Sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tetap duduk di kursinya. Tapi, Asha yang lelah menunggu kedatangan Farras memutuskan berkeliling sebentar.
Ruang kerja Farras tidak begitu besar, sampai Asha bisa melihat semua fasilitasnya dalam sekali tengok.
"Apakah ini area konsultasi?"
Jemari Asha menyentuh permukaan meja dari ujung sampai ujungnya lagi. Lantas melihat tempat tidur khusus periksa dengan dilengkapi alat USG di sekitarnya.
"Dia masih lama kan, ya?"
Asha yang penasaran langsung menaiki tempat tidur tersebut sembari melirik alat USG. Bibirnya mengulas senyum, namun perlahan senyum itu menghilang, Asha berdecak mengingat sesuatu.
"Berapa banyak wanita yang dia sentuh dengan tangan terampilnya itu?"
Telepon di atas meja yang berbunyi membuat Asha terkejut. Ia hanya membeku, sekali pun tahu kalau telepon rumah sakit sangat penting, namun ia mana mungkin mengangkatnya untuk menggantikan Farras.
Namun, Asha semakin beku saat melihat pintu ruangan yang terbuka dan sosok Farras yang memandang kelancangan dirinya.
"Jadi, apakah Ibu Asha datang untuk periksa kandungan?" canda Farras sembari tertawa kecil.
Perlahan Asha turun dari tempat tidur khusus dan merapat pada dinding dengan canggung. Matanya menatap Farras yang melepas masker dengan cukup terampil. Wajah tampan lelaki ini sepenuhnya terlihat membuat Asha memalingkan wajahnya, pasalnya ia sempat terpesona oleh sosok Farras yang dibalut pakaian dinas.
"Apa kamu sudah menunggu lama?"
Tangan Farras menuntun dirinya untuk kembali menghuni tempat tidur khusus, hanya saja kali ini Asha dalam posisi duduk. Lantas, Farras menarik kursi dan mulai duduk di hadapannya.
"Lumayan lama," sahut Asha masih merasa malu.
Farras melirik jam dinding. "Kamu izin dari kantor atau memang pulang lebih awal?"
"Pulang lebih awal."
Bibir Farras mengulas senyum, melihat Asha yang canggung begini membuat dia merasa gemas. Farras mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.
"Kenapa tidak ada minuman untuk tamu spesial di ruanganku?"
"Maaf, Dok. Akan segera saya antarkan."
Suara itu seorang wanita sampai Asha menatap karena tertarik. Pemikirannya yang buruk bisa diduga oleh Farras, hingga dia langsung meluruskan.
"Asistenku, dia sudah berumah tangga dan punya anak dua."
Asha memalingkan wajahnya. "Untuk juga kamu memberi tahuku."
"Biar kamu tidak salah paham."
Mata mereka berdua saling pandang cukup lama. Farras sendiri tidak memulai kata karena menunggu apa alasan Asha sampai rela mendatangi dan menunggu di ruangan dia.
Asha berdehem. "Itu ... ini soal Surya, mantanku yang itu."
Kepala Farras mengangguk tanda mengingat siapa yang dia tinju.
"Dia terancam dipecat. Apakah ini ulahmu?" Asha bertanya setelah banyak memikirkan kata yang pantas.
Terdiam cukup lama, itulah yang Farras lakukan sampai membuat Asha penasaran setengah mati. Rasanya ingin sekali membuka mulut dokter ini dengan tangannya supaya bicara.
"Aku hanya melapor, selebihnya menyerahkan keputusan pada kenalan di perusahaan kamu, Sha."
Jemari Asha saling meremas. Masalahnya, itu termasuk pemecatan paksa, tentu sangatlah tidak adil. Asha telah meremehkan seorang Farras yang dikenalnya lelaki pendiam dengan karakter baik hati.
"Aku bukannya jahat, Sha. Hanya saja ini cara seorang lelaki melindungi wanitanya."
Mata Asha membulat. "Selain dokter, apa kamu juga peramal?"
Farras tersenyum. "Dari wajahmu saja sudah bisa diduga."
Asha sempat takut Farras punya kemampuan membaca pikirannya, rupanya itu hanya pemikiran Asha yang konyol.
"Jadi, kamu ke sini hanya untuk itu, Sha?"
Kepala Asha mengangguk ragu. "Bisa dibilang begitu."
Farras menarik napas. "Baiklah. Berhubung kamu di sini, aku juga ada yang ingin dikatakan."
"Soal apa?"
Farras meraih tangan Asha yang sempat enggan untuk digenggam.
"Maukah kamu jadi pacarku, Sha?"
***
"Jangankan langsung menikah, kamu dilamar saja ogah-ogahan. Siapa tahu dari pacaran dulu bisa lanjut ke jenjang serius."
Sepanjang menyetir mobil, Asha kepikiran omongan Farras sebelum dirinya memutuskan pergi tanpa memberi jawaban pasti. Asha memarkirkan kendaraannya dengan raut wajah heran, melihat pot bunga berantakan dan bekas air menggenang di depan rumah, padahal tidak hujan sama sekali.
"Akhirnya kamu pulang juga, Sha."
Asha turun dengan raut wajah yang belum berubah.
"Bu, ini ada apa? Kenapa rumah berantakan begini?"
Arum menarik napas. "Ibunya si Surya, dia kemari dan mengacaukan rumah."
Dugaannya, wanita itu datang karena marah Surya yang terancam dipecat.
Arum berdehem. "Tapi, Sha. Apa benar kamu sama Farras akan menikah? Maksud ibu, kamu sudah menerima Farras."
Tentu saja mata Asha membulat terkejut. "Ibu dengar dari siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan ibunya si Surya yang mengadu!"
Menyadari omongan sendiri yang lantang, Arum memutuskan untuk menarik Asha supaya masuk ke dalam rumah. Asha pun menuruti ibunya karena memang merasa pembicaraan di antara mereka lumayan serius dan perlu diluruskan.
"Dia menuduh kamu menyelingkuhi anaknya, lalu menanyakan kekurangan Surya sampai kamu memilih lelaki lain."
"Cuma itu, Bu? Tidak ada hal lain yang ibu Surya katakan?"
"Tidak ada."
"Tapi, masalahnya, Sha ...."
Asha merasa sangat gugup mendengar penuturan ibunya yang makin pelan. Teringat perbuatan Surya padanya di toilet laki-laki, takut ibu Surya menyinggung dan ibunya tahu.
***
"Kenapa Ibu sampai buat keributan ke rumah Asha?"
Malam itu, Surya meraup wajah dengan kesal. Masalah pekerjaan dan percintaan benar-benar sedang pelik. Sekarang malah ditambah kelakuan sang ibu.
Ibu Surya berkacak pinggang. "Kamu mau dipecat gara-gara si Asha itu!"
"Ini tidak ada hubungannya sama Asha, Bu! Di kantor saingannya banyak, sekali terciduk maka akan dijadikan ancaman."
Mata sang ibu memandang kaget. "Jadi, benar? Kamu melakukan kesalahan makanya dipecat."
Surya menghela napas. "Hampir, Bu. Aku hampir tergiur, tapi tak sempat memberikan data perusahaan."
Meski sang anak mengaku salah, wanita tersebut tetap menunjukkan ekspresi merasa paling benar.
"Lagi pula tuh si Asha, jadi wanita sungguh tidak tahu malu. Sudah bagus ada kamu yang mau nikahin, malah dia selingkuh sama lelaki lain."
Surya memandang sang ibu lama dengan mulut membisu. Ada banyak keluhan yang ingin terucap, namun Surya memilih tetap mementingkan perasaan sang ibu.
"Pekerjaan selingkuhannya apa sih? Sampai-sampai kamu dibuang begitu saja."
Surya tersenyum sinis, mengingat penampilan Farras yang hanya dibalut kemeja polos.
"Palingan karyawan magang yang gajinya di bawah UMR."
Sementara itu, Asha di kamarnya terus saja memandangi ponsel dengan jemari berulang kali mengetik sesuatu dan pada akhirnya kembali dihapus seluruhnya.
"Apakah lamaran itu masih berlaku? Kalau masih aku menerimanya."
Itulah isi pesan yang baru saja Asha kirimkan pada nomor Farras. Terburu Asha mematikan wifi dan masuk ke mode pesawat untuk malam ini saja, supaya tidurnya bisa nyenyak.
Baru saja Asha menarik selimut setelah melempar ponselnya asal ke kasur. Pintu kamar Asha diketuk oleh ibunya.
"Sha, kamu sudah tidur belum?"
"Kenapa, Bu?"
"Farras di depan rumah, katanya mau ketemu kamu."
Mata Asha membulat sempurna saat melirik ponsel yang tengkurap. Apa kata ibunya barusan? Si penerima pesan sudah ada di depan rumah.