bab 9

1286 Kata
Rintik hujan membasahi kaca jendela yang sedang Bella pandangi. Meninggalkan bekas embun yang dapat menjadi papan untuk ia meninggalkan jejak tulis dengan tangannya di sana. Dipandanginya air yang menetes akibat derasnya hujan, seperti tetesan air mata yang kian mengalir deras di pipinya. Hari tadi, pertama kalinya ia masuk kerja setelah hampir seminggu ia ospek di kampusnya. Ia memang tak membiarkan dirinya terlalu lelah, sehingga ia masuk kerja setelah ospek selesai. Di tempat kerja yang baru, ia merasa sepi. Ia belum menemukan teman yang sekata dengannya, hanya ada beberapa pegawai laki-laki. Dan itu membuatnya tak nyaman. Satu-satunya pegawai perempuan, itu pun terlihat tak menyukainya. Mungkin karena ia adalah teman dekat Rafael, yang curiga akan kedekatannya. bella mengambil ponsel nya dan mengotak-atik aplikasi berlogo hijau itu untuk mengusir rasa bosannya. Melihat update dari para sahabat semasa SMA. Bella melihat postingan status wa Radit yang sedang menyematkan cincin di jari manis Nayla, dengan caption "Jodoh dunia akhirat" Terdengar manis, tapi miris bagi Bella. Di saat dirinya sepi, melihat kebahagiaan sahabatnya ini. Disitu pula bayangan suram masa depannya terlihat. "Selamat ya, Dit! Semoga langgeng dan bahagia." Bella mengirim balasan status untuk Radit. Namun, belum terbaca karena masih centang satu. Telepon Bella berdering, nama Arki terpampang jelas di sana. Hatinya bimbang, hendak mengangkatnya atau tidak. Tapi ia tak bisa bersembunyi terus darinya, bagaimanapun dia ayah dari anak yang dia kandung. Ia mengusap layar ponsel, dan mengangkat panggilan Arki dengan d**a yang bergemuruh. "Hallo, assalamualaikum!" salam Arki dari seberang sana. "Waalaikumsalam," sahut Bella. "Bel, Lagi ngapain?" tanya Arki lembut. Suaranya bahkan menggambarkan bahwa dia bukan lelaki yang buruk. "Ada apa telpon?" tanya Bella dingin tanpa ingin membalas ucapannya. "Abang mau ketemu besok! Bisa? Ada yang Abang mau bicarakan sama kamu!" "Tentang?" "Tentang kita!" Bella tampak berpikir dalam untuk memutuskan hal penting ini. "Besok Bella kerja! Nggak bisa!" tolak Bella. "Pulang kerja jam berapa? Abang jemput!" "Jam sembilan malam." Bella hanya berbicara seperlunya, ia belum terbiasa berbasa-basi dengan Arki. Perasaannya masih terlalu kaku dan trauma kejadian malam itu masih membekas di kepalanya. "Tapi ini baru jam delapan loh, kok kamu sudah pulang?" "Aku masih masa training hari ini. Besok sudah mulai bekerja tetap!" "Oh, kamu jangan terlalu lelah, aku nggak ingin kamu sakit!" Bella memilih diam saja dan menyudahi panggilannya. "Sudah dulu, aku mau istirahat!" Bella memang tak pernah sedekat itu dengan laki-laki, hanya Radit dan baru-baru ini Rafael. Itu pun karena ada hal penting yang memang harus melibatkannya. Bella bersiap tidur menyambut hari esok, semoga pertemuan dengan Arki mendapatkan titik terang. *** Pagi yang cerah setelah tadi malam diguyur hujan lebat. Bella yang bersiap ke kampus, bergegas menyambar handuk dan langsung mandi. Jadwal kuliahnya hanya sampai jam sebelas siang hari ini. Jam satu, ia sudah harus ke cafe untuk bekerja. Dengan berbekal niat yang kuat, Bella melangkah kaki keluar kosan menuju tempatnya menuntut ilmu. Dinaikinya motor matic pemberian ayahnya, ia melesat dengan kecepatan sedang. Motor yang terparkir di parkiran kampus ia kunci stang agar aman. Bella berjalan dengan santai karena jam kuliahnya masih setengah jam lagi. Ia memasuki perpustakaan untuk membaca beberapa buku yang memang menarik baginya. Saat ospek, semua ruangan dan juga tempat yang ada di kampus ini telah diperlihatkan. Jadi ia tak kesulitan saat mencari tempat yang nyaman baginya. Perpus adalah tempat terfavorit ketika ia bosan. Bella mengambil buku tentang proses melahirkan, ia membukanya dan membacanya. Tiba-tiba terdengar suara bising di sudut perpustakaan. Bella mendekat dan melihat seorang mahasiswi yang sedang di bully oleh sekelompok geng senior. Terlihat dari tampangnya, mereka seperti anak dari kalangan atas. Wajah yang lumayan dan juga sepatu yang digunakan menunjukan jika mereka semua orang kaya. Bella berjalan cepat memanggil petugas perpus. Ia tak bisa membiarkan manusia diperlakukan seperti itu, karena ia juga pernah merasakan betapa sakitnya di bully. Seorang petugas melerai tiga orang wanita yang sedang memukuli satu orang mahasiswi. Salah satu dari pelaku itu melihat Bella yang berada di sana bersama petugas. "Apa yang kalian lakukan? Ini perpustakaan, bukan arena tinju. Perilaku kalian sungguh memalukan. Cepat! Ikut saya ke ruangan!" Ketiga wanita itu mengikuti petugas, dan wanita yang memandang Bella sinis tadi, menyenggol badan Bella hingga ia terdorong ke belakang. "Lo akan berurusan dengan kami nanti!" ancamnya. Bella merasa merinding dengan ancamannya, tapi ia memang benar. Setiap perlakuan kekerasan, tak boleh dibiarkan. Bella mengalihkan pandangan pada gadis yang menjadi sasaran amukan tiga wanita tadi. "Kamu nggak papa?" tanya Bella sembari membantunya berdiri. "Terimakasih sudah mau membantu! Saya Diana," ucapnya memperkenalkan diri. "Saya, Bella. Kamu anak baru?" tanya Bella. "Iya, aku anak management." "Kalau begitu kita sama, aku juga management. Senang bisa berkenalan denganmu. Baik kita ke UKS, kita obati luka di wajahmu!" ucap Bella saat melihat bibir gadis itu mengeluarkan darah. "Aku nggak papa, kita ke kelas saja. Sebentar lagi jam kelas kita." "Oke baiklah, tapi bener nggak papa?" ucap Bella sambil melangkah pelan memapah Diana masuk kelas. "Nggak, aku udah biasa dibully dia. Dia teman sekolahku dulu di SMA," sahutnya. "Apa masalahnya sehingga dia memukulimu begitu kejam?" "Dulu aku pernah dekat dengan cowok yang dia suka, Namanya Hasbi. Karena cowoknya nolak dia. Jadi dia mengira, aku yang sudah mempengaruhi Hasbi untuk tidak menerimanya." "Kamu pacarnya Hasbi?" tanya Bella. "Bukan, aku dan Hasbi sahabat dekat. Dan dia kakak seniorku di SMA. Sekarang dia juga kuliah di sini ambil jurusan Teknik." "Nama perempuan tadi siapa?" "Amora, anak dari pemilik perusahaan otomotif terbesar di kota ini. Bahkan universitas ini, ayahnya yang ikut andil besar dalam pembangunannya. Amora mengira, aku di sini karena ingin dekat dengan Hasbi. Tapi sumpah, bukan itu. Aku memang mendapatkan beasiswa dari sekolah untuk kuliah di sini." Bella menatap Dania sedih, ini sudah tidak mungkin akan ada habisnya. Mengingat uang akan lebih berkuasa dengan segalanya. Dania dan Bella masuk ke dalam kelas, ia sudah siap mengikuti mata pelajaran kuliah hari ini. Dosen yang baru datang memperkenalkan diri dan memberikan beberapa materi. Karena ini baru hari pertama mata kuliah, jadi belum ada tugas yang berat. "Kamu mau pulang ke rumah atau ke mana, Bell?" tanya Dania saat kelas sudah usai. "Aku bekerja di Cafe sebelah kampus." "Wah, hebat kamu! Kuliah sambil kerja, aku jadi pengin!" ucap Dania. "Ayo aja, lagian aku cuma nggak ingin merepotkan orang tua. Aku anak tunggal yang memang bukan dari kalangan berduit. Jadi ya, harus pandai-pandai mengatur uang," timpal Bella. "Mandiri banget si! Ya udah aku duluan ya, sampai bertemu besok!" "Oke, hati-hati di jalan ya!" Bella dan Diana meninggalkan kampus. Mereka kembali beraktivitas dengan kesibukan masing-masing. Bella memasuki cafe tempat ia bekerja. "Siang, Bang Cok!" Sapa Bella pada Coki, pegawai di cafe itu juga. "Siang, Bell. Gimana kuliahnya?" "Alhamdulillah, lancar. Cafe ramai dari tadi ya?" ucap Bella saat melihat banyak tamu di dalam cafe. Cafe terletak tak jauh dari kampus, jadi kebanyakan anak muda yang mampir kesini. Entah itu hanya untuk membuang bosan, atau hanya numpang nongki bareng sahabatnya. "Seperti yang kamu lihat, cepat kamu layani mereka. Abang mau ambil bekas perkakas yang kotor di meja." "Siap, Bang!" Bella melangkah menuju ruang pelayanan, dan mengambil papan menu serta pulpen untuk mencatat pesanan para tamu. Hari ini Widia izin libur, kata Bang Coki dia sakit. Bella sedikit bernafas lega, karena tak ada yang berbicara pedas padanya hari ini. Jam di pergelangan tangan menunjukan pukul setengah sembilan. Itu berarti sebentar lagi, Arki akan datang menjemputnya. Benar dugaan Bella, Arki lebih awal datang menemuinya di cafe. Ia juga memesan satu chocolate untuk menunggu Bella selesai dengan pekerjaannya. "Dia siapa? Sepertinya dari tadi melihatmu bekerja terus?" tanya Coki. "Dia kakaknya Rafael." "Cari Rafael? Dia kan lagi di Jakarta." "Bukan!" "Lalu?" tanya Coki penasaran. "Dia mau ketemu aku, katanya ada suatu hal penting. Ya udah ya, Bella pamit pulang. Jam kerja Bella sudah usai kan, Bang?" "Baiklah, terimakasih untuk hari ini. Kamu benar-benar bekerja dengan maksimal." "Sama-sama. Ya udah, aku pergi dulu Bang! Bye!" Bella meninggalkan Cafe diikuti langkah Arki di belakangnya. "Aku bawa motor sendiri, kita mau bicara di mana?" "Di Banana Cafe, tidakkah naik mobilku saja? Nanti aku antar kamu ke sini lagi saat pulang." Bella tampak diam dan akhirnya menyetujui saran Arki. Arki membukakan pintu mobil untuk Bella dan ia masuk ke dalam mobil itu. Tak ada pembicaraan dalam mobil, hanya ada suara nafas yang terdengar berat dari Arki. "Bagaimana kabarmu?" tanya Arki mencoba membuka suaranya. "Baik!" "Kuliahmu?" "Baik!" Arki sudah kehabisan pertanyaan karena pasti Bella akan menjawab dengan sangat singkat. Mobil sampai di Banana Cafe, Arki langsung memesan minuman untuk menemani pembicaraan mereka nanti. "Bel, kamu ngekos di mana?" tanya Arki memulai pembicaraan. "Di dekat kampus, nggak jauh hanya sekitar tiga ratus meter." "Bel, kamu belum maafin aku? Kenapa kamu tak terima tawaranku bekerja di perusahaan tempatku bekerja juga? Disana gajinya lebih besar, kamu nggak perlu pusing memikirkan biaya kuliahmu," tanya Arki. "Aku belum sekuat itu untuk bisa melihatmu lama-lama. Rasanya perbuatanmu waktu itu meninggalkan takut untuk hanya sekedar berjumpa." Bella mencoba kuat dan berani untuk berbicara pada Arki. Arki mengulurkan tangannya menggenggam tangan Bella untuk meminta maaf. "Maafkan aku Bel, jika perbuatanku sudah membuat luka yang begitu dalam di hatimu. Waktu itu aku mabuk, aku bahkan belum pernah melakukan itu sebelumnya. Tunanganku waktu itu membatalkan rencana menikah yang akan dilakukan satu bulan lagi, entah apa yang membuatnya berubah pikiran. Bahkan hubungan kami sebelum itu sangatlah baik, aku sungguh hancur sehingga malam itu aku mengikuti suara setan yang berbisik untuk minum di sebuah club. Dan aku kembali ke hotel tempatku menginap, namun aku malah justru merusak gadis kecil yang sangat baik sepertimu. Maafkan aku, Bel!" ucap Arki. "Dan malangnya, gadis itu tengah hamil akibat perbuatan lelaki yang ada di hadapannya ini," ucap Bella meneteskan air matanya. Tadinya ia tak akan membicarakan kehamilannya pada Arki. Namun, setelah mendengar kejujuran Arki, ia merasa harus mengatakannya. Walaupun ia harus terima, jika Arki memutuskan pergi meninggalkannya nanti. "Ha_hamil?" Arki tampak terkejut dengan apa yang Bella katakan. "Iya! Kenapa? Terkejut? Bahkan aku tak tahu bagaimana nasibku kedepannya. Aku sengaja kuliah di luar kota agar orang tuaku tak menanggung malu, aku rela bekerja agar orang tuaku tak datang untuk membiayai anaknya yang hina ini." Bella tak bisa lagi membendung air matanya. Ketika mengatakan kehamilannya ini pada Arki, ia bahkan teringat wajah orang tuanya yang menaruh harapan besar padanya "Aku akan bertanggung jawab. Dan aku akan segera menikahimu. Besok aku akan ke rumah orang tuamu untuk melamarmu secara langsung, jika mereka melarang aku akan mengatakan yang sebenarnya. Ini salahku, dan kamu tak bisa menanggungnya seorang diri." Bella menatap keseriusan dari wajah Arki. Bella tak bisa memutuskan maupun melarang keinginan Arki menikahinya, bagaimanapun Arki adalah ayah dari anaknya. "Tapi aku ada syarat!" "Katakan!" jawab Arki. "Rahasiakan pernikahan ini dari siapapun, dan jangan larang aku untuk mewujudkan cita-citaku. Aku tak ingin orang tuaku kecewa," jawab Bella. "Baiklah. Aku juga akan menafkahimu seutuhnya, jadi jangan lagi bekerja. Aku tak ingin kamu kelelahan!" "Aku bukan orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Biarlah aku dengan segala keinginanku, dan kamu tidak berhak mengaturnya. Jika kamu ingin aku memaafkanmu!" Arki tak punya pilihan lain. Bella begitu kekeh ingin bekerja tanpa mau menerima sedikitpun bantuannya. "Oh, jadi ini wanita yang sudah membuatmu menolak lamaran Amora waktu itu?" Bella dan Arki terkejut saat suara lelaki paruh baya tiba-tiba datang dengan menyuarakan suaranya yang terdengar lantang! "Om?" pekik Arki saat melihat kakak ayahnya ada di cafe ini. "Om kira, setelah menyingkirkan Ella dari hidupmu kamu akan mau Om jodohkan dengan Mora. Ternyata, sekarang kamu mencari pengganti lain." Amorra tampak membisikkan sesuatu di telinga ayahnya dan wajahnya berubah merah padam. ?komen ya gaess ... biar bisa tak lanjutkan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN