Bad news

2483 Kata
Donny Gu? Yang Lee dengan cepat mengangkat telpon Yin Lee. "Halo?" sapa Yang Lee. "Halo, Yin Lee. Jackie Chan barusan menghubungiku. Baiklah, besok aku dan dia akan menjemputmu dan juga Yang Lee. Kita pergi bersama dan jangan lupa janjimu untuk mengajariku," ujar Donny Gu. Yang Lee terkesiap. Yin Lee mengajari Donny Gu untuk apa? Bukankah Donny Gu adalah pria yang berprestasi di sekolah lamanya? Ada apa ini sebenarnya? "Halo? Yin Lee? Apakah kau masih di sana?" tanya Donny Gu. "Eh, iya!" Yang Lee menjawab spontan. "Baiklah, aku hanya akan bilang itu aja. Ok, sampai besok ya?" "Eh, iya!" Yang Lee pun menutup panggilannya. Ia duduk di tepi ranjangnya sambil berpikir. Dari mana Yin Lee bisa mendapatkan nomor telepon Donny Gu? Ia saja tidak memilikinya. Dan dari cara bicara Donny Gu, keliatannya ini bukan pertama kalinya mereka saling berkomunikasi. Oh tidak! Yin Lee tidak mungkin sedekat itu dengan Donny Gu, 'kan? Hati Yin Lee seperti teriris membayangkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi. "Meí! Ayo, turun!" Suara Yin Lee membuat Yang Lee terkejut dari lamunannya. Ia dengan cepat bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar. Di pertengahan tangga, Yin Lee tampak tersenyum sambil menunggunya turun. "Ayo, kau ini lama sekali! Makanlah dan jangan sampai kau kekurangan energi untuk besok," ujar Yin Lee sambil naik dan menarik tangan Yang Lee. Wajah Yang Lee masih tidak bisa menunjukkan senyuman. Hatinya merasa pahit karena sang kakak menyembunyikan sesuatu darinya, sesuatu yang berhubungan dengan Donny Gu. Yin Lee menarik tangan Yang Lee ke meja makan. Sang ibu yang melihat ekspresi Yang Lee jadi merasa aneh. "Wajahmu kenapa, Sayang? Bukankah besok kau akan ikut kompetisi? Yin Lee bilang, Donny Gu dan Jackie Chan akan menjemput kalian besok pagi, apakah itu benar?" tanya Veronica Wu. "Entahlah, coba tanya langsung aja ke Yin Lee," jawab Yang Lee masa bodoh! "Loh, kok?" Wajah Veronica Wu jadi terkejut mendengar jawaban ketus anaknya. Dan, bukan hanya Veronica Wu, tapi juga Yin Lee. "Meí, kau kenapa?" tanya Yin Lee bingung. "Tidak papa, lupakan saja!" jawab Yang Lee tanpa menatap ke kakaknya. Ia pun dengan asal memasukkan nasi ke dalam mulutnya dan makan secara sembarangan. Yin Lee dan Veronica Wu saling berpandangan, tidak paham dengan apa yang terjadi. Sambil masih memperhatikan sang adik, Yin Lee pun ikut makan. Tidak ada percakapan yang terjadi sepanjang itu sampai acara makan siang selesai. Yang Lee membereskan makan siangnya lalu bergegas naik ke atas dan memainkan pianonya. Suara piano Yang Lee begitu penuh perasaan, membuat hati Yin Lee dan Veronica Wu jadi tersentuh. "Kenapa dengan adikmu, Yin?" tanya Veronica Wu. Yin Lee mengangkat bahu. Ia benar-benar tidak tau apa yang membuat Yang Lee jadi aneh seperti itu. "Aku akan naik dan berbicara dengannya," ujar Yin Lee. Veronica Wu mengangguk. Yang Lee masih terlihat asyik bermain sampai sang kakak datang dan berdiri di sisi pianonya. "Meí, kau kenapa?" tanya Yin Lee hati-hati. JRENG!!!! Yang Lee menekan semua tuts pianonya dengan keras, membuat Yin Lee kaget bukan kepalang. Ia seketika memegangi jantungnya yang hampir lepas. Yang Lee menatap sang kakak penuh intimidasi. "Meí, ada apa sebenarnya? Apakah kau marah padaku? Gara-gara apa?" tanya Yin Lee bingung. Sebelumnya hubungan mereka baik-baik saja bahkan mereka juga sempat berpelukan. Namun, kenapa tiba-tiba begini? Yin Lee benar-benar tidak paham. "Apakah kita ini saudara kembar?" tanya Yang Lee sambil menatap tajam sang kakak. "Kenapa kau tanyakan itu? Tentu saja kita ini saudara kembar," jawab Yin Lee sambil mengangguk. "Benarkah?" Yang Lee menatap sinis ketika mendengar kalimat kakaknya. "Katakan, apakah aku pernah menyimpan rahasia darimu?" tanya Yang Lee. Yin Lee jadi terkesiap mendengar pertanyaan adiknya. Apa arah dari pertanyaan Yang Lee ini? "Ehm ... tidak," jawabnya. "Tidak? Apakah kau yakin?" tanya Yang Lee memastikan. Yin Lee mengangguk. "Lalu, kenapa kau menyimpan rahasia dariku?" tanya Yang Lee lagi. "Ak-aku?" Yin Lee nampak gugup ditanya seperti itu. Yang Lee terus menatap kakaknya, menunggu jawaban. "Rahasia apa yang kau maksud, Meí?" tanya Yin Lee. "Jadi kau tidak mengakuinya?" tanya Yang Lee lagi. Yin Lee jadi cemas dalam hati, apa yang sebenarnya ingin Yang Lee ketahui darinya? "Aku ... tidak merasa menyimpan rahasia apapun darimu, Meí. Semisal adapun, kau pun tau bahwa aku melakukannya untuk kebaikanmu, seperti, kejutan ulang tahun dan semacamnya. Sama sekali tidak untuk membohongi dirimu," jawab Yin Lee dengan mimik serius. "Oh, benarkah?" Yang Lee tertawa sinis. "Baiklah, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi kalau begitu," ucap Yang Lee dan ia pun kembali memainkan pianonya dan menyanyikan chorus dari lagu milik Imagine Dragon yang berjudul "Bad liar." Yin Lee masih terpaku di tempatnya, ia belum sepenuhnya paham dengan ucapan Yang Lee yang menurutnya sangat membingungkan. "Meí ....!" Yang Lee makin mengeraskan suaranya dan tidak memberi kesempatan Yin Lee untuk berbicara, sampai akhirnya Yin Lee menyerah dan ia pergi lalu masuk ke dalam kamar. Ia duduk di tepi ranjang sambil menutup wajahnya menggunakan dua tangan. Sebagai saudara kembar, ia bisa merasakan bahwa Yang Lee mungkin sudah curiga tentang Donny Gu. Lalu bagaimana? Haruskah ia menceritakan semuanya? Bagaimana jika Yang Lee malah salah paham dan curiga yang bukan-bukan? Ah! Yin Lee semakin galau. Ia lalu mengambil ponselnya dan tanpa sengaja ia membuka aplikasi line chat. Di sana muncul history call dari Donny Gu pukul satu lebih tadi siang. Yin Lee mengerutkan keningnya. Ia tidak merasa mengangkat telpon dari Donny Gu lagi setelah panggilannya yang terakhir. Dengan rasa penasaran, Yin Lee pun memutuskan untuk mencari kebenarannya kepada Donny Gu. Baru saja nada panggilan berbunyi satu kali, telinga Yin Lee langsung bisa menangkap suara Donny Gu. "Halo, Yin Lee?" sapa Donny Gu. "Eh, hai, Donny Gu," balas Yin Lee. Donny Gu masih menunggu kelanjutan kalimat Yin Lee. "Ehem! Hanya itu? Jangan bilang kau sedang merindukan suaraku, Yin Lee," ujar Donny Gu ketika melihat Yin Lee hanya diam saja. "Eh, apa? Tidak! Sama sekali tidak! Bicara apa kau ini!" Yin Lee jadi memerah wajahnya dituduh seperti itu. "Kalau begitu, katakan, apa alasanmu menelponku?" tanya Donny Gu lagi. "Oh ya! Itu emm ... aku hanya ingin bertanya, apakah kau tadi menelponku sekitar jam satu?" tanya Yin Lee. Donny Gu langsung tertawa mendengarnya. "Astaga! Yin Lee setelah menjadi gadis labil, jangan bilang kau juga terkena amnesia!" ujar Donny Gu sambil berusaha berhenti tertawa. "Donny Gu. Aku serius. Katakan, apakah kau tadi menelponku sekitar jam satu?" ulang Yin Lee dengan nada serius. Donny Gu yang masih tertawa perlahan mulai menguasai dirinya. "Yin Lee, katakan, apakah kau serius tidak mengingatnya?" Kali ini, nada Donny Gu tak kalah serius. "Aku tidak merasa mengangkat panggilan darimu di jam segitu," jawab Yin Lee sungguh-sungguh. Hening! "Baiklah, besok setelah selesai kompetisi, aku akan membawamu ke dokter rekanan ayahku yang ada di Lincang! Aku khawatir kau mengalami gejala Alzheimer," ucap Donny Gu serius. "Astagaa! Donny Gu! Bukan seperti itu!" Yin Lee jadi uring-uringan didoakan terkena penyakit Alzheimer. "Hm, sebaiknya jaga emosimu, Yin Lee. Itu tidak baik untuk kesehatanmu," saran Donny Gu lagi. "Ya, Tuhan!" Yin Lee menggelengkan kepalanya mendengar Donny Gu menganggapnya terkena penyakit serius itu. Ia pun lalu menutup panggilannya sepihak. Dan, betapa terkejutnya ia melihat Yang Lee sudah berdiri di depan pintu entah sejak kapan. "Meí, kau--" "Tidak perlu menjelaskan apapun," ucap Yang Lee sambil mengangkat tangannya seolah dia tidak ingin mendengar penjelasan Yin Lee. "Mei! Kau salah paham denganku. Jika kau berpikir bahwa aku dan Donny Gu--" "Sudah kubilang tak perlu menjelaskan apapun! Kau dan aku memang saudara kembar dan sangat wajar jika kita memiliki selera yang sama dalam hal pria, bukan?" Yang Lee berkata sambil tersenyum sinis. Namun, dibalik senyum sinisnya, ia merasa patah hati. Lagi-lagi, ia kalah dari kakaknya itu. Donny Gu lebih memilih untuk dekat dengan Yin Lee dibanding dengan dirinya. "Tidak, Mei! Aku sama sekali tidak tertarik dengan Donny Gu, jika itu yang kau pikirkan," sahut Yin Lee dengan nada serius. "Yeah, tentu saja, kau pun bahkan bisa membaca pikiranku, bukan? Sungguh menyebalkan menjadi seorang yang memiliki saudara kembar," ucap Yang Lee dan wajahnya mulai dibasahi oleh airmata. Ia lagi-lagi merasa frustrasi dan sendiri! Semua hal yang bisa membahagiakannya selalu saja hancur jika itu ada Yin Lee. Mulai dari nilai akademik sampai urusan pria. Ia benar-benar tidak memiliki sebuah kesempatan menang sekalipun, jika itu melawan sang kakak. "Mei." Yin Lee jadi iba melihat adiknya menangis. Ia duduk di sisi Yang Lee yang menutup wajahnya. Perlahan tangannya memeluk sang adik penuh rasa sayang. "Kau boleh memilikinya, kau boleh memiliki semua yang aku suka, Yin Lee," ujar Yang Lee sambil menangis. Ia menatap kakaknya itu dengan tatapan pasrah. "Tidak, Meí! Aku takkan mengambil apapun darimu! Aku bahkan rela memberikan milikku untukmu. Aku ingin kau bahagia, Mei!" balas Yin Lee sungguh-sungguh. "Itu takkan terjadi!" jawab Yang Lee. "Yang menjadi milikmu akan tetap jadi milikmu, sementara yang jadi milikku bisa menjadi milikmu," ucap Yang Lee sambil menatap kakaknya. Yin Lee menggeleng dengan wajah sedih. "Tidak, Meí! Kita ini saudara kembar, bukan? Kita selalu berbagi hal apapun! Kau bisa memiliki apa yang jadi milikku dan aku takkan mengambil apa yang jadi milikmu!" ucap Yin Lie. Yang Lee tidak menjawab, ia masih saja menangis dengan sedih. Baginya semua ucapan Yin Lee itu omong kosong! Apa yang menjadi milik Yin Lee takkan pernah bisa menjadi miliknya sejak kedua orang tua mereka menjadikan nilai akademik sebagai ukuran kasih sayang. Keduanya tidak lagi berbicara dan larut dalam perasaan masing-masing, sampai akhirnya Yang Lee perlahan berhenti menangis. Keduanya masih duduk berdampingan. "Aku tau kau tidak butuh klarifikasi, Meí. Namun, aku hanya ingin kau tau bahwa Donny Gu dan aku, kami hanya berhubungan karena pelajaran. Dia membutuhkan bimbinganku soal bahasa Inggris, hanya itu," ujar Yin Lee. Yang Lee masih menatap lurus ke depan tanpa ekspresi sama sekali. Yeah, apapun alasan yang diberikan oleh Donny Gu, semuanya bisa dikarang, bukan? Demi untuk dekat dengan sang kakak apapun bisa dilakukan. Yin Lee saja yang terlalu polos dan jarang bergaul. "Baiklah, aku mengerti," jawab Yang Lee. Ia enggan berdebat dengan Yin Lee. Lagipula, Donny Gu adalah manusia bebas, ia berhak mencintai siapapun yang ia ingini. "Jadi, aku masih mendukungmu untuk menjalin hubungan dengan Donny Gu, bagaimana?" Yin Lee tersenyum penuh ketulusan. Dan, demi menyenangkan hati sang kakak, Yang Lee pun ikut tersenyum. "Aku juga inginkan Jackie Chan," imbuh Yang Lee membuat Yin Lee tertawa. "Wah, kau ini serakah juga!" ujar Yin Lee sambil tertawa. Lalu, ia pun memeluk Yang Lee dengan erat. "Yeah, tentu saja kau boleh memiliki keduanya, Donny Gu dan juga Jackie Chan. Mereka sangat pantas menjadi pasanganmu," ucap Yin Lee sungguh-sungguh. "Benarkah? Lalu, kau sendiri bagaimana?" tanya Yang Lee. "Aku? Aku akan bahagia hanya dengan melihatmu bahagia, itu saja!" "Ah! Jangan gombal, kau!" Yang Lee menyenggol bahu sang kakak. "Eh, aku serius!" Yin Lee balas menyenggol bahu adiknya. Akhir kata, keduanya saling senggol dan berakhir dengan canda dan tawa kembali. *** Malam itu, Yang Lee kembàli sulit tidur. Sekalipun ia sudah berusaha untuk menerima semua ucapan kakaknya, tapi dalam hati ia pun menyadari bahwa Donny Gu ternyata lebih memilih Yin Lee daripada dirinya. Harapan satu-satunya sekarang adalah kompetisi ini! Jika besok ia menang, maka kebanggaan itu adalah miliknya seorang yang mungkin tidak bisa direbut oleh siapapun! Yang Lee terjaga sampai pagi, pikirannya kalut dan tegang menghadapi hari penting dalam hidupnya. Jam di dinding menunjuk di angka lima dan Yang Lee bangun serta bersiap. Ia menunggu sampai Yin Lee juga bangun. "Mei? Kau sudah bangun?" tanya Yin Lee sambil mengucek matanya. Yang Lee tersenyum dan mengangguk. "Baiklah kalau begitu aku juga akan bersiap," ujar Yin Lee bersemangat. Ia segera ke kamar mandi dan bergegas. Setelah selesai, tanpa dipanggil oleh Veronica Wu, keduanya turun dengan pakaian yang sudah rapi. "Wow! Kalian sudah bersiap rupanya," ujar sang ayah yang sudah berada di meja makan. "Ya, Papa," sahut Yin Lee dan Yang Lee bersamaan. "Ehm, begini anak-anak. Paman Andy Gu kemarin memberi tahu bahwa Donny Gu mungkin tidak bisa ikut acara makan siang, jadi kalian tidak diharuskan untuk ikut. Ini mungkin akan jadi pertemuan para orang dewasa," ujar Brendan Lee hati-hati. Ia takut kedua anaknya merasa kecewa karena mendapat kabar yang mendadak. "Yeah, tidak masalah, Papa. Donny Gu nanti akan mengajak kami pergi sendiri katanya," ujar Yin Lee dengan semangat, membuat Brenda Lee mengerutkan keningnya. "Apa maksudnya?" tanya Brendan Lee tidak paham. "Maksudnya, Donny Gu pukul delapan nanti akan kemari," ujar Yin Lee lagi. Sementara itu, Yang Lee kembali panas hati mendengar cara sang kakak memanggil nama Donny Gu. Seolah, Yin Lee merasa sudah memiliki pria itu! Hhh! Sungguh menyesakkan! "Oh ya? Jadi, kalian berdandan rapi ini adalah untuknya?" tanya Brendan Lee tak percaya. Mendengar pertanyaan sang ayah, yang berani mengangguk hanya Yin Lee. Sementara Yang Lee hanya diam saja. Veronica Wu ikut tersenyum. "Sudahlah, biarkan saja urusan anak-anak ini. Kita sudah ada urusan sendiri, bukan?" Veronica Wu berusaha menyudahi percakapan sensitive ini. Siapa yang bisa menebak hati Brendan Lee? Suaminya itu bisa saja tiba-tiba marah karena merasa dikerjain oleh anak dari sahabatnya. "Yeah, kau benar, Sayang!" Brendan Lee menatap sang istri sekilas lalu melanjutkan sarapannya. "Ehm, sebentar! Memangnya kalian mau kemana jam delapan nanti?" tanya Brendan Lee serius. Yin Lee dengan cepat memutar otaknya. Aduh! Kemana ya? "Danau Yulong! Jackie Chan akan mengajak Donny Gu ke Danau Yulong! Jadi, kami akan menjadi seorang tour guide bagi Donny Gu," jawab Yin Lee cepat. "Oh, ada Jackie Chan juga?" tanya sang ayah. Yin Lee lagi-lagi mengangguk. "Baiklah, silahkan kalian pergi, tapi harus hati-hati," ujar Brendan Lee. Yin Lee terlihat lega. Aksi berbohongnya jika di rumah memang luar biasa! Ia menendang kaki Yang Lee yang ada di bawah sana dan Yang Lee pun membalàsnya sebagai ungkapan sukacita. Selesai dengan sarapan, Brendan Lee dan Veronica Wu sibuk dengan aktifitasnya sendiri karena ini adalah hari libur. Sementara itu, Yang Lee dan Yin Lee dengan tegang menunggu kehadiran Jackie Chan dan Donny Gu. Beberapa kali, Yin Lee menatap ponselnya menunggu dering panggilan atau pesan dari Donny Gu. Dan, hal itu tidak luput dari pengamatan Yang Lee. Sementara, ia sendiri sama sekali tidak menatap ke arah ponselnya. Donny Gu tidak tau nomornya, jadi jelas pria itu tidak mungkin menghubunginya! Ah? Yang Lee memejamkan matanya merasa seperti orang bodoh. Apa yang ia pikirkan barusan? Berharap Donny Gu menelponnya? Mana mungkin? Ponsel Yang Lee tiba-tiba berbunyi dan muncul nama Jackie Chan di sana! Yeah siapa lagi? Yang sering menghubunginya akhir-akhir ini adalah Jackie Chan. "Halo?" sapa Yang Lee. "Hei, aku sudah hampir sampai! Dan, aku punya berita buruk untukmu!" ujar Jackie Chan. "Apa? Berita buruk apa?" Wajah Yang Lee jadi tegang. "Nanti akan aku ceritakan! Bersiaplah! Bye!" Panggilan pun ditutup sepihak. Yang Lee menatap Yin Lee. "Ada apa? Wajahmu nampak tegang, Meí! Katakan, ada berita buruk apa?" tanya Yin Lee penasaran. "Entahlah, Jackie Chan belum mengatakannya padaku!" ujar Yang Lee. Berdua mereka turun dan berpamitan dengan Veronica Wu dan juga Brendan Lee. "Sudah dijemput?" tanya Brendan Lee. "Sudah!" Bersamaan itu, bunyi bel di pintu membuat Brendan Lee dan Veronica Wu ikut keluar. "Selamat pagi, Paman!" Donny Gu dan Jackie Chan menyapa kedua orang tua Yin Lee dan Yang Lee. Wajah Jackie Chan tampak cemas membuat Yang Lee tidak sabar ingin menarik pria itu segera pergi dari sana!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN