Yang Lee beberapa kali melirik jam tangannya. Tidak! Ia tidak bisa lagi menunggu bus jika begini. Ayahnya akan tiba terlebih dahulu jika ia tidak segera bergegas.
Dengan sangat terpaksa ia mencari taxi. Namun, lagi-lagi, taxi yang ia tunggu tak kunjung tiba. Hati Yang Lee jadi menggigil membayangkan waktu terus bergerak.
"Astagaa! Bagaimana ini?"
Ponsel Yang Lee berbunyi dan muncul nama Yin Lee di sana.
"Wei?" sapa Yang Lee.
"Meí, kau ada di mana?" tanya Yin Lee di seberang sana.
"Aku sedang menunggu taxi lewat, tapi entah kenapa semua taxi seperti musnah." Yang Lee berkata dengan nada frustrasi.
"Astagaa, lalu bagaimana? Ini sudah jam 4 lebih! Sebentar lagi papa datang," Yin Lee ikutan panik di seberang sana.
"Aku juga bingung, Yin," jawab Yang Lee.
Baru saja ia berkata, sebuah motor sport berhenti di depan Yang Lee, membuat gadis itu mengerutkan keningnya. Pengendara itu tidak tampak wajahnya, karena tertutup helm yang mahal.
"Ayo, naik! Kau Yin Lee, 'kan?" sapa pemuda itu.
Wajah Yang Lee langsung manyun begitu ia dikira adalah kakaknya.
"Bukan, kau salah orang!" jawabnya ketus. Ia pun langsung memalingkan wajahnya dan enggan menatap pemuda itu.
"Halo, Meí!" Terdengar seruan Yin Lee di seberang sana.
"Eh, iya, aku masih menunggu taxi yang lewat," sahut Yang Lee kembali fokus dengan panggilan telponnya.
Pemuda itu menggoyang-goyangkan tangannya di depan Yang Lee yang sibuk bertelpon ria.
"Hey! Maafkan aku. Habisnya wajah kalian sangat mirip sih," ujarnya.
"Memangnya kau siapa?" balas Yang Lee. Ia kembali menjauhkan telepon dari mulutnya.
Pria itu membuka helmnya.
"Do-Donny Gu?" Yang Lee terperanjat. Apa yang dilakukan anak baru itu di sekitar sini?
"Meí! Ada apa di sana?" Suara Yin Lee masih terdengar di ponsel Yang Lee. Kakaknya itu terdengar begitu risau dan panik mendengar sang adik seperti berbicara dengan seseorang.
"Ehm, sebentar, nanti kutelpon lagi, ya?" Yang Lee langsung menutup panggilannya.
"Ayo, naik! Memangnya kau mau kemana?" tanya Donny Gu.
"Ehm ... A-apakah kau mau mengantarku ke Wutang?" tanya Yang Lee sambil melirik jam tangannya sekali lagi.
"Wutang? Oh, kau mau kesana? Ok! Naik saja!" ujar Donny Gu sambil kembali memakai helmnya.
Yang Lee menggigit bibirnya dan dengan menguatkan iman, ia pun naik di belakang Donny Gu.
"Sudah?" tanya Donny Gu.
"Sudah."
"Berpeganganlah yang kuat!" ujarnya.
Tangan Yang Lee dengan ragu melingkar di pinggang Donny Gu. Baru saja tangannya menyentuh bagian depan perut pria itu, Donny Gu langsung tancap gas, sehingga Yang Lee dengan spontan mengeratkan pelukannya.
Kepalanya dengan kuat bersandar di punggung pria itu sambil memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, ia dengan berani memeluk seorang pria dengan begitu erat. Jantung Yang Lee berdegup dengan kencang. Ditambah lagi dengan aroma tubuh Donny Gu begitu maskulin, membuat fantasi Yang Lee melanglang buana ke mana-mana.
Perjalanan itu tidak diwarnai percakapan. Donny Gu berkendara dengan cepat sehingga dalam hitungan menit, ia sudah tiba di jalan Wutang.
"Kita sudah sampai di Wutang," jawab Donny Gu membuyarkan imajinasi Yang Lee.
"Eh, iya! Baiklah aku turun sini saja!" Yang Lee yang seperti disadarkan langsung melepas pelukannya.
"Eh, jalan Wutang ini panjang! Kau sebenarnya mau berhenti di Wutang sebelah mana?" Tangan Donny Gu menahan tangan Yang Lee di perutnya.
Kali ini darah Yang Lee seperti terjun bebas dari kepala langsung ke kaki!
"Eh, em! Di-di di sana!" Ia sampai lupa nomor rumah bibi Magda.
"Ok, tunjukkan arahnya," ujar Donny Gu masih menahan tangan Yang Lee.
"Eh, iy-iya!" Yang Lee menggigit bibir menahan hatinya yang entah sudah berbentuk seperti apa sekarang.
Motor itu bergerak lambat sampai Yang Lee akhirnya bisa melihat rumah bibi Magda.
"Di-di di depan itu, ak-aku berhenti di sana saja!" ujar Yang Lee terbata.
"Oh, baiklah!" Donny Gu sedikit mempercepat laju motornya hingga ia sampai di depan rumah yang tinggi dan besar.
"Te-terima kasih!" ujar Yang Lee sambil turun dari motor.
"Apakah ini rumahmu?" tanya Donny Gu sambil membuka kaca helmnya.
"Oh, bukan. Ini rumah bibiku. Kakak dari ayahku," jawab Yang Lee sambil membungkuk penuh rasa terima kasih.
Donny Gu mengaitkan bibirnya sambil mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu!" ucapnya sambil kembali menutup kaca helm.
Dan, beberapa detik kemudian, motor Donny Gu pun melaju dan hilang di tengah kepadatan lalu lintas.
Yang Lee memegangi dadanya yang masih berdegup kencang. Ia memejamkan matanya mengingat bagaimana ia tadi memeluk Donny Gu dan pria itu menggenggam tangannya. Ahh! Dunia seperti berputar dengan cepat!!
"Hey, Meí! Ayo masuk!" Suara Yin Lee membuyarkan lamunan Yang Lee.
Ia menoleh dan melihat di atas balkon sana, kakaknya melambai dan tersenyum penuh arti.
Tanpa menunggu lama, Yang Lee langsung bergegas naik dengan wajahnya yang bersemu merah.
Yin Lee dengan tidak sabar, menyongsongnya di puncak anak tangga.
"Wah! Kau diantar siapa tadi? Dia bukan ojek online 'kan? Motornya mirip dengan punya Valentino Rossi," ujar Yin Lee dengan nada menggoda.
Yang Lee yang belum bisa menetralisir perasaannya jadi makin tersipu.
"Siapa dia, Meí?" kejar Yin Lee penuh dengan rasa penasaran kali ini.
Yang Lee berusaha menguasai perasaan senangnya. Ia tersenyum dengan misterius dan mengunci bibirnya di depan Yin Lee lalu melangkah pergi menuju kamar bibi Magda.
"Hey!" Yin Lee tampak protes melihat Yang Lee meninggalkannya begitu saja.
Ia bergegas menyusul langkah adiknya.
"Hai, Ma. Bibi Magda, apa kabar?" Yang Lee menyapa semua orang begitu ia masuk ke dalam kamar.
"Sudah cukup baik sejak dijenguk oleh kalian," ucap Bibi Magda sambil tersenyum.
Sang ibu terlihat bernafas lega ketika melihat putri bungsunya muncul. Sejak tadi, ia begitu tegang dan takut kalau kalau sang suami datang duluan sebelum Yang Lee. Bisa dipastikan, ia akan menjadi daging giling yang dicacah jika sampai sang suami tau bahwa ia mengijinkan Yang Lee bermain musik.
Yin Lee yang mengekor di belakang Yang Lee mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh tentang siapa yang telah mengantar adiknya itu. Nanti saja hal itu akan ia tanyakan ketika mereka tiba di rumah.
"Maaf, aku datang terlambat," ujar Yang Lee lagi.
"Yeah, aku tau, ibumu sudah mengatakannya. Kau banyak tugas sekolah yang harus dikerjakan," jawab Bibi Magda.
Yang Lee mengangguk.
"Apakah kau sudah makan?" tanya bibi Magda.
"Emm ...."
"Di bawah ada makanan, biar Yin Lee yang menemanimu makan," sahut Veronica Wu.
Yang Lee mengangguk. Perutnya memang sedang menjerit sejak tadi. Ditambah dengan energi yang terkuras gara-gara memeluk Donny Gu di motor.
"Kalo begitu, ayo!! Kita makan dulu di bawah!" Yin Lee langsung bersemangat. Ia menarik tangan Yang Lee dan mengajaknya keluar kamar.
Akhirnya ia bisa menemukan kesempatan untuk menginterogasi adiknya itu.
Yang Lee yang tidak paham dengan maksud kakaknya dengan semangat mengikuti.
Mereka tiba di ruang makan, Yin Lee dengan perhatian menyediakan semua keperluan makan adiknya. Ia terlihat sibuk ke sana kemari mengambilkan piring, sumpit, sendok, garpu, nasi lengkap semuanya, membuat Yang Lee jadi senyum senyum sendiri.
"Apakah kau mau jus jeruk?" tanya Yin Lee lagi.
"Hm, boleh!" Yang Lee mengangguk dengan semangat.
Akhirnya, semua pun sudah tersedia dengan lengkap di meja makan.
"Silahkan dinikmati," ujar Yin Lee sambil duduk di depan adiknya.
"Terima kasih jièjié-ku yang cantik," sahut Yang Lee sambil tersenyum.
Ia pun menikmati makan siangnya yang super terlambat.
"Jadi, katakan siapa pria tadi? Jelas itu bukan Jacky Chan. Karena kita masih Junior High School, masih belum boleh naik motor, 'kan? Apakah kau diam-diam sudah memiliki teman di Senior High School?" tanya Yin Lee penasaran.
Namun, Yang Lee hanya diam saja. Ia tersenyum penuh misterius dan tidak menjawab.
"Meí, katakan, siapa pria tadi?" tanya Yin Lee.
"Astaga, bukan siapa-siapa Yin Lee. Sudahlah," jawab Yang Lee sambil tersenyum simpul.
"Lalu, apakah kau tadi diantar oleh orang asing?" tanya Yin Lee lagi.
Yang Lee tertawa melihat saudara kembarnya begitu penasaran untuk pertama kalinya.
"Orang asing? Orang asing siapa?" Sebuah suara mengejutkan mereka berdua.
"Papa?" Yang Lee dan Ying Lee serempak menoleh ke arah suara tersebut.
"Siapa yang diantar oleh orang asing?" tanya Brendan Lee sekali lagi.
Tatapannya penuh selidik ke arah Yang Lee dan Ying Lee.
"Eh, itu, Pa. Teman kami, Jessica An berani diantar oleh orang asing," jawab Yin Lee berbohong.
"Oh. Sebaiknya kalian jangan mengikuti jejaknya!" Brendan Lee berkata penuh peringatan.
"Ya, Pa. Tentu saja. Kami takut dengan orang asing," jawab Yin Lee mengamini.
"Baiklah, papa mau naik untuk menjenguk bibimu," ujar Brendan Lee sambil melangkah.
"Oh iya, bagaimana hasil ujian menggambarmu tadi, Yang Lee? Apakah bagus? Papa ingin melihatnya." Brendan Lee kembali menoleh ke arah anak-anaknya..
GLEK!
Yang Lee seketika tersedak mendengar pertanyaan sang ayah. Hari ini sama sekali tidak ada ujian menggambar.
Ia menatap kakaknya memohon bantuan. Namun, kali ini Yin Lee cuek bebek dan menatap langit-langit seperti orang yang sedang mencari cicak sambil sesekali melirik Yang Lee dengan tatapan penuh intimidasi.
Yang Lee jadi mendengus melihat sikap kakaknya yang seperti itu. Akhirnya, ia pun mengalah.
"Baik, akan kukatakan padamu nanti," bisiknya tanpa suara.
Yin Lee mengulum senyum.
"Ujian kami akan dibagikan lusa, Pa. Nanti jika sudah dibagi, akan kami tunjukkan ke papa, aku rasa nilai kami akan bersaing ketat," jawab Yin Lee.
Yang Lee makin mendelik mendengar jawaban kakaknya yang luar biasa itu! Dari mana dia bisa menunjukkan lukisan sesuai harapan sang ayah? Itu sangat tidak mungkin!!!
"Bagus. Papa harap kali ini papa bisa puas melihat nilai méîméí mendekati nilaimu," sahut Brendan Lee dengan wajah puas, lalu ia berlalu pergi.
Yang Lee memutar bola matanya mendengar jawaban sang ayah. Dengan target lukisan seindah itu masih juga diharapkan mendapat nilai dibawah Yin Lee? Yang benar saja! Sekalipun ia tidak paham seni, tapi melihat lukisan Cleo Tan, jelas tidak mungkin Cleo Tan mendapatkan nilai di bawah kakaknya.
"Oke, jadi katakan, siapa yang tadi mengantarmu?" tanya Yin Lee lagi.
"Hhh! Kenapa kau begitu penasaran, jièjié-ku?" tanya Yang Lee.
"Ow! Apakah tidak boleh? Adikku tiba-tiba saja diantar oleh Valentino Rossi, siapa yang tidak kepo? Kau kenal dimana dengannya?" tanya Yin Lee lagi.
Yang Lee tersenyum.
"Kau juga kenal dengannya," jawab Yang Lee.
"Oh ya? Siapa dia?" tanya Yin Lee makin penasaran.
"Dia adalah ...." Yang Lee menggantung kalimatnya.
"Eh, siapa? Ayo, katakan!!" Yin Lee terlihat gemas melihat sang adik malah mengerjainya.
"Dia adalah ... em ... Eng Ing Eng ... Donny Gu!" jawab Yang Lee.
Mata Yin Lee jadi mendelik.
"Apa? Donny Gu? Anak baru itu?" tanya Yin Lee.
Yang Lee tersenyum sambil mengangguk berkali-kali.
"Wah, bagaimana kau bisa diantar olehnya?" tanya Yin Lee penasaran.
"Entahlah, tiba-tiba ketika aku sedang menunggu bus, dia berhenti di depanku," jawab Yang Lee.
Wajahnya seketika berubah manyun ketika mengingat bahwa ia dikira adalah Yin Lee.
"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Yin Lee yang melihat perubahan wajah adiknya.
"Eh, tidak. Dia tiba-tiba memaksaku untuk naik motornya," jawab Yang Lee dan ia kembali tersenyum mengingat bagaimana ia memeluk tubuh pria itu.
"Wah, itu romantis sekali. Apa mungkin dia menyukaimu?" tebak Yin Lee.
"Entahlah ...." Wajah Yang Lee bersemu pink ketika ia membayangkan Donny Gu menggenggam tangannya.
Apa mungkin pemuda itu menyukainya seperti yang dikatakan oleh Yin Lee? Yeah, bisa jadi.
Hmm ... Yang Lee menatap kakaknya dengan tatapan cemas. Apa mungkin Donny Gu sebenarnya menyukai Yin Lee? Tidak! Bukankah ketika pemuda itu menggenggam tangannya, Donny Gu sudah tau bahwa dirinya adalah Yang Lee dan bukan Yin Lee.
Yeah, tentu saja. Donny Gu tidak mungkin sedang membayangkan Yin Lee.
"Keliatannya kau sedang jatuh cinta," tebak Yin Lee.
Yang Lee tersenyum.
"Tidak, kita masih Junior High School, mana boleh memiliki perasaan seperti itu? Nanti kita akan dimarahi papa, apalagi nilaiku tidak sebagus dirimu. Begitu papa tau aku pacaran, maka papa akan langsung mencincangku habis-habisan!" sahut Yang Lee.
"Wah wah ... keliatannya kau benar-benar menyukainya, ckck!" Yin Lee terlihat senang melihat adiknya bahagia.
"Hah? Darimana kau bisa menyimpulkan hal itu?" tanya Yang Lee bingung.
"Haha!" Yin Lee tertawa.
"Iyalah, itu terlihat sangat jelas. Kau berkata begitu jauh sampai ingin berpacaran dengannya," sahut Yin Lee.
Yang Lee langsung menutup mulutnya. Benarkah?? Apa yang tadi ia katakan?
"Haha! Tidak papa, Meí. Bukankah teman kita juga sudah banyak yang berpacaran? Jika cinta sudah menyentuh hatimu, kenapa tidak?" balas sang kakak penuh dukungan.
"Ah! Sudahlah! Aku tidak ingin kita membicarakan hal ini!" elak Yang Lee.
Ia pun membereskan sisa makanannya dan membawanya ke dapur.
Yin Lee masih mengekor di belakang saudara kembarnya itu.
"Donny Gu, hm?" Yin Lee kembali menggoda ketika Yang Lee sibuk mencuci piring.
"Ih! Apa kau ini? Jangan meledekku!" sergah Yang Lee dengan ekspresi tersipu.
"Haha! Wô de mèimei liàn àile," sahut Yin Lee sambil tertawa.
Ia pun berlalu pergi dan naik ke atas. Sepeninggal sang kakak, Yang Lee masih tersenyum-senyum sendiri.
Donny Gu adalah pemuda pertama yang ia peluk. Entah kenapa berawal dari sana, perasaannya jadi gundah gulana sekarang. Apakah pemuda itu juga memikirkan dirinya seperti ini? Ahh! Seandainya saja itu benar. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?
Sepanjang sore itu, Yang Lee seperti susah untuk konsentrasi. Di benaknya hanya ada bayangan si babang tampan yang bernama Donny Gu.
Semua orang masih berada di kamar bibi Magda ketika Lena Tan anak bibi Magda akhirnya pulang.
"Wah, paman, bibi, maaf jadi merepotkan. Hari ini aku benar-benar sibuk dan tidak bisa menjaga mama," ucap Lena Tan sambil menundukkan kepalanya tanda hormat.
Lena Tan adalah putri pertama dari Bibi Magda. Anak keduanya adalah Dicky Tan. Sementara ayah mereka, Richard Tan sudah meninggal beberapa tahun yang lalu ketika Dicky Tan masih kuliah.
"Tidak papa, Lena. Kebetulan kami juga sudah lama tidak menjenguk ibumu," sahut Veronica Wu.
"Terima kasih, Bibi Veronica, Paman Brendan," ucap Lena Tan sambil membungkuk sekali lagi.
Ia lalu menatap kepada kedua sepupunya.
"Hai, sudah lama kita tidak bertemu, siapa di antara kalian yang bernama Yin Lee?" tanya Lena Tan.
"Aku, jîe," jawab Yin Lee.
"Wah, berarti kau pasti Yang Lee, 'kan?" tanya Lena Tan sambil menatap sepupu satunya.
Yang Lee mengangguk.
"Wow! Kalian sudah tumbuh besar dan makin cantik! Aku masih saja belum bisa membedakan kalian lho," ujar Lena Tan sambil tersenyum.
"Baiklah, karena Lena sudah datang, sebaiknya kau pulang dan ajak anak-anakmu istirahat, Brendan," ujar Bibi Magda kepada adiknya.
"Yeah, semoga kau cepat sembuh, jîe," sahut Brendan Lee.
Bibi Magda tersenyum dan mengangguk.
"Oh ya, Bibi, Paman. Apakah aku boleh mengajak Yin Lee dan Yang Lee sebentar saja?" tanya Lena Tan sambil menatap Veronica Wu dan Brendan Lee.
"Em, yah tentu saja!" sahut Veronica Wu.
"Ayo, kalian ikut aku ke kamarku. Ada yang ingin kuberikan pada kalian," ajak Lena Tan sambil menggandeng kedua tangan sepupunya.
Bertiga mereka pergi menuju kamar Lena Tan yang ada di sebelah.
"Ayo, masuk!" Lena Tan lalu menyuruh keduanya untuk duduk di sofa yang terdapat di kamarnya yang luas.
Ia lalu menuju ke sebuah nakas dan membuka lacinya. Dari sana ia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan lalu mengeluarkan dua buah kalung emas dengan liontin hati yang satu berwarna merah hati, yang satu berwarna pink.
"Ini, kalian pakailah di leher masing-masing. Aku dengar Yin Lee suka dengan warna pink, sementara Yang Lee suka dengan warna merah hati, bukan? Jadi, kalian bisa miliki ini, ambillah!" ujar Lena Tan sambil menyodorkan kedua buah kalung cantik itu.
Yin Lee dan Yang Lee saling berpandangan lalu tersenyum. Mereka berdua maju lalu menerima kalung-kalung tersebut.
Kalung-kalung tersebut sungguh cantik ketika Yin Lee dan Yang Lee mengamatinya.
"Sini, aku pakaikan, jadi ke depannya aku tidak bingung untuk mengenali kalian," ujar Lena Tan.
Yin Lee dan Yang Lee kembali menyerahkan kalung mereka untuk dipakaikan.
"Wah, kalian cocok ketika mengenakannya," puji Lena Tan.
"Xie-xie, jîe," jawab Yang Lee dan Yin Lee bersamaan.
"Baiklah, ayo kita kembali ke paman dan bibi," ajak Lena Tan.
Mereka lalu kembali ke kamar Bibi Magda.
"Sudah selesai?" tanya Brendan Lee.
"Sudah, Paman," jawab Lena Tan sambil memeluk kedua bahu sepupunya.
"Papa, apakah papa kini melihat perbedaan kami?" tanya Yin Lee sambil menatap sang ayah, berharap ayahnya melihat apa yang baru di lehernya.
"Kau ini bertanya apa? Jelas papa bisa melihat perbedaan kalian sejak kalian masih bayi. Bentuk mata sipit kalian saja sudah berbeda," sahut Brendan Lee.
Ish! Yin Lee jadi manyun dijawab seperti itu. Sementara Yang Lee malah cekikikan melihat rasa narsis sang saudara kembar tidak terjawab dengan baik.
"Bukan begitu maksud Yin Lee, Paman. Ia bertanya, apakah Paman sekarang melihat ada yang berbeda di diri Yin Lee dan Yang Lee?" Lena Tan berusaha meluruskan.
Yin Lee mengangguk-anggukan kepala dengan semangat mendengar Lena Tan menerjemahkan maksudnya.
"Hm?" Brendan Lee mulai memperhatikan kedua putrinya dengan seksama, sementara Veronica Wu yang sudah melihat perbedaan itu hanya tersenyum di belakang sang suami.
"Apa, ya?" tanya Brendan Lee sambil mengerutkan keningnya.
Lena Tan tersenyum melihat ekspresi sang paman. Ia pun dengan tidak sabar akhirnya memberi kode di leher.
"Oh ya ya! Wah kalian memiliki kalung baru ya?" ujar Brendan Lee akhirnya.
Yin Lee yang melihat bocoran yang diberikan oleh Lena Tan jadi mencibir ke sang ayah.
"Ah, papa payah! Tidak perhatian sama sekali! Yang diliat cuma nilai aja!" rajuk Yin Lee dengan ekspresi kesal.
Brendan Lee tertawa.
"Hey! Papa sudah tau sejak tadi! Siapa yang tidak bisa melihat bahwa lehermu kini jadi berkilau!" jawab sang ayah dengan nada protes.
"Ah, ga percaya!" ujar Yin Lee dengan mimik muka sebal.
"Idih! Papa hanya menggodamu saja! Tidak disangka ternyata begini reaksimu ketika kebutuhan narsismu tidak terjawab," ucap Brendan Lee sambil menggelengkan kepalanya.
Semua jadi tertawa, hanya Yin Lee saja yang kini terlihat malu.
"Ya sudah, ayo kita pulang. Biar bibimu bisa beristirahat," ajak Veronica Wu.
Semuanya setuju.
"Bibi, kami pulang. Cepat sembuh, ya?" Pamit Yang Lee dan Yin Lee.
"Hati-hati di jalan!" balas Bibi Magda.
Sesampainya di bawah, Lena Tan kembali mengucapkan terima kasih kepada Brendan Lee dan Veronica Wu.
***
Dalam perjalanan pulang, Brendan Lee menyarankan agar mereka makan malam di luar saja. Mengingat istrinya pasti sudah lelah dan belum sempat membuat makan malam.
"Boleh," sahut Veronica Wu bersemangat.
Brendan Lee akhirnya memutar mobilnya dan memilih restaurant San Wu Tang sebagai lokasi makan malamnya.
Veronica Wu langsung tersenyum ketika mobil mereka memasuki parkiran.
"Kau memang pintar memilih restaurant, Sayang," puji Veronica Wu.
"Yeah, kita semua pasti lelah, bukan? Anak-anak juga. Jadi, makan di sini aku harap bisa membuat kita sedikit terhibur dari rasa penat," jawab Brendan Lee.
Mereka pun keluar dari mobil dan masuk ke restaurant bersama-sama.
Brendan Lee memeluk kedua putrinya, sementara Veronica Wu berjalan di belakang.
"Silahkan, Tuan." Seorang pramusaji mempersilahkan mereka untuk masuk.
Brendan Lee menuju ke sebuah meja yang ada di dekat jendela.
"Brendan Lee?" Seorang pria tiba-tiba menyapanya.
"Eh, Andy Gu?" Brendan terkejut ketika ia bertemu dengan teman lamanya.
"Wah! Kau ternyata pindah kemari? Pantas saja aku sudah tidak mendengar kabarmu di Huang Zhou sejak lama," ujar Andy Gu sambil menepuk bahu Brendan.
"Ya, aku pindah kemari sejak menikah. Kau sendiri sejak kapan berada di Lincang? Kenapa kita tidak pernah bertemu sebelumnya, ya?"
"Oh, aku baru pindah kemari sekitar satu minggu," jawab Andy Gu.
"Oh, pantas ... Oh ya, kenalkan ini istriku, dan ini kedua anakku," ujar Brendan Lee sambil menarik lengan istrinya agar maju.
"Wah, anakmu kembar?" tanya Andy Gu dengan ekspresi terkejut.
"Yeah." Brendan Lee berkata sambil tersenyum bangga.
"Selamat malam, Paman. Kenalkan saya Yang Lee dan ini kakakku Yin Lee," ucap Yang Lee dengan ramahnya.
"Wah, kalian cantik sekali," puji Andy Gu.
Kedua putri kembar itu menunduk mendengar pujian dari Andy Gu.
"Dan, ini istriku," ujar Brendan Lee.
"Sayang, kenalkan ini Andy Gu, teman kuliahku dulu," ucap Brendan Lee sambil memeluk bahu istrinya.
"Hai, senang bertemu dengan Anda, Tuan Andy. Saya, Veronica," ucap Veronica Wu sambil mengulurkan tangannya.
"Senang juga bertemu dengan Anda, Nyonya Lee," sambut Andy Gu.
"Oh, ya. Kenalkan juga ini istri dan anakku." Andy Gu menarik tangan istrinya dan anaknya agar maju.
Istri Andy Gu terlihat seperti seorang yang pemalu. Wajahnya terlihat cantik dan imut, tapi ia selalu saja menunduk.
Sementara putra dari Andy Gu, tubuhnya cukup tinggi dan ...
"Astagaa ...." Yin Lee langsung menyenggol lengan adiknya.
"Emm, hai, senang bertemu dengan Anda, Tuan dan Nyonya Lee. Saya Jenny," ucap istri Andy sambil wajahnya setengah menunduk.
"Senang bertemu dengan Anda juga Nyonya Gu," sambut Veronica.
"Anak Anda, mereka cantik-cantik, ya? Persis seperti Anda," puji Jenny.
Ia menatap kedua anak kembar itu sekilas lalu menunduk kembali.
"Yeah dan itu pasti putra Anda, bukan?" Veronica Wu berkata sambil menatap seorang pemuda yang berdiri di sisi Andy Gu.
"Yeah, benar."
"Ayo, Nak. Kau harus berkenalan dengan Paman dan Bibi Lee," ajak Jenny sambil meraih lengan putranya.
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan dan Nyonya Lee, saya Donny Gu," ujar pemuda itu sambil mengulurkan tangannya.
"Wah, kau pun memiliki putra yang tampan, Andy!" puji Brendan Lee sambil menjabat tangan Donny Gu dengan erat.
"Haha! Benarkah? Apakah dia setampan diriku?" ucap Andy dengan narsisnya.
"Yeah, dia lebih tampan pastinya!" jawab Brendan Lee, membuat Andy memeluk putranya sambil tertawa.
Tatapan Donny Gu mengunci Yin Lee. Membuat gadis itu langsung menundukkan kepalanya. Ia tidak terbiasa ditatap seperti itu dan ia juga tidak paham artinya.
Sementara Yang Lee yang juga memperhatikan Donny Gu, entah kenapa ia merasakan sakit hati yang luar biasa. Sangat berbeda dengan kebahagiaan yang tadi sore ia rasakan.
"Hey, kenapa diam saja? Kalian harus berkenalan, bukan?" Andy Gu menyenggol bahu putranya.
"Kami sudah kenal, kami juga satu kelas," jawab Donny Gu datar.
"Oh, astaga, ya itu benar! Pantas tadi aku sempat berpikir, dimana aku pernah melihat seragam yang seperti ini. Ternyata, seragam Donny sama dengan kalian!" ucap Andy Gu sambil menepuk dahinya.
"Oh, benarkah?" Brendan Lee menatap kedua putrinya yang masih mengenakan seragam sekolah.
Yin Lee menunduk, sementara Yang Lee masih menatap Donny Gu dengan tatapan entah apa.
"Oh, okay. Kalau begitu, bagaimana jika kita makan malam bersama?" ajak Brendan Lee sambil mempersilahkan keluarga Andy Gu untuk duduk.
"Wah, kami baru saja selesai makan, bagaimana jika lain waktu saja kita bertemu lagi?" ujar Andy Gu sambil menyerahkan kartu namanya.
Brendan Lee menerimanya.
"Oh, jadi kau yang sekarang menjabat sebagai CEO di perusahaan Financial Yang Tzen menggantikan Tuan Chou?" tanya Brendan Lee ketika membaca kartu nama yang disodorkan.
Yang Tzen adalah sebuah perusahaan keuangan terbesar yang ada di Lincang dan Huang Zhou.
"Oh, kau mengenal Tuan Chou? Yeah, beliau akan pensiun, jadi aku dipindahkan kemari untuk menggantikan posisinya dalam waktu dekat," jawab Andy Gu.
"Oh, begitu? Yah, baguslah! Dengan begitu, kita bisa hangout bersama sesekali," jawab Brendan Lee sambil menepuk bahu temannya.
"Yeah, aku rasa itu keren," jawab Andy Gu.
"Ok, ini kartu namaku." Brendan Lee juga menyodorkan kartu nama miliknya.
Andy Gu membacanya sekilas.
"Wah! Kau juga menjadi CEO di perusahaan digital Shang Tung?" tanya Andy Gu.
"Yeah dan kami juga merupakan mitra bisnis dari perusahaan Yang Tzen," jawab Brendan Lee.
"Wow! Itu keren! Kita akan sering bertemu ke depannya," jawab Andy Gu.
Brendan Lee mengangguk dan tertawa mengamini.
"Baiklah, sebaiknya kami pergi dulu. Sampai ketemu lagi lain waktu. Oh ya, nikmati hidangannya! Restaurant ini memiliki cita rasa yang sangat lezat," ucap Andy Gu.
Brendan Lee tertawa.
"Bukankah aku yang telah lama tinggal di kota ini? Hey, pendatang baru?" ujarnya.
Kini, Andy Gu yang tertawa.
"Maafkan aku, aku hanya mengungkapkan kepuasanku saja, Tuan rumah," ujar Andy Gu.
Semua akhirnya saling berpamitan.
"Sampai ketemu besok Yin Lee dan Yang Lee." Donny Gu pun berpamitan sambil membungkuk seperti seorang pangeran yang menghormati tuan putrinya.
Baik Yang Lee dan Yin Lee tersenyum dan mengangguk.
"Kau sungguh beruntung, Meí. Donny Gu adalah pemuda yang tampan. Aku sangat mendukung jika kau dan dia menjalin hubungan," bisik Yin Lee sepeninggal keluarga Andy Gu.
Yang Lee tersenyum getir. Apakah kakaknya ini sedang meledeknya? Bukankah sangat jelas bahwa sejak tadi, Donny Gu hanya memperhatikan Yin Lee dan bukan dirinya?
"Kalian sedang berbisik soal apa?" tanya Brendan Lee.
"Eh, tidak, Pa. Bukan apa-apa," jawab Yin Lee cepat.
Yeah, jika Yin Lee selalu vokal ketika di rumah, tapi tidak dengan Yang Lee. Yang Lee lebih berani ketika ia berbicara di luar rumah dibanding ketika ia di dalam rumah. Di rumah, Yang Lee lebih banyak diam dan menerima nasib. Sebaliknya, Yin Lee selalu jadi pendiam ketika ia diluar rumah.
"Keliatannya Yin Lee menyukai Donny Gu," sahut Yin Lee tiba-tiba.
"Apa?" Yin Lee jadi mendelik mendengar ucapan adiknya yang sembarangan.
"Benarkah? Papa akan setuju jika kau menjalin hubungan dengannya," jawab Brendan Lee penuh dukungan.
"Ih, bicara apa papa ini? Aku masih akan menginjak usia 15 tahun, Pa! Aku mau fokus belajar dan tidak ingin pacaran!" elak Yin Lee.
"Hm, yeah, itu papa sangat setuju. Namun, jika kau menyukainya, berteman lebih dekat dengannya juga bukan sebuah masalah, bukan? Keluarga Paman Andy Gu sangat baik dan terpandang. Kau juga seorang anak yang cerdas dan pintar, kalian pasti akan menjadi pasangan yang serasi," ujar sang ayah.
"Sayang, biarkan anak-anak fokus dengan sekolahnya dulu." Veronica Wu yang tidak ingin kedua putrinya berpacaran segera menginterupsi ucapan sang suami.
"Yeah, aku tidak memaksa. Hanya saja mengetahui bahwa putriku menyukai anak dari temanku, aku hanya mendukungnya saja," jawab Brendan Lee.
Yin Lee melirik Yang Lee, wajah adiknya itu nampak kusut sangat berbeda dengan yang tadi.
"Aku memesan ini saja! Lobster asam manis!" tunjuk Yin Lee mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hmm, pilihan yang oke," sahut Brendan Lee.
"Yang Lee, kau mau makan apa, Sayang?" tanya sang ayah.
"King Crab," jawab Yang Lee tanpa melihat buku menu.
"Wow! Pilihan juara!" puji sang ayah.
"Papa, aku rasa aku juga menyukai seseorang," ucap Yang Lee tiba-tiba.
"Hm?" Semua mata menatap ke arah Yang Lee termasuk sang ibu.
Yin Lee menatap adiknya dengan perasaan cemas, apakah Yang Lee akan jujur dengan mengatakan bahwa ia lah yang menyukai Donny Gu?