Failed to practice

2556 Kata
Yang Lee mengerjapkan matanya mendengar jawaban Rebecca Zhang. "Rebecca--" "Sudahlah, Yang Lee, kau adalah satu-satunya anggota yang berlatih tanpa disiplin. Jadi, terserah kau saja mau apa. Aku tidak ingin membuang waktuku denganmu," ujar Rebecca Zhang "Jika saat kompetisi nanti kau juga tidak bisa hadir, maka aku juga tak peduli," lanjut Rebecca Zhang lagi. "Aku pasti datang saat kompetisi nanti, Rebbecca," sahut Yang Lee. "Siapa yang peduli? Bukankah semalam kita juga sudah sepakat untuk latihan? Dan, kini apa yang terjadi? Kau adalah orang yang tidak bisa dipegang kata-katanya, jadi jangan membuang waktu kami dengan semua omong kosongmu itu! Aku sama sekali tidak peduli dan aku tidak ingin moodku rusak gara-gara kau!" tandas Rebecca sekali lagi. Yang Lee tidak bisa berkata-kata lagi. Semua ucapan Rebecca Zhang membuat hatinya sangat sedih. "Baiklah." Yang Lee menjawab lalu ia pun berlalu. Kini, ia tidak tau harus bagaimana? Haruskah ia ikut latihan lagi atau tidak? Ia merasa dicampakkan dan dibuang. Yang Lee kembali masuk kelas. Kelas dalam keadaan kosong. Yang Lee duduk sendiri di bangkunya dan ia memasang headsetnya. Hatinya sangat suntuk sehingga ia butuh pelampiasan untuk memperbaiki moodnya. "Hey ...." Jacky Chan yang melihat perselisihan antara Yang Lee dan Rebecca Zhang sekali lagi jadi iba. Ia duduk di sisi Yang Lee. Yang Lee menatapnya sekilas lalu melepas headsetnya. "Rebecca Zhang marah. Bagaimana menurutmu?" tanya Yang Lee dengan ekspresi bimbang. "Menurutku, kau harus tetap latihan walaupun hanya semenit," jawab Jacky Chan. "Bagaimana jika Rebecca menolakku?" tanya Yang Lee. "Jangan terlalu kau masukkan hati ucapannya dia, kami semua tau bahwa kaulah roh di grup kami. Tanpamu latihan kami seperti hampa. Tidak bisa sebagus jika ada dirimu. Rebecca Zhang marah karena dia takut kau tidak latihan. Begitulah caranya dia mengungkapkan kekhawatirannya." hibur Jacky Chan. Yang Lee merasa hatinya sedikit lega mendengar ucapan Jacky Chan. Perlahan tersungging senyuman di bibirnya. "Thanks, Mr. Chan, kau membuat hatiku merasa jauh lebih baik," ujar Yang Lee. Jacky Chan tertawa mendengar cara Yang Lee memanggilnya. "Yeah, itulah gunanya teman, bukan?" sahutnya. "Yeah." Yang Lee menunduk lagi. "Jadi, kau nanti akan berangkat ke rumah Rebecca naik apa?" tanya Jacky Chan. "Bukankah kau tadi yang menawariku tumpangan? Apakah itu masih berlaku?" tanya Yang Lee sambil menatap kembali wajah Jacky Chan. Jacky Chan kembali tertawa kecil. "Yeah, tentu saja! Itu masih sangat berlaku!" jawabnya. "Baiklah, terima kasih, aku akan ikut denganmu saja," jawab Yang Lee. "Okay, lalu bagaimana dengan pulangnya?" tanya Jacky lagi. Yang Lee menarik nafas. "Aku nanti pulang lebih awal, Jacky. Jadi, aku akan naik bus saja," jawab Yang Lee. "Oh, baiklah." Jacky lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari sakunya. "Ini, aku membelikan burger untukmu. Aku liat kau tidak makan apapun," jawab Jacky Chan sambil menyerahkan bungkusan itu. "Ah, kau ini manis sekali! Terima kasih." Yang Lee menerimanya dengan wajah sukacita. Jacky Chan ikut tersenyum. "Jika kau ada masalah, kau bisa menceritakannya padaku, Yang Lee. Aku akan berusaha menjadi pendengar yang baik," jawab Jacky Chan. "Yeah, tentu saja. Aku rasa cita-citamu sebagai seorang psikolog cocok dengan sikapmu yang seperti itu, Tuan Chan," goda Yang Lee sambil memakan burgernya. Jacky Chan kembali tertawa. "Baiklah, nikmati burgernya. Aku keluar dulu," pamit Jacky Chan. "Okay." Yang Lee kembali memasang headset di telinga sambil menyantap burgernya. *** Siang itu, sepulang sekolah ... Yin Lee dan Yang Lee bersama keluar kelas. "Yang Lee, kau jadi pergi bersamaku, 'kan?" Jacky Chan yang menyusul dari belakang berjalan di sisi Yang Lee. "Iya, tapi aku harus menemui ibuku terlebih dahulu, beliau pasti sudah ada di depan," sahut Yang Lee. "Baiklah, kalau begitu, aku tunggu di depan gerbang juga, ya?" ujarnya. Yang Lee mengangguk. "Yin Lee, aku duluan!" Jacky pamit sambil berlari mendahului mereka berdua. Yin Lee melambai sambil tersenyum. "Apakah dia menyukaimu?" tanya Yin Lee sambil menyenggol bahu adiknya. "Ha? Apa yang kau bicarakan?" Yang Lee langsung cemberut. "Hehe, Jacky Chan, siapa lagi? Aku lihat dia begitu perhatian padamu," ujar Yin Lee. "Huh! Tidak. Dia memang perhatian dengan banyak orang. Semalam dia juga mengantar Jessica An pulang." "Hmm ... yahh, siapa tau dia menyukaimu," jawab Yin Lee lagi. "Sudah, jangan berbicara yang bukan-bukan, nanti ada yang salah paham," sahut Yang Lee setengah berbisik takut ada yang mendengar. "Memangnya kenapa?" tanya Yin Lee lagi. "Aku tidak suka digosipkan. Lagipula, Jacky Chan sekarang cukup populer sejak dia berteman dengan Donny Gu, anak baru yang ada di kelas kita itu," sahut Yang Lee. Yin Lee mengangguk. Yeah, beberapa gosip yang beredar seringkali tidak sampai ke telinganya. Walaupun ia dan Yang Lee sekelas, tapi Yin Lee lebih tertutup dibanding Yang Lee. Dan, itu membuat beberapa teman segan padanya, apalagi nilainya bisa dibilang di atas rata-rata dan ia juga tidak pelit untuk berbagi ilmu, membuat beberapa orang tidak bisa menolak jika ia sesekali meminta bantuan. Hal itu jugalah yang membuat Yang Lee semakin rendah diri di hadapan kakaknya itu. Apalagi Yin Lee bisa dibilang termasuk gadis yang cukup populer tanpa ia sadari. Sikap pendiam dan cueknya, membuat beberapa pria diam-diam mengidolakannya. Namun, kakaknya itu hanya fokus pada pelajaran saja. Urusan percintaan yang marak di kalangan Junior high school seperti mereka sama sekali tidak membuatnya tertarik. Berdua mereka berjalan menuju gerbang. Di sana, mereka bisa melihat sang ibu sudah berdiri menunggu mereka pulang. Melihat kedua putri cantiknya sudah keluar, senyum pun mengembang di wajah sang ibu. "Ayo, ini sudah sangat siang, anak-anak. Sebaiknya kita bergegas, nanti makanan yang mama bawa keburu dingin," ujar Veronica Wu. "Ma, apakah boleh jika méîméí pergi ke rumah bibi Magda jam empat sore?" tanya Yin Lee begitu mereka sudah tiba di depan sang ibu. Veronica Wu yang hendak melangkah jadi mengurungkan niatnya. Ia menatap Yin Lee penuh tanya. "Untuk apa dia datang jam empat sore ke rumah bibi Magda? Bukankah itu waktunya kita akan pulang?" jawab sang ibu dengan ekspresi tidak senang. Yin Lee menatap Yang Lee yang terlihat pasrah. Ia lalu kembali berkata, "Yang Lee sudah ada janji dengan temannya untuk belajar, Ma," sahut Yin Lee lagi. "Bukankah jika untuk sekedar belajar dia bisa minta ajar padamu? Nilaimu jauh lebih bagus dibanding temanmu yang lain, bukan?" ucap sang ibu sambil menatap curiga ke arah Yang Lee yang terus menunduk. "Yeah, tapi ini adalah tugas proyek, Ma. Mana bisa dia bekerja sama denganku? Kami memiliki kelompok berbeda," dalih Yin Lee. "Benarkah?" Veronica Wu memicingkan matanya. "Katakan sesuatu, Yang Lee." Kali ini sang ibu menatap Yang Lee. Ia bisa membaca bahwa putri sulungnya ini sedang melindungi Yang Lee dari sesuatu. Yang Lee mengangkat wajahnya dan menatap Yin Lee. Ia tidak bisa melanjutkan kebohongan Yin Lee. Sekalipun ia tau bahwa kakaknya itu sedang melindunginya, tapi ibunya pasti akan langsung tau jika ia berbohong. "Aku ada latihan musik, Ma," jawab Yang Lee, membuat Yin Lee menggigit bibirnya. "Oh, jadi ini urusan latihan musik?" Sang ibu kali ini mengalihkan tatapannya ke putri sulungnya. Yin Lee jadi merasa bersalah. "Kompetisi hanya tersisa dua hari lagi, Ma. Jika méîmei tidak ikut latihan, maka bagaimana dia bisa memaksimalkan kemampuannya?" ujar Yin Lee. "Memangnya jika dia latihan dia bisa menang? Bagaimana jika tidak dan ayahmu sudah memarahi kita gara-gara ini?" tanya Veronica Wu. "Ma, ini adalah harapan méîmei satu-satunya. Ijinkan dia latihan hari ini--" "Bagaimana jika papamu tau dan dia marah?" potong Veronica Wu. Yin Lee menatap adiknya. "Kau harus berjanji untuk datang tepat waktu, Mei," ucap Yin Lee sungguh-sungguh. "Ya, tentu saja! Aku janji!" sahut Yang Lee sambil mengangkat kedua jarinya tanda sumpah. "Bagaimana, Ma? Méîméí sudah berjanji." Yin Lee masih memohonkan pengertian sang ibu. "Hhh! Entahlah!" Veronica terlihat pusing menanggapi permintaan putri kesayangannya. "Begini saja, Ma. Jika sampai méîmei tidak datang nanti, biar aku yang menanggungnya jika papa marah," jawab Yin Lee. "Apa? Mana mungkin kau menanggungnya? Ayahmu akan marah besar pada ibumu ini, Yin Lee," ujar Veronica Wu. "Aku pasti datang, Ma. Aku janji! Aku takkan menempatkan Yin Lee dan mama dalam masalah," ucap Yang Lee dengan sungguh-sungguh. Suara klakson berbunyi, membuat ketiga wanita itu menoleh. "Hai, Yang Lee? Apakah kau sudah siap?" Wajah Jacky Chan muncul dari balik jendela mobil. Yang Lee masih belum bisa memastikan, jadi ia pun mengangkat tangannya menyuruh Jacky Chan untuk menunggu. Ia kembali menatap sang ibu. "Kau akan pergi bersamanya?" Veronica Wu menatap Yang Lee penuh selidik. "Dia Jacky Chan, teman sekelas kami, Ma. Mereka akan latihan bersama di rumah Rebecca Zhang." Yin Lee ikut menjelaskan. "Oh, ya Tuhan! Aku sedang bertanya kepada adikmu, Yin Lee. Kenapa kau yang selalu menjawab? Apakah adikmu tidak bisa menjelaskan kepentingannya sendiri?" Veronica Wu terlihat gemas. "Ohh." Yin Lee langsung terdiam. "Yeah, Jacky Chan mengajakku pergi bersama ke rumah Rebecca Zhang, kebetulan kami sejalan," jawab Yang Lee masih dengan wajah menunduk. "Apakah kau juga akan pulang bersamanya?" tanya Veronica Wu. "Tidak. Aku mungkin akan pulang lebih dulu sebelum mereka," sahut Yang Lee. "Hmm." Veronica kembali melihat ke arah Jacky Chan. "Baiklah! Selesaikan latihan kompetisimu yang tersisa dua hari dan berikan hasil terbaiknya pada kami," ujar Veronica Wu akhirnya. Wajah Yin Lee dan Yang Lee tampak senang. Yang Lee langsung memeluk sang ibu dan mencium pipinya. "Aku tidak akan mengecewakanmu, Ma," jawab Yang Lee dengan semangat. "Pergilah!" Sang ibu membalas pelukan Yang Lee dan tersenyum ikhlas. "Baiklah kalau begitu aku pergi, ya? Xie-xie, Yin Lee, xie-xie, Ma," ucap Yang Lee. "Hati-hati di jalan dan jangan lupa tepat waktu." Veronica mengingatkan. "Tentu saja, Ma!" Yang Lee berlari menuju mobil Jacky Chan. Pemuda itu tersenyum menyapa Veronica Wu yang sedang menatapnya. Ia lalu membuka pintu mobil untuk Yang Lee. "Apakah itu calon ibu mertuaku?" goda Jackie Chan ketika Yang Lee sudah duduk di sampingnya. "Ih? Apaan kau ini! Belajar yang serius dan raih gelar psikologmu," ucap Yang Lee sambil cemberut. Ia pun memalingkan wajahnya menatap ke arah jendela. "Idih, digoda begitu saja sewot! Ckck." Jackie Chan tertawa. Ia lalu memerintahkan sopirnya untuk pergi menuju rumah Rebecca Zhang. "Oh ya, setelah lulus kau akan masuk sekolah mana?" tanya Jackie Chan ketika mereka dalam perjalanan. Yang Lee menatap Jackie Chan sekilas lalu kembali melihat ke arah jendela. "Entahlah, mama bilang, jika nilaiku bisa sebagus Yin Lee, maka aku akan dimasukkan ke sekolah favorite bersamanya. Namun, jika tidak ... mungkin hanya Yin Lee yang akan masuk di sekolah favorite, sementara aku ...." Yang Lee tidak melanjutkan kalimatnya. Ia kembali membuang wajahnya menatap jendela. Jacky Chan mengaitkan bibirnya. Yeah, memang tidak bisa dipungkiri bahwa prestasi Yin Lee sangat sulit disaingi. Namun, menurutnya, nilai Yang Lee juga tidak buruk. Jika Yin Lee selalu menjadi peringkat teratas, Yang Lee pun selalu masuk dalam daftar 10 besar. "Yeah, tidak masalah, lagipula menurutku aku sudah melakukan yang terbaik. Siapa tau dengan kami beda sekolah, aku tidak lagi hidup dalam bayang-bayang Yin Lee, bukankah begitu jauh lebih baik, hm?" Yang Lee berkata sambil menatap Jacky Chan yang melihatnya dengan tatapan prihatin. "Hey! Jangan begitu caramu menatapku," Yang Lee seketika protes melihat cara Jacky menatapnya. "Eh, apa? Oh! Ahaha! Ya ya, pisah sekolah juga sebuah alternative yang bagus!" ucap Jacky kikuk. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Huh! Kau ini! Menatapku seperti menatap anak yatim saja!" Yang Lee mendengus kesal. "Eh, siapa yang menatapmu seperti anak yatim? Sembarangan!" Jacky tak kalah manyun dituduh seperti itu. Ia pun ikut membuang wajahnya menatap jendela. Yang Lee melirik ke arah pemuda itu. "Kau sendiri ingin masuk sekolah mana?" tanya Yang Lee. "Aku? Hm, ayahku ingin aku tetap di Lincang SMA ini, mungkin ketika akan kuliah nanti baru aku pindah ke Hongkong untuk mengambil jurusan psikologi di sana," jawab Jacky Chan. "Hm, itu keren!" puji Yang Lee. "Kau sendiri?" tanya Jacky Chan. "Entahlah, jika dengan bermusik aku bisa menghasilkan uang banyak, aku mungkin takkan kuliah. Aku ingin segera bekerja dan keluar dari rumah," jawab Yang Lee. "Wow! Kau sepertinya sedang mencari kebebasan," Jacky mengangkat kedua alisnya. "Yeah, aku lelah jika harus sekolah dan dibanding-bandingkan. Untuk apa, coba? Intinya adalah jika aku bisa mendapatkan uang sendiri, maka kedua orang tuaku akan memandangku dari sudut pandang yang berbeda," jawab Yang Lee. "Yeah, kau benar. Mau sekolah setinggi apapun, intinya adalah saat kita terjun ke dunia kerja, berapa uang yang bisa kita hasilkan, begitu bukan?" Jacky Chan mengamini. Yang Lee mengangguk. Mobil Jacky Chan berhenti di depan rumah Rebecca Zhang. Keduanya turun dan langsung masuk ke garasi yang kini berubah menjadi studio dadakan. Rebecca Zhang sama sekali tidak melihat ke arah Yang Lee. Ia benar-benar menganggap Yang Lee tidak ada! "Ayo, kita mulai!" Ia berkata ketika melihat Jacky Chan juga sudah datang. "Let's do it, guys!" Jacky Chan berkata sambil duduk di posisinya sebagai pemain drum. Mereka berlatih dengan semangat, seperti konsep semalam, setelah Rebecca selesai dengan performanya, ia memberi tanda dengan kepalan tangannya yang ia angkat ke atas, maka Jacky sebagai pemain drum langsung beraksi, dan itu bersambung ke Yang Lee, Jessica An, Lilian Wu, Tony Leung dan Leon Lai. Semuanya berjalan dengan baik dan itu membuat semua orang jadi puas. Latihan sesi pertama itu bisa dibilang cukup sukses. "Okay! Bagaimana jika kita latihan sekali lagi?" tanya Rebecca Zhang. Semua setuju, tapi Yang Lee mengangkat tangannya. Ia merasa harus segera pergi sebelum ayahnya akan tiba di rumah bibi Magda. "Apakah kau mau selesai sendiri?" tanya Rebecca Zhang dengan ekspresi tidak senang. "Maaf, tapi aku memang tidak bisa ikut latihan secara penuh hari ini, Rebecca. Aku harus pergi ke rumah bibiku," jawab Yang Lee. Ekspresi Rebecca tampak kesal. "Ya sudahlah! Terserah kau saja! Pergi sana!!" ucap Rebecca tegas. Yang Lee tidak mau lagi memperpanjang urusannya dengan Rebecca. Ia pun membungkuk meminta maaf kepada semua temannya dan berlalu pergi dari sana. "Hhh! Aku sangat kesal dengannya!! Bagaimana jika kita tidak usah memasukkan dia dalam grup saja?" tanyanya setelah Yang Lee pergi. "Itu tidak mungkin Rebecca. Waktu sudah sangat dekat, jika tiba-tiba komponen salah satu dari kita hilang satu, penampilan kita akan kacau. Kita harus mengaransemen ulang semuanya," jawab Leon Lai. Rebecca memanyunkan bibirnya. "Sudahlah, Rebecca, waktunya juga tinggal sehari lagi sebelum kompetisi dimulai, 'kan? Cingcaylah!" imbuh Jacky Chan. "Ini bukan masalah Cingcay atau bukan. Namun, ini adalah masalah totalitas," sambung Lilian Wu. Rebecca Zhang langsung mengangkat kedua jempolnya tinggi-tinggi mendengar ada yang sependapat dengannya. "Permainan Yang Lee memang bagus! Namun, dia sama sekali tidak totalitas dalam latihan. Ia seperti sibuk sendiri dengan urusan keluarganya!" sambung Jessica An. Di sini kelompok wanita mulai berbeda pendapat dengan kelompok pria, membuat Rebecca Zhang jadi kesal. "Jangan salah paham dulu, teman-teman semua. Bukan hal mudah bagi Yang Lee untuk bisa ikut kompetisi ini. Jika hagi kita latihan itu mudah dan orang tua kita mendukung kita, tidak demikian dengan Yang Lee. Ia harus berusaha keras bahkan sembunyi-sembunyi untuk bisa ikut latihan," jelas Jacky Chan. "Wah, kau ini seperti kekasihnya saja," sindir Jessica An. "Tidak! Kebetulan saja aku memang sedikit tau masalah yang dihadapi oleh Yang Lee, itu saja," jawab Jacky Chan. "Dan kau percaya?" tanya Rebecca Zhang lagi. "Apa maksudmu? Tentu saja aku percaya! Yang Lee bukan gadis yang suka berbohong!" sahut Jacky Chan. "Eh, sudah-sudah! Kenapa urusan Yang Lee harus kita perdebatkan? Kita hanya akan membuang waktu jika terus begini," potong Tony Leung. "Itu benar!" sambut Leon Lai. "Kalau begitu, mari kita latihan," ajak Jacky Chan. Dengan hati yang masih sebal, Rebecca Zhang terpaksa melanjutkan latihan. Dan, bisa dibayangkan, moodnya Rebecca Zhang yang tadi bagus, kini berubah jadi buruk. Dan, itu sangat mempengaruhi performanya. Beberapa kali ia membuat kesalahan sehingga harus diulang latihannya. "s**l!" Ia berteriak dengan nada kesal. Semuanya berusaha sabar, tapi sepanjang hari itu, Rebecca Zhang benar-benar payah dalam berlatih! Semua jadi terasa sia-sia sepeninggal Yang Lee padahal kompetisi hanya tersisa satu kali latihan yaitu besok. Lalu ... bagaimana ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN