Yang Lee dan Yin Lee jadi mondar mandir di dalam kamar dengan ekspresi panik.
"Bagaimana ini? Aku tidak mungkin tidak ikut kompetisi, bukan?" Yang Lee berkata sambil terus berjalan ke sana kemari seperti setrikaan.
"Tenang, Meí. Kita harus tenang agar bisa berpikir." Yin Lee yang tadinya mondar mandir kini berusaha tenang dengan duduk di tepi ranjang.
"Ya ya, benar! Kita harus tenang!" ucap Yang Lee mengamini. Ia pun ikut duduk di tepi ranjang.
Keduanya saling berhadapan dengan ekspresi yang gelisah.
"Kenapa harus diadakan di hari itu sih makan-makannya?" keluh Yang Lee sambil memijit pelipisnya.
Yin Lee menggigit bibirnya, ia nampak ragu dan gelisah. Sesekali matanya menatap wajah sang adik dengan khawatir.
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Yang Lee ketika tatapannya bertemu dengan sang kakak.
"Eh, tidak. Aku belum menemukan solusinya. Aku hanya berpikir, apakah mungkin mama bisa membantu kita dengan menghubungi Nyonya Gu dan meminta agar jadwal makan-makannya diundur di malam hari?" ujar Yin Lee asal.
Yang Lee mengerutkan keningnya lalu sebentar kemudian, bola matanya membesar.
"Yeah, itu bisa jadi alternative yang bagus. Dengan syarat, jangan sampai Paman Andy Gu tau lalu mengatakannya pada papa kalau mama yang meminta jadwalnya diundur," ujar Yang Lee.
Yin Lee mengangguk.
"Aku akan coba berbicara pada mama saja besok, bagaimana?" tanya Yin Lee.
Yang Lee mengangguk setuju.
Malam itu, sekalipun sudah sedikit menemukan solusi, Yang Lee dan Yin Lee masih saja gelisah dan tidak bisa tidur dengan nyenyak.
***
Hari belum terang benar, tapi Yin Lee dan Yang Lee sudah terjaga.
"Hhh! Aku benar-benar tidak bisa tidur nyenyak!" keluh Yin Lee sambil bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang.
Yang Lee pun melakukan hal yang sama. Mata mereka mengantuk, tapi otak mereka tidak bisa diajak untuk tidur.
"Aku belum lega jika urusan ini belum selesai," ujar Yang Lee sambil mengusap matanya yang terlihat lelah.
"Tenang saja, kau pasti ikut kompetisi!" hibur Yin Lee.
Yang Lee hanya diam saja, wajahnya seperti dipenuhi keraguan. Setelah ia mengalami banyak tantangan untuk latihan, kini untuk ikut kompetisi pun masih juga mengalami halangan! Hh! Sungguh menyesakkan hati.
"Aku mau turun untuk minum dulu, apakah kau mau nitip?" tanya Yin Lee.
"Yeah, ambilkan untuk aku juga," jawab Yang Lee dengan ekspresi lesu.
"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." Yin Lee menepuk pundak adiknya berusaha menenangkan.
Ia pun lalu turun sambil membawa ponselnya. Sesampainya di bawah, suasana masih gelap karena beberapa lampu masih dimatikan. Yin Lee pun tidak berniat untuk menyalakannya. Hatinya begitu terbeban dengan urusan Yang Lee.
Ia mengambil segelas air dan duduk di ruang makan, membuka ponselnya dan melihat nomor terakhir yang telah menghubunginya.
Yin Lee menatap nomor itu dan dengan ragu menyimpan nomornya di aplikasi line chat.
Ia masih mempertimbangkan banyak hal sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengirim line chat kepada orang tersebut.
'Donny Gu, baiklah aku menyanggupi untuk mengajarimu ketika kompetisi besok. Kita akan belajar sebelum Yang Lee naik panggung. Bagaimana?'
Send!
Yin Lee menarik nafas ketika ia melihat pesan itu sudah terkirim. Ia lalu mengambil gelas berisi air untuk Yang Lee dan hendak naik ke atas ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi dan muncul nama Donny Gu di sana.
Astaga! Ternyata pria ini sudah bangun jam segini.
"Ya, halo?" sapa Yin Lee.
"Hai, Yin Lee. Besok akan ada acara makan-makan yang akan diadakan oleh ayahku dengan mengundang beberapa orang. Aku diharuskan hadir di sana. Bagaimana jika kita tunda saja acara belajarnya?" tanya Donny Gu di seberang sana.
"Ha? Ehm, Donny Gu. Jangan begitu, kau sudah meminta waktuku dan aku sudah bersedia. Bagaimana bisa kau tiba-tiba merubah jadwal sesukamu? Kau tidak boleh begitu," ucap Yin Lee dengan nada cemas.
"Lalu bagaimana? Ayahku sudah menyebar undangan. Bukankah ayahmu juga menerima undangannya?" tanya Donny Gu.
"Iya, tapi aku dan Yang Lee tidak mungkin bisa hadir. Kau tau sendiri, 'kan?"
Hening! Donny Gu terdiam di ujung sana.
"Jika saja itu acara makan malam, pasti kami berdua bisa datang," sambung Yin Lee lagi.
"Ehm, baiklah, begini saja. Aku akan coba bilang ke ayahku, apakah boleh aku tidak ikut acara mereka. Jika boleh, maka aku bisa datang ke kompetisi itu," jawab Donny Gu.
Hati Yin Lee makin menggigil mendengar jawaban Donny Gu. Tidak! Bukan itu maksudnya. Ia ingin Donny Gu merubah jadwal makan-makannya, bukan hanya sekedar bertemu dengannya di kompetisi.
Jika pemuda itu bisa meminta ijin kepada Andy Gu, belum tentu dengan dirinya dan Yang Lee. Ayahnya takkan mengijinkan dirinya pergi ke kompetisi, lalu apa gunanya Donny Gu meminta ijin?
"Ehm, Donny Gu--"
"Yin Lee, kau berbicara dengan siapa?" Suara Yang Lee mengagetkan Yin Lee. Ia langsung menengadahkan wajahnya ke atas dan tampak Yang Lee baru saja keluar kamar.
Yin Lee langsung memasukkan ponsel yang ia genggam ke dalam saku piyamanya.
"Eh, tidak! Aku hanya bergumam sendiri," jawab Yin Lee cepat.
"Oh, apakah kau membawakan aku air?" tanyanya.
"Iya, ini!" Yin Lee naik dan memberikan gelas itu ke adiknya.
"Xie-xie wo te jie-jie," jawab Yang Lee sambil tersenyum. Ia pun masuk ke kamar lagi.
"Ehm, sebentar aku mau ke kamar mandi terlebih dahulu." Yin Lee memutar badannya dan kembali turun.
Sesampainya di bawah, ia pun langsung mengangkat ponselnya lagi. Di sana, ternyata Donny Gu masih menunggu.
"Donny Gu, baiklah kalau begitu, nanti saja kita sambung lagi, ya, bye!"
"Hey! Tunggu!" sergah Donny Gu.
"Eh, ya? Ada apa?" tanya Yin Lee.
"Kenapa kau tadi berbohong kepada Yang Lee?"
"Be-berbohong apa? Aku tidak berbohong!" ucap Yin Lee.
"Kau bilang bergumam padahal sedang berbicara denganku, 'kan?" ucap Donny Gu.
"Eh, ya. Em ...." Yin Lee tidak tau harus menjawab apa. Beberapa kali ia melihat ke arah tangga takut Yang Lee memergokinya.
"Donny Gu, maaf aku harus pergi. Sampai nanti, ya? Bye!" tutup Yin Lee dan tanpa menunggu jawaban.
Ia lalu bergegas naik ke kamarnya di atas dengan wajah yang gelisah. Usahanya untuk membantu Yang Lee keliatannya tidak berjalan mulus. Donny Gu tidak memahami maksudnya. Hh! Bagaimana ini?
"Kau kenapa?" tanya Yang Lee yang melihat wajah galau sang kakak.
"Eh, tidak! Aku hanya mencemaskanmu saja," jawab Yin Lee.
"Mencemaskanku? Bukankah kau bilang tadi bahwa semuanya akan baik-baik saja?" tanya Yang Lee lagi.
"Yah, itu benar. Hhh?" Yin Lee menutup kedua wajahnya seperti orang frustrasi.
"Hey, kau ini kenapa sebenarnya?" Yang Lee jadi bingung sendiri melihat saudara kembarnya seperti orang suntuk.
"Hh! Tidak, tidak papa. Ah! Aku jadi mengantuk. Aku ingin tidur dulu, ya?" Yin Lee membaringkan tubuhnya lalu menghadap ke tembok membelakangi Yang Lee.
Pikirannya sangat kacau, ia bingung bagaimana jika ternyata Yang Lee benar-benar tidak bisa mengikuti kompetisi?
***
Suara ketukan di pintu membuat Yin Lee dan Yang Lee terjaga dari tidurnya yang dimulai menjelang pagi.
"Ayo, anak-anak. Bangun!" Suara Veronica Wu terdengar dari luar kamar.
Yin Lee dan Yang Lee terjaga bersamaan.
"Ayo, kita turun, mari kita coba membicarakan hal ini dengan mama terlebih dahulu," ujar Yang Lee dengan semangat.
"Eh, iya," ujar Yin Lee.
Semangat Yin Lee berbeda dengan Yang Lee. Mengetahui bahwa bukan hanya keluarga mereka yang diundang, maka membatalkan atau mengundur acara yang diadakan oleh Andy Gu jelas bukan sebuah hal yang mudah dilakukan. Apalagi menurut Donny Gu, undangan makan siang itu sudah disebar ke beberapa rekanan Andy Gu.
Yang Lee turun diikuti oleh Yin Lee dan di sana, ia melihat sang ayah telah rapi dan siap berangkat kerja.
"Ayo, mari kita sarapan," ajak sang ibu sambil duduk di samping Brendan Lee.
Yang Lee dan Yin Lee duduk berdampingan. Wajah Yin Lee tampak lebih kusut dibanding Yang Lee, membuat sang ayah mengerutkan keningnya.
"Kau kenapa, Sayang?" tanya Brendan Lee sambil menatap sang putri kesayangan.
"Em, tidak papa, Pa. Mungkin aku hanya kelelahan saja karena kemarin kurang istirahat," jawab Yin Lee beralasan.
"Oh, begitu? Sebaiknya kau istirahat yang cukup hari ini. Jangan sampai besok kita tidak bisa menghadiri acara makan siang yang diadakan oleh Paman Andy Gu," ujar Brendan Lee, membuat hati Yin Lee dan Yang Lee menggigil bersamaan.
"Eh, iya, Pa," ucap Yin Lee.
"Ayo, habiskan sarapanmu. Jangan sampai setelah kau kurang istirahat, kau juga kurang makan. Nanti kau sakit," ujar Brendan Lee.
Yin Lee tersenyum kecut dan mengangguk.
Mereka sarapan bersama. Sesudah selesai, Brendan Lee pun diantar oleh sang istri menuju pintu depan untuk berangkat kerja.
Yang Lee menatap Yin Lee, seolah ia memberi kode agar segera berbicara dengan sang ibu. Namun, Yin Lee hanya tersenyum kecut.
"Hey, apakah kau jadi berbicara dengan mama?" Yang Lee jadi tidak sabar.
"Meí, aku takut kita meminta bantuan mama tidak pada tempatnya," ujar Yin Lee.
"Maksudmu?"
"Kau tau, ini adalah acara keluarga Paman Andy Gu, 'kan? Apakah tidak konyol jika tiba-tiba saja Mama menelpon Nyonya Gu lalu meminta jadwal makan siang diundur jadi makan malam? Apakah menurutmu, hanya kita yang diundang di acara tersebut? Menurutmu, mama harus berbicara seperti apa? Nyonya, tolong acara makan siangnya diundur jadi makan malam karena kami sekeluarga tidak bisa datang. Begitu?" ujar Yin Lee.
Yang Lee jadi garuk-garuk kepala mendengarnya.
"Iya, yang kau katakan benar juga. Lalu, bagaimana ini?" Kini Yang Lee jadi panik.
Yin Lee menarik nafas berat.
"Kita harus memikirkan cara lain," ujar Yin Lee.
Yang Lee mengangguk lalu berdua mereka naik ke kamar.
Berdua mereka berkutat di dalam kamar sambil berpikir.
Setelah beberapa menit berlalu.
"Ah! Begini saja, bagaimana jika kita pura-pura sakit jadi kita tidak perlu ikut ke rumah Paman Andy Gu?" usul Yang Lee.
"Yah! Itu ide yang bagus!" Yin Lee terlihat setuju mendengar usul Yang Lee.
Tidak ada jalan lain selain cara itu yang bisa diambil. Kemungkinan besar adalah ibunya yang mungkin tidak ikut karena harus menjaga mereka sakit. Dan, melobi sang ibu, jauh lebih mudah dibanding melobi sang ayah.
Namun ....
"Bagaimana kita bisa berangkat ke kompetisi, jika papa tidak berangkat duluan ke rumah Paman Andy Gu? Kompetisi dimulai pukul sepuluh pagi, sementara kita harus berkumpul di sana pukul delapan. Acara makan siang pukul dua belas, papa akan berangkat ke rumah Paman Andy Gu sekitar jam sebelas. Ah! Kita tetap tidak bisa keluar tepat waktu!" keluh Yang Lee setelah berpikir sesaat.
Yin Lee jadi kembali galau.
"Hhh! Kenapa semuanya jadi serba sulit?" Yin Lee memijit kepalanya.
"Ah! Lebih baik aku main piano dulu, siapa tau aku bisa menemukan ide," ujar Yang Lee sambil berjalan keluar kamar.
Memikirkan hal yang memusingkan kepala, sungguh butuh sebuah refreshing. Dan, musik adalah satu-satunya pelarian yang bisa membuatnya berpikir jernih.
Yin Lee mengangguk setuju. Sebentar kemudian, sudah terdengar alunan piano di luar sana.
"Permainan pianomu sangat bagus, Meí! Aku rasa kau bahkan bisa menang hanya dengan tampil solo." Yin Lee bergumam dari dalam kamar.
Yin Lee masih berpikir keras untuk membuat sang adik kesayangan bisa ikut. Dan, tiba-tiba saja layar ponselnya menunjukkan ada notifikasi pesan masuk dan itu dari Donny Gu
'Hai, Yin Lee. Ayahku mengijinkan aku untuk tidak hadir di acaranya, jadi kita besok bisa bertemu di Paradise's hall.'
Yin Lee menggigit bibirnya membaca tulisan Donny Gu. Apa gunanya itu? Besok ia bahkan tidak tau bagaimana ia harus pergi ke sana jika ayahnya masih ada di rumah.
Yin Lee sama sekali tidak membalas pesan Donny Gu. Ia merasa kepalanya mau pecah memikirkan Donny Gu yang malah menambah beban pikirannya.
Ponsel Yin Lee berdering dan muncul nama pemuda itu di sana. Yin Lee membiarkan saja ponsel itu berdering hingga mati sendiri. Namun, seperti tidak terima, Donny Gu kembali menelpon Yin Lee, hingga mau tidak mau, Yin Lee terpaksa mengangkatnya.
"Halo?" sapa Yin Lee.
"Hey, kenapa kau tidak membalas pesanku?" tanya Donny Gu.
"Oh ... ya aku ... ehm ... tidak tau harus menjawab apa," jawab Yin Lee jujur.
"Ha? Itu terdengar aneh. Bukankah kau yang tadi mengajakku?" tanya Donny Gu.
"Ya, itu benar."
"Lalu?"
Hening! Yin Lee tidak tau harus berkata apa.
"Halo?"
"Eh iya. Emm ... Donny Gu, ak-aku minta maaf, aku khawatir besok aku dan Yang Lee tidak bisa ikut kompetisi," jawab Yin Lee akhirnya.
"Ha? Apa maksudnya itu?" Nada bicara Donny Gu terdengar kaget.
"Donny Gu, maafkan aku, emm, ini terdengar rumit. Emm ...."
"Yin Lee, ada apa sebenarnya? Kenapa kau terdengar seperti gadis labil bagiku?" Suara Donny Gu terdengar sedikit gemas. Ia benar-benar merasa dikerjain oleh Yin Lee.
Jam empat pagi, ketika dirinya masih susah tidur karena membayangkan gadis itu, eh, tiba-tiba saja Yin Lee mengiriminya pesan dan mengajaknya untuk bertemu di kompetisi. Bagai pucuk dicinta ulam tiba.
Namun, kini setelah ia berhasil melakukan negosiasi dengan sang ayah, Yin Lee dengan semena-mena malah membatalkannya begitu saja. Yang benar saja!!
"Oh, ma-maafkan aku, Donny Gu. I-ini ada hubungannya dengan ... ehm ajakan makan siang dari ayahmu," ucap Yin Lee kemudian.
"Ha? Apa hubungannya? Bukankah kau bilang tidak bisa datang besok karena kau akan ke kompetisi Yang Lee?" tanya Donny Gu bingung.
"Eh, iya. Itu benar! Em, tapi ayahku memaksa kami untuk datang ke rumah ayahmu besok. Sementara, aku dan Yang Lee harus tiba di paradise Hall pukul delapan. Dan, kau tau sendiri bahwa acara itu akan berlangsung sampai sore hari. Ayahku tidak mau tau soal kompetisi itu, Donny Gu," ucap Yin Lee dengan suara yang terdengar sedih.
"Hhh!" Donny Gu jadi sesak nafas dibuatnya.
"Jadi, kita bertemu di rumahku saja?" Bagi Donny Gu, tak masalah mau di rumahnya atau di Paradise Hall, yang penting ia ketemu Yin Lee.
Yin Lee mengetok kepalanya sendiri mendengar jawaban Donny Gu. Entah harus bagaimana ia membuat pria itu mengerti kepentingannya.
"Eh, tidak. Bukan begitu maksudku, Donny Gu. Emm ... sebentar! Biarkan aku berpikir terlebih dahulu ...." Yin Lee memejamkan matanya berusaha menemukan solusi kata-kata yang bisa membuat Donny Gu paham.
Krik! Krik! Krik!
Satu menit berlalu ....
Hening! Yin Lee masih belum menemukan solusinya. Ia masih bingung sendiri, apalagi ditambah dengan suara dengusan nafas Donny Gu di sebelah sana, ia semakin bingung tidak tau harus berkata apa.
"Sudah?" tanya Donny Gu di seberang sana.
"Eh, belum! Sebentar!" ucap Yin Lee masih berpikir.
Dua menit berlalu ....
Masih tidak ada perkembangan yang berarti dari seorang Yin Lee. Semakin ia ditunggu, sebenarnya ia semakin panik dan tidak tau harus berpikir apa!
*Ah! Yin Lee memang payah!
"Ini sudah hampir lima menit, Yin Lee!" Suara Donny Gu terdengar tidak sabar.
"Oh, iyakah? Seb-sebentar!!"
"Ah! Sudah, aku akan menjemputmu besok!" Donny Gu akhirnya dengan tidak sabar memutuskan.
Digantung seperti ini di telepon membuatnya hilang akal. Ia jadi gemas sendiri dan tidak tau harus mencubit pipi siapa!
"Ah iya!!" Tiba-tiba bola mata Yin Lee membesar! Itu adalah ide yang bagus!!
"Kau setuju?" Kini gantian Donny Gu yang kaget mendengar jawaban tegas Yin Lee. Apakah sejak tadi gadis itu ingin ia menjemputnya tapi gengsi? Hhh! Ada-ada saja!
"Eh, iya, aku setuju! Namun, sebaiknya kau juga mengajak Jackie Chan. Yeah, kalian bersama menjemput kami," ujar Yin Lee kemudian.
"Apa? Kenapa aku harus bersama dengan Jackie Chan?" Suara Donny Gu terdengar protes.
"Eh, iya! Em, begini Donny Gu. Kau harus datang bersama dengan Jackie Chan agar Yang Lee dan aku diijinkan keluar. Namun, kau tidak boleh bilang bahwa kita akan ke kompetisi. Bilang saja kita akan bersenang-senang bersama. Ap-apakah mengerti?" tanya Yin Lee penuh keraguan.
Hening! Kini, otak Donny Gu yang keliatannya mulai berasap. Ia benar-benar tidak paham dengan maksud Yin Lee. Gadis ini kenapa berbelit-belit sekali?
"Donny Gu, apakah kau masih di sana?" tanya Yin Lee hati-hati.
"Iya! Aku sedang pingsan!" jawab Donny Gu dengan nada jutek!
Belum pernah ia mengalami kerumitan seperti ini dalam berhubungan dengan seorang gadis. Dan, Yin Lee adalah gadis pertama yang membuat otaknya lelah hanya dalam waktu lima menit!
"Eh, iya. Maaf! Ja-jangan pingsan dulu sebelum aku menutup telponnya!" ujar Yin Lee, membuat Donny Gu makin uring-uringan.
"Ya, ya baiklah! Besok aku akan menjemputmu bersama dengan Jackie Chan! Itupun kalau dia mau, ya? Jika tidak, maka jangan salahkan aku jika aku berangkat sendiri untuk menjemputmu. Sudah! Sampai jumpa besok! Bye!" Panggilan pun diakhiri sepihak.
Yin Lee menatap layar ponselnya dengan terkejut. Apakah Donny Gu marah padanya? Ah! Entahlah.
Perlahan di bibirnya mulai tersungging senyuman, dan tiba-tiba saja ia berteriak kegirangan!!
"Yey!!!" Yin Lee melompat di atas ranjangnya dan sedetik kemudian ia turun dan berlari keluar kamar, menghampiri Yang Lee yang masih asyik bermain piano.
"Méîmei!!" serunya membuat sang saudara kembar kaget.
"Ada apa Yin?" tanya Yang Lee dan ia pun menghentikan permainan pianonya.
"Aku punya ide!!" jawab Yin Lee.
"Apa itu?" tanya Yang Lee.
"Kau harus menelpon Jackie Chan, minta dia menjemput kita besok! Bilang bahwa kita ada acara belajar bersama untuk ujian akhir, bagaimana?" tanya Yin Lee.
"Hm?" Yang Lee mengerutkan keningnya.
"Besok aku akan membawa buku dan seolah-olah, Jackie Chan akan belajar bareng kita." Sambung Yin Lee.
"Apakah menurutmu itu akan berhasil? Bagaimana jika papa ingin kita berangkat dulu ke rumah Paman Andy Gu? Pulangnya baru kita diijinkan belajar?" tanya Yang Lee lagi.
Yin Lee menggaruk kepalanya.
"Ehm, minta Jackie Chan mengajak Donny Gu! Jika Donny Gu datang kemari dan tidak ikut acara ayahnya, lalu kenapa juga kita harus ikut acara para orang tua?" ujar Yin Lee.
"Ah! Kau benar sekali, kakakku!! Kau memang jenius!! Wait! Aku akan menelpon Jackie Chan sekarang!" ujar Yang Lee dan ia pun berlari ke kamarnya.
Yin Lee menggigit bibirnya sepeninggal sang adik. Semoga saja, usahanya ini tidak menimbulkan salah paham pada Yin Lee.
Ia pun pergi ke kamar dan melihat Yin Lee mulai menelpon.
"Ya, kau tau aku sangat ditentang untuk ikut kompetisi ini, bukan? Jadi, kau harus menggunakan alasan belajar, maka Yin Lee akan mengajari kita semua," ucap Yang Lee di telepon.
"Baiklah, kalau begitu, besok aku akan menjemputmu!" ujar Jackie Chan tanpa banyak bertanya.
"Eh, tapi ajak juga Donny Gu, ya!"
"Donny Gu? Kenapa aku harus mengajak dia?" Jackie Chan terdengar protes! Apakah Yang Lee menyukai Donny Gu?
"Emm, begini, Jackie! Ayah Donny Gu mengadakan acara makan siang dan ayahku diundang juga. Kami anak-anaknya diwajibkan datang. Jadi, itulah yang menghalangiku datang ke kompetisi. Maka, jika kau mengajak Donny Gu, maka ayahku akan tau bahwa di acara makan-makan itu, hanya ada orang tua yang hadir, sementara anaknya sedang ingin belajar bersama dengan kami," jelas Yang Lee.
Jackie mengangguk paham.
"Oh! Baiklah! Kalau begitu aku akan menghubungi Donny Gu sekarang juga!" jawab Jackie Chan.
"Okay! Terima kasih, Jackie Chan! Kau benar-benar teman yang bisa kuandalkan!" Yang Lee tersenyum puas.
"Okay, kita harus menang besok supaya ayahmu memandang dirimu dengan cara yang berbeda! Semangat ya! Sampai jumpa besok!"
Panggilan pun ditutup! Yang Lee melompat senang! Semua masalahnya beres dalam sekejap!!
"Bagaimana?" tanya Yin Lee dengan ekspresi penuh harap.
"Jackie Chan mendukung ide kita!" jawab Yang Lee dengan senangnya!
Ia lalu memeluk kakaknya dengan erat dan berdua mereka melompat kegirangan di atas ranjang!
"Yes!! Kini masalah kita kelar!! Sekarang kau harus latihan sungguh-sungguh dan memenangkan kompetisi ini!" Yin Lee makin bersemangat!
"Ayo! Sebaiknya kita makan siang! Kau harus memiliki banyak energi untuk menghadapi besok!" ajak Yin Lee sambil turun dari tempat tidur.
"Siap!!" Yang Lee menjawab dengan semangat.
Yin Lee bergegas turun dan keluar dari kamar, sementara Yang Lee yang juga hendak keluar, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat ponsel Yin Lee berdering dan muncul nama Donny Gu di sana!!