lakukan padanya!" Rafael membawa paksa Amora menuju mobilnya, kedua sahabatnya hanya berdiri mematung tanpa bisa membantu Amora. Mobil melesat menuju rumah sakit, Amora tak berani buka suara apalagi menatap wajah marah Rafael. Rafael menarik Bella untuk berjalan dengan cepat. "Pelan-pelan, A, jalannya!" Rafael tak menghiraukan teriakan Amora dan tatapan orang orang di sekelilingnya. Rafael telah sampai di depan ruangan Bella, ia memaksa Amora masuk dan menghadap pada Arki dan Bella. "Amora?" ucap Arki kaget saat Rafael membawa Amora kehadapannya. "Dia, wanita yang sudah membuat Bella seperti ini! Mau kita apakan dia, Bang?" Amora menjongkokkan badannya di depan Arki, ia menangis memohon ampun. "Bang! Ini tak seperti yang Abang pikir! Mora nggak tahu, ini semua teman-temanku yang lakukan. Aku sudah menasehatinya, tapi mereka tetap menyakiti Bella. Maaf, Bang! Maafin Amora!" ucap Bella sambil menangis palsu di depan Arki. "Kamu kira saya bod*h? Saya tahu apa yang kamu rencanakan. Temanmu itu tak mungkin sejahat ini pada Bella, karena yang bermasalah itu kamu. Bukan mereka!" ucap Rafael lantang. Ia geram melihat Amora yang justru melimpahkan kesalahan pada temannya, bukan malah merasa bersalah. Arki tampak menarik napas dalam, ia harus memutuskan secara bijak agar Om Bram juga tahu perbuatan anaknya ini. "Raf, bawa dia ke kantor polisi! Dia akan menanggung kesalahannya semua di sana." Amora tampak takut dan kembali histeris, ia tak mau di bawa ke kantor polisi. "Bang? Ini salah paham. Bukan Amora yang melakukannya, Abang maafin Mora!" isak Amora. "Minta maaflah dengan dia nanti, bukan Abang. Raf, cepat singkirkan wanita ini dari hadapanku." Rafael membawa paksa Amora ke luar dan membawanya ke kantor polisi. Teriakan Amora membuat beberapa orang memandang mereka dengan tatapan aneh. Dua orang satpam rumah sakit mendekati mereka karena mendengar keributan. "Ada apa ini?" tanya seorang petugas. "Pak, tolong saya! Lelaki ini mau menganiaya saya!" "Diam!" sentak Rafael. "Pak, saya akan membawa saudari saya ke kantor polisi. Dia sudah menganiaya teman saya hingga ia masuk rumah sakit! Jika Bapak tak percaya, silahkan cek ruang Dahlia kamar nomor 3. Dia habis di operasi karena tulang betisnya geser akibat diinjak dengan kuat!" "Bohong, lelaki ini bohong, Pak!" sangkal Amora. "Sudah-sudah, jangan ribut di rumah sakit! Silahkan Bapak selesaikan masalah ini di luar." Akhirnya Rafael bisa membawa Amora ke kantor polisi, meski dengan teriakan dan drama yang dibuatnya untuk menarik simpati orang yang melihatnya. "Apa anda ada bukti untuk melaporkan saudari anda?" tanya petugas kepolisian pada Rafael. "Ada, Pak! Bapak bisa cek di cctv kampus saya! Atau bisa tanya pada sahabatnya yang juga ikut melihat kejadian itu," jawab Rafael saat petugas meminta keterangan Rafael. "Baik, untuk sementara saudari anda kami tahan. Sampai bukti yang Mas maksud kami dapatkan!" Setelah membawa Amora ke kantor polisi, Rafael kembali ke rumah sakit untuk menemani Bella. *** "Dia belum siuman, Bang?" tanya Rafael saat baru sampai di rumah sakit. "Belum!" Dari tadi Arki berada di sampingnya dan tak mau beranjak sedikitpun dari sana. "A, Abang mau ngomong!" "Kenapa, Bang!" "Tolong jagakan calon istri Abang!" "Calon istri? Abang sudah punya pengganti Ella?" tanya Rafael heran. "Tadi pagi, aku sudah melamarnya pada orangtuanya. Dan besok Abang harus ke Paris dalam jangka waktu yang lama. Abang hanya percaya padamu, tolong bantu Abang jaga istri dan anak Abang!" Rafael semakin bingung dengan yang abangnya katakan. "Istri? Anak? Abang ini bercanda jangan kelewatan, belum nikah kok halu anak istri!' kelakar Rafael. "Saya serius, A! Om Bram mengancam Abang, akan menyakiti kalian. Abang tak punya pilihan lain, tolong bantu Abang kali ini. Mungkin di saat melahirkan nanti, Abang tak ada di sampingnya!" ucap Arki sendu menatap Bella yang terbaring di sana. "Apa maksud Abang? Siapa istri yang Abang maksud?" tanya Rafael penasaran. "Bella, dia calon istri Abang. Dia sedang mengandung anak Abang!" Rafael membuka mulutnya tak percaya dengan pengakuan abangnya. "Nggak usah bercanda, Bang!" ucap Rafael masih tak percaya. "Abang nggak bercanda, bisa AA tanyakan nanti pada Bella. Dia pasti tahu penyebab dia hamil." Seperti nahkoda kapal yang pecah dihantam ombak, begitu pula dengan Rafael. Walau dia belum menyatakan bahwa dia menyukai Bella, namun ada rasa tak rela ketika wanita yang biasa ia panggil Kusu ini adalah calon kakak iparnya. "Ke_kenapa bisa begitu?" tanya Rafael masih tak percaya. "Semua ini salah Abang! Waktu itu Abang tak sengaja m*****i gadis kecil yang sudah menolong Abang. Waktu itu Abang terpukul dan melihat Bella itu Ella. Karena waktu itu Abang mabuk, Abang menyesal. Dan kini Bella tengah hamil anak Abang, tapi Abang tak bisa menjaganya. Om Bram memaksa Abang untuk memegang kendali bisnis di Paris. Abang tak bisa tahu, kapan akan kembali karena Abang harus memajukan bisnis di sana. Jika tidak, kamu, mama, dan Bella akan jadi sasaran kemarahan Om Bram. Kamu kan tahu sendiri, Om Bram itu licik dan kejam. Mana tahu dia tentang belas kasih, maka dari itu Abang mohon. Jagakan calon istri dan anak Abang sampai Abang kembali dari Paris. Kamu satu-satunya harapan Abang untuk menjaganya." Rafael terpatung, semua kenyataan ini begitu membuatnya kaget. Ternyata wanita yang ia dekati selama ini adalah calon kakak iparnya. Melihat wajah abangnya yang tampak memprihatinkan, akhirnya Rafael memilih mengalah. Bagaimanapun, abangnya adalah satu-satunya orang yang berjuang membahagiakannya dan mama. Ia harus rela mengesampingkan egonya mencintai gadis yang sama dengan abangnya. "Jam berapa Abang berangkat?" tanya Rafael. "Mungkin besok siang. Aku akan izin dulu sama mama, dan jangan beritahu ini dulu sama mama. Aku tak ingin kehamilan Bella membuat keluarga panik, dan juga membuat Om Bram nekat menyakiti Bella dan anakku jika tahu dia mempunyai anak dari Abang. Om Bram sangat kekeh ingin menjadikanku suami Amora, batalnya pertunanganku dengan Ella juga karena Om Bram. Maka dari itu, Abang tak mau kalian yang jadi korban kekejaman Om karena tak menerima Amora sebagai istri Abang. Kamu bisa kan, jagain anak dan b istri Abang?" ucap Arki menatap wajah adiknya ini. "Jangan khawatir, mereka akan aman berada di sampingku. Kakak juga jangan khawatir, Amora tidak mungkin macam-macam padaku. Aku bahkan bisa menjadi psikopat jika dia sudah kelewat batas!" ucap Rafael tersenyum. Arki paham adiknya ini, walau terlihat begajulan, tapi hatinya sangatlah baik. Maka dari itu, ia sangat menyayangi Rafael lebih dari apapun. Bella tampak membuka matanya, ia melihat ke sekelilingnya dan melihat Rafael dan Arki yang ada di sampingnya. "Udah siuman, Kusu?" ucap Rafael membuat Arki menatapnya dingin. "Hehehe, Kusu itu sebutan mesra aku dan Bella. Maaf, Bang! Jangan marah!" ucap Rafael sambil merenges. "Mana yang sakit, Dek?" Bella tampak terkejut saat Arki memanggilnya Adek. "AA ke kantin dulu beli minum. Abang mau nitip apa?" Rafael sengaja memberi ruang untuk abangnya dan Bella berbicara dengan leluasa. "Apa saja!" jawab Arki. Rafael sudah pergi ke luar, dan kini tinggalah Bella dan Arki yang sama-sama terpatung. "Bolehkan Abang panggil Adek? Kamu sudah Abang minta sama orang tuamu, jadi jangan sungkan panggil Abang!" ucap Arki tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Bella. "A_abang jadi melamar Bella?" tanya Bella ragu. "Sudah, dan mereka juga sudah tahu jika Adek hamil." "Lalu, mereka marah?" tanya Bella khawatir. "Tentu, orangtua mana yang tak marah jika anak gadisnya dinodai sebelum dinikahi. Tapi Abang sudah berhasil meyakinkan mereka, jika Abang serius untuk bertanggung jawab. Sekarang, kamu tidak sendiri. Jangan khawatir akan semua ini, dan jaga kesehatanmu. Karena Abang tidak bisa disisimu nanti hingga anak kita lahir." Arki menggenggam tangan Bella erat seperti tak ingin meninggalkan Bella. "Apa maksud A_abang?" "Abang akan ke Paris dalam jangka waktu yang lama. Abang harap kamu bisa jaga diri di sini dengan baik. Abang sudah meminta Rafael untuk menjagamu, maafkan Abang!" Bella melepaskan genggaman Arki. "Kenapa meminangku jika ingin meninggalkanku!" ucap Bella sendu. "Kamu tahu Om ku yang kemarin aku ceritakan? Dia mengancam Abang, akan menyakitimu dan juga keluargaku. Abang tak punya pilihan lain, jika tidak menurutinya ke Paris maka Abang harus kehilangan kalian semua. Biarlah Abang yang menderita, jangan kalian. Abang janji, setelah usaha di sana berhasil, Abang akan segera kembali. Jaga dirimu dan juga anak kita, yakinlah pada Abang. Doakan Abang bisa cepat pulang, karena jika di sana Abang bisa sukses, Om Bram tidak lagi mengganggu kita." Bella menatap Arki dalam, air matanya meleleh. Tak tega rasanya dalam posisi serba sulit seperti ini, ingin rasanya membangun rumah tangga bahagia tanpa kesedihan seperti ini. Arki tak tega melihat kesedihan Bella, ia juga melihat tatapan takut dalam bola matanya. "Dek, tunggu Abang pulang. Jangan ragukan cinta Abang ini, tolong terimalah Abang sebagai suamimu. Abang akan menikahimu besok pagi jika Adek ragu dengan ikatan yang Abang sematkan kali ini. Walau hanya menikah sirri, Abang rasa bisa mengikatmu secara sah di mata agama. Setelah nanti pulang dari Paris, Abang baru akan menikahimu secara Negara," ucap Arki hangat. Bella menatap Arki tak percaya, seserius ini lelaki di depannya hendak melindunginya. Sepertinya ia tahu jika dirinya ragu dengan keputusan kepergiannya ke Paris. Arki mengeluarkan cincin yang ia beli tadi setelah dari rumah orangtua Bella. Arki memasukan cincin pada jari manis Bella, dan tersenyum padanya. "Bella, gadis kecil yang Abang sayang. Jadilah istriku, kini, esok, dan selamanya." Arki mencium tangan Bella dan Bella meitikan air mata bahagianya. Tak ada suatu kebahagiaan tanpa adanya air mata. Arki dan Bella sama-sama berharap, kisah hidup mereka akan berjalan dengan baik setelah ini. Besok pagi ia akan ke rumah orang tua Bella kembali, sembari membawa penghulu untuk menikahkan dirinya dengan Bella. Meski tanpa kehadiran Bella, namun nanti ia akan mengusahakan pernikahan Sirri ini berjalan dengan baik. Arki berpikir tadinya hanya akan melamar Bella dahulu, namun melihat tatapan berat Bella melepaskan dirinya ke Paris, membuat Arki berpikir akan mengikat kuat hubungannya dengan Bella dengan pernikahan yang sah. Walau hanya di mata agama setidaknya bisa membuat Bella tetap menjadi miliknya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN