"Adek, sarapan yuk." Rahma membuka pintu kamar yang di tempati oleh Reyna, semalam Reyna tertidur lebih cepat dari biasanya. Rahma mengerutkan keningnya bingung karena tak mendapati Reyna berada di kamar. Dia masuk ke dalam kamar, membuka pintu kamar mandi dan hasilnya kosong. Rahma semakin panik, kala ada kertas di atas tempat tidur Reyna yang rapi. Perlahan tapi pasti, Rahma membuka secarik kertas itu. Dia mulai membaca perlahan, dan secara perlahan juga ia merasakan tak tenang. Air matanya mulai mengalir membasahi pipi, entah kenapa surat itu berisi kata-kata menyedihkan dan menyayat hatinya. Rahma sungguh tak bisa berkata-kata lagi sekarang. Maafkan Reyna, udah menyusahkan kalian semua. Reyna sadar, Reyna begitu mengerti bagaimana kondisi Reyna. Akan tetapi, Reyna tak bisa terus-te

