part14

1593 Kata
Arki melangkah memasuki kantornya. Ia hendak menemui Om nya yang terlihat sangat marah tadi. Hatinya serasa ketar-ketir, pasti ini semua akan membuatnya kesulitan. Dibukanya pintu perlahan dan ia menarik nafasnya saat melihat Omnya, yang menatapnya tajam saat baru masuk ruangannya. "Masuk cepat! Om sudah menunggumu!" Teriak Mami Gisel, ibu dari Amora. "Arki, kamu memang ponakan tak tahu diri. Hanya karena wanita miskin itu, kamu memenjarakan anak kesayangan Om?" gertak Om Bram murka. "Dia memang bersalah, sudah seharusnya dia dihukum. Jika dia bersalah saja masih Om bela, dia akan selamanya berbuat semaunya pada orang lain," sahut Arki tenang. Ia berusaha menetralkan dadanya yang begitu bergemuruh akibat kezaliman Om dan keluarganya. "Oh, kamu sudah berani melawan Om? Jika kamu tak mau membebaskan dan menikahi Amora, maka kamu akan kehilangan gadis miskin yang sudah kamu bela itu!" ancam Om Bram. "Jangan macam-macam dengan dia. Om bisa saja menyuruhku membebaskan Amora, tapi Om tidak bisa memaksaku menikahinya. Dan Om harus janji tak akan mengganggu Bella. Saya dan Rafael, tidak akan diam jika Om berani mengusiknya!" sentak Arki. "Kamu mengancam Om? Punya keberanian juga ternyata?" sela Om Bram. "Saya masih punya nyali untuk bisa membuat Om sadar, jika Om kelewat batas. Dan Om juga harus tahu, andil saya di Alexa group itu besar, Om hanya bisa memerintah saja. Om bisa bayangkan, jika Alexa Group tanpa Arki Handoyo? Saya yakin, Om akan kesulitan. Dan aku menuruti perintah Om ke Paris karena aku masih menganggap Om adalah keluargaku. Dan tidak akan membiarkan perusahaan warisan kakek ini hancur. Saya juga tak akan tinggal diam jika Om berlaku kejam pada keluargaku." Om Bram tampak diam, dia sepertinya juga takut jika Arki benar-benar marah. Jika itu terjadi, maka ia akan kehilangan aset yang sangat berharga. Dirinya memaksa Amora untuk segera dinikahi Arki, agar semua kekayaan Alexa Group jatuh ke tangannya. Sekarang mungkin ia bisa menyembunyikan berkas pengalihan ahli waris perusahaan milik ayah Arki, tapi lama kelamaan pasti Arki akan curiga dan tahu jika dialah pewaris tunggal Alexa grup setelah dirinya. Pewaris Alexa group harus seorang laki-laki keturunan Alexa, dan dirinya hanya mempunyai anak perempuan, yaitu Amora. Bram menyembunyikan ini semua, agar ia bisa memindahkan semua kekayaan adiknya pada Amora jika sudah menikah dengan Arki. Jika Arki menolak menikahi Amora, berarti ia harus bisa membuat Arki membayar mahal atas itu. "Baiklah, jika kamu menolak menikahi Amora. Sekarang kamu bebaskan dia dari penjara, dan Om janji tak akan mengganggumu dan wanita miskin itu. Namun, kamu harus langsung ke Paris hari ini juga. Karena perusahaan di sana sudah di ambang kehancuran." "Apa Om bisa di percaya?" tanya Arki. Tante Gisel melirik suaminya dan ia mengangguk pertanda dia sedang menyusun trik licik. "Tentu, asal kau bisa membuat perusahaan itu berjaya dan tak kembali ke Indonesia sebelum sukses di sana. Jika kamu pulang sebelum perusahaan di sana berjaya, maka kamu akan kehilangan seluruh akses kekayaan Alexa grup. Dan itu berarti, kamu harus siap hidup sengsara." "Apa jaminannya Om tidak akan ingkar?" ucap Arki. "Jaminannya, nyawa Om taruhannya." Bram sengaja menyusun trik licik ini, karena ia tahu kepintaran Arki dalam berbisnis. Di Paris, adalah perusahaan jasa miliknya sendiri yang sudah hampir bangkrut, mustahil Arki bisa mengubahnya menjadi maju. Dan dengan begitu, sangatlah mudah menyingkirkan Arki. Dia menolak menikahi Amora, berarti dia siap mempertaruhkan keluarganya. Arki menelpon Rafael, dan mengabari tentang hal ini. Dia tadinya keberatan dan hendak menghajar Om nya yang bertindak semaunya. Namun, Arki mengatakan jika tak menuruti Om Bram akan berakibat buruk pada Bella. Bagi Arki, Bella adalah prioritasnya kini. Gadis kecil yang lemah itu, akan sangat mudah disingkirkan oleh orang sejahat Om Bram. Arki bersedia pergi karena ia yakin, ia bisa membuat perusahaan di Paris kembali maju. Kali ini ia akan mengalah, namun jika Omnya kembali berbohong jangan harap Arki akan mengampuninya. Rasa menghormati Om Bram sebagai pengganti ayahnya masih ia sematkan, karena mamanya juga masih menganggap Om Bram bagian dari keluarga. Setelah pertemuan dengan Om Bram, kini Arki pulang ke rumahnya. Ia menemui mama Sesil dan pamit untuk yang terakhir kalinya. "Ma, Jaga diri baik-baik. Pokoknya, doakan Arki agar cepat sukses di sana." "Pasti Mama doakan anak Mama ini. Mama antar kamu ke bandara ya?" Arki mengangguk dan pergi meninggalkan Ibu kota. Meski hatinya sedih karena berpisah dari keluarganya, tapi setidaknya ia membawa harapan. Jika nanti ia kembali lagi, hidupnya akan lebih bahagia. Karena bisa bertemu keluarga, terutama anak istrinya. Setelah memeriksa tiket yang sudah Om nya belikan, Arki menaiki pesawat menuju negeri seberang yang dijuluki kota cinta itu. Dengan meninggalkan kebahagiaan di Indonesia, Arki kini harus bekerja keras agar bisa membuat keluarganya hidup bahagia. *****" Rafael mendapatkan kabar dari Arki bahwa ia harus membebaskan Amora dari tahanan. Itu berarti, ia harus lebih ekstra melindungi Bella dari kejahatan wanita sihir itu. "Bell, AA ada urusan sebentar ya! Lo nggak papa kan AA tinggal?" ucap Rafael ragu meninggalkan Bella sendiri di rumah sakit. "Gue nggak papa, santai aja, Raf!" "Baiklah, gue akan segera kembali!" Arki meninggalkan Bella dan berangkat menuju kantor polisi. Di sana ia menemui Bella terlebih dahulu sebelum ia membebaskannya. Ia harus meminta syarat agar Amora mau dibebaskan dengan sukarela oleh Rafael. "A, lo ke sini mau bebasin gue kan?" tanya Amora antusias. "Tadinya gue sedikit keberatan lo bebas. Secara, Lo liciknya nggak ketulungan. Kalau bukan karena Abang gue yang minta, gue Ogah bebasin wanita sihir seperti lo. Gue mau bebasin lo, tapi gue punya syarat yang harus lo penuhi!" ujar Rafael dingin. "Katakan, apapun itu pasti akan Amora lakukan, asal bisa keluar dari ruang terkutuk ini." "Lo harus janji, jangan ganggu Bella lagi. Bisa?" Amora tampak diam, ia tak mungkin mengatakan tidak. Ia akan sedikit menurut agar bisa bebas terlebih dahulu. "Oke, gue nggak akan ganggu wanita kerdil itu. Cepat! Keluarkan aku dari sini, di sini banyak nyamuk!" keluhnya. Rafael menatap dengan benci Amora yang manja ini. "Awas, kalau kamu berulah. Akan aku pastikan, kamu masuk lagi ke sini. Dan menyesal!" Rafael berlalu meninggalkan Bella dan membuat laporan pembebasan Amora. Setelah itu, ia kembali lagi ke rumah sakit untuk menemani Bella di sana. Rafael masuk ke ruangan Bella, tampak wanita itu tengah terlelap tidur. Kini dipandanginya gadis yang berstatus kakak iparnya ini. Hendak mendekatinya pun, rasanya sungguh tak etis. Akhirnya, Rafael memilih membaringkan tubuhnya di sofa. *** Pagi ini, Bella menyuruh Rafael untuk ke kampusnya. Ia tak mau jika akibat menemaninya di rumah sakit, Rafael menjadi absen kuliah. "Raf, lo pergi kuliah saja sana! Gue udah nggak papa. Besok paling udah boleh balik ke kosan. Gue nggak enak sama lo, bolos sudah hampir tiga hari," ucap Bella. "Gue mah udah biasa bolos. Nggak ngaruh juga, paling dimarahin dosen karena kelamaan absen. Yang penting lo sehat dulu!" "Jangan gitu ah, nggak kasihan ama Bang Arki, yang udah capek-capek biayain kuliah. Eh, lo nya nggak serius gitu." "Ini juga Bang Arki yang minta agar jagain lo," sahut Rafael. Ia tetap tak mau pergi kuliah, apalagi sekarang Amora pasti sudah berangkat kampus. Arki mengirimkan pesan pada Bella, jika ia sudah sampai di Paris. Ia mengirimkan gambar dirinya yang sedang meminum kopi di apartemen miliknya. "Kenapa lo, senyum-senyum sendiri?" tanya Rafael. "Nggak, lagi liat foto Abang Arki. Katanya udah nyampe. Nih!" Bella menunjukan foto Arki di ponselnya, Rafael ikut tersenyum. Walau senyum itu hanya ia tampakan untuk menutupi rasa sakitnya karena tak bisa lagi memiliki Bella. Pintu ruangan Bella terbuka, tampak Dania yang menenteng sebuah bingkisan masuk menjenguk Bella. "Bella, bagaimana kabarmu?" Dania langsung memeluk Bella tanpa memperhatikan ada Rafael di sana. "Sudah lebih baik, kamu bagaimana?" tanya Bella pada sahabatnya ini. "Syukurlah, aku sempat khawatir sama kamu. Amora memang keterlaluan, tadi dia juga sudah berangkat lagi. Sepertinya dia sudah dibebaskan oleh ayahnya yang konglomerat itu!" ucap Dania. Sepertinya ia tak melihat jika ada Rafael di sofa. "Aku nggak papa, besok juga paling sudah boleh pulang. Makasih udah mau jengukin," ucap Bella. "Bell, temen kamu yang bantuin kamu bawa ke sini, siapa namanya?" tanya Dania. "Rafael?" jawab Bella. "Hm, ntu. Dia ntu nyeremin banget ya, waktu datang ke cafe nanyain kamu, mukanya. Ya ampun, aku sampai takut!" ucap Dania histeris. Ekhm! Rafael berdehem dan berdiri mendekati Dania. "Kenapa membicarakan gue? Situ naksir?" ucap Rafael percaya diri. Dania langsung menciut dan menyeringai takut, melihat ada orang yang dibicarakan ada di sana. "E_enggak kok, Ka!" "Raf, jangan marah sama Dania. Dia cuma bercanda, ya nggak, Dan?" sela Bella menetralkan wajah Dania yang tampak terkejut dengan kedatangan Rafael di belakangnya. "I_iya, Kak!" "Syukur kalau bercanda. Kalau serius, gue makan lo!" ucap Rafael Meninggalkan Dania dan Bella untuk keluar ruangan Bella. Rafael membiarkan para wanita itu ngerumpi, tanpa terganggu akan kehadiran dirinya. "Dan, gimana kuliahnya? Dosen nanyain aku nggak?" tanya Bella. "Udah aku bikinkan surat izin, aman!" ucap Dania. "Aku udah kangen banget sama kamu, kangen kuliah, kangen kerja, tiga hari nggak berangkat rasanya rindu semuanya." ucapnya "Aku juga, kangen sama kamu! Ohya, Si Rafael, dia pacar kamu? Kok nungguin kamu di rumah sakit?" "Bukan, dia saudaraku." "Tapi Kok, Amora menggantung foto kalian di pohon?" tanya Dania ingin tahu. "Mungkin dia hanya ingin memilikinya, dan entahlah. Aku juga tak tahu," jawab Bella singkat. Ia tak ingin terlalu menjelaskan lebih detail tentang hubungannya dengan Rafael pada Dania. "Tadi Amora berangkat kuliah? Dia nggak gangguin kamu kan?" sambung Bella. "Nggak, tumben banget tuh cewe culas, nggak gangguin. Mungkin kesambet setan pohon penunggu rumah, kali," jawab Dania tertawa lebar. "Hahaha, mungkin lagi sariawan!" timpal Bella asal. Kedatangan Dania kali ini, sedikit membuat Bella lebih ceria dan terhibur. Candaan yang diciptakan, mampu menghapus rasa sedih akibat ditinggalkan sang suami. Dania, sosok yang sama seperti Bella. Cupu dan manis, tapi sama berhati baik dan ramah seperti Bella. Sehingga mereka cocok menjadi sahabat yang saling melengkapi. "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN