"Kau menyukai seseorang? Apa maksudnya?" tanya sang ayah mencoba memahami maksud putrinya.
"Seperti Yin Lee menyukai Donny Gu, aku pun memiliki perasaan yang sama terhadap seorang pemuda," ujar Yang Lee.
"Meí, aku tidak menyukai Donny Gu! Kenapa kau terus mengatakan hal itu?" tanya Yin Lee dengan nada protes.
Namun, Yang Lee sama sekali tidak menghiraukan protes saudara kembarnya. Ia terus menatap sang ayah.
Brendan Lee memicingkan matanya mendengar ucapan Yang Lee.
"Aku rasa aku ingin menjalin hubungan serius dengan temanku itu," lanjut Yang Lee.
"Oh, jadi ternyata diam-diam kau selama ini berpacaran?" tanya Brendan Lee dengan tatapan curiga.
Yang Lee tidak menjawab, ia terus menatap sang ayah.
"Pantas saja nilaimu buruk! Jangan-jangan latihan musik juga sebuah alasan bagimu untuk bertemu dengan pacarmu itu?" tuduh Brendan Lee.
"Tidak, Papa, méîmei tidak memiliki pacar!" Yin Lee langsung menyanggah.
"Cukup, Yin Lee! Jangan selalu membela adikmu!" ucap Brendan Lee tegas.
"Itu benar, Papa. méîméí sama sekali tidak dekat dengan siapapun," ujar Yin Lee sungguh-sungguh.
"Kalau begitu, siapa yang tadi siang menjemputnya?" tanya Veronica Wu membalas pembelaan Yin Lee.
"Menjemput? Menjemput di mana?" tanya Brendan Lee penuh kecurigaan.
"Eh!" Veronica Wu langsung menutup mulutnya. Kenapa ia jadi keceplosan?
Yin Lee menatap sang ibu dengan tatapan protes, sementara Yang Lee tatapannya terlihat datar. Ia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini.
"Sebaiknya kita pesan makanan dulu saja sebelum malam semakin larut!" Veronica mencoba mengalihkan pembicaraan.
Ia lalu mengangkat tangannya hingga salah seorang pramusaji datang. Pesanan ditulis lalu pramusaji itu menyebutkan rentang waktu sampai hidangan itu siap disajikan.
Brendan Lee masih menatap sang istri menunggu penjelasan.
"Yang Lee dijemput oleh siapa dan kapan?" tanya Brendan Lee sekali lagi.
"Dia tadi diantar oleh Donny Gu, Pa." Yin Lee berusaha menyelamatkan adiknya.
Veronica mendelik mendengar jawaban putrinya. Jelas yang di dalam mobil tadi bukan Donny Gu.
"Donny Gu?" Brendan Lee makin bingung mendengar jawaban yang simpang siur antara sang istri dan putri kesayangannya.
"Maksudnya bagaimana ini?" tanyanya lagi.
"Yeah, tadi sebenarnya Donny Gu lah yang mengantar méîmei ke rumah bibi Magda. Mungkin Donny Gu menyukai méîmei, jadi jika papa mau mendukung, dukunglah hubungan méîmei dan Donny Gu," ucap Yin Lee.
Brendan Lee langsung tersenyum dengan ekspresi tidak senang.
"Tidak! Jika nilai dia tidak bagus! Maka dia tidak boleh berpacaran!" jawab Brendan Lee tegas.
Yang Lee menundukkan kepalanya mendengar kalimat sang ayah. Dia memang hanya bisa mendapatkan remah-remah perhatian saja dari kedua orang tuanya.
"Ehm, maksudnya bukan berpacaran, Pa. Hanya berhubungan dekat saja sebagai teman seperti yang papa katakan tadi," jelas Yin Lee.
"Bisakah kau tidak menjadi juru bicara bagi adikmu?" tanya Brendan Lee dengan ekspresi gemas.
Yin Lee langsung diam. Ia melirik ke arah Yang Lee yang terus menunduk.
"Em, bagaimana jika sebaiknya kita hentikan saja pembicaraan ini?" ujar Veronica Wu melihat suasana makan malam makin panas.
"Kalian boleh berteman dengan siapapun, termasuk Donny Gu. Namun, mama dan papa tidak mau jika pertemanan kalian mempengaruhi nilai sehingga hasilnya buruk," kata Veronica Wu lagi.
Brendan Lee tidak mengatakan apapun, dalam hati, ia masih penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Yang Lee. Apa benar dia ingin menjalani hubungan serius dengan seorang pria? Atau jangan-jangan dia sudah melakukannya?
Hidangan mereka datang. Yang Lee makan dengan ekspresi datar, sementara Yin Lee makan dengan banyak komentar seperti seorang you tuber.
***
Akhirnya, mereka tiba di rumah. Yin Lee bergegas ke atas, sementara Yang Lee yang ingin mengikuti jejak sang kakak tiba-tiba lengannya ditahan oleh sang ayah.
"Tunggu sebentar, kita harus bicara," ujarnya.
"Katakan, kau ingin menjalin hubungan serius dengan siapa?" tanya Brendan Lee.
Yang Lee menatap sang ayah.
"Jika itu adalah Donny Gu, apakah boleh?" tanyanya.
Brendan Lee terpaku. Donny Gu adalah pemuda yang baik. Seharusnya sangat ideal jika Yin Lee lah yang menjadi pasangannya. Mereka akan terlihat serasi dan seimbang. Sama-sama membanggakan.
"Lupakan, Pa. Bukan dia pria yang kusuka," jawab Yang Lee melihat ayahnya hanya diam.
Ia tau bahwa jika harus bersaing dengan Yin Lee, ia pasti akan kalah. Lagipula, Donny Gu juga tidak menyukainya, lalu kenapa ia harus menaruh harapan pada pemuda itu?
Brendan Lee menarik tangan Yang Lee menuju ruang kerjanya.
"Jangan berbelit-belit, Yang Lee. Katakan, kau menyukai siapa?" tanya Brendan Lee ketika Yang Lee sudah duduk di kursi depan meja kerjanya.
Yang Lee menatap sang ayah.
"Aku menyukai Jacky Chan," jawab Yang Lee.
"Jacky Chan? Siapa itu?" tanya ayahnya.
"Teman satu kelas denganku," jelas Yang Lee.
Brendan Lee mengusap dagunya seperti berpikir.
"Dengar, Yang Lee, papa takkan melarangmu jika kau mau berpacaran, tapi papa harap kau tau batasanmu. Terutama nilai dalam pelajaranmu. Papa tidak ingin ketika kau mengalami masalah dalam hubungan percintaanmu, malah mempengaruhi nilaimu di sekolah," jawab Brendan Lee.
Yang Lee memperhatikan penjelasan sang ayah.
"Jika hanya untuk berteman dekat, maka itu bukan sebuah masalah, tapi jika kau berkata seperti tadi, bahwa kau sangat menyukainya dengan serius, maka menurut papa, itu sangat berbahaya. Orang yang jatuh cinta dengan sungguh-sungguh akan rentan dengan patah hati. Dengar, Nak, dalam hidup ini, orang pertama yang membuat kita jatuh cinta, belum tentu dia adalah jodoh kita. Kau harus mengerti itu. Kenalilah perasaanmu sendiri," ujar sang ayah panjang lebar.
Yang Lee mengerjapkan matanya beberapa kali. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa sang ayah begitu perhatian padanya.
"Apakah Jacky Chan orang baik?" tanya Brendan Lee lagi.
Yang Lee mengangguk.
"Hm, jika kau bisa mengendalikan perasaanmu, tundalah hingga kalian lulus sekolah. Toh waktu kalian masih panjang, bukan? Kalian masih harus melewati masa SMA dan juga perguruan tinggi. Berpacaran sekaràng hanya akan membuat seorang wanita rugi secara fisik dan juga moral. Banyak pemuda yang memanfaatkan hubungan pacaran mereka untuk melakukan hal yang tidak pantas pada wanitanya. Itu yang papa khawatirkan," jelas Brendan Lee.
"Idealnya, kalian berpacaran ketika kalian memang sudah siap secara usia untuk menikah. Misal, di perguruan tinggi atau dunia kerja," lanjut sang ayah lagi.
"Aku mengerti, Pa." Yang Lee menganggukkan kepalanya.
"Sebentar lagi kau akan menginjak usia 15 tahun, papa harap, kau bijaksana dalam berpikir dan mengambil keputusan. Dalam hal ini, papa sungguh berharap nilaimu baik sehingga kau dan Yin Lee bisa satu sekolah lagi," harap sang ayah.
Yang Lee hanya bisa nyengir kuda mendengarnya. Menyamai nilai akademik Yin Lee adalah sebuah hal yang mustahil untuk dilakukan.
"Baiklah, papa rasa pembicaraan ini sudah cukup. Sekarang sebaiknya kau istirahat," ujar sang ayah.
Yang Lee lagi-lagi mengangguk, lalu ia pun berlalu.
***
Di atas kamar, Yin Lee sudah menanti dengan ekspresi cemas menunggu sang adik belum juga naik.
"Hey, apa yang terjadi? Papa bilang apa padamu?" tanya Yin Lee cemas.
Yang Lee mengganti pakaiannya dan menghempaskan diri ke kasur.
"Hhh! Seperti biasa, fokus belajar dan sebisa mungkin nilai kita sama," jawab Yang Lee.
"Oh!" Yin Lee ikut berbaring di ranjangnya.
Di wajahnya kembali tersungging sebuah senyuman dan ia melirik ke arah sang adik.
"Bagaimana dengan Donny Gu, hm? Tidak disangka kita bertemu dengannya malam ini. Ia terlihat tampan, bukan?" goda Yin Lee.
Yang Lee mencibirkan bibirnya. Ia Dan Yin Lee adalah anak kembar, wajah mereka hampir sama, tapi ... kenapa Donny Gu bisa lebih tertarik kepada Yin Lee dibanding dirinya tadi? Apakah pria itu bisa membedakan yang mana Yin Lee dan yang mana dirinya? Ah, tapi itu tidak mungkin. Dia 'kan murid baru?
Hati Yang Lee jadi sesak dibuatnya. Ia pun memiliki memejamkan mata tanpa menggubris pertanyaan sang kakak.
Melihat adiknya memejamkan mata, Yin Lee tidak lagi menggodanya. Yah, mungkin Yang Lee kelelahan karena aktifitasnya yang padat. Seharian ia latihan musik dan harus pergi ke rumah bibi Magda hingga larut malam.
Yin Lee menatap langit-langit kamar. Wajah Donny Gu kembali menghiasi benaknya. Pemuda itu menatapnya begitu rupa, membuat seluruh tubuhnya menggigil tadi. Astagaa! Apa yang sedang kupikirkan? Yang Lee menyukai Donny Gu, tidak seharusnya ia memiliki perasaan yang sama dengan adiknya itu, bukan?
Yin Lee mematikan lampu kamar dan ikut memejamkan mata. Namun, entah kenapa, bayangan Donny Gu masih juga menyapanya dalam kegelapan, membuat Yin Lee menggigit bibirnya.
"Tidak! Hentikan Yin Lee! Jaga batasanmu!" Yin Lee berusaha menetralisir perasaannya.
Namun, bagaimana pun ia berusaha, ia tetap gagal! Bayangan Donny Gu seperti lekat di benaknya.
Semalaman itu, Yin Lee sama sekali tidak bisa tidur. Jadi, ia pun masih terjaga ketika hari sudah terang tanah. Sementara, ia melihat Yang Lee tidur dengan lelapnya, membuat ia tersenyum diam-diam.
Ia lalu mendekati ranjang Yang Lee dan berbaring di sana.
***
Suara ketukan keras di pintu membuat keduanya kaget secara bersamaan!
"Yin Lee! Yang Lee! Bangun! Ini sudah jam berapa?" Suara Veronica Wu membuat keduanya terkejut.
"Ya! Ma!" Sahut keduanya.
"Eh, Yin? Kenapa kau tidur di ranjangku?" Yang Lee jadi kaget melihat sang kakak malah seranjang dengannya.
"Oh, maaf, aku tidak bisa tidur semalam!" ujar Yin Lee sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Hhh!" Yang Lee menghembuskan nafas berat.
Ia menduga pasti Yin Lee sedang membayangkan Donny Gu. Karena, ia pun mengalami hal yang sama. Sekalipun ia ingin membuang bayangan pemuda itu, tapi itu tidaklah mudah.
Donny Gu seperti bayangan bandel yang menempel erat di otaknya. Sosoknya tidak semudah itu bisa diusir, apalagi aroma tubuhnya juga sangat khas, membuat wanita manapun akan mengalami insomnia berkepanjangan.
Bersyukur ia kemarin mengalami kelelahan fisik, jadi tidurnya pun cukup cepat.
Keduanya bergegas bersiap menuju sekolah. Sang ayah terlihat sudah menunggu di meja makan bersama dengan Veronica Wu.
"Pulang sekolah langsung pulang. Jangan kemana-mana," ujar sang ayah begitu mereka duduk.
"Ya, Pa!" sahut Yin Lee.
"Yang Lee, apakah kau mendengarku?" tanya Brendan Lee ke putri bungsunya.
"Ya, Pa!" sahut Yang Lee.
Brendan masih menatap ke arah Yang Lee. Setelah pembicaraannya semalam dengan putrinya itu, ia sedikit khawatir bahwa Yang Lee akan serius berpacaran dengan Jacky Chan yang ia tidak tau siapa.
Selesai sarapan, mereka pun berangkat.
Setibanya di sekolah, Yang Lee dan Yin Lee seperti biasa berjalan bersama menuju kelas.
"Hey!" Tiba-tiba saja seseorang menepuk bahu keduanya.
"Eh, ada apa, Jacky?" Yang Lee yang terkejut spontan menoleh.
"Latihan kemarin sangat kacau sepeninggal dirimu," ujar Jacky Chan.
"Oh, ya? Bagaimana bisa?" tanya Yang Lee.
"Rebecca Zhang beberapa kali membuat kesalahan hingga kami harus latihan berulang. Namun, sampai detik terakhir pun, Rebecca Zhang tidak bisa menemukan performa terbaiknya. Kurasa kau harus latihan full hari ini, Yang Lee. Atau kompetisi kita akan gagal total," ujar Jacky Chan.
Yang Lee mengangguk. Ia lalu menatap Yin Lee.
"Baik, aku akan bilang pada mama bahwa kita akan belajar bersama di rumah Sanny Chou. Nanti aku akan menghubunginya," ujar Yin Lee yang paham akan kebutuhan dukungan sang adik.
"Wah, kau benar-benar saudara kembar yang baik, ya?" puji Jacky Chan.
Yin Lee tersenyum dengan mimik muka tersipu mendapat pujian sederhana seperti itu.
Bertiga mereka masuk kelas. Di sana, Yang Lee dan Ying Lee melihat bahwa Donny Gu sudah datang. Pemuda itu terlihat sibuk membaca komik.
Wajah Yin Lee langsung bersemu merah tanpa bisa ia kendalikan lagi, sementara ekspresi Yang Lee terlihat biasa saja walaupun di dalam sana, ia mengalami kontradiksi yang hebat.
"Donny Gu! Wah, kau datang pagi sekali?" sapa Jacky Chan dan ia langsung duduk di sisi pemuda itu.
"Hm," jawab Donny Gu sekilas tanpa memalingkan wajahnya dari komik yang ia baca.
"Hey, aku butuh supportmu untuk kompetisi yang akan diadakan lusa. Kau harus mendukung kami, okay?" harap Jacky Chan.
"Katakan, di mana kompetisinya?" jawab Donny Gu.
"Di aula gedung Paradise," jawab Jacky Chan.
"Baiklah," jawab Donny Gu singkat.
Matanya menatap sekilas ke arah Yang Lee dan Yin Lee di depan sana. Kedua gadis itu terlihat sibuk mengatur buku masing-masing.
"Hehe! Kau memang terbaik," puji Jacky Chan.
"Yang Lee!" Suara keras Rebecca Zhang mengagetkan seisi kelas.
Gadis itu masuk dengan ekspresinya yang sama sekali tidak bersahabat!
"Eh, ada apa, Rebecca?" tanya Yang Lee dengan wajah terkejut.
"Aku mengeluarkanmu dari kompetisi per hari ini!"