part15

1468 Kata
Dua bulan sudah Arki meninggalkan Bella. Selama kepergiannya, Amora masih menjaga jaraknya dengan Bella. Membuat Rafael sedikit bernafas lega karena tak perlu tenaga ekstra untuk menjaganya. Kali ini Bella hendak berangkat kerja sepulang kuliah. Biasanya Rafael akan menemaninya sampai di cafe, namun sedari tadi ia tak kelihatan. Dania sekarang izin tak berangkat karena ada acara keluarga, membuat ia merasa kesepian. "Gue sedang di Jakarta. Lo jaga diri sendiri dulu, jangan pergi kemana-mana tanpa izin gue." Pesan dari Rafael membuat Bella menghembuskan nafasnya kasar. Kedua temannya begitu sibuk, ia benar-benar merasa kesepian. Dilihatnya jam di pergelangan tangannya yang menunjukan pukul jam 12 siang. Masih ada satu jam untuk ia berangkat ke cafe. Ia ingin menelpon Arki, di sana pasti ia baru akan berangkat kerja. Selisih di Paris hanya lima jam lebih lambat dari Indonesia. Telepon berdering tapi tak juga diangkat. Ia memilih menyudahi teleponnya. Tiba-tiba Amora de luis and gank datang mengambil paksa ponsel miliknya. "Ini milikku sekarang!" ucapnya penuh senyum jahat. "Sinikan! Ini ponselku! Mora, kenapa kamu ganggu aku lagi? Apa masalahmu denganku?" ucap Bella. "Masalahmu, kamu sudah mengganggu kebahagiaanku. Sekarang tak ada lagi yang bisa menolongmu, AA sedang di Jakarta. Dan itu berarti, kamu tak ada yang menjaganya." Bella terus mencoba meminta ponselnya. Namun, Amora melemparnya pada temannya secara bergantian hingga Brak! Ponsel Bella jatuh dan pecah. Bella terpekik histeris, dan Amora hanya menutup mulutnya senang. "Ups! Nggak sengaja! Maaf ya, kita mau pulang dulu. Bye! Awas kamu ngadu, aku akan beri pelajaran lebih menyakitkan daripada ini." Amora pergi dengan senyum kemenangannya. Jika saja ayahnya tak menyuruhnya untuk mematuhi anjuran untuk tak mengganggu Bella, ia pasti sudah mendepak Bella dari kampus ini. Bram mengatakan jika ia harus bersabar untuk mendapatkan Arki. Karena ayahnya sedang menyusun rencana untuk itu. Bella menangisi ponselnya yang hancur. Ia mencoba memungutnya berharap bisa diperbaiki. Bella menaiki motornya menuju konter hp di sekitar kampusnya. "Bang, bisa benerin ponsel aku nggak?" ucap Bella memberikan ponselnya yang rusak. "Coba saya cek dulu ya, Mbak!" Bella duduk sembari menunggu ponselnya yang sedang diperbaiki. Bella berharap, ponselnya tak rusak berat. "Maaf, Mbak! Ponselnya rusak parah, LCD nya pecah, dan mesinnya juga tak lagi bisa diperbaiki. Patah ini, beli aja ponsel yang baru!" ucap pemilik konter. Bella membuang nafasnya berat, uang yang sudah menipis karena belum gajian. Ditambah ponsel rusak, bertambah sedihlah hati Bella. "Tapi kartunya masih bisa digunakan kan, Bang?" tanya Bella. "Kalau kartu tak masalah, tapi alangkah baiknya segera dicek. Takut tak terbaca sim cardnya!" Bella segera pergi ke Cafe setelah ia dari konter tadi. Coki yang melihat kedatangan Bella dengan wajah sendunya, menanyakan akan hal itu. "Kenapa, Bell? Mukanya sedih amat!" Winda yang berada di sebelahnya merasa tak suka dengan perhatian yang diberikan Coki pada Bella. "Ponselku rusak, aku bingung," jawab Bella sendu. "Alah, modus kamu! Bilang aja mau dibelikan ponsel baru sama Rafael. Wanita licik," sungut Winda sinis. "Win!" seru Coki pada Winda. Bella memulai pekerjaannya, ia meletakan tasnya dan memakai celemek serta membawa nampan ke depan. Bella melakukan aktivitasnya seperti biasa. Melayani tamu, dan memberikan pelayanan terbaiknya. Banyak pelanggan yang suka jika dilayani oleh Bella, membuat tak jarang yang memberikan uang tips pada mereka. "Iya, nih orangnya lagi kerja. Bentar!" ucap Coki di telponnya. Ia mendekati Bella dan memberikan ponselnya. "Dari AA!" ucap Coki. "Assalamualaikum, A!" "Waalaikumsalam, hp lo kenapa Kusu? Abang nyariin noh, karena nggak bisa dihubungi. Khawatir dia," ucap Rafael. "Hp Bella jatuh tadi waktu akan ke cafe, terus mati. Belum Bella benerin, nanti ya A. Bilangin sama Abang, maaf nggak bisa telponan dulu!" ucap Bella. "Kok bisa jatuh?" tanya Rafael. "Nggak sengaja, lagi apes ajah! Ya udah, Bella mau kerja lagi. Wassalamualaikum." Bella mematikan panggilan Rafael sepihak. Ia tak mau terlalu membuat khawatir Rafael dan Arki jika ia mengadu ponselnya rusak karena Amora. "Nih, Bang! Makasih ya!" ucap Bella. Bella kembali bekerja dan melayani tamu. Kini, Bella sedang mengantar pesanan coffe latte dan satu gelas lemon tea milik pelanggan. Winda yang menatap Bella tak suka, ingin sekali mengerjainya. Ia majukan kakinya untuk menghalangi langkah Bella. "Aw!" pekik Bella. Bela terjatuh dan menumpahkan jus itu ke lantai. Pecahan gelasnya mengenai tangan Bella hingga ia berdarah. "Ya Ampun, Bella! Kalau jalan lihat-lihat! Banyak orang di cafe, untung nggak mengenai pelanggan minumannya." Winda mendekati Bella dan berpura-pura membantunya berdiri. "Sudah biar aku yang beresin. Kamu bersihkan lukamu," ucap Winda tersenyum sinis. Bella tahu, Winda hanyalah mencari muka dengan Coki. Tadi sepertinya ia melihat tadi, jika Winda yang sengaja melakukannya. Namun, Bella tak tahu itu karena Winda apa bukan. Yang pasti, ia tak ingin membuat keributan dan membuat pengunjung terganggu. "Nggak usah, biar Bella yang beresin!" tolak Bella. Bella pergi ke kamar mandi, mencabut beberapa beling yang menancap di tangannya. Perih! Namun, tak sepedih hatinya hari ini. Setelah membalut lukanya dengan saputangan yang ia bawa di sakunya, ia kembali ke depan untuk membersihkan tumpahan jus tadi. Bella melihat Coki yang sedang membereskannya, membuatnya sedikit tak enak. "Biar Bella aja yang beresin Bang!" ucap Bella sembari meminta pengki dan sapu dari Coki. "Ini sudah Abang bersihkan pecahan kacanya, kamu tinggal pel aja! Lain kali, jangan teledor ya! ini kenapa?" ucap Coki mengangkat tangan Bella. "Nggak papa, cuma luka dikit tadi kena pecahan beling ini!" ucap Bella sambil tersenyum. "Tapi sakit banget nggak? Kalau sakit biar Winda aja yang kerjain." "Nggak terlalu, Bang. Biar Bella aja yang bersihkan, Maafkan Bella atas keteledoran ini!" Bella segera mengambil lap pel untuk membersihkan lantai, ia melirik Winda yang sedang tersenyum licik padanya. Sepertinya tadi Coki tak tahu, jika Winda yang menjahili Bella karena ia sedang di belakang. Jika Coki tahu, Winda bisa habis dimaki Coki. Pekerjaan telah usai, kini Bella hendak pulang ke kosannya. Ia hendak ke parkiran untuk mengambil motornya, tapi ia terkejut saat motor miliknya bannya gembos. Bella menghela nafasnya berat, hari ini benar-benar hari yang sial buatnya. Sudah ponsel rusak, tangan kena beling, motor rusak pula. Coki yang sudah selesai menutup cafe, melihat Bella yang sedang duduk di depan Cafe dan tampak sedang termenung. Winda yang di sampingnya melihat Coki hendak menghampirinya, mencegat dirinya agar tak ke sana. "Mau kemana, Ki?" tanya Winda. "Mau lihat Bella bentar, dia sepertinya ada masalah!" Winda kesal karena usahanya kali ini justru membuat Coki begitu perhatian dengan Bella. "Kenapa, Bell belum pulang?" Bella mendongak pada Coki dan tersenyum. "Lagi apes, Bang! Ban motor Bella kempes!' tunjuk Bella pada motor di depannya dengan dagunya. Coki mendekati motor Bella dan melihat ban depan motornya yang memang gembos. "Abang bantu ke bengkel ya! Deket ini, situ depan!" tawar Coki ramah. "Manja amat sih! Tinggal dorong aja, apa susahnya!" sungut Winda yang nampak kesal dengan perhatian Coki pada Bella yang lebay. "Win! Kamu kalau orang lagi kesusahan itu di bantuin, bukan dibiarkan begitu saja! Siapa tahu, nanti kamu lagi kesusahan ada yang tiba-tiba bantuin. Menolong orang itu ibadah! Jangan menjadi orang yang zalim karena membuat teman menderita sedangkan kita bisa membantunya!" Winda hanya dapat memajukan bibirnya sebal, bukannya dapat untung malahan dapat nasihat kuno dari Coki. Coki membantu mendorong motor sampai ke bengkel, keringatnya sampai keluar bercucuran malam-malam! Winda yang memilih ikut kemana Coki pergi merasa kesal, karena ia juga harus ikut mengikuti Coki dengan membawa motor milik Coki. "Makasih ya, Bang! Semoga Abang bahagia selalu!' Coki mengangguk dan dia pamit pulang memboncengi Winda. Winda sengaja tak membawa motor ke tempat kerjA karena sengaja ingin nebeng Coki. Bella mengendarai motor dengan satu tangannya, beruntung tangan yang terluka parah adalah tangan kiri. Jadi ia masih bisa memegang stir motornya, walau yang terluka sebelah kanan tak parah. Namun, Bella merasakan perih juga. Bella memikirkan hari esok, bagaimana ia akan menulis jika tangan kanannya terluka. Tak terasa, langkah pelan kemudinya membuat ia sampai ke kosan lebih lama. Jam sepuluh malam, ia baru sampai di kosan. Sekarang ia harus absen tak menghubungi Arki, biasanya suaminya itu akan menghubunginya jam sepuluh setelah ia pulang dan sudah mandi. Bella telah selesai mandi, ia melihat langit-langit kamarnya yang terlihat datar. Sedatar dan sehampa dirinya. Jika saja ia tak berurusan dengan keluarga kaya seperti Arki dan Amora, pasti hidupnya sudah tenang dan bahagia karena tak ada yang mengusiknya. Bella mengusap perutnya yang sudah agak membesar, dua bulan lagi pasti dirinya tak lagi dapat bekerja. Sekarang usianya masih lima bulan, itu berarti empat bulan lagi Bella harus mempersiapkan kelahiran anaknya. Untuk sekarang mungkin ia masih bisa menyembunyikan perutnya, tapi jika bulan depan sepertinya tak akan lagi bisa. Bella bingung dan ingin pulang ke rumah miliknya. Mungkin nanti kalau sudah gajian seminggu lagi, kini ia juga harus bersabar untuk bisa membelikan ponsel untuk dirinya. Bella merasa hidupnya merasa sunyi, asing, dan menyedihkan. Hamil seorang diri sangatlah tak enak, banyak yang harus ia tanggung. Terlebih, ia harus menghadapi orang kaya seperti Amora yang berkuasa dan suka melakukan kezaliman padanya. Semakin dirinya melawan, semakin jahatlah dia. Bella sampai bingung jika menghadapi manusia sepicik Amora de luis itu, bahkan orang tuanya sangat mendukung perbuatan jahat anaknya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN