Haris datang ke rumah Gladys dan mendapati rumah itu kosong tak berpenghuni. Teras rumah yang kotor membuat ia yakin kalau Gladys dan ibunya tak berada di rumah. Kata tetangga bilang kalau mereka pergi dan tak mengatakan apa-apa.
“Mungkin pergi ke desa, setahu kami ibunya Gladys memang memiliki saudara di desa,” kata tetangga Gladys.
“Oh, begitu. Baik Bu, terima kasih atas informasinya. Permisi,”
Haris pergi dan berangkat ke kantor. Ia memandangi sarapan nasi uduk yang ia bawa sebanyak tiga bungkus. Rencananya ingin makan bersama Gladys. Gadis itu telah ia incar sudah cukup lama dan berniat melamarnya. Tapi, baru kali ini ia memberanikan diri untuk mengatakannya karena baru bekerja dengan tetap meski baru berapa minggu.
“Hai! Kamu Haris, ya?”
Haris menoleh pada wanita yang memanggilnya, wanita itu tersenyum dan memberikan beberapa map untuknya.
Sambil menepuk-nepuk map itu, wanita itu memintanya untuk mengerjakan semuanya.
“Tolong kamu kerjakan ini semuanya, ya? Aku mau siang ini sudah selesai,”
“Baik, Bu,”
Haris menerimanya dan langsung mengerjakan hingga siang pukul sebelas semuanya telah selesai. Hanya ada tiga map dan ia bisa duduk meneguk kopi hangat yang baru saja ia buat di pantry.
“Haris. Siang nanti bisa ikut aku?”
“Kemana, Bu?” tanyanya.
Wanita itu kembali dengan senyuman hangat dan menyapanya lagi. Entah karena ramah atau apa tapi yang jelas, Haris kini jadi sorotan orang-orang di sekitarnya yang kerap didekati oleh atasannya.
“Ada meeting di luar dan aku ingin kamu menemaniku sebentar saja. Bisa, kan?”
Haris melirik ke arah samping, ingin menjawab namun ragu. Atasannya itu akhirnya mengatakan kalau ia harus tetap ikut. Hingga siangnya, Haris benar-benar ikut dan kini sedang bersama dengan beberapa orang yang ikut meeting. Ia mulai tahu bagaimana orang-orang saling bertemu di suatu tempat membicarakan tentang pekerjaan dan bisnis mereka di luar.
“Nanti kita sekalian makan siang, ya Ris, kamu belum makan juga, kan?”
“Iya, Bu,”
Atasannya begitu perhatian padanya dan selalu bertanya padanya sudah makan atau belum. Di kantor juga seperti itu. Haris tak enak dengan yang lainnya karena ia tak pernah melihat senyum ramah mereka semenjak Bu Arin atasannya ini mendekatinya secara intens.
“Ris, kok bengong? Aku tanya kamu mau makan apa? Ini menunya spesial, lho,” ucapnya lagi.
Haris memilih salah satunya dan mereka mengobrol tentang banyak hal dengan para klien yang datang.
**
Sementara itu, Mark tengah tidur dengan pulas. Ia meletakkan kedua tangannya di atas dadanya dan tidur dengan mendengkur halus. Sedangkan Gladys, wajahnya sembab karena menangis semalaman. Mark mengerjainya habis-habisan. Berpura-pura akan menodainya padahal tak dilakukannya.
Air matanya masih membasahi pipi dan ia beranjak dari tidurnya. Memandangi pakaiannya yang koyak semalam akibat ditarik Mark. Pria itu benar-benar beringas tapi ternyata yang dilakukannya semata-mata hanya mengerjainya saja.
Gladys memandang keluar jendela dan melihat ada sekumpulan rusa berjalan di antara beberapa hewan lainnya. Ia baru tahu kalau mereka tinggal di atas bukit yang merupakan milik pribadi dari keluarga Mark. Semalam saat pulang kesini, jalanan begitu gelap dan tak memandang sekitarnya.
Kakinya terasa sakit dan melihat darah mengalir dan ada yang membeku. “Aw, sakitnya,”
Ia berjalan terpincang menuju keluar kamar, ruangan ini begitu luas dan ketika sampai di ruang makan dilihatnya meja panjang dan kursi dengan beberapa jumlahnya mengisi ruangan ini.
Gladys melihat ada banyak makanan di atas meja makan. Seorang pelayan mendekat padanya. “Nona,” panggilnya.
Gladys menutupi wajahnya dengan handuk kecil. Ia tak mau pelayan itu melihat dirinya dalam kondisi yang buruk, wajah sembab dan menyedihkan.
“Ada apa?”
“Makanan ini dikirim oleh Nyonya Besar, Anda dan Tuan Mark diminta sarapan dengan semua makanan ini,”
“Ini cukup banyak, apa kalian sudah makan?” tanyanya.
“Sudah, Nona Gladys,”
Gladys tersenyum, namanya disebut dan mereka sudah tahu siapa dia. Dengan segera ia duduk dan menyantap makanan yang dihidangkan. Namun, ia teringat akan ibunya dan berharap bisa berkomunikasi dengannya.
Gladys menyantap dengan lahap dan tak tahu kalau Garneta, ibu dari Mark tengah berjalan dan memperhatikannya. “Aku harap kamu tidak membuat putraku nanti bangkrut dengan menikahi mu,” ucapnya.
“Ma,”
Gladys terhenyak kaget, ia tak menyangka jika tengah dipandangi dari jauh oleh Mama mertuanya.
“Mark mana?”
“Masih tidur, Ma,”
Wanita itu duduk dan terus menatapnya. “Apa yang dia lakukan sampai kamu seperti ini?” tanyanya.
Gladys menutupi luka di lengannya. Terlihat luka dan kena gores. “Aku jatuh di dekat jendela,” ucap Gladys beralasan.
“Ckck ... Kalian bermain begitu keras sampai lupa kalau ini hari apa?”
“Memangnya hari apa, Ma?”
“Tunggu sampai Mark bangun dan dia pasti akan ingat ini hari apa,”
Mama mertuanya berdiri dan meninggalkannya sendirian. Gladys menyudahi sarapannya dan masuk ke kamar. Mark, pria yang menjadi suaminya kini tengah berdiri memandang rusa yang mendekatinya. Ia memberikan mereka makan dan Mark menoleh padanya.
“Dari mana kamu?” tanyanya.
“Dari ruang makan, a-aku sarapan,”
“Dengan keadaan seperti itu?”
Gladys mengangguk, ia duduk dan merapikan selimut serta sprei tempat tidurnya.
“Besok kita pindah ke rumah pribadiku,”
“Lalu, ibuku bagaimana?”
“Ibumu akan pulang, tak baik jika mertua ikut dalam satu rumah dengan kita,”
“Apa tidak bisa kalau ibuku ikut? Beliau tidak akan membuatmu repot,”
“Tidak! Aku tak mau, sebaiknya kau bicarakan ini dengan ibumu dan aku akan memberi pengertian agar ibu mau tetap diam dan tak mengatakan pada siapapun kalau kita menikah,”
Gladys menggelengkan kepalanya, “Ini tidak mungkin, Ibuku adalah segalanya, jadi tak mungkin aku membiarkan sendirian di rumah,”
Gladys bersikeras menyuruh Mark tetap membawa ibunya ke rumahnya yang baru. Mark menghampirinya. Disentuhnya bibir yang tengah terdiam karena ditatap oleh Mark.
“Baik, jika itu maumu! Ayo, berikan kewajibanmu sebagai istri, baru kuijinkan membawa ibumu!”
Gladys berkaca-kaca, ia tak menyangka pria itu akan memintanya lebih dari apa yang telah mereka rundingkan sebelum hari pernikahan.
**
Sorenya, Arin datang ke rumah dan bertemu Garneta. “Mama ... Pengantin barunya dimana ini? Kok sepi?”
“Entah! Aku sedang pusing,” ucap wanita anggun nan bersahaja itu.
“Pasti betah di dalam kamar, mereka begitu serasi, tapi sayang kenapa Mark mencari istri yang tak sepadan dengannya?”
Garneta menoleh pada Arin, gadis ini jauh lebih cerdas ketimbang menantunya. Ia sebenarnya berharap banyak Arin menjadi menantunya. Lulusan luar negeri yang sepadan dengan Mark dan pekerjaan yang cukup baik di karirnya sebagai gadis berkelas.
“Seharusnya dia mendapatkan istri yang cantik lagi menarik dan berpendidikan.”
Garneta akhirnya mengeluarkan keluh kesahnya, Arin menyukainya. Ia mulai mengorek isi hati wanita yang masih cantik di usia 45 tahun ini.
"Mama benar-benar tidak menyukainya?" tanya Arin serius. ia mendekati dan duduk dengan membelai rambut wanita cantik itu.
Garneta wanita yang selalu terlihat sempurna bahkan ia harus merawat dirinya sebaik mungkin agar Smith menyesal telah menceraikannya. Tapi, ternyata pria itu telah mampu menghilangkan namanya dari hatinya dengan menikahi wanita asal Inggris dan dikaruniai dua orang anak. Agak menyesal juga karena Smith ternyata lebih mementingkan keluarganya ketimbang dirinya sebagai mantan istri. Smith meninggalkan harta yang cukup berlimpah untuk kedua orang tuanya yang akan diwariskan pada Mark sebagai ahli waris tunggal.
Garneta sedang memutar otaknya agar ia mendapat sedikit bagian harta itu. Arin tersenyum saat Garneta sedang memikirkan sesuatu. "Pertanyaanmu sudah kujawab tadi, tak perlu aku mengulangnya," ucap Garneta.
"Tapi, Mark memilihnya, Ma,"
"Yah, kita lihat saja nanti. Kulihat dia berasal dari orang biasa yang tak memiliki harta atau pun terpandang. Mark seharusnya melirik wanita yang lebih cerdas dan tentunya menarik," kata Garneta. Saat mengucapkannya, Gladys terlihat lewat di depan mereka dan keduanya cuek karena tak ingin beramah tamah dengan Gladys.