Bab 4. Lebih Dari Kekasih

1005 Kata
Pandangan Surya jelas makin tak terima. "Maksud kamu apa, hah!" "Lalu, kamu, Sha. Cepat kemari!" Melihat Asha yang tak berkutik sama sekali dan lebih memilih tetap bersembunyi di balik badan Farras. Tentu membuat Surya merasa risih dan hendak mendekat. "Berhenti di sana atau aku akan lapor pihak keamanan!" ancam Farras dengan sedikit meninggi. Surya tersenyum menang. "Coba saja! Menurutmu di antara karyawan dan orang asing, mana yang akan diusir?" "Orang yang bertindak kasar dan memaksa calon istri orang lain memasuki kamar mandi, menurutmu bagaimana konsekuensinya?" Jemari Farras yang menunjuk kamera cctv di depan toilet, tentu membuat mulut Surya langsung membisu dengan raut wajah sedikit panik. Padahal lelaki tersebut tidak ada niatan untuk benar-benar menodai Asha. *** "Terima kasih." Asha baru saja menerima secangkir teh hangat untuk menenangkan diri di pinggir jembatan. Tak banyak pengendara melintas. Farras berdiri di samping tanpa berniat terlalu dekat. "Maaf," ujar Farras. "Untuk apa?" "Aku seenaknya mengakui kamu sebagai calon istri." Asha terdiam. Melihatnya, Farras melanjutkan pembicaraan. "Kamu bisa saja tertuduh berselingkuh atas ucapanku." Mata Asha memandangi Farras cukup serius. Ia mengira, lelaki ini hanya mampu berhadapan dengan pasien melahirkan saja. Rupanya bisa berkelahi juga dan bertindak gegabah demi dirinya. "Mungkin itu lebih baik," ujar Asha dengan kepala mengangguk. "Ketimbang tidak bisa putus dari Surya." "Gunakanlah diriku, Sha. Buat lelaki itu menjauh dari kehidupanmu." Asha yang semula larut dalam pikirannya, bahwa Farras mungkin lebih baik. Namun, ia memilih menepis dan menatap matahari yang sepenuhnya telah terbenam. Dirinya mengenal Surya bertahun-tahun saja belum menemukan kecocokan, apalagi Farras yang baru kenal. "Soal pernikahan aku tidak memaksa, tapi tidak ada salahnya kan untuk mengenal diriku, Sha?" "Akan aku pertimbangkan." Jawaban positif yang Asha berikan membuat Farras mengulas senyum. "Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang." Kepala Asha mengangguk. "Iya." Farras telah berjanji tidak akan memberi tahu masalah barusan pada orang tuanya. Bisa-bisa jadi panjang urusannya, apalagi ibunya sejak awal tidak suka dengan Surya. "Soal cctv yang aku bicarakan, kamu tidak perlu cemas, Sha. Aku punya orang dalam di perusahaan tempat kamu kerja." Awalnya Asha berpikir Farras hanya membual saja. Namun, saat bekerja hari ini suasana tetap seperti biasa. Padahal Asha sudah memikirkan banyak sekali kata untuk membela diri. "Sha, ibu Ira menyuruhmu ke ruangannya." Asha yang lama berkutat pada pekerjaan mengangkat kepala saat mendengar rekan kerjanya mengajak bicara. "Oh, iya." Selagi bangun dari kubik kerjanya dan berjalan ke arah ruang ketua divisi, pemikiran Asha begitu rumit. Hingga tangannya mengetuk pintu dan Ira terlihat memandang padanya. "Ibu mencari saya?" "Hm, masuklah!" Tangan Ira meminta Asha untuk duduk, tentu ia menurut dan saling berhadapan dengan ketua divisinya. "Apa kamu sudah tahu, kalau Surya membocorkan data produk baru pada perusahaan lain." Raut wajah Asha jadi serius, kepalanya langsung menggeleng. "Tidak, Bu." "Kabarnya, Surya akan dipecat tanpa diselidiki lebih lanjut." "Ibu yakin dengan kabar ini?" Asha jelas mempertanyakan, dirinya sangatlah ragu orang seperti Surya bisa melakukan hal tersebut. Bukannya membela, hanya saja keluarga sangat bergantung pada Surya. Jadi, mustahil lelaki itu mencari masalah. Ira menarik napas. "Sejujurnya, hal yang paling penting di sini adalah keputusan kamu, Sha." Dahi Asha mengerut, keputusan apa yang dimaksud oleh ketua divisinya ini. "Jika kamu setuju, Surya bisa dipecat hari ini juga. Kalau kamu merasa Surya bukan orang seperti itu, kamu bisa bicara dengan pak Bambang." Pemilik perusahaan ini sampai ikut terlibat, bahkan Asha harus bicara secara langsung. Tentu masalah ini tidaklah sepele. "Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian berdua? Lalu siapa yang Surya singgung selain kamu, Sha?" Mendengar penuturan dari Ira. Asha teringat dengan ucapan Farras sewaktu perjalanan mengantarnya pulang. "Apa kamu betah kerja di tempat yang sama dengan dia, setelah perbuatannya padamu, Sha?" "Membuatnya dipecat bukanlah hal sulit." Asha memejamkan mata sejenak. Rupanya Farras benar-benar punya kenalan orang dalam, bahkan pemilik perusahaan tempat Asha juga. "Bisakah undur pemecatan Surya, Bu? Saya perlu mempertimbangkannya." "Tentu." Tanpa panjang lebar Ira langsung menyetujui. Wanita tersebut baru menyadari kalau orang di belakang Asha bukan kaleng-kaleng. Jika sampai Ira menyinggung Asha juga, maka nasib Ira bakal sama seperti Surya. *** Sepulang kerja, Asha meminta bertemu dengan Farras karena ingin membahas masalah Surya. Namun, lelaki itu yang sibuk menangani operasi persalinan membuat Asha sekarang harus berada di depan gedung rumah sakit. Asha menarik napas saat memandang gedung IGD yang ramai. "Harus bertanya sama siapa?" gumam Asha. Farras hanya memintanya datang melalui pintu masuk IGD karena paling dekat dengan area kerja lelaki itu. Ditengah kebingungan Asha dihampiri oleh dokter koas yang sering membawakan bekal makan siang untuknya. "Nona senior." Lelaki tersebut melambaikan tangan dengan sangat ceria. "Saya disuruh untuk menjemput Nona senior." Asha melirik sekeliling yang mulai memperhatikan dirinya. "Namaku Asha, bukan nona senior." "Tapi, kami sangat menghormati Dokter Farras. Wanita terdekatnya pun harus ikut dihormati." Asha melirik kesal pada dokter koas ini yang mulai menunjukkan jalan. Tentunya karena takut tersesat Asha mengikuti dari belakang. Matanya memandang lift yang ditunggu mereka berdua menunjuk lantai 2. Asha terus saja mengikuti hingga melewati banyak sekali pintu-pintu yang tiap di depannya dihuni puluhan pasien menunggu antrean. Dokter koas ini berhenti melangkah dan membuka salah satu pintu. "Memangnya aku boleh masuk ke ruang bersalin?" tanya Asha saat dirinya dipersilahkan untuk masuk. "Ini ruang kerja milik Dokter Farras, jadi bebas untuk dimasuki." Mata Asha otomatis melirik nama yang tertera di samping pintu. Nama Farras Aditya serta profesinya terpampang jelas di sana. "Terus kenapa aku malah dibawa ke sini?" tanya Asha pelan, namun nada bicaranya sedikit kesal. Dokter koas ini mengulas senyum. "Dokter Farras masih bertugas dan saya hanya disuruh mengantar ke ruangan ini saja." "Selebihnya, silahkan sampaikan langsung pada Dokter Farras." Asha menarik napas dan tetap memilih masuk, sebab sudah banyak pasang mata yang melirik dirinya. Mungkin mereka berpikir Asha sedang mengandung, makanya datang ke ruangan Farras. "Bukannya Dokter Farras lagi tugas? Siapa yang masuk ke ruangannya?" Salah satu perawat dibagian pengecekan tensi bertanya. "Oh itu cemcemannya Dokter Farras." "Dokter Farras sekarang punya pacar?" "Kabarnya lebih dari pacar." Seisi perawat yang duduk di sana langsung heboh. Asha yang masih berdiri di balik pintu hanya bisa mengepalkan tangan dengan raut wajahnya yang malu. "Kenapa juga kamu harus menurut sampai ke sini, Sha?" gerutu Asha pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN