Lunch invitation by Andy Gu

4211 Kata
"Latihan sudah selesai dan aku mau pulang," jawab Yang Lee. "Siapa yang mengijinkanmu?" Suara Rebecca Zhang terdengar geram di belakang Jeanny Lau. Yang Lee seketika menciut nyalinya melihat wanita garang itu datang bersama yang lain. Ia seperti terjebak di kandang kawanan serigala. "Apa maumu, Rebecca Zhang? Aku tidak berbuat salah ketika latihan tadi, bukan?" tanya Yang Lee dengan ekspresi takut. "Oh ya?" Rebecca Zhang berjalan maju mendekati Yang Lee yang terus mundur. "Kesalahanmu bukan hanya di urusan latihan, tapi akumulasi banyak hal!!" jawab Rebecca Zhang sambil menyeringai. "Ak-akumulasi apa?" Yang Lee tampak bingung mendengarnya. "Hmm ... katakan, ada hubungan apa kau dengan Donny Gu?" tanya Rebecca tanpa menjawab pertanyaan Yang Lee. "Do-Donny Gu? Ak-aku tidak memiliki hubungan apapun, Rebecca," jawab Yang Lee cepat. "Oh ya? Tidak begitu yang aku lihat tadi. Kenapa dia tiba-tiba membelamu?" tanya Rebecca Zhang. "Yeah! Dia berusaha membodohimu, Rebecca!" timpal Vivian Chu. "Jawab saja dengan jujur! Tidak perlu berpura-pura!" Hilda Lim menimpali. "Ak-aku benar-benar tidak mengerti ap-apa yang kalian tuduhkan padaku!" jawab Yang Lee dengan wajah yang mulai takut. "Haha! Coba liat wajahnya! Tadi dia begitu berani menjawabku! Sekarang, liat penampilannya! Dia begitu ketakutan seperti tikus yang tertangkap mencuri keju!" Rebecca tertawa penuh hinaan. Demikian pula teman-temannya. "Pasti tadi dia berani menjawab karena ada Donny Gu yang akan membelanya!" timpal Kristin Chou. "Yeah, itu benar!" jawab yang lain. Yang Lee menggelengkan kepalanya. "Ak-aku bahkan tidak tau kalau ada Donny Gu," jawab Yang Lee. "Bohong!!!!" teriak Rebecca Zhang. Dengan kuat ia menarik rambut Yang Lee hingga gadis itu menjerit dan tubuhnya hampir saja jatuh. "Rebecca!!!" Suara teriakan seorang pria membuat Rebecca melepaskan rambut Yang Lee, hingga Yang Lee yang tadinya ditarik akhirnya tertelungkup di atas lantai. "Huh! Jackie Chan! Kau lagi yang muncul! Apakah kau kini menjadi pengawalnya?" ejek Rebecca Zhang. Jackie Chan sama sekali tidak menjawab. "Yang Lee, apakah kau baik-baik saja?" Ia membungkuk dan membantu Yang Lee untuk berdiri. Yang Lee tidak menjawab, tangannya mengusap wajahnya yang basah. Kepalanya terasa pening karena tarikan tangan Rebecca yang kuat di rambutnya. "Minggir!! Kami akan lewat!" ujar Jackie Chan sambil memeluk Yang Lee yang terus menunduk. "Tidak! Kau pun kini tidak boleh lewat, Jackie!" sahut Rebecca Zhang disambut tawa yang lain. "Haha! Dia ingin jadi pahlawan kesiangan rupanya!" ujar Helen Mui sambil tertawa. "Jika sampai kalian menyentuh kami, aku pastikan besok kalian semua akan menghadap kepala sekolah!!" ancam Jackie Chan dengan serius. "Huuuu! Aku takuuuut! hahaha!" ucap Vivian Chu dengan kedua tangannya mengepal di depan d**a seperti orang ketakutan. Yang lain pun ikut tertawa. "Baik! Rebecca Zhang, Vivian Chu, Helen Mui, Kristin Chou, Jeanny Lou dan Hilda Lim. Kalian boleh tertawa sepuas hati kalian, tapi apa yang terjadi sejak tadi terhadap Yang Lee, sudah ada yang merekam. Kalian akan menerima panggilan dari sekolah besok dan bisa kupastikan, kompetisi ini akan batal!" Jackie Chan berkata dengan serius. Bukan hanya Rebecca yang tersentak, tapi Yang Lee juga. Kompetisi ini adalah harapan satu-satunya agar dia bisa mendapatkan sebuah prestasi yang bisa ia banggakan kepada ayahnya. "Geledah pakaiannya dan ambil ponselnya!!" perintah Rebecca Zhang kepada semua temannya. Jackie Chan seketika dikerubuti oleh para gadis barbar itu. Mereka berusaha menemukan ponsel Jackie Chan untuk memusnahkan buktinya. "Hentikan!!! Kalian takkan menemukannya di sini!" Jackie Chan yang tidak siap digeledah seperti itu jadi kalang kabut. Ia sampai terjengkang di atas lantai dan pakaian seragamnya pun porak poranda dijarah dengan liar. Namun, benar apa yang dikatakan oleh Jackie Chan, ponsel itu tidak mereka temukan! "Mana ponselmu?" Rebecca terlihat marah melihat teman-temannya gagal menemukan barang bukti. "Bukankah sudah kukatakan bahwa kalian takkan menemukannya di sini?" Jackie Chan bangkit dan merapikan seragamnya yang berantakan. "Lepaskan kami, maka video itu akan aman, tapi jika aku tidak keluar dalam waktu tiga menit dari sekarang. Bisa kupastikan, besok atau lusa, semua orang yang ada di ruangan ini, akan menghadap kepala sekolah," ujarnya serius. Rebecca Zhang menggigit giginya dengan amarah tertahan. Tidak disangka, Jackie Chan begitu membela Yang Lee! Setelah Donny Gu, kini pemuda yang ada di depannya ini malah terang-terangan mengibarkan bendera permusuhan dengannya. "Baik!" Rebecca Zhang lalu memberi kode kepada semua temannya agar menyingkir dan tidak menghalangi kepergian Jackie Chan dan Yang Lee. Jackie Chan tersenyum puas. Ia lalu melingkarkan tangannya di bahu Yang Lee dan mereka berdua keluar meninggalkan ruangan latihan itu. Rebecca Zhang melipat kedua tangannya di depan d**a dengan tatapan sinis ke arah mereka berdua diikuti oleh semua gengnya. "Gadis itu sungguh menyebalkan!" umpat Rebecca Zhang kesal. "Tidak seharusnya kau memberinya kesempatan kedua untuk ikut bergabung di grupmu," ujar Vivian Chu. "Huh! Itu karena Yin Lee yang memohonkannya padaku, jika tidak, aku pun tak sudi menerimanya," sahut Rebecca Zhang dengan wajah sebal. "Hh! Lalu bagaimana? Kita tidak bisa menyentuhnya sekarang gara-gara Jackie Chan," ujar Hilda Lim. "Siapa bilang? Aku masih punya seribu satu cara untuk membuatnya jera!" ujar Rebecca Zhang sambil menyeringai. "Lalu, Donny Gu?" tanya Kristin Chou. "Hmm ... tenang saja! Aku dengar ayahnya baru dipindahkan ke kota ini. Aku juga punya sejuta cara untuk membuatnya terpikat denganku." Rebecca Zhang mengebaskan rambutnya penuh percaya diri. "Kau harus bersikap lembut jika sedang ada dia, Rebecca. Terlihat garang bukan image yang bagus," saran Jeanny Lau. "Jangan khawatir, kalian lihat saja, siapa yang akan jadi juaranya nanti!" ucap Rebecca Zhang sambil tersenyum seolah dia sudah menenangkan pertandingan. "Ya sudah! Ayo, kita makan siang!" ajak Rebecca Zhang sambil merangkul Vivian Chu dan Kristin Chou yang ada di dekatnya. *** Sementara itu .... Jackie Chan dan Yang Lee masuk ke dalam mobil. "Apakah sudah kau rekam semuanya?" Jackie Chan berkata pada sopirnya. "Sudah, Tuan Muda," sahut sang sopir. "Bagus, kirim filenya ke emailku," perintah Jackie. "Baik, Tuan Muda." "Ya sudah, kita berangkat! Antar Nona Yang Lee pulang ke rumahnya," ujar Jackie Chan. "Oh, tidak usah, Jackie! Aku harus kembali ke sekolah untuk menemui Yin Lee. Kami sudah berjanji untuk pulang bersama." Yang Lee yang sedang memijit kepalanya menjawab dengan cepat. "Astaga, tidak perlu Yang Lee. Yin Lee pasti sudah ada yang mengantar," jawab Jackie Chan. "Ha? Siapa yang mengantar Yin Lee?" Yang Lee makin penasaran. Tidak! Yin Lee tidak dekat dengan siapapun di sekolah. Siapa yang akan mengantarnya? Kepalanya seketika tidak merasa pusing lagi ketika ia merasa penasaran. "Sudahlah, biarkan saudara kembarmu itu pulang bersamanya dan aku bersamamu." "Jackie, jangan membuatku mati penasaran, katakan, siapa yang akan mengantar Yin Lee? Aku akan mendapatkan masalah jika tidak pulang bersamanya," ucap Yang Lee. Jackie Chan tertawa. "Nanti juga kau akan tau, sebentar!" ujar Jackie Chan sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia mencari nama seseorang di ponselnya lalu menyentuh nama orang tersebut. "Halo?" "Halo, bagaimana, Jack?" "Aku sudah selesai latihan. Apakah kau masih lama?" "Tidak juga. Bisa diakhiri kapan saja." "Bagus kalau begitu. Aku jalan sekarang, ya? Aku dengar, mereka harus sampai di rumah secara bersamaan. Jadi, kau jangan terlalu cepat," ujar Jackie Chan sambil menatap Yang Lee yang juga menatapnya. "Aku mengerti!" Panggilan pun ditutup. Yang Lee masih menatap Jackie Chan berusaha menebak, pria ini tadi menelpon siapa. Ah! Sejak kapan Jackie Chan jadi sok misterius seperti ini? "Sudah beres!" ujar Jackie Chan sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku. Kini, Yang Lee yang mengeluarkan ponselnya. Ia langsung menghubungi kakaknya. "Halo?" sapa Yin Lee di seberang sana. "Yin Lee, kau ada dimana? Aku sudah selesai dan siap untuk pulang," ujar Yang Lee. "Yeah, aku masih di sekolah dan siap untuk pulang juga. Apakah benar kau diantar oleh Jackie Chan?" tanya Yin Lee. "Eh, iya. Dia bilang kau sudah ada yang mengantar, apa itu benar?" tanya Yang Lee. "Ya, ak-aku bersama dengan Cleo Tan juga di sini," jawab Yin Lee terbata. "Oh, jadi kau pulang bersama dengan Cleo Tan?" "Yeah, bisa dibilang begitu." Suara Yin Lee terdengar semakin lirih. "Oh, ya sudah. Aku jadi tidak khawatir. Kalau begitu jika kau sampai duluan, tolong tunggu aku di samping rumah, ya?" ujar Yang Lee. "Okay," sahut Yin Lee. Yang Lee pun menutup panggilannya. "Bagaimana? Sudah beres, 'kan?" tanya Jackie Chan. Yang Lee mengangguk. "Dia ternyata pulang bersama dengan Cleo Tan," ujar Yang Lee. "Oh ya?" Jackie Chan tampak terkejut. "He-em. Memangnya kau pikir Yin Lee akan pulang dengan siapa?" tanya Yang Lee. "Ehm, tidak! Tidak papa, terserah Yin Lee saja." Jackie Chan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apakah Donny Gu gagal merayu Yin Lee untuk pulang bersama? Ah, dasar pria payah! "Oh ya, apakah kau lapar?" tanya Jackie Chan kemudian. "Tidak!" jawabnya singkat. "Kau yakin? Ini sudah lewat jam makan siang dan kita belum makan apapun!" ujar Jackie Chan. "Yin Lee sedang menungguku, Jackie, aku tidak mau dia menunggu terlalu lama," jawab Yang Lee. "Baiklah!" Jackie Chan mengangguk. Ia cukup prihatin dengan kondisi Yang Lee yang menurutnya sangat terkekang kebebasannya. Sangat berbeda dengan Yin Lee, menurut yang ia tau, Yin Lee adalah anak kesayangan di keluarganya. Nilai bagusnya di sekolah adalah kebanggaan tersendiri bagi kedua orang tuanya. Sebenarnya, nilai Yang Lee juga tidak buruk, hanya karena mereka adalah anak kembar, maka kedua orang tuanya berharap Yang Lee memiliki prestasi yang sama dengan Yin Lee. Agak menyedihkan memang, itu sebabnya Jackie Chan lebih merasa prihatin dengan Yang Lee dibanding Yin Lee. Entah, kenapa ia sangat ingin membuat Yang Lee bahagia. "Emm, Yang Lee, apakah kau begitu ditentang untuk ikut kompetisi ini?" tanya Jackie Chan sambil menatap sekilas ke arah Yin Lee yang sedang memijit kepalanya. Yang Lee mengangguk. "Ayahku tidak suka aku membuang waktu untuk sesuatu yang menurutnya tidak berguna," jawab Yang Lee. "Bukankah menenangkan kompetisi bisa jadi sesuatu yang membanggakan?" tanya Jackie Chan lagi. Yang Lee menggelengkan kepalanya. "Nilai baguslah yang baginya membanggakan. Kompetisi bagi ayahku hanyalah ajang untuk mengekspresikan sebuah hobby. Dan, baginya, hobby tidak menjanjikan apapun di masa depan," jawab Yang Lee sambil menatap ke arah jendela dengan ekspresi sedih. Jackie memberanikan diri menggenggam tangan Yang Lee. "Kita harus menang besok, aku yakin setelah kita menang, ayahmu akan merubah cara pikirnya tentangmu. Dia akan sadar bahwa kau bisa juga berprestasi sekalipun dengan cara yang berbeda," hibur Jackie Chan. Yang Lee hanya tersenyum kecut mendengarnya. Benarkah ayahnya akan semudah itu berubah pikiran? Yah, semoga saja. "Jackie, apakah kau serius dengan ucapanmu bahwa kau akan melaporkan Rebecca Zhang dan gengnya ke kepala sekolah?" tanya Yang Lee yang masih memijit kepalanya. Jackie Chan nampak prihatin melihat kondisi Yang Lee yang seperti itu. "Apakah kepalamu masih sakit?" tanya Jackie Chan penuh perhatian. Yang Lee mengangguk, ia merasa sedikit pusing dijambak begitu keras oleh Rebecca Zhang. "Aku tidak paham, apa yang membuatnya begitu benci padaku," keluh Yang Lee lirih. "Tidak usah kau hiraukan dia, aku rasa, dia hanya iri saja padamu," ucap Jackie Chan mencoba memberi penghiburan. "Iri dalam hal apa?" tanya Yang Lee sambil menatap Jackie. "Entahlah, mungkin saja dia cemburu denganmu gara-gara Donny Gu," jawab Jackie Chan. "Donny Gu?" Yang Lee menyebut nama itu dengan wajahnya yang bersemu merah. Hanya dengan menyebut nama saja, ia bisa merasa menggigil dalam hati. Astaga, nama itu benar-benar berpengaruh besar pada dirinya. "Yeah. Siapa yang tidak suka dengannya, ya 'kan? Dia tinggi, keren, kaya dan memiliki beberapa prestasi di bidang olahraga," ucap Jackie Chan "Oh ya?" Yang Lee menatap Jackie Chan dengan serius. "Yah, tentu saja! Dia memiliki segudang prestasi di sekolah lamanya. Pandai di segala bidang dan juga memiliki fisik yang sempurna, pantas saja jika Rebecca cemburu melihat Donny Gu membelamu tadi," jawab Jackie Chan. Wajah Yang Lee kembali bersemu merah membayangkan kejadian tadi siang. Donny Gu seperti seorang ksatria yang menyelamatkan dirinya. Ah! Benarkah pria itu menyukainya? Tanpa sadar, Yang Lee jadi senyum-senyum sendiri. "Hey! Kau kenapa?" tanya Jackie Chan dengan tatapan curiga. "Ha? Oh, tidak! Ak-aku hanya geli saja membayangkan Rebecca cemburu, jika memang benar begitu," ucap Yang Lee gugup. "Hmm ... apakah kau juga menyukai Donny Gu?" tanya Jackie Chan dengan tatapan menyelidik. "Ha? Ap-apa? Ak-aku? Haha! Tidak, ak-aku belum ingin menyukai pria manapun," jawab Yang Lee makin gugup. "Oh ya? Kenapa bisa begitu?" tanya Jackie Chan. "Yeah, aku ini masih Junior High School, nilaiku juga tidak sebagus Yin Lee. Berpacaran akan membuat ayahku semakin marah. Jadi, aku lebih baik fokus dengan sekolah saja," jawab Yang Lee. Ia sudah mulai bisa menguasai dirinya dari kegugupan. "Hmm, begitu ya?" Wajah Jackie Chan nampak kecewa. "Setelah lulus nanti, kau akan melanjutkan kemana?" tanya Jackie Chan. "Entahlah, tapi kemungkinan besar aku akan masuk ke Yunxian Manwan High School," jawab Yang Lee. "Oh, bagaimana dengan Yin Lee?" tanya Jackie Chan. "Ayahku ingin dia masuk di sekolah terbaik di Huang Zhou. Keliatannya dia akan mengambil jalur bea siswa jika memang nilainya bagus," jawab Yang Lee. "Jadi, kalian pisah sekolah?" Yang Lee mengangguk. "Oh! Itu pasti akan berat buat kalian, ya? Kalian terbiasa bersama selama ini," ucap Jackie Chan. "Yeah, ini akan jadi yang pertama kalinya," jawab Yang Lee. "Apakah kau sedih karena tidak bisa sekolah di sekolah yang sama dengannya?" tanya Jackie Chan lagi. Yang Lee menggeleng. "Aku tau kemampuanku. Satu sekolah dengan Yin Lee akan membuat aku hidup di bawah bayang-bayangnya. Apalagi sekolah yang dipilih oleh ayahku adalah sekolah Internasional. Aku pasti akan makin sulit mengimbanginya," ujar Yang Lee. "Tidak. Menurutku kau juga cukup pandai. Jangan berpikir seperti itu," sahut Jackie Chan. Yang Lee tersenyum. "Terima kasih karena selalu memberiku kalimat dukungan, Jackie," ujar Yang Lee. Mobil Jackie masuk ke sebuah kompleks perumahan, dari jauh Yang Lee bisa melihat bahwa Yin Lee sudah tiba dan ada sebuah mobil yang menunggunya. Apakah itu mobil Cleo Tan? Ah, Yang Lee tidak tau. Ia bahkan tidak ingat mobil Cleo Tan seperti apa. Begitu mobil yang ditumpangi Jackie Chan dan Yang Lee mendekat, mobil yang menunggu Yin Lee pun melaju pergi. Jadi, Yang Lee tidak tau, siapa yang tadi mengantar Yin Lee. "Sudah sampai," ujar Jackie Chan. "Terima kasih, Jackie!" Yang Lee berkata sambil membuka pintu mobil. "Hai, Yin Lee. Semoga kami tidak terlalu lama, ya?" Jackie Chan membuka kaca jendelanya. "Tidak, aku juga baru sampai. Terima kasih karena telah mengantar Yang Lee sampai rumah, ya?" ucap Yin Lee sambil tersenyum. "Baiklah, aku pergi dulu, ya? Yang Lee, sampai ketemu lusa di Paradise's hall." Jackie Chan melambaikan tangannya. Kedua gadis itu juga membalas lambaian tangan Jackie. "Yin Lee, apakah tadi itu mobilnya Cleo Tan," tanya Yang Lee. Yin Lee tidak menjawab. Di tangannya terdapat dua buah gulungan kertas. Ia lalu memberikan satu gulungan kertas kepada Yang Lee sementara satu lagi ia bawa. "Ini milikmu dan ini milikku," ujar Yin Lee. "Eh, apa ini?" tanya Yang Lee heran. Berdua mereka berjalan menuju rumah yang berjarak tiga meter dari tempat mereka. "Lihat sendiri," ujar Yin Lee. Yang Lee dengan rasa penasaran membuka gulungan itu. "Wow!! Bagus sekali, Yin Lee! Siapa yang melukisnya?" puji Yang Lee ketika melihat lukisan indah di dalamnya. "Cleo Tan, siapa lagi?" jawab Yin Lee sambil tersenyum. "Wah! Lukisannya benar-benar indah! Eh, Nilai A+? Apa maksudnya ini?" tanya Yang Lee ketika melihat ada guratan tinta merah di sana. "Itu adalah nilai lukisanmu. Kau bisa menunjukkannya pada papa nanti, bukankah kita sudah berjanji untuk memberi tahu hasil ujian menggambarmu yang tidak pernah ada?" Yin Lee cekikikan sendiri setelah mengucapkan kalimat itu. Yang Lee ikut tertawa mendengar gurauan kakaknya. "Wah, kau benar-benar pandai berbohong, ya! Kalau begitu, berapa nilaimu? Sini, aku ingin melihatnya," ujar Yang Lee. Yin Lee pun membuka lukisannya. Di sana ia mendapatkan nilai B+. "Ahh, sayang sekali ini hanya pura-pura." Yang Lee seketika frustrasi melihatnya. "Haha! Yeah, kau harus belajar melukis dari Cleo Tan. Aku rasa kau lebih memiliki jiwa seni yang lebih tinggi dibanding aku," sahut Yin Lee. Mereka berdua masuk ke dalam rumah. "Mama! Kami pulang!" Berdua mereka berteriak, membuat Veronica Wu tergopoh-gopoh keluar. "Ah! Kalian pasti lapar, bukan? Ayo, ganti pakaian dan makanlah!" ujar Veronica Wu. Berdua mereka naik ke atas kamar lalu mengganti pakaiannya. Sementara Veronica Wu menyiapkan makanan di bawah. "Bagaimana latihanmu hari ini? Apakah berjalan lancar?" tanya Yin Lee. "Yah, latihannya lancar, tapi ...." Yang Lee tidak melanjutkan kalimatnya. "Tapi kenapa?" tanya Yin Lee ingin tau. "Hhh!! Semoga urusan kompetisi ini cepat selesai jadi aku tak perlu lagi berhubungan dengannya," keluh Yang Lee. "Hm? Siapa yang kau maksud? Apakah Rebecca Zhang?" Yang Lee mengangguk. "Oh! Memangnya apa yang terjadi? Apakah dia mencari gara-gara denganmu lagi?" tanya Yin Lee. "Entahlah, dia menuduhku memiliki hubungan dengan Donny Gu, gila, bukan?" ucap Yang Lee sambil menghempaskan dirinya di atas ranjang. "Haha! Apakah dia cemburu?" tanya Yin Lee sambil tertawa. "Itu tidak lucu, Yin Lee. Dia benar-benar marah. Aku tadi dikeroyok dan rambutku ditarik olehnya," ujar Yang Lee dengan nada mengadu. "Astagaa, benarkah? Dia benar-benar wanita yang kejam!" ujar Yin Lee sambil duduk di tepi ranjang Yang Lee. "Mana yang sakit? Sini Aku pijit," ucap Yin Lee. "Tidak usah, sudah tidak begitu sakit. Untung tadi ada Jackie Chan yang datang menolongku," ujar Yang Lee. "Jackie Chan, hm? Yeah, dia sangat perhatian padamu. Apakah kau tidak merasakan hal itu?" tanya Yin Lee sambil berbaring di sisi adiknya. "Hmm, yeah. Dia memang baik," jawab Yang Lee. Yin Lee memiringkan tubuhnya sambil kepalanya ia tahan dengan tangan. "Bagaimana jika kau ternyata disukai oleh dua orang pria? Kau akan memilih siapa?" tanya Yin Lee dengan antusias. "Apa? Ah! Kau mengajakku berkhayal yang bukan-bukan, Yin." Yang Lee jadi geli mendengar pertanyaan sang kakak. "Eh, itu benar! Bagaimana jika Donny Gu dan Jackie Chan sama-sama menyukaimu? Kau memilih siapa di antara keduanya?" tanya Yin Lee sekali lagi. "Hmm ...." Wajah Yang Lee seketika memerah hanya dengan membayangkan bahwa ia dan Donny Gu akan bersama. "Wah!!! Kau sedang membayangkan siapa ini? Kenapa wajahmu jadi seperti kepiting rebus seperti itu?" Yin Lee jadi cekikikan. "Apa? Benarkah?" Yang Lee seketika merangkum wajahnya sendiri lalu ia bergegas bangkit dan menatap wajahnya di depan cermin. "Ahhh!" Ia makin tersipu melihat wajahnya sendiri. Yin Lee duduk dan ia tertawa melihat ekspresi adiknya. "Jangan bilang kau menginginkan keduanya, Meí!" sahut Yin Lee sambil cekikikan. "Haha, tidaklah! Apakah kau mau satu? Bagaimana jika aku membaginya denganmu saja?" ujar Yang Lee sambil tertawa. Lalu ia kembali duduk di sisi kakaknya. "Oh ya! Kau baik sekali adikku!" ucap Yin Lee sambil bertopang dagu. "Yeah, begitulah aku! Bagaimana? Kau mau yang mana? Donny Gu atau Jackie Chan?" tanya Yang Lee. "Hmm ... yang mana, yah? Bagaimana jika kau yang memilih duluan dan aku terima sisanya saja," jawab Yin Lee. "Haha! Yakin? Kau ingin aku memilih duluan?" tanya Yang Lee memastikan. Yin Lee mengangguk sambil tersenyum. "Hmm ... jika Donny Gu dan Jackie Chan sama-sama menyukaiku ... aku akan memilih ...." Yang Lee bertopang dagu sambil menatap langit-langit kamar. Ia nampak berpikir dengan senyuman tersungging di wajahnya. "Siapa?" tanya Yin Lee dengan tidak sabar. "Donny Gu!" jawab Yang Lee sambil menghempaskan tubuhnya di ranjang sambil mendekap guling. "Ah! Haha! Yeah! Dia cukup serasi denganmu!" Yin Lee berkata sambil tertawa. "Jadi, apakah kau mau menerima Jackie Chan?" tanya Yang Lee sambil menatap kakaknya. "Hmm ... apakah Jackie Chan menyukaiku? Jika iya, aku akan memikirkannya!" sahut Yin Lee sambil mengangkat bahunya. "Hey, kita ini kembar, bukan? Orang yang menyukai aku pasti juga menyukai dirimu," jawab Yang Lee dengan yakin. "Oh ya? Lalu, apakah itu artinya suatu saat nanti suami kita bisa tertukar?" tanya Yin Lee lagi. "Hmm ... pertanyaan bagus. Aku belum pernah memikirkannya. Kita benar-benar harus mengujinya sebelum dia menikahi kita. Dia harus bisa membedakan antara aku dan kau," jawab Yang Lee. "Yeah, aku setuju!" Yin Lee menyanggupi. Suara ketukan di pintu membuyarkan percakapan mereka. "Yin Lee, Yang Lee, sedang apa kalian? Kenapa tidak juga turun untuk makan siang?" Suara Veronica Wu terdengar di luar kamar. "Eh, iya, Ma! Aku turun sekarang!" seru Yang Lee dengan semangat. Pembicaraannya dengan sang kakak membuat perasaannya jauh lebih baik dari sebelumnya. Apalagi Yin Lee barusan mengajaknya berkhayal tentang Donny Gu. Ah! Seandainya saja khayalan itu menjadi kenyataan. "Ayo, kita makan!" ajaknya sambil menarik tangan Yin Lee. Ponsel Yin Lee berdering. "Sebentar! Sebaiknya kau turun terlebih dahulu sebelum mama semakin keras berteriak nanti! Aku akan mengangkat panggilanku. Itu mungkin dari Cleo Tan," ujar Yin Lee sambil meraih tas sekolahnya. "Okay! Jangan lama-lama!" Yang Lee pun keluar kamar dan meninggalkan Yin Lee yang sibuk mencari bunyi ponselnya. "Halo?" sapa Yin Lee melihat bahwa ternyata sebuah nomor asing yang menghubunginya. "Hai. Apakah kau sudah makan?" tanya seseorang di seberang sana. "Ehm, maaf. Ini siapa?" tanya Yin Lee. "Aku Donny Gu." "Eh, Donny Gu, ya ada apa?" Yin Lee seketika gugup ketika mengetahui bahwa ternyata Donny Gu yang menelponnya. "Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin tau saja apakah kau sudah makan atau belum?" "Oh, ak-aku rasa kau tak perlu seperti itu, Donny Gu. Emm ... maaf, ak-aku harus pergi sekarang. Mama memanggilku," ucap Yin Lee gugup. "Oh, apakah kau sedang sibuk?" tanya Donny Gu lagi. "Yeah, aku harus turun sekarang, maafkan aku, ya?" ujar Yin Lee. "Okay, aku akan menelponmu lagi nanti," ujar Donny Gu. "Oh, un-untuk apa, Donny Gu?" tanya Yin Lee dengan nada panik. Beberapa kali ia melihat ke arah pintu kamar, takut jika Yang Lee tiba-tiba masuk. "Aku ingin menanyakan beberapa hal tentang bahasa Inggris yang tadi kau ajarkan. Ada yang sedikit membingungkan bagiku," jawab Donny Gu. "Oh, it-itu? Ah, ya. Bagian mana yang membingungkan? Ehm, sebentar. Eh, begini saja, ak-aku akan mengajarimu ketika kita bertemu di sekolah, bagaimana?" tanya Yin Lee. "Di sekolah? Tapi, itu masih tiga hari lagi, Yin Lee. Aku keburu lupa nanti? Bagaimana jika lusa saja? Kau pasti datang ke Paradise Hall untuk menyaksikan kompetisi Yang Lee, bukan?" "Eh, iya." "Ya sudah, kita bertemu di sana saja, bagaimana?" tanya Donny Gu. "Maksudmu kau ingin aku mengajarimu di sana? Mana mungkin? Aku harus menyaksikan kompetisi Yang Lee. Aku tidak bisa mengajarimu di sana, Donny Gu," tolak Yin Lee. "Kenapa? Jika hanya sekedar menonton Yang Lee, itu tidak akan menghabiskan waktumu sepanjang hari, bukan? Dia hanya tampil selama lima belas menit dan selanjutnya dia akan sibuk seharian menunggu hasil kompetisi bersama dengan teman satu grupnya. Lalu, apa yang membuatmu tidak bisa mengajariku?" tanya Donny Gu tak mau kalah. Yin Lee memijit pelipisnya sambil mondar mandir di dalam kamar dengan panik. Ia tidak ingin Yang Lee salah paham jika melihat Donny Gu dekat dengannya. Adiknya itu sangat menyukai pria ini dan untuk itu, ia benar-benar harus menjaga jarak. "Yin Lee, apakah kau masih di sana?" Donny Gu kembali memanggil karena ia tidak mendengar suara gadis itu sama sekali. "Eh, iya! Ok-okay, begini saja, aku akan mengatur waktunya dan akan mengabarimu secepatnya. Sekarang aku harus menutup telpon ini. Maafkan aku! Sampai nanti!" Tanpa menunggu jawaban Donny Gu, Yin Lee pun memutus panggilan dan langsung turun menuju ruang makan. "Hm, lama sekali kau bertelpon ria? Apakah ada hal penting yang dibicarakan oleh Cleo Tan denganmu?" tanya Yang Lee sambil memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. "Ah, iya! Dia aku ajak ke kompetisi untuk menonton acaramu dan dia sedang memikirkannya. Maklum, kau tau sendiri, dia lebih senang di dalam kamar dan melukis, bukan?" Yin Lee menjawab sambil tersenyum. Ia duduk di samping adiknya yang makan dengan lahap. "Keliatannya kau sedang kelaparan berat, ha?" ledek Yin Lee sambil menyenggol bahu Yang Lee. "Masakan mama kali ini cocok di lidahku, jadi aku tidak bisa berhenti makan," jawab Yang Lee yang disambut tawa sang ibu dan Yin Lee. "Bisa saja kau ini!" Veronica Wu berkata sambil menggelengkan kepalanya. "Aku serius, Ma! Nanti, jika aku menjadi juara dalam kompetisi, mama harus memasakkan makanan seperti ini lagi! Karena aku sangat menyukainya," ucap Yang Lee sambil mengangkat jempolnya. "Aku setuju!" Yin Lee yang baru saja mencicipi masakan sang ibu ikut mengangkat jempolnya. "Ah, kalian ini! Sudah, habiskan makanannya. Mama akan memasakkan kalian setiap hari, tidak usah menunggu even kompetisi!" sahut Veronica Wu sambil mengulum senyum. Ia cukup tersanjung dengan ucapan Yin Lee dan Yang Lee yang memuji masakannya. "Kompetisi apa?" Suara bariton seorang pria mengagetkan semuanya. "Uhuk! Uhuk!!" Yang Lee yang sangat terkejut seketika tersedak ketika mendengar suara sang ayah yang ada di belakangnya. "Eh, minumlah terlebih dahulu, Meí." Yin Lee yang berada di sisinya langsung mengambilkan air minum. "Kalian sedang membicarakan kompetisi apa?" tanya Brendan Lee sambil duduk di hadapan kedua putrinya. Baik Yang Lee dan Yin Lee jadi gugup ditanya seperti itu. "Ehm, itu, Pa. Sekolah sedang ada wacana untuk mengadakan kompetisi olahraga dan seni. Jadi, tadi kami hanya becanda, jika saja kami menang, maka mama harus memasakkan makanan seperti ini lagi," ucap Yin Lee setelah ia memutar otaknya dengan cepat. "Oh!" Brendan Lee hanya mengangguk dan tidak lagi berkomentar. "Tumben kau pulang cepat sekali. Ini belum jam pulang kantor," ucap Veronica Wu sambil menyediakan hidangan di hadapan sang suami. "Yeah, nanti malam aku ada pertemuan penting dengan klien dari mancanegara. Oleh sebab itu, aku harus bersiap untuk menemuinya," jawab Brendan Lee. "Oh." Veronica mengangguk paham. "Apakah papa akan pulang malam?" tanya Yin Lee. "Keliatannya begitu, kenapa? Apakah kau ada keperluan yang harus diselesaikan?" tanya Brendan Lee. "Eh, iya. Eh, tidak. Aku hanya bertanya saja," sahut Yin Lee. "Hmm. Soal kompetisi yang diadakan sekolah, aku tidak ingin kalian terlibat di dalamnya! Itu hanya akan membuat kalian tidak fokus dalam pelajaranmu. Apa kalian mengerti?" tanya Brendan Lee sambil menatap ke arah putrinya satu persatu. Yang Lee dan Yin Lee mengangguk bersamaan. "Terutama kau, Yang Lee," tegas Brendan Lee. "Iya, Pa," sahut Yang Lee. "Oh iya, lusa kita akan diundang makan oleh Andy Gu di rumahnya untuk makan siang. Aku rasa kita semua harus datang!" ujar Brendan Lee. Yang Lee dan Yin Lee spontan saling memandang dengan mata mendelik kaget. Lusa adalah hari kompetisi! "Lusa? Jam berapa, Sayang?" Veronica Wu berusaha bertanya dengan nada sewajarnya, berharap Brendan Lee tidak menaruh curiga. "Undangannya adalah makan siang. Yaaah, sekitar jam dua belas siang," jawab Brendan Lee. O-oh!! Pucat sudah!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN