“Ibu nggak apa-apa, Dys. Mana dia? Katamu dia ikut kesini?”
“Dia masih di mobilnya, Bu,” ucap Gladys.
“Kenapa tak kamu suruh masuk? Apa dia tak mau masuk kesini sampai di dalam mobil terus dan tak turun?”
Gladys tersenyum, ia melirik ke arah Haris yang bingung dengan pembicaraan mereka berdua. “Gladys, sepertinya kalian ada tamu, ya,” kata Haris.
Gladys menoleh ke arah pintu, seorang pria yang datang bersamanya sudah berdiri dan terlihat kaku. Tangannya membawa sesuatu dan tampak kikuk. Ia segera berdiri dan ibunya juga demikian. Meski sakit ternyata ibunya tak menyadarinya.
“Permisi, Bu. Boleh saya masuk?” tanyanya.
Haris tiba-tiba berpamitan pulang dan segera pergi dari rumah. “Bu, maaf Haris pamit pulang saja. Sehat-sehat, ya Bu,”
“Ya, Nak Haris, terima kasih ya sudah bantu ibu tadi,”
“Ya, Bu penting ibu sehat saja dulu,”
Ibunya tersenyum dengan ramah lalu mengajak Mark masuk dan berkenalan. Pria itu meski tadinya berwajah tegang karena ada Haris tapi ibunya berkata kalau tadi pingsan dan dibantu anak tetangganya. Terlihat wajah Mark menjadi rileks dan mulai bisa santai tak setegang tadi.
Haris berjalan keluar dari rumahnya. Langkahnya gontai dan tak bersemangat. Ia sempat melirik ke arah Mark yang sedang berdiri di depan pintu. Mark juga melirik ke arah Haris.
Gladys menjadi tenang lantaran Haris sudah pulang, tapi ternyata Mark meliriknya tajam. Untuk membuat suasana menjadi lebih nyaman, Gladys menyuruh Mark duduk dan mengenalkannya pada sang ibu.
“Bu, kenalkan ini Tuan Mark,” ucap Gladys.
“Jadi, ini Mark yang akan menikah denganmu?”
Ibunya tersenyum, mengulurkan tangan dan ternyata Mark juga membalas senyumannya. Ia juga mencium tangan ibunya. Gladys tak percaya itu karena yang ia tahu, selama ini Mark adalah pribadi yang sangat angkuh dan juga arogan. Ia takut jika bertemu ibunya pria itu akan berlaku kasar tapi ternyata tidak. Mark terlihat begitu bersahabat, ia tersenyum lega melihatnya.
Mereka berbicara selama satu jam lebih dan Mark berpamitan dengan cara yang sopan. Ia ternyata membawa bingkisan cukup banyak untuk ibunya dan Gladys sama sekali tak tahu karena supirnya yang telah membawa semuanya ke dalam rumah saat mereka mengobrol.
“Calon suamimu ternyata orang yang bertanggung jawab. Ibu menyukainya, lanjutkan saja persiapan pernikahan kalian,” ucap ibunya.
“Ibu yakin dia orang yang baik?” tanya Gladys.
Ibunya mengangguk tapi Gladys meragukan ketulusan Mark. Ia masih harus berhati-hati, pernikahan mereka adalah pernikahan yang diatur. Ia bahkan hanya bisa menuruti saja, hanya karena sebuah goresan kecil di mobilnya, ia harus mengorbankan dirinya menjadi istri dari pria angkuh itu.
**
Sehari sebelum pernikahan, Gladys dan ibunya akan di bawa ke paviliun. Haris datang ke rumah saat pagi jam tujuh. Ia membawa makanan yang katanya untuk sarapan Bu Saritem dan Gladys.
“Mas Haris, memangnya sudah bekerja kok banyak betul makanan yang dibeli?” tanya Gladys.
“Alhamdulillah, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan. Semoga saja bisa lanjut dan menjadi karyawan yang disiplin karena perusahaan itu terkenal dengan aturannya yang sangat ketat,”
“Syukurlah kalau begitu,” ucap Gladys.
Haris menatapnya, lalu tangannya maju ke depan untuk mengusap bibirnya. “Ada nasi di bibirmu, maaf aku ambil karena kamu tidak menyadarinya,”
Gladys sebenarnya sangat kaget karena tangan Haris tiba-tiba menyentuh bibirnya dan ia terlonjak karenanya.
“Iya, Mas. Nggak apa-apa,”
Sejujurnya jantung Gladys berdegup kencang, ia pun segera menyudahi sarapannya dan beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Teh hangat buatannya selalu di puji enak kata Haris, tak di pungkiri kalau ia menjadi senang meski tak memiliki perasaan apa-apa.
Pertemuan hari ini menjadi pertemuan terakhir mereka. Ibunya ternyata tak bercerita apapun pada Haris sampai keduanya kini sudah berada di paviliun. Gladys mengagumi tempat itu. Namun, seorang pelayan memastikan kalau mereka memang akan tinggal disana.
“Nona yakin tinggal disini?” tanya pelayan itu.
“Ya, Tuan Mark yang meminta kami datang kesini,” ucap Bu Saritem.
Pelayan itu langsung pergi dan tak mengatakan apa-apa lagi setelah tahu mereka benar-benar tinggal dan menetap di paviliun.
“Tempat ini bagus, ya Dys. Suamimu benar-benar sangat kaya, Ibu yakin kalau kamu nanti akan hidup bahagia bersamanya,”
Gladys hanya terdiam, seyakin itu ibunya melihat pernikahannya. Ia masih ragu, hanya beberapa bulan saja dan ia juga sudah mempersiapkan segalanya dengan baik. Termasuk hatinya nanti agar tak mencintai pria itu. Meski nanti tinggal bersama namun, Gladys tak ingin kalau ia sampai jatuh cinta pada pria angkuh itu.
“Dys, suamimu datang,” ucap ibunya.
Gladys menoleh, benar saja pria itu memang datang dan memastikan dirinya dan juga ibunya telah sampai di tempat ini dan besok ia akan menikah.
“Pelayan akan mengantar pakaian kalian malam ini. Oh, ya Bu nanti malam datanglah ke ruang makan dan kita akan makan malam disana bersama seluruh keluarga kami,”
Bu Saritem tersenyum, “Ya, Nak. Kami akan datang, insya Allah,” jawab Bu Saritem penuh dengan rasa haru.
Gladys hanya diam dan menatap wajah pria angkuh itu. Ia tetap mengikuti apa maunya tapi tetap tenang dan tak merasa tersanjung atas sambutan seluruh keluarganya.
**
Makan malam yang cukup indah, Gladys melihat seluruh anggota keluarga yang hadir adalah orang-orang yang berkelas. Ia menjadi minder dan tak mau mendongak melihat satu persatu wajah-wajah yang hadir di ruang makan keluarga ini.
Gladys diperkenalkan Mark sebagai calon istrinya, seluruh keluarga menatapnya dengan tatapan yang beraneka ragam.
Besoknya, ia benar-benar harus bersiap-siap mulai dari subuh. Nyonya Garneta datang menghampirinya. Gladys menjadi gugup lantaran belum pernah sama sekali mengobrol berdua saja dengan wanita anggun itu. “Apa aku melewatkan sesuatu sehingga tak tahu kalau ternyata kamu anak yatim?” tanyanya.
“Ya, Nyonya. Aku anak yatim dari kecil Ayahku meninggal,” jawab Gladys.
“Baiklah, tapi ibumu berjuang dengan sangat keras untuk membuatmu menjadi gadis yang pintar mencari pria kaya seperti putraku,” ucapnya dengan sangat lembut.
Gladys merasa tersudutkan, tak mengira jika orang tua Mark begitu posesif terhadap putrinya dan mengira ia akan mencari hartanya saja. “Dia yang mencari ku sebagai istrinya, memilihku dengan cepat, Nyonya. Maaf kalau aku tak sesuai harapanmu,”
Untung saja ibunya sedang mandi dan tak mendengar obrolan mereka. Ia mengira wanita anggun ini mendekatinya dan telah merestui dirinya menjadi menantu di rumah ini. Tapi, nyatanya tidak. Ia malah dikira hanya mencari hartanya saja.
Wanita itu menatapnya tajam, memegang kedua bahunya dan mengatakan sesuatu yang cukup mengerikan. “Aku harap, Mark tidak kamu guna-guna sehingga ia harus salah pilih seperti sekarang ini. Seleranya menurun begitu bertemu denganmu,”
Gladys merasa kesakitan, bahunya di cengkeram kuat dan ia tak bisa melawannya atau berteriak. Ia memilih diam karena takut ibunya mendengar dan minta pulang dengan cepat. Perjanjian dengan Mark adalah tanggung jawabnya. Ia tak mau menyalahi apa yang sudah di janjikan dan perjanjian di atas materai telah ia tanda tangani dengan sangat sadar kala itu.
Dua jam setelah itu, acara ijab kabul dimulai dan Gladys merasakan hidupnya menjadi berubah saat ia melihat ibunya menangis sedih karena ia menikah tanpa didampingi Ayahnya. “Bu, jangan menangis. Gladys akan baik-baik saja,” ucapnya.
Ibunya mengangguk dan memeluknya. Pernikahan mereka telah disahkan, Gladys dan juga Mark mendapatkan masing-masing buku nikah karena keduanya menikah secara resmi. Beberapa tamu undangan yang datang berdecak karena Mark mendapatkan istri secantik Gladys. Namun berbeda pandangan dengan Nyonya Garneta, Mama mertuanya. Wanita itu selalu meliriknya tajam dan tak merasa senang meski kini ia sah menjadi istri Mark.
Saat akan berjalan ke paviliun, Mark menahan tangannya dan memintanya tidur di rumah utama. “Kamu ikut aku ke kamar pengantin,” katanya.
Gladys terhenyak kaget, ia menelan ludah. “Kita tidur bersama?” tanyanya.
Ibunya mendengar dan tersenyum, “Kalian sudah sah menjadi suami istri. Tidurlah bersama suamimu,”
“Ta-tapi, Bu ... Ibu akan sendirian di paviliun,” ucap Gladys.
“Ibu akan terbiasa sendiri, pergilah ikuti kata suamimu!”
“Bu ...”
Gladys berkaca-kaca matanya dan merasa sedih, ia tak tahu kalau Mark memintanya tidur bersamanya di kamar pengantin yang telah disediakan. Di kamar, ia protes pada Mark. “Aku kira hanya menikah saja dan tak perlu tidur bersama di kamar ini,”
Mark melemparinya sebuah pakaian mini dan transparan. “Pakai ini dan jangan banyak mengeluh. Aku sudah berkenalan dengan ibumu dan ia menyukaiku. Jadi, aku bebas melakukan apa yang aku mau termasuk denganmu yang sudah sah menjadi istriku,”
Gladys menolaknya dan tak mau melakukan apa yang diminta pria itu. Mark datang dan mengelus rambutnya. “Aku sepertinya akan mencoba menyentuhmu karena kau begitu menarik kalau lama-lama dilihat,” ucapnya.
“Ini tidak sesuai perjanjian, tolong jangan lakukan ini padaku! Aku sudah mengorbankan hidupku dengan menjadi istri sewaan mu!”
Mark menatapnya, pancaran bola matanya begitu indah, Mark keturunan orang asing. Matanya yang biru membuat jantung Gladys berdebar. “Lambat laun kau akan tahu betapa menyenangkannya disentuh seorang pria. Sekarang pakai ini dan tidurlah. Aku hanya mengetesmu saja,”
Mark membuka seluruh pakaian pengantinnya. Lalu pergi tidur dan terdengar dengkuran halus. Sepertinya ia sangat kelelahan. Gladys menjadi tenang karena ia tak perlu berdebat panjang lebar mengenai malam pertama mereka.
Pria itu membuatnya menjadi kesal. Gladys mengganti gaun pengantinnya dan segera tidur setelah selesai memakai pakaian mini dan terawang. Ia jijik melihatnya di cermin.
“Wanita ini menjijikan sekali!” keluhnya.
“Aku malah menyukainya, kamu ternyata memiliki tubuh yang indah,”
Gladys menoleh pada pria yang tengah duduk di atas tempat tidur pengantin. Ia terkejut karena mengira pria itu tidur. Padahal tadi ia melihatnya sudah mendengkur halus dan ternyata ia tengah menatapnya.
Dilihatnya ada selimut yang cukup lebar dan ia hampir meraihnya tapi Mark ternyata lebih cepat menarik selimut itu dan tertawa.
“Aku hanya ingin memandang tubuh istriku yang ternyata sangat molek dan indah. Sayang untuk dilewatkan,” katanya.
Gladys menangis, ia merasa belum siap bahkan ini bukan bagian dari rencana mereka. “Aku memenuhi semaunya tapi tidak untuk memberikan yang selama ini aku jaga,” ucap Gladys dengan sungguh-sungguh.
Mark terlihat emosi, sehingga ia turun dari tempat tidur dan berdiri. Mark berjalan mendekatinya. “Tapi, kali ini sepertinya aku berubah pikiran.” ucap Mark sambil meraih tubuhnya.