BAB 1 Ghian Fatimah Az-zahra
Pagi selalu datang dengan cara yang sama di kota kecil itu — perlahan, lembut, seperti seseorang yang tak ingin membangunkan mimpi terlalu kasar. Cahaya matahari menyusup melalui sela tirai kamar Ghian Fatimah Az-Zahra, menari tipis di dinding berwarna krem yang sederhana.
Ghian sudah terbangun sebelum alarmnya berbunyi.
Ia duduk di tepi ranjang, merapikan hijab yang masih tergantung di sandaran kursi. Udara pagi terasa dingin, tetapi menenangkan. Ada sesuatu tentang subuh yang selalu membuat hatinya terasa lebih ringan — seolah dunia belum sempat menjadi rumit.
Ghian bukan tipe orang yang tergesa-gesa. Bahkan dalam hal sekecil bangun tidur, ia selalu bergerak tenang. Setelah berwudhu, ia berdiri di sajadah yang sudah mulai memudar warnanya. Sajadah itu hadiah dari ibunya, beberapa tahun lalu. Tidak mahal, tapi penuh makna.
“Allahu Akbar.”
Di antara sunyi pagi, suaranya terdengar lembut. Ghian menutup mata sejenak, membiarkan dirinya tenggelam dalam doa-doa yang tak pernah benar-benar sama setiap hari. Kadang ia berdoa untuk hal besar — masa depan, keluarga, impian. Kadang hanya hal sederhana — ketenangan, kesabaran, kekuatan untuk menjalani hari.
Ghian adalah perempuan yang ramah. Orang-orang selalu berkata begitu tentangnya. Senyumnya mudah muncul, tawanya ringan, dan caranya berbicara jarang membuat orang merasa tidak nyaman.
Namun, seperti banyak hal di dunia, keramahan tidak selalu berarti hidupnya mudah.
Di cermin kamar, Ghian memandangi dirinya sendiri. Hijab abu-abu muda membingkai wajahnya yang teduh. Tidak ada sesuatu yang istimewa menurut standar majalah atau layar televisi. Tapi ada ketenangan di matanya — ketenangan yang lahir dari kebiasaan menerima, bukan menyerah.
Ibunya sering berkata,
"Cantik itu bukan soal wajah, Ghian. Tapi soal bagaimana hati membuat orang betah di dekatmu."
Ghian mempercayai itu.
Di luar, suara motor dan langkah kaki mulai terdengar. Kota kecil itu mulai hidup. Ia mengambil tasnya, memasukkan buku catatan, lalu berhenti sejenak.
Ada satu buku kecil di sudut meja.
Buku dengan sampul polos. Tidak ada judul. Tidak ada hiasan. Hanya kertas yang mulai sedikit kusut di bagian tepi.
Ghian menarik napas.
Buku itu berisi hal-hal yang tak pernah ia katakan pada siapa pun.
Bukan karena ia tidak punya teman. Justru karena ia terlalu ramah, terlalu terlihat baik-baik saja. Orang-orang terbiasa melihat Ghian sebagai tempat bercerita, tempat meminta saran, tempat mencari ketenangan.
Tidak banyak yang bertanya,
"Ghian sendiri bagaimana?"
Ia membuka halaman terakhir.
Tulisan tangannya tampak rapi, tapi sedikit menekan.
"Kenapa manusia sering merasa paling tahu tentang takdir orang lain?"
Ghian menutup buku itu perlahan.
Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, ia akan kembali menjadi Ghian yang dikenal orang-orang — perempuan muslimah yang ramah, yang mudah tersenyum, yang seolah selalu baik-baik saja.
Tak ada yang tahu, bahwa di balik senyumnya, ada pertanyaan-pertanyaan yang terus tumbuh.
Pertanyaan tentang hidup.
Tentang pilihan.
Tentang Tuhan.
Dan mungkin — tentang seseorang yang bahkan belum ia sadari akan mengubah banyak hal.
Ghian melangkah keluar kamar.
Pagi telah menunggunya.
Dan cerita pun, perlahan, mulai bergerak