part10

2140 Kata
"Arki, besok pagi kamu temui Om di kantor!" sentak Om Bram penuh penekanan. Amora yang melihat Arki dan Bella, menatap keduanya dengan sinis. Ia mengikuti langkah ayahnya keluar dari cafe. Bella tampak bingung dengan kedatangan Amora yang tiba-tiba, ia mengalihkan pandangan pada Arki yang sepertinya juga bingung akan kedatangan lelaki yang ia panggil Om itu. "Kamu tak ingin bertanya mereka siapa?" tanya Arki. "Siapa? Amora?" "Kamu kenal?" tanya Arki lagi. "Kenal, baru tadi pagi! Dia sudah membuat mahasiswi baru babak belur," ucap Bella. "Lalu, kamu terlibat?" tanya Arki khawatir. "Aku yang melaporkannya ke petugas perpustakaan. Kenapa?" tanya Bella bingung. "Kamu harus hati-hati! Om Bram dan Amora sama liciknya!" Bella tambah bingung dengan perkataan Arki. "Dia saudaramu?" tanya Bella. "Om Bram kakak dari almarhum ayahku. Dia yang sudah membuat keluargaku berantakan, dia juga mengambil seluruh saham ayah. Dia ingin menguasai kekayaan keluargaku tanpa melihat kami yang dulu sebagai anak yatim terlantar. Mama, dia memohon pada Om Bram agar membiarkanku bekerja di perusahaan ayah agar bisa bertahan hidup. Kini, aku hanyalah kacungnya saja! Kamu harus hati-hati, Bell. Amora kadang bisa berbuat nekat, kemarin batalnya pertunangan ku juga karena ulahnya. Kali ini, aku tak akan membiarkannya jika menyakitimu dan anak kita!" Ada perasaan aneh ketika Arki berbicara tentang 'anak kita'. Seakan menjadi sebuah lampu hijau, untuk Bella kembali menata harapannya. Tadinya ia berpikir jika Arki laki-laki berandal yang suka minum dan bermain wanita. Setelah mendengar dan melihat kejadian tadi, Bella jadi tahu hati Arki sebenarnya. Setelah pertemuan malam ini dengan Arki, Bella sedikit termenung. Mungkinkah besok Arki akan benar-benar melamar dirinya ke rumah orangtuanya? *** "Kuzu, besok bareng gue ya ke kampus! Kebetulan jam kelasnya samaan sama gue. Jam tujuh siap-siap, AA jemput!" Pesan dari Rafael membuat Bella menghembuskan nafasnya kasar. Bagaimana menjelaskan pada Rafael tentang hubungannya dengan Arki? Jujur salah, bohong lebih-lebih. Bella akhirnya memilih meletakan ponselnya tanpa membalas pesan dari Rafael. Suara Azan memanggil, Bella segera beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi untuk segera mengambil air wudhu dan menunaikan shalatnya. Bella mengambil mukena dan menggelar sajadahnya. Shalat Bella lakukan dengan khidmat, karena dengan cara ini ia akan lebih baik. Memasrahkan diri pada Sang Pemilik, hidup dan matinya. "Ya Allah, Yang Maha Agung, limpahkanlah kesehatan untuk kedua orang tuaku. Aku mohon berikanlah kesabaran pada mereka nanti, saat Arki meminta restu menikahiku. Jika memang Arki jodohku, mudahkanlah jalannya." Bella hanya memohon untuk kelancaran saat Arki jadi melamarnya esok hari, ia tak akan pulang dahulu karena ia tak ingin melihat wajah kecewa orang tuanya. Selesai shalat Bella bergegas mandi dan bersiap pergi ke kampus. Suara deru mobil Rafael membuat Bella menyingkapkan gorden dan melihatnya. Dilihatnya Rafael yang sedang menyisir rambutnya dan bercermin di atas mobil barunya. Pintu diketuk, Bella yang memang sudah bersiap dari tadi membukakan pintu untuk Rafael. "Sudah siap tuan putri?" tanya Rafael. "Yaelah, kesini mau jemput apa mau pamer mobil baru?" ucap Bella. "Dua-duanya! Mobil ini belum pernah di naikin cewe sebelumnya, sekarang kamu cewe pertama yang harus mencobanya," ujar Rafael menaik turunkan alisnya. "Alah, modus palingan. Semua cewek pasti lo katain begitu, udah nggak ngaruh!" ucap Bella membuka gagang pintu mobil. "Namanya juga usaha!" tawa Rafael saat sudah masuk di dalam mobil bersama Bella. Rafael menaiki mobil dengan kecepatan tinggi membuat Bella terpekik karena takut. "Raf, lo yang bener kalau mengemudi! Jantung gue sampai mau copot, nggak bener banget lo jadi cowok! Tau gini aku ogah ikut kamu," gerutu Bella saat sudah sampai di kampus. Tanpa menunggu, Bella langsung melangkah masuk ke kampusnya tanpa melihat ke arah Rafael. "Woi Kusu, tungguin!" Rafael setengah berlari mengejar langkah Bella. "Kok AA di tinggalin?" "Kan kita beda kelas, kelas teknik di sebelah utara! Sono lo masuk, bentar lagi kan kelas lo dimulai. Kalau Gue masih lama, mau ke perpus dulu," usir Bell. "Baiklah, nanti aku nyusul ke sana setelah mata kuliahku selesai." Rafael berbalik arah menuju kelasnya dan Bella melangkah menuju perpustakaan. Selesai dari perpus, Dania yang baru datang dengan nafas ngos-ngosan mengajak Bella ke luar karena ada hal penting yang akan ia bicarakan. "Kenapa, Dan? Gue mau ke kelas. Ini sudah jam setengah sembilan. Setengah jam lagi kan kita masuk," tanya Bela penasaran. "Jangan ke kelas dulu, baik lo ikut gue!" Bella yang penasaran dengan Bella memilih mengikuti langkah Dania. Dia berjalan ke ruang belakang kampus dan dilihatnya gambarnya bersama Rafael dan juga semua bajunya di kosan tergantung di pohon. Bella sangat terkejut dengan semua ini. "A_apa ini? Siapa yang menaruh baju-bajuku di sini?" Bella menatap sedih semua baju miliknya yang sudah koyak dan tergantung di atas pohon. Fotonya dengan Rafael tadi saat menjemputnya, dan juga foto saat mereka berdua bersama. "Bel?" lirih Dania saat melihat Amora dan gengnya sudah di belakangnya. "Kusu? Begitu panggilan sayang AA padamu? Romantis sekali. Aku jadi pengen," ejek Amora. "Mora, kenapa kamu ganggu Bella juga? Masalahmu hanya denganku, jangan libatkan dia!" timpal Dania hendak melindungi Bella. "Minggir kau Gadis culun! Kamu sama sampahnya dengan dia! Kamu kira Hasbi saja yang menarik untuk aku dekati? Bahkan kekasihnya, adalah calon tunanganku! Minggir kamu!" Amora mendorong Dania hingga ia tersungkur. Bella memundurkan langkahnya, tapi ke dua sahabat Dania memegangi tangan Bella dengan kuat hingga ia tak dapat berkutik. "Lepas! Kamu picik sekali Amora. Kamu pikir saya takut sama kamu?" sentak Bella lantang, sebenarnya ia juga takut. Tapi ia biasa di bully, dan dia biasa melawan. Walau kadang akhirnya, ia yang harus di hukum. "Kamu berani sama saya? Nasib kamu akan seperti baju-bajumu di sana. Terluka dan bergelantung seperti kain lap!" Amora menampar Bella di kedua pipinya hingga Bella meringis kesakitan. Tak ketinggalan, bogem mentah mengenai hidungnya hingga mengeluarkan darah. Dania yang di sampingnya sampai takut dan ingin berlari mencari pertolongan! "Tahan wanita culun itu, jangan sampai dia kabur!" Salah satu dari teman Amora melepaskan pegangannya pada Bella, dan berusaha mengejar Dania. Bella yang masih punya pertahanan karena yang memegangnya hanya satu orang, mengangkat kakinya tinggi. Menendang kaki Amora dan sahabatnya. Ia lari dengan cepat membantu Dania melepaskan diri dari sahabatnya. Namun sial, Bella terkena lemparan balok kayu dari Amora yang tepat mengenai tengkuk kepala Bella. Bella terkulai lemas di tanah sambil memegangi tengkuknya. "Lo nggak bisa kabur dari jeratan Amora de luis. Nikmati saja masa sialmu selama di kampus, karena lo nggak mungkin bisa tenang selama masih mendekati Bang Arki." Amora menginjak kaki Bella yang terjerembab ke tanah dengan sangat hingga ia berteriak dan meringis kesakitan. "Hindari berurusan dengan Amora, jika tak ingin habis dan mati dengan konyol," ancam Amora. "Cabut , Guys! Permainan kita sudah selesai hari ini!" Mereka melepaskan Dania dan juga Bella meninggalkan mereka dalam keadaan yang menyedihkan. Dania mendekati Bella yang tampak kesakitan karena kepala yang terkena lemparan balok dari Amora. "Bel?" ucap Dania sendu. Bella berusaha duduk diatas tanah, ia tekuk kedua kakinya dan menangis di atas lututnya. "Sakit ya, Bell? Maafkan aku! Ini semua salahku!" ucap Dania terisak. Bella mendongakkan kepala, menghapus air mata sahabat barunya ini. "Aku tak apa! Luka segini tak masalah, asal tak dibuat mati saja. InsyaAllah aku kuat! Ini sudah jam sembilan, ayo kita masuk kelas!" Dania mengangguk dan membantu Bella berdiri. Kakinya yang lebam akibat injakan Amora membuat ia Bella kesulitan berjalan. Dengan langkah pelan, Bella berjalan di banyu Dania ke kelas. Banyak pasang mata yang melihat penampilan Bella yang berantakan, membuat Dania merasa prihatin. "Apa kita pulang saja? Kamu pasti sakit kalau belajar di kelas dalam keadaan seperti ini," tawar Dania. "Nggak apa, aku bisa! Kamu nggak usah khawatir! Lagian nanti pulang aku bisa naik taksi, aku kebetulan nggak bawa motor!" Akhirnya jam belajar kelas selesai, beruntung dosen mengajar hari ini tak menyuruh Bella untuk maju ke depan. "Aku antar kamu sampai rumah ya?" tawar Dania. "Nggak, aku harus bekerja!" ucap Bella. "Gi*a kamu, lihat kondisimu sekarang! Berjalan saja kamu nggak bisa," omel Dania. "Tapi aku baru bekerja sehari, masa aku libur," ucap Bella. "Kerjaan kamu, biar aku yang lakukan. Katakan saja di mana Cafe nya, nanti aku yang gantikan kamu kerja di sana sampai kamu sembuh!" papar Dania tersenyum. "Aku nggak mau ngerepotin kamu, Dan!" "Nggak papa, aku ikhlas! Bukankah kita sahabat? Sesama sahabat harus saling membantu, bukan begitu?" ungkap Dania menatap sahabatnya sendu. Bella memeluk erat sahabatnya ini, Dania juga memesan taksi untuk Bella pulang ke kosan. Setelah mengantongi nama dan alamat Cafe, Dania segera meluncur ke tempat kerja Bella. Dania menarik nafasnya pelan, dan masuk ke dalam cafe. Ia langsung menemui pemilik Cafe ini. "Siang, Pak! Apa saya bisa bertemu pemilik cafe ini?" tanya Dania pada Coki. "Pemilik cafe jarang berada di tempat, kalau boleh tahu ada keperluan apa?" tanya Coki penasaran. "Sebelumnya, perkenalkan. Nama saya Dania. Saya sahabat dari karyawan di sini, Bella namanya. Kedatangan saya ke sini, hendak menggantikan jadwal kerjanya sementara karena di sakit. Apakah saya diperbolehkan?" Coki tampak terkejut mendengar berita ini, kemarin bahkan ia baik-baik saja. Mungkinkah setelah bertemu kakaknya Rafael, ia menjadi sakit? "Bella sakit apa?" tanya Coki mencoba mencari tahu. "Ada tragedi buruk tadi di kampus, ia terluka dan tak bisa jalan. Apa boleh saya yang menggantikannya?" tanya Dania kembali. "Baiklah, kamu langsung bekerja saja melayani tamu yang datang. Berikan daftar menu lalu kamu catat dan berikan pada Toni. Di sebelah sana!" tunjuk Coki pada ruang bagian peracikan pesanan. "Baiklah, terimakasih, Pak!" Dania langsung melakukan perintah Coki dan mulai bekerja seperti arahannya. "Bang, Cok! Bella sudah berangkat?" tanya Rafael yang baru masuk ke dalam cafe. "Dia tak tak berangkat! Temannya yang menggantikannya," tunjuk Coki pada Dania dengan dagunya. "Kenapa?" tanya Rafael. "Dia sakit, katanya tadi ada tragedi di kampusnya. Dan dia tak bisa berjalan, kamu kenapa tanya dia? Dia pacarmu lagi?" ledek Coki. Ia sudah hafal sifat Rafael yang suka berganti pacar setiap minggunya. "Bukan, tapi mungkin akan. Ya sudah, aku pergi dulu mau jenguk Bella. Bang Cok kalau cocok, sama dia saja. Cupu tapi imut, dari pada si Winda. Cantik tapi sombong!" bisik Rafael pada Coki di iringi gelengan heran Coki. Coki adalah kakak dari sahabat Rafael di Bogor, kebetulan dia dipercaya mengelola banyak Cafe di berbagai kota besar. Tentu saja, ia hanya bekerja di sini. Yang punya adalah seorang pebisnis besar, tapi ia hanya sesekali berkunjung hanya untuk memeriksa keadaan cafe. Rafael menaiki mobilnya menuju kosan Bella, ia melajukan mobilnya cepat seperti biasa. Karena ia memang suka ugal-ugalan. Mobil dengan cepat sampai di depan kosan. Rafael mengetuk pintu dan hanya suara tangis yang terdengar dari dalam. Walau lirih, ia dengar jika itu suara Bella. "Bell, kamu di dalam kan? AA masuk ya?" Pintu kamar yang tak di kunci membuat ia membukanya perlahan. "Bell, kamu kenapa?" tanya Rafael panik saat melihat Bella yang terduduk di lantai sambil terisak. Bella tak dapat berkata-kata, seluruh badannya sakit sekarang. Padahal tadi ia hanya merasakan kakinya saja yang sakit. "Siapa yang melakukannya Bel?" tanya Rafael geram melihat wajah dan kaki Bella yang membengkak. Karena tak ada respon dari Bella, Rafael mengangkat tubuh kecil Bella ke dalam mobilnya. Bella tak dapat menolak, karena ia juga merasakan sakit yang teramat. Rasa panik dan khawatir kian membara di hati Rafael, ia belum pernah sekhawatir ini sebelumnya. "Bertahan, Bell. AA akan membawamu ke rumah sakit. AA akan mencari siapa pelakunya, akan aku habisi dia!" geram Rafael. Bella masih saja memegangi kakinya, ia tak tahan lagi dengan sakitnya ini. Kepalanya juga sangat pusing, ia belum makan nasi sedari pagi. Dengan langkah cepat, Rafael membawa Bella menuju UGD. Dokter dan perawat segera memeriksa kondisi Bella. Saat sudah selesai pemeriksaan dan hendak keluar, Bella mencegat langkah dokter tadi. "Dok, bagaimana keadaan saya?" "Adik hamil ya? Ini sangat beresiko, hampir saja membahayakan keselamatannya. Tulang betis geser, dan tengkuk kepala lebam karena ada gumpalan darah yang terhenti. Ini harus ditindak serius, tadi sudah saya ronsen untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tapi kita juga harus hati-hati, karena harus memikirkan kondisi janin. Jangan stres, agar tidak memperburuk kondisi Adik sendiri!" "Dok, saya boleh minta sesuatu?" ucap Bella lirih. "Katakan!" "Jangan beritahu teman saya yang di depan tentang kehamilanku. Aku tak ingin dia khawatir, katakan saja aku baik-baik saja!" Dokter tampak berpikir dan akhirnya menyetujui permintaan Bella. Dokter tadi tak ingin pasien ini stress dan berdampak buruk padanya. "Baiklah, dan sebaiknya kamu dirawat. Suster akan membawamu ke ruang rawat inap," ujarnya. "Berapa hari, Dok?" "Kalau kondisi membaik boleh pulang, sekitar 4 sampai 5 hari. Tapi bisa saja lebih cepat, itu tergantung kamu nanti bagaimana." "Baiklah, terimakasih, Dok!" Dokter keluar dari UGD, Rafael dengan wajah paniknya mendekati dokter yang memeriksa Bella. "Bagaimana, Dok, teman saya?" "Teman anda mengalami pergeseran tulang di betisnya, dan ada sedikit penyumbatan darah di tengkuknya. Mungkin akibat benturan benda keras, dan sebaiknya pasien di rawat inap saja! Silahkan urus administrasi dahulu untuk kami beri tindakan lebih lanjut!" ucap Dokter. "Lakukan yang terbaik, Dok! Asalkan dia cepat sembuh. Saya akan mengurus administrasi sekarang juga!" Dokter mengangguk dan Rafael segera bergegas ke ruang administrasi agar Bella cepat ditangani dengan baik. Hatinya begitu khawatir mendengar rintihan Bella tadi, ia sampai ikut merasakan sakit yang ia rasakan. Rafael akan mencari tahu, siapa yang sudah melakukan ini pada Bella. . ???Komen ya guys, buat seru-seruan???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN