*** Arjuna sampai di kediaman Andini sekitar pukul dua belas siang kurang beberapa menit. Berjalan cepat dari mobil ke rumah perempuan itu, dia berhenti dengan napas yang sedikit terengah. Meredakan dulu rasa lelah selama beberapa detik, sebuah ketukan akhirnya dia daratkan, disusul panggilan untuk sang pemilik rumah yaitu; Andini. "Andini?" Tidak ada sahutan, Arjuna tidak terburu-buru dan memilih untuk menunggu. Beberapa detik berlalu, pintu terbuka. Namun, yang muncul bukan Andini, melainkan Rahma. Sambil mengukir senyuman samar, perempuan itu menyapa, "Pak Arjuna." "Andini di mana?" tanya Arjuna. "Masih baik-baik aja, kan, dia?" "Masih kayanya, Pa," ucap Rahma dengan raut wajah yang ragu—membuat Arjuna spontan mengerutkan kening. "Kenapa kayanya?" tanya Arjuna. "Andini ada di ru

