part 11

1602 Kata
Pagi ini, Arki sudah bersiap untuk ke kantornya. Ia akan menemui Om Bramantyo sesuai permintaanya tadi malam. Arki sudah tahu, sekarang pasti ia akan mendapatkan kabar buruk untuknya. Langkah kaki yang sengaja ia percepat, tak merubah segala yang akan terjadi nanti. Nafas yang terasa berat dan juga kaki yang enggan melangkah, sengaja Arki paksakan. Selama ini ia bekerja sesuai keinginan Omnya, bahkan masalah percintaan pun Om nya selalu ikut campur. Arki berhenti tepat di depan pintu ruangan Om Bram. Ia mengetuk dan mendorong gagang pintu perlahan. Terlihat Om Bram yang sedang sibuk menandatangani berkas melihat Arki masuk. "Datang juga kamu!" ucap Om Bram dingin. "Duduk, Ki!" Arki duduk di depan meja Omnya, dia sudah siap mendengarkan apa yang akan disampaikan lelaki yang ia sebut Om ini. "Kamu punya kekasih baru, Ki?" tanya Om Bram penuh selidik. "Kenapa, Om? Salah jika Arki punya kekasih?" ucap Arki. "Salah! Amora menginginkanmu menjadi suaminya, kamu tahu itu!" sahut Om Bram dengan nada sedikit tinggi. "Saya sudah menganggap Amora adik saya sendiri. Tak mungkin aku bersamanya, tak puaskah Om menghancurkan hidup saya setelah membuat acara pertunangan saya dengan Ella gagal?" Om Bram tampak tersenyum sinis, ia berdiri dan mendekati Arki. "Baiklah, jika kamu ingin Om tidak memaksamu menikahi Amora. Om ada satu syarat! Jika kamu setuju, maka Om akan lepas tangan dengan kehidupanmu setelahnya. Bagaimana?" tawar Om Bram. "Syarat apa?" tanya Arki tajam. "Kamu harus mengurus perusahaan di Paris yang sudah hampir bangkrut. Jika kamu bisa membuat perusahaan itu kembali jaya, Om janji akan membiarkan kamu memilih wanita yang akan kamu nikahi," ucap Om Bram tegas. "Tidak bisa Om, saya akan melamarnya hari ini! Dan Om tidak bisa lagi mencegahnya, karena kali ini Arki akan melindunginya." "Jika kamu menolak, berarti kamu harus siap melihat mama dan adikmu menderita. Aku akan mencoret namamu dari daftar pemilik perusahaan Alexa Gruop. Bahkan, Om tidak akan membiarkan gadis itu bisa hidup dengan tenang!" Arki tampak mengepalkan tangannya, ia bahkan tak bisa lagi berkutik kali ini. Taruhannya adalah keluarganya, disamping ia tak dapat meninggalkan Bella, ia juga tak bisa membiarkan mama dan adiknya menderita. Alexa Group adalah perusahaan otomotif terbesar yang didirikan pertama kali oleh kakek Arki. Perusahaan dalam negri satu-satunya yang berhasil memproduksi spare part mobil dan sudah diekspor ke luar negri. Jangan ditanya berapa uangnya, bahkan hanya perusahaan sparepart saja Om Bram bisa meraup untung milyaran. Tak sulit bagi ia menyingkirkan Bella yang notabennya gadis tak berpunya. Selama ini Arki merasa tertekan kerja dengan Omnya, tapi mau bagaimana lagi. Demi kebahagiaan keluarganya, ia rela menjadi tulang punggung dari remaja. Rafael adik satu-satunya yang sangat ia sayangi, apapun keinginannya akan Arki penuhi. Seperti hal nya kemarin, ia pulang ke Jakarta dan mengeluhkan pada Arki jika ia membutuhkan mobil untuk pergi ke kampus. Akhirnya, Arki membelikannya mobil dengan harga yang cukup menguras kantongnya. Arki tetap senang, karena baginya Rafael tetap adik kecilnya yang harus ia lindungi. "Bagaimana? Kamu ingin menikah dengan Amora, atau pergi ke Paris untuk mengelola bisnis di sana?" tanya Om Bram. "Beri saya waktu satu minggu untuk memikirkannya," jawab Arki. "Tidak! Aku beri kamu satu hari untuk memutuskannya. Besok, aku tunggu keputusanmu. Jika tidak, maka kamu harus siap menderita karena itu!" Arki menatap sinis Om Bram yang tampak kejam kepada nya. Hari ini ia akan melamar Bella, dan hari ini juga ia akan menentukan nasib mereka semua. Setelah pertemuan dengan Om Bram, Arki bergegas ke rumah Bella. Ia hendak menemui orang tua Bella secara langsung, dan menyiapkan diri untuk menerima keputusan mereka. Mobil Arki sampai di depan rumah Bella, sekarang pukul sembilan pagi. Pasti mereka semua sudah pergi bekerja, Arki menelpon security di rumah lama tempat Bu Nita bekerja. Ia menyuruhnya agar mengantar Bu Nita pulang ke rumah. Tak selang lama, Bu Nita datang dengan tergopoh-gopoh. Wajahnya nampak takut karena bosnya ini memanggilnya untuk pulang mendadak ke rumah. "Den Arki, ada apa panggil Ibu pulang?" tanya Bu Nita. "Boleh kita bicara di dalam?" Bu Nita mengangguk dan segera membuka kunci rumahnya. "Silahkan duduk, Den! Biar Ibu buatkan minum!" ucap Ibu Nita. "Nggak usah, Bu! Saya ada perlu penting sebentar dengan Bapak dan Ibu. Bisakah Ibu panggil Bapak untuk segera pulang?" Arki tak dapat lagi menunda waktunya, ia harus bergegas. Hari ini semuanya harus kelar, niatnya nanti setelah ini ia akan menemui Bella untuk membicarakan kepergiannya. Bu Nita tampak sedang menghubungi Pak Arya, suaminya. Dan tak selang lama, Bapak Bella sampai di rumah "Assalamualaikum," salam bapak dari luar. "Waalaikumsalam, Pak! Untung nge-time nya nggak jauh dari sini. Jadi bisa cepat sampai rumahnya!" ucap Bu Nita panik. "Kenapa, Bu?" Bu Nita mengajak Pak Arya duduk, dan dia ke belakang untuk mengambil minum untuk Arki dan suaminya. "Maaf, Pak, Bu! Jika kedatangan saya ke sini sangatlah mendadak. Jujur, ini sangatlah penting!" ucap Arki agak sedikit gugup. Ia menarik nafasnya pelan, dan mengatur cara bicaranya agar mereka tak salah tangkap. "Ada apa Den Arki datang ke sini? Hal penting apa yang hendak di bicarakan?" tanya Pak Arya penasaran. "Begini Pak, Bu, kedatangan saya ke sini hendak melamar anak Bapak dan Ibu. Besok saya akan ke Paris, jika saya menunda rencana menikahi Bella saya takut nanti dia berubah pikiran," ucap Arki. "Me_melamar? Den Arki kenal Bella sejak kapan? Kok tiba-tiba ingin menikahi Bella? Lagian, Bella sekarang sedang kuliah. Bapak tak akan mengizinkan dia menikah sebelum cita-citanya tercapai," tolak Arya halus. "Maaf sebelumnya, ini semua salah saya. Mungkin Bella tak bicara dengan Bapak dan Ibu. Saya yakin Bella ada alasan untuk tidak mengatakannya!" "Apa maksud Nak Arki, jelaskan secara detail. Bapak tak maksud perkataan Nak Arki," imbuh Pak Arya. Situasi mulai sedikit tak nyaman, membuat Arki sedikit grogi dan tegang. "Bella hamil, dan itu semua adalah salah saya!" Pak Arya dan Bu Nita menutup mulutnya tak percaya, perkataan Arki barusan benar-benar membuatnya terkejut. "Apa maksud Nak Arki? Bella tak mungkin hamil, dia anak baik-baik. Bahkan selama ini, Bella tak pernah mengecewakan saya," sungut Pak Arya sudah tampak emosi. Bu Nita yang berada di samping suaminya berusaha menenangkannya. "Sabar, Pak! Kita dengarkan dulu penjelasannya!" Pak Arya yang sudah berdiri, kembali duduk setelah Bu Nita menasehatinya. "Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya, karena waktu itu saya khilaf. Saya tak sengaja memaksa Bella. Malam itu aku habis di tinggalkan tunangan sya, pernikahan saya tinggal menunggu minggu. Tapi ia memutuskan sepihak, hingga membuatku marah dan menanggung malu. Karena undangan telah tersebar. Dalam marah, saya minum alkohol yang tak pernah saya minum sebelumnya. Saya mabuk berat, dan waktu itu Bella menolong saya, membawa ke kamar hotel tempat menginap. Saya yang dalam pengaruh Alkohol itu, tak bisa berpikir jernih. Saya meracau, dan yang kulihat waktu itu, Bella adalah tunangan saya. Sehingga saya membuat anak Bapak dan Ibu kehilangan masa depannya. Tapi saya janji, saya akan bertanggung jawab!" Pak Arya yang mendengar pengakuan Arki merasa marah dan memukul wajah dan perut Arki hingga ia tersungkur. Arki tak melawan, karena ia sadar ini semua salahnya. "Dasar lelaki br***k! Kamu sudah merusak anak saya satu-satunya, dan kini kamu hendak pergi ke Paris?" Pak Arya terus memberi pelajaran pada Arki hingga Bu Nita melerai suaminya. "Sudah, Pak! Sudah! Ini semua sudah terjadi, kita tak bisa menyalahkan takdir. Kita bicarakan baik-baik, kasihan Bella di sana. Keadaan hamil pasti akan membuatnya kesulitan melakukan aktivitas!" rintih Bu Nita sendu. Pak Arya kembali duduk dan memandang Arki dengan tatapan membunuh. Orang tua mana yang tak marah, jika anak gadis satu-satunya yang ia rawat dari kecil dengan penuh cinta, dirusak oleh laki-laki secara paksa. "Maafkan saya sekali lagi, Pak, Bu! Maka dari itu saya ke sini. Untuk meminta langsung anak Bapak dan Ibu menjadi istri saya. Om saya seorang pengusaha kaya yang ambisius. Dia mengancam saya, akan menyakiti keluarga saya dan juga Bella jika saya tidak menuruti keinginannya. Dia ingin aku menikahi anaknya, namun saya menolak. Saya mencintai Bella dan saya harus melindunginya dari siapapun yang hendak menyakitinya, termasuk Om saya. Saya harap, Bapak dan ibu mengizinkan saya melamar Bella. Karena jika mengurus pernikahan, saya rasa tak sempat. Om saya memaksa saya untuk berangkat ke Paris besok. Aku tak ada pilihan lain, aku ingin melindungi Bella dari kejahatan Om saya. Tolong, Pak, Bu, Izinkan saya menikahi Bella!" Arki menyentuh kaki Pak Arya seraya memohon agar lamarannya diterima. "Apakah Bella tahu, kamu akan melamarnya?" Kini suara Pak Arya terdengar datar tak semarah tadi. "Sudah, bahkan kami sudah membicarakan ini semua. Saya hanya meminta restu untuk Bapak dan Ibu!" Pak Arya mengangkat tubuh Arki supaya bangun dan duduk kembali. "Baiklah, jika Bella sudah menyetujuinya Bapak dan Ibu tak bisa melarangnya. Lagian, anaknya nanti juga butuh sosok Ayah." Pak Arya sudah mulai berpikir dingin, ia sudah tak semarah tadi setelah melihat keseriusan Arki. Arki mengeluarkan tabungan dan atm atas namanya. Ia memberikannya pada Arya Dan Juga Bu Nita. "Saya akan memberikan cincin lamaran saya langsung nanti pada Bella seraya pamitan. Ini ada tabungan dan nomor pinnya atas nama saya beserta ATMnya. Saya akan mengirimkan uang dari Paris untuk menopang hidup kalian dan juga saat Bella melahirkan nanti. Karena saya kemungkinan agak lama. Jangan Bilang itu dari saya, karena dia pasti menolaknya. Saya titip calon istri saya, saya janji akan segera menikahinya setelah pulang dari Paris! Saya usahakan takan lama, doakan saya berhasil di sana agar saya dan Bella bisa hidup dengan tenang dan bahagia," ungkap Arki penuh harap. Akhirnya, orang tua Bella menyetujui rencana Arki menikahi Bella setelah Arki berhasil meyakinkan mereka. Walau tadinya Pak Arya tampak berat, akhirnya ia menyetujuinya. Arki tahu, orang tua Bella adalah orang yang baik dan bijak. Jadi, ia akan merasa tenang jika meninggalkan Bella bersama orang tuanya. Ia akan menitipkan Bella pada Rafael nanti jika ia sedang kuliah di Bogor. Kini ia harus bergegas ke Bogor untuk menemui Bella dan berpamitan pergi kepada kedua orang tua Bella. .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN