Richmond Zhang mengerutkan keningnya mendengar keluhan sang putri. "Sebentar, biar Papa cek," ujar Richmond Zhang sambil menghampiri putrinya. Lea Zhang dengan muka kesal menyandarkan tubuhnya di dinding di sisi pintu kamar. "Sabar," ujar ayahnya lagi-lagi sambil tersenyum. Jari tangannya menyentuh gagang pintu dan membukanya, tapi pintu itu memang terkunci dan tidak bisa dibuka. "Hotel apa ini?" sungut Lea Zhang dan ia pun menuju nakas yang terdapat pesawat telpon. "Halo?? Siapa di dalam? Buka pintunya!" Richmond Zhang mengetuk pintu itu beberapa kali dengan cukup kuat. "Astagaa, Papa. Jangan bikin bulu kudukku berdiri. Memangnya Papa berharap ada siapa di dalam sana?" Lea Zhang memutar bola matanya lalu menekan tombol operator di telepon. Richmond Zhang tidak menjawab, ia terus m

